NovelToon NovelToon
Kurebut Istri yang Ia Kurung

Kurebut Istri yang Ia Kurung

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:95
Nilai: 5
Nama Author: Isabel Coração

Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.

Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.

Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.

Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.

Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

POV: Arga

Kukarang rapat bisnis di Surabaya yang sebenarnya tak ada, hanya supaya bisa menghirup udara yang sama dengan Lia.

Dimas tahu itu bohong dan tak menyembunyikan pendapatnya, dan dia sudah lama tak menyembunyikan apa pun dariku.

"Tidak ada rapat, Arga. Kamu membuntuti dia ke provinsi lain. Itu ada namanya. Penguntitan. Sudah ada pasalnya." Dia menurunkan suara. "Kamu sudah hancur. Sudah kehilangan perusahaan, citra, ibu yang kamu kira kamu punya. Jangan jadi kriminal juga. Jangan ambil langkah terakhir itu."

"Aku cuma mau melihatnya. Dari jauh. Sekali saja."

"Selalu 'dari jauh' sampai tidak lagi. Selalu 'sekali' sampai jadi tiap hari. Aku mengenalmu, Arga."

Aku tak mendengarkan. Lelaki yang seumur hidup tidak mendengar tak bisa mendadak belajar. Kuambil mobil di Bandara Juanda dan melaju ke Darmo, lalu ke Kenjeran, tempat rumah lelaki itu berada. Kuparkir di seberang jalan, dalam gelap, dan menunggu seperti anjing di depan rumah yang bukan lagi miliknya.

Dan kemudian dia muncul.

Lia turun dari satu mobil, Fariz turun dari sisi lain dan menghampirinya, dan meletakkan tangan di punggungnya untuk membantunya menaiki tangga teras. Hanya itu. Sebuah tangan di punggung. Perhatian bodoh, otomatis, dari orang yang merawat tanpa berpikir. Dan kebodohan itulah yang menghancurkanku, lebih dari apa pun, karena tiga tahun menikah aku tak pernah bisa melakukan gerakan itu. Aku tahu cara mengunci pintu, memblokir rekening, membeli bungkam. Tangan di punggung, perhatian yang tanpa pemilik, itu tak pernah kupelajari, dan sekarang sudah terlambat.

Dia hamil. Terlihat, bahkan dengan mantel longgar, dari caranya berjalan. Dan aku, yang membaca kata "tersisa" di hasil pemeriksaan dan tak bisa berhenti memikirkannya, merasa dadaku mengencang. Salah satu anakku selamat. Ada di sana, di dalam dirinya, sejauh satu jalan, dalam pelukan lelaki lain, dilindungi lelaki lain, dan aku bahkan tak boleh mendekat, dan memang pantas aku tak boleh.

Saat itulah Fariz menoleh menyamping, di bawah lampu gerbang, dan aku merasakan kejanggalan yang tak mau lepas.

Wajahnya. Dahinya. Caranya menyipitkan mata saat memandang jalan, mengukur bahaya. Aku mengenali itu. Dari mana? Dari cermin, kata sebuah suara di dalam diriku, tapi malam itu aku tak mau mendengarnya.

Dimas, di kursi penumpang, menyodorkan tablet, lelah berdebat.

"Karena kamu bersikeras menyiksa diri." Dia sudah membuka foto arsip, sebuah gala lama keluarga Mahardika, bertahun-tahun silam. "Dunia ini yang dia pilih sekarang. Lihat baik-baik, lalu kita pulang."

Kuambil tablet itu. Dan di foto itu, di tengah keluarga Mahardika, ada seorang pria muda, dari zaman lain, yang tak kukenal. Dan wajah pria itu adalah wajahku. Dahi yang sama. Dagu yang sama. Cara melirik menyamping yang sama.

Merinding merambat di tengkukku, dan tanda lahir yang kupunya di tengkuk itu terasa terbakar.

"Siapa ini?" tanyaku, suaraku aneh.

Dimas membungkuk, mengerutkan dahi.

"Entahlah. Seorang Mahardika dari zaman dulu, kelihatannya. Kenapa?" Dia menatapku. "Arga, kamu pucat."

"Tidak apa-apa." Kumatikan layarnya sebelum paham apa yang kulihat, sebelum membiarkan suara dalam itu menyelesaikan kalimat yang ingin diucapkannya.

Ponselku bergetar. Mama. Lagi, walau di tahanan, walau menjalani proses hukum, dia masih menemukan cara menelepon sesekali, menagih. Kutatap namanya berkedip di layar dan merasakan jijik yang tak mau hilang, jijik yang sudah jadi bagian diriku.

Kutolak panggilannya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Dimas.

"Tidak," kataku, jujur untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mungkin seperti belum pernah dengannya. "Aku tidak baik-baik saja sudah tiga tahun, Dim. Aku hanya tidak menyadarinya. Kukira punya segalanya itu baik-baik saja. Bukan. Aku punya segalanya dan tidak punya apa-apa."

"Kalau begitu ayo pergi, Arga." Suara Dimas nyaris lembut. "Tinggal di depan rumahnya tidak akan mengembalikan apa pun. Hanya menenggelamkanmu lebih dalam."

"Semenit lagi."

"Selalu semenit lagi." Dia menghela napas. "Kamu tahu bedanya kamu dan lelaki di dalam sana? Bukan uang, kalian berdua punya. Bukan kuasa. Dia akan membiarkan Lia pergi kalau Lia mau. Kamu tidak pernah. Itu bedanya. Dan karena itu dia ada di dalam sana, dan kamu di luar sini, di mobil, dalam gelap."

Kalimat itu menghantamku seperti sedikit hal dalam hidupku pernah menghantam. Karena itu benar, dan karena yang mengatakannya satu-satunya lelaki yang masih berkata jujur padaku.

Kutatap gerbang Vila Kenjeran menutup di belakang Lia dan Fariz. Lampu kamarnya menyala di atas, hangat, keemasan, dan kubayangkan mereka berdua di dalam, hidup yang bisa kumiliki kalau aku belajar meletakkan tangan di punggung seseorang alih-alih mengunci pintu di belakangnya.

"Kenapa aku mengenal wajah itu," gumamku, memandang lagi, tanpa sengaja, ke layar yang sudah kumatikan, bayangan wajahku sendiri di kaca hitam.

Dimas tak menjawab, karena pertanyaan itu bukan untuknya. Itu untukku, dan jawabannya juga.

Kunyalakan mesin dan pergi dari Kenjeran dengan sebuah wajah menempel di kepalaku, wajah yang tak mau melepaskanku. Wajah pria zaman dulu di foto itu, di masa ketika aku bahkan belum lahir, di keluarga yang bukan keluargaku. Wajahku, di tempat yang tak seharusnya. Tak masuk akal sama sekali, dan di duniaku, yang tak masuk akal biasanya yang paling berbahaya. Aku akan mengejarnya, apa pun harganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!