Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ia sengaja menghapus dan menghancurkan seluruh data identitasnya dari jaringan pemerintahan dunia sebelum ia pensiun.
Tentu saja peretas pemula seperti Melly tidak akan menemukan apa pun selain tembok pertahanan digital kosong di layarnya.
"Aku ini cuma warga kampung biasa yang nggak pernah bikin KTP, makanya wajar kalau nama gua nggak ada di internet," kilah Jarot memberikan alasan paling tidak masuk akal.
Tata mendecih sangat keras melihat tingkah Jarot yang kelewat santai dan tidak merasa takut rahasianya dibongkar.
"Kamu nggak usah banyak alasan basi. Pokoknya lu cuma punya dua pilihan sekarang," tegas Tata mengambil alih jalannya pembicaraan.
"Pilihan pertama, mu segera angkat kaki dari rumah ini sekarang juga lewat pintu depan secara baik-baik," kata Tata memberikan opsi dengan nada final.
"Lalu apa pilihan keduanya?" tanya Jarot menyandarkan dagunya di punggung tangan.
"Pilihan kedua, kamu bakal ngerasain siksaan neraka di rumah ini sampai lu nangis sujud minta pulang ke Mama mu," ancam Tata sambil meremukkan sebuah apel hijau di tangannya.
Krek.
Apel hijau itu hancur berantakan dan air sari buahnya menetes berceceran membasahi lantai ruang makan.
Jarot menatap sisa apel hancur itu lalu menatap wajah garang Tata dengan pandangan mata yang sangat datar.
"Aku pikir-pikir, Aku bakal pilih opsi ketiga aja deh," jawab Jarot dengan senyum tipis di bibirnya.
"Opsi ketiga apaan, hah?!" bentak ketiga gadis itu secara bersamaan karena merasa sangat dipermainkan.
"Opsi ketiga, aku bakal duduk manis di rumah ini nunggu gaji bulan pertama cair sambil ngelihatin tingkah bodoh kalian," ucap Jarot santai.
Lyly langsung berdiri dari kursinya dengan kasar hingga kursinya bergesit mundur menabrak dinding.
"Terserah kamu. Jangan pernah bilang kalau kami tidak memperingatkan lu sebelumnya tentang akibatnya," desis Lyly dengan tatapan yang siap membunuh.
"Melly, tidak perlu basa-basi lagi. Jalankan rencana utama kita sekarang juga," perintah Lyly kepada adik bungsunya tanpa ragu.
Melly langsung menyeringai lebar bagaikan penjahat jenius lalu menekan satu tombol merah di keyboard laptopnya dengan keras.
Klik.
Tiba-tiba saja, seluruh aliran listrik di ruang makan dan seluruh penjuru rumah mewah itu mati total meninggalkan kegelapan pekat.
Tit. Tit. Tit.
Suara alarm sistem keamanan rumah tingkat tinggi berbunyi dengan sangat nyaring memekakkan telinga siapa pun.
"Aku udah mengunci semua pintu keluar dan masuk rumah ini pakai sistem keamanan pertahanan militer otomatis," tawa Melly menggema bangga di tengah kegelapan.
"Kamu bakal terkunci di ruang makan ini tanpa cahaya, tanpa makanan tambahan, dan tanpa akses komunikasi keluar sampai kamu menyerah!" lanjut Melly menyombongkan keahlian teknologinya.
Jarot yang masih duduk tenang di kegelapan hanya bisa menghela nafas sangat panjang melihat kelakuan logika bodoh tiga gadis tersebut.
"Hei Nona pintar. Kalian mengunci seluruh rumah dari dalam tanpa sisa listrik, berarti kalian bertiga juga ikut terkurung di ruangan ini dong," komentar Jarot mematahkan logika rencana mereka.
Suasana ruangan mendadak menjadi sangat hening selama beberapa detik setelah Jarot mengucapkan fakta kelewat sederhana tersebut.
"Eh, iya juga ya, Kak Lyly. Kita kan belum jalan keluar pintu," bisik Melly yang baru menyadari kelemahan fatal dari rencana hebatnya.
"Bego banget sih kamu Melly! Kenapa kamu kunci semua sistemnya sebelum kita bertiga keluar halaman dulu?!" omel Tata memukul lengan adiknya di dalam gelap.
"Udah diam kalian berdua, jangan bikin malu! Kita tunggu aja sampai gembel ini panik dan kehabisan nafas sendiri di dalam sini," sela Lyly mencoba mempertahankan sisa harga diri mereka.
Jarot merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel keluaran lama yang layar kacanya sudah retak-retak.
Ia menyalakan lampu senter ponselnya lalu menyorotkannya tepat ke arah wajah ketiga gadis yang sedang panik berdebat itu.
"Woy, silau tahu! Matiin lampu murah mu itu!" protes Tata sambil menutupi matanya dari tembakan cahaya senter Jarot.
"Mbak Melly yang katanya pintar teknologi. Kamu pasti meretas sistem rumah ini pakai perantara jaringan internet nirkabel kan?" tanya Jarot melangkah perlahan mendekati ketiganya.
"Iya dong. Aku berhasil menembus tembok pertahanan api rumah ini cuma dalam waktu dua menit saja tanpa hambatan," pamer Melly kembali menaikkan dagunya tinggi-tinggi.
Jarot hanya berjalan melewati mereka bertiga menuju ke sebuah kotak panel besi tebal yang menempel di dinding ujung ruang makan.
"Kalian bertiga kelihatannya punya pendidikan tinggi, tapi kadang hal yang sifatnya paling mendasar malah sengaja kalian lupakan," ucap Jarot terdengar seperti sedang menasihati anak kecil.
Brak.
Jarot membuka penutup kotak panel besi tersebut hanya dengan satu tarikan tangan kanannya tanpa butuh kunci khusus.
Ia menatap deretan ratusan kabel rumit dan tuas saklar utama yang tertata rapi di dalam panel kelistrikan tersebut.
"Kalau kamu memutus aliran listrik pakai sistem perintah digital, sistem itu masih bisa kamu tangkal pakai cara mekanik manual," jelas Jarot mengedukasi musuh kecilnya.
Sret.
Jarot memegang sebuah tuas besar berwarna merah di dalam panel itu, menariknya paksa ke arah bawah, lalu mendorongnya kembali ke atas dengan keras.
Cetak.
Dalam sekejap mata, seluruh lampu ruangan di rumah mewah itu kembali menyala terang benderang menyilaukan mata.
Suara alarm keamanan digital yang bising juga langsung mati total berhenti merengek tanpa perlu memasukkan baris kode sandi pembatalan.
Lyly, Tata, dan Melly kompak membelalakkan mata mereka lebar-lebar melihat pemecahan masalah yang sangat tidak terduga tersebut.
"Bagaimana mungkin kamu bisa melakukan itu?! Aku sudah mengunci sistem sentralnya secara permanen dari kode laptop!" jerit Melly panik sambil menatap layar laptopnya yang dipenuhi tulisan peringatan sistem rusak.
Jarot menutup kotak panel listrik itu lalu menepuk-nepuk telapak tangannya yang terkena sedikit debu kabel.
"Sistem sentral digital itu memang sangat canggih, tapi saklar manual yang terhubung langsung ke gardu listrik luar bangunan sama sekali tidak bisa kamu retas pakai laptop," jelas Jarot memberikan pelajaran peretasan dunia nyata secara gratis.
Ketiga gadis itu langsung terdiam seribu bahasa karena rencana besar yang mereka banggakan berhasil dihancurkan dalam waktu kurang dari satu menit.
Mereka merasa harga diri mereka diinjak-injak bagai anak taman kanak-kanak yang baru saja diajari cara berhitung oleh seorang profesor.
"Udah ya main mati lampunya, aku mau lanjut habisin sarapan pagi ku," kata Jarot melangkah santai kembali ke kursi meja makan.
Lyly menggigit bibir bawahnya kuat-kuat mencoba menahan perasaan malu dan kesal yang luar biasa meledak di dalam kepalanya.
Rencana intimidasi licik yang sudah mereka susun rapi semalaman ternyata bisa dipatahkan dengan cara fisik yang sangat memalukan.
"Jangan senang dulu kamu, gembel jalanan. Ini baru permulaan dari serangan kami bertiga!" ancam Lyly menunjuk Jarot sebelum berbalik badan pergi dari ruang makan.
Tata dan Melly ikut mengekor rapat di belakang kakak tertua mereka dengan langkah kaki yang sengaja dihentakkan ke lantai untuk melampiaskan marah.
Jarot hanya tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat tingkah laku tiga majikan keras kepalanya itu berlalu.
"Bocah-bocah keras kepala dengan bakat luar biasa begini memang sangat butuh pelajaran kedisiplinan tingkat tinggi," batin Jarot mulai merasa tertarik untuk melatih mereka.
Sebagai mantan penguasa dunia bawah yang sangat terbiasa melatih pasukan pembunuh elit, menangani tiga gadis berbakat ini jelas hanya sekadar masalah waktu baginya.
Ia kembali duduk tegak di kursinya dan meminum sisa kopi hitamnya yang kini sudah mulai mendingin di lidah.
Perang mental yang sesungguhnya antara sang monster masa lalu dan ketiga nona rahasia ini dijamin akan berjalan semakin brutal dan penuh intrik konyol mulai hari ini.