NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 : Gaun, Topeng, dan Pilihan Hati

Tiga hari sebelum Pesta Hari Jadi Nusantara Industri Utama, bel pintu rumah Alya berdering nyaring di pagi hari.

Alya yang baru saja selesai meneguk segelas jus sayuran segar melangkah ke pintu depan. Begitu daun pintu terbuka, sosok Siska sudah berdiri di sana dengan senyuman lebar dan map katalog di tangannya.

"Al! Ayo bersiap-siap!" seru Siska dengan nada ceria yang dipaksakan. "Kita harus fitting gaun buat pesta lusa! Aku sudah reservasi di butik boutique designer ternama langganan para influencer. Biar kamu kelihatan 'manglingi' di depan semua tamu dan Rendy!"

Alya menatap wajah sahabatnya itu. Pikiran Alya seketika tertarik ke belakang, mengingat adegan persis lima tahun lalu di kehidupan pertamanya.

Di masa lalu, Alya yang pemalu dan sangat menuruti kata-kata Siska dengan polos menyerahkan seluruh urusan penampilannya pada Siska. Hasilnya? Siska memilihkan gaun rumbai-rumbai berwarna kuning terang dengan potongan kaku yang membuat tubuh 72 kg Alya terlihat dua kali lebih lebar. Belum lagi riasan wajah menor dengan eyeshadow tebal dan lipstik pink menyala yang dipaksakan Siska, membuat Alya menjadi bahan tertawaan bisik-bisik di belakang panggung.

Sebaliknya, di pesta masa lalu itu, Siska tampil anggun dan elegan menggunakan gaun navy berpotongan indah—gaun yang sebenarnya disukai Alya, namun dilarang Siska dengan alasan "Warna gelap bikin kamu kelihatan makin tenggelam dan muram, Al." Dan yang paling menyakitkan, seluruh pakaian, sepatu, hingga tas mewah yang dipakai Siska hari itu dibeli menggunakan kartu kredit Alya dengan dalih "Pinjam dulu ya, nanti kalau Rendy sudah resmi sama kamu, aku kembalikan!"

Lelucon yang sama tidak akan terulang dua kali, Siska, batin Alya, mengulas senyum tipis yang tak sampai ke mata.

"Boleh," jawab Alya tenang. "Ayo kita berangkat sekarang."

Butik mewah di kawasan elit Jakarta Selatan itu beraroma bunga mawar yang lembut. Deretan gaun malam terpajang anggun di balik kaca-kaca kristal.

Siska langsung berakting layaknya seorang pengarah gaya pribadi. Ia berjalan memutari gantungan gaun, lalu menarik keluar sebuah gaun berwarna merah menyala dengan banyak tumpukan frills (kerutan) tebal di bagian pinggang dan lengan.

"Al! Lihat ini!" seru Siska dengan mata berbinar jahat yang tersembunyi. "Gaun merah ini cocok banget buat kamu! Kerutan di pinggangnya tebal, jadi bisa 'menutupi' lipatan perut kamu. Warna merah menyala ini juga bikin kamu jadi pusat perhatian!"

Alya melihat gaun itu. Potongan penuh kerutan di bagian tengah justru akan membuat tubuh berbobot 70 kg terlihat bagaikan tumpukan kain yang membengkak. Sebuah taktik klasik untuk memepermalukannya secara halus.

"Bagus sekali pilihanmu, Siska," puji Alya dengan nada datar yang terkesan polos. Ia mengambil gaun itu, lalu menatap Siska dari atas ke bawah. "Tapi, masa kamu cuma memilihkan buatku? Kamu kan Manajer HRD dan mendampingiku, kamu juga harus tampil istimewa."

Alya melangkah ke deretan gaun eksklusif di sudut ruangan—area haute couture yang harganya mencapai puluhan juta rupiah. Tangannya meraih sebuah gaun malam berwarna emas kecokelatan (champagne gold) dengan potongan A-line yang sangat rumit dan mewah.

"Nah, Siska. Bagaimana dengan yang ini?" Alya menunjukkan gaun tersebut. "Warna dan potongannya sangat pas untukmu. Cobalah."

Siska terpaku. Matanya membelalak menatap gaun emas yang luar biasa indah itu. Namun, detik berikutnya raut wajahnya menyurut panik saat melirik label harganya. Angkanya setara dengan tiga kali gaji bulannya di kantor.

"Al... ini... ini terlalu mewah," bisik Siska canggung, mencoba tertawa. "Harganya mahal sekali. Aku tidak punya anggaran sebanyak ini cuma buat gaun satu malam."

Alya tersenyum manis, memiringkan kepalanya. "Kenapa memikirkan harga? Kamu kan sahabat terbaikku. Aku yang pilihkan, dan aku yang akan membayarnya untukmu. Hitung-hitung hadiah atas kerja kerasmu merekomendasikan Rendy ke perusahaan."

Mendengar kata "dibayarkan", binar keserakahan seketika menyapu bersih rasa ragu Siska. Wajahnya memerah gembira. "Beneran, Al?! Kamu mau belikan ini buat aku?! Ya ampun, kamu memang sahabat paling baik se-dunia!"

"Tentu saja," balas Alya pelan. Pakailah gaun mahal itu, Siska. Nanti malam, gaun itu hanya akan menjadi latar belakang yang makin memperjelas posisi siapa ratu yang sebenarnya.

"Terima kasih banyak, Al! Kalau begitu aku coba dulu ya!" Siska berlari gembira menuju kamar ganti membawa gaun emasnya.

Sementara Siska sibuk berganti pakaian dan berpose di depan cermin butik, Alya membayar gaun tersebut dan gaun merah konyol pilihan Siska dengan kartu kreditnya. Setelah selesai, Alya pamit dengan alasan ada janji bertemu vendor di luar.

"Siska, aku antar kamu pulang dulu ya. Ada urusan mendadak yang harus kuselesaikan," ujar Alya saat mereka di dalam mobil.

"Siap, Al! Sekali lagi terima kasih ya gaunnya!" Siska memeluk kantong belanjaan mewahnya dengan wajah sangat puas, sama sekali tidak menyadari bahwa ia baru saja masuk ke dalam jebakan gengsi yang sedang dirancang Alya.

Setelah menurunkan Siska di rumahnya, Alya melaju menuju sebuah butik privat bergaya klasik di kawasan Menteng—tempat yang sudah dijanjikannya bersama Kai Aditya.

Saat Alya melangkah masuk ke dalam butik eksklusif tersebut, Kai sudah berdiri menunggunya. Pria itu tampil kasual namun sangat elegan dengan kemeja putih yang digulung rapi hingga siku dan celana chino gelap. Di samping Kai, berdiri seorang pria berambut ikal dengan gaya nyentrik—Rico, salah satu Make-Up Artist (MUA) dan perancang busana langganan para selebriti papan atas.

"Alya," sapa Kai hangat, melangkah mendekatinya dengan senyuman yang seketika mencairkan keletihan Alya. "Sudah sampai?"

"Maaf ya bikin kamu menunggu lama, Kai," kata Alya merasa enak.

"Tidak masalah sama sekali," balas Kai lembut. Ia berpaling pada perancang di sampingnya. "Rico, ini Alya yang aku ceritakan padamu."

Rico mengamati Alya dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan seorang seniman. Tidak ada pandangan meremehkan dari mata Rico, melainkan pendar antusiasme. "Proporsi tubuh yang sangat tegas! Bahumu tegap dan struktur tulang wajahmu sangat kuat, Bu Alya. Luar biasa!"

Alya tersenyum lega. "Terima kasih, Mas Rico. Sejujurnya, aku tidak mau gaun yang terlalu banyak rumbai atau kerutan kaku. Aku ingin sesuatu yang simpel, anggun, dan tegas."

"Gaya elegan tidak pernah memandang angka di timbangan, Bu Alya," tegas Rico mantap. "Tubuh berisi justru memberikan volume yang sangat mewah untuk gaun-gaun berpotongan klasik (classic silhouette)."

Rico mengajak mereka ke area koleksi khusus. Tangannya menarik sebuah gaun malam dari bahan sutra tebal berwarna emerald green (hijau zamrud). Gaun itu memiliki potongan V-neck yang tidak terlalu rendah, lengan panjang transparan dari kain tule halus bermotif minimalis, serta rok berpotongan A-line yang jatuh dengan sangat jatuh dan anggun.

"Cobalah gaun ini," ujar Rico.

Alya membawa gaun itu ke kamar ganti. Ketika ia mengenakannya, gaun itu membalut tubuh 70 kg Alya dengan sangat pas. Bahan sutranya menempel sempurna tanpa memperlihatkan lipatan yang tidak perlu, sementara warna hijau zamrudnya membuat kulit Alya yang cerah tampak bersinar alami.

Saat Alya menarik tirai kamar ganti dan melangkah keluar, langkah Kai seketika terhenti.

Kai yang sedang menyesap tehnya terpaku. Cangkir di tangannya tertahan di udara. Pandangan matanya memaku pada sosok Alya. Binar kekaguman yang teramat murni terpancar jelas dari manik mata pria itu, membuat suasana di dalam butik mendadak hening dan romantis.

Alya menjadi agak canggung di bawah tatapan intens Kai. Ia memegangi pinggang gaunnya, menunduk sedikit. "Bagaimana, Kai? Kelihatan aneh, ya? Apa terlalu ketat di bagian pinggang?"

Kai meletakkan cangkirnya perlahan, lalu berdiri. Ia melangkah mendekati Alya. Setiap langkah Kai terasa begitu mantap, hingga ia berdiri tepat di hadapan Alya dari jarak yang sangat dekat.

"Kamu..." Kai menggantung kalimatnya, matanya menatap dalam ke dalam iris mata Alya. Suaranya terdengar berat dan tulus. "...sangat cantik, Alya. Luar biasa cantik."

Pipi Alya seketika merona merah hangat. "Jangan bercanda, Kai..."

"Aku tidak pernah bercanda untuk hal seperti ini," potong Kai cepat namun lembut. Tanpa ragu, Kai mengulurkan tangannya. Dengan gerakan yang sangat halus dan penuh penghormatan, jemari Kai merapikan sedikit helai rambut Alya yang jatuh di samping telinganya, menyangkutkannya ke belakang pipi.

Sentuhan lembut ujung jari Kai di kulit pipinya membuat jantung Alya berdegup kencang—sebuah getaran manis yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.

"Warna hijau ini membuat matamu bersinar," bisik Kai, menatapnya dengan binar protektif. "Dan potongan gaun ini memperlihatkan betapa anggunnya kamu. Jangan pernah biarkan siapa pun membuatmu merasa kurang anggun dari ini."

Rico yang berdiri di belakang mereka terkekeh geli seraya bertepuk tangan pelan. "Lihat kan? Tatapan Pak Kai tidak bisa bohong! Gaun ini sempurna untukmu, Bu Alya! Untuk make-up, aku akan fokus pada bold lipstick merah tua dan clean skin-finish untuk menonjolkan keutuhan struktur wajahmu."

"Aku setuju dengan Mas Rico," ujar Alya, mengalihkan pandangannya dari Kai untuk menyembunyikan pipinya yang makin panas. "Aku mau riasan yang tegas dan elegan, bukan yang menor."

"Kesepakatan tercapai!" seru Rico gembira.

Malam harinya, setelah seluruh persiapan selesai dan janji untuk lusa malam telah terkunci rapat, Alya melangkah masuk ke dalam kamarnya.

Tubuhnya terasa agak lelah setelah seharian bergerak, tetapi pikirannya begitu segar. Alya melepaskan sepatu hak tingginya, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya yang hangat. Ia menatap langit-langit kamar dengan helaan napas lega yang panjang.

Sensasi sentuhan jemari Kai di pipinya tadi sore seakan masih tertinggal, membakar lembut permukaan kulitnya.

Alya memiringkan tubuhnya, memeluk bantal guling erat-erat. Sebuah tawa kecil yang geli dan heran keluar dari bibirnya.

"Gila..." gumam Alya pada dirinya sendiri. "Kenapa dulu di kehidupan pertama aku bisa sebutir itu sama Rendy?"

Ia mengingat kembali wajah Rendy—pria dengan senyuman manipulatif, mata licik, dan gaya bicara yang dibuat-buat manis. Bandingkan dengan Kai Aditya: pria dengan rahang kokoh, mata kecokelatan yang memancarkan ketulusan murni, wibawa yang tenang, dan ketampanan yang sangat berkelas tanpa perlu dibuat-buat.

"Dulu mataku tertutup apa, ya?" Alya menggeleng-gelengkan kepalanya di atas bantal. "Kai seratus kali lebih tampan, lebih kaya, lebih mapan, dan yang paling penting... dia menghargaiku sebagai seorang manusia utuh tanpa peduli berat badanku."

Rasa bersalah atas penolakannya di masa lalu kini sepenuhnya melunak, berganti menjadi pendar harapan baru yang hangat. Tuhan tidak hanya memberinya kesempatan kedua untuk menumpas para pengkhianat, tetapi juga membukakan matanya untuk melihat siapa pria sejati yang pantas bersanding di sisinya.

Alya memejamkan matanya seraya tersenyum tipis. "Rendy, Siska... nikmatilah gaun dan kesombongan kalian malam lusa. Karena di pesta itu, aku akan memastikan kalian melihat sendiri bagaimana rasanya dihancurkan di puncak rasa percaya diri kalian."

Dengan hati yang tenang dan penuh keyakinan, Alya pun tertidur lelap, siap menyambut hari eksekusi pembalasan dendamnya.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!