Demi memenuhi permintaan terakhir Dewi—sahabatnya yang berjuang melawan kanker—Gladys rela menikahi Raka, suami Dewi. Namun, pernikahan tanpa cinta itu membawanya pada kesepian mendalam, sebab hati Raka tetap tertambat sepenuhnya pada almarhumah istrinya.
Mencari pelarian dari rumah tangga yang hampa, Gladys membuka sebuah kafe. Di sana, ia bertemu dengan Praduta, seorang pria berparas tampan yang mengagumi kopi buatannya. Di balik kesan pertama yang sekilas penuh godaan, Gladys melihat ketulusan dalam diri Praduta. Kedekatan yang hangat itu perlahan berubah menjadi benih-benih cinta—sebuah perasaan yang tak seharusnya hadir di tengah ikatan pernikahannya.
Namun, Gladys tidak menyadari bahwa Praduta menyimpan rahasia kelam: kehadiran pria itu bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari dendam masa lalu terhadap keluarga Raka. Kini, Gladys terjebak di persimpangan jalan yang menyiksa—harus memilih antara kesetiaan pada janji pernikahan atau cinta terlarang yang memberi kebahagiaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ceklek!
Suara engsel pintu depan yang terbuka memecah ketegangan tegang di ruang makan.
Papa Devandra dan Raka seketika menoleh ke arah pintu utama.
Gladys melangkah masuk dengan wajah pucat dan mata yang sembab.
Langkah kakinya pelan namun pasti. Begitu matanya berpapasan dengan Papa Devandra,
Gladys hanya mengangguk kecil penuh rasa hormat, lalu terus berjalan melewati ruang makan tanpa melempar pandangan sedikit pun ke arah Raka yang membeku di tempatnya.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Gladys langsung melangkah naik menaiki tangga dan masuk ke dalam kamar, mengunci dirinya dari dunia luar.
Papa Devandra menatap Raka dengan tatapan menajam.
"Kejar istrimu, Raka!" perintahnya tegas dan dingin.
Raka tersentak saat mendengar perkataan dari Papanya.
Rasa bersalah yang membakar dadanya membuat pria itu tak berpikir panjang lagi.
Ia langsung bangkit dari duduknya, setengah berlari menaiki tangga menuju depan kamar Gladys.
Tok! Tok! Tok!
Raka menggetok pintu kayu itu dengan telapak tangannya yang sedikit gemetar.
"Gladys,"
Dari balik pintu yang perlahan terbuka, Gladys berdiri tegak.
Matanya menatap Raka lurus—tidak ada lagi binar rasa takut atau kerapuhan di sana, hanya ada tatapan dingin yang belum pernah Raka lihat sebelumnya.
"Ada apa, Mas?" tanya Gladys datar, suaranya menusuk. "Belum puas semalam?"
Tenggorokan Raka terasa begitu tercekat. Suami yang biasanya tinggi hati itu kini menundukkan kepalanya di hadapan sang istri.
"Gladys, aku mau minta maaf." ucap Raka
Kata-kata itu keluar dari mulut Raka, dengan senyum tipis terukir di bibir Gladys.
Sebuah senyuman dingin tanpa rasa hangat sedikit pun.
"Tidak perlu minta maaf, Mas," ucap Gladys tenang namun teramat dingin.
Ia menatap Raka tanpa kedipan. "Dan, tolong, kita hentikan pernikahan ini. Aku mau bercerai."
Mata Raka melebar sempurna. Darahnya seakan mendadak berhenti mengalir, dan oksigen di sekitarnya seolah habis dalam sedetik.
Permintaan cerai yang meluncur begitu tenang dari bibir Gladys terasa seperti hantaman palu godam tepat di dadanya.
"C-cerai?" suara Raka bergetar hebat, nyaris tak terdengar.
Ia langsung melangkah maju, hendak mencengkeram tangan istrinya, namun Gladys dengan sigap menarik diri dan mundur selangkah, menciptakan jarak yang tak bisa lagi Raka jangkau.
"Tidak, Gladys! Kamu tidak bisa melakukan ini!" Raka panik, pertahanan arogansinya runtuh sepenuhnya.
"Kita tidak akan bercerai! Aku mohon, maafkan aku soal semalam, aku khilaf, aku di bawah tekanan—"
Ketahanan Gladys yang selama ini dipendam rapat-rapat akhirnya jebol juga.
Isak tangis yang tertahan pecah di hadapan pria itu.
Gladys menatap Raka dengan air mata yang mengalir deras, menyuarakan seluruh kepedihan dan luka yang selama ini ia telan bulat-bulat.
"Kamu masih mencintai Dewi, Mas! Aku di sini hanya bayangan!" teriak Gladys parau di sela isak tangisnya.
"Bukankah Mas sendiri yang mengatakan, kalau Mas hanya mencintai Dewi. Mas menikahiku hanya untuk kebahagiaan Dewi. Dan,Mas meminta ku agar aku tidak berharap di pernikahan ini."
Raka tersentak mundur, napasnya memburu saat Gladys mulai mengulang kembali kalimat-kalimat kejam yang pernah ia ucapkan dulu—kalimat yang kini berbalik menjadi bumerang paling mematikan untuk menghancurkan hidupnya sendiri:
Gladys menatap tajam ke dalam mata Raka, sementara air matanya terus membasahi pipi.
Setiap kata yang diucapkannya di masa lalu kini diulang persis, menampar balik wajah Raka tanpa ampun.
"Sekarang aku sudah melakukannya, Mas," bisik Gladys dengan suara bergetar namun penuh ketegasan yang dingin.
"Aku tidak berharap apa-apa lagi darimu. Jadi kumohon, lepaskan aku."
Raka menggelengkan kepalanya panik, air mata penyesalan akhirnya tumpah dari sudut matanya.
Ia jatuh berlutut di hadapan Gladys, tidak peduli lagi pada harga dirinya.
"Jangan, Gladys. Jangan tinggalkan aku." ucap Raka.
Keributan di lantai atas yang berlanjut dengan tangisan dan suara lutut Raka yang lemas terdengar hingga ke lantai bawah.
Tak berselang lama, Papa Devandra yang mendaki tangga dengan wajah mengeras langsung melerai ketegangan di depan pintu kamar tersebut.
Dengan suara berat dan tatapan yang tidak bisa dibantah, Papa Devandra memerintahkan kedua anak muda itu untuk turun ke ruang keluarga.
"Kalian berdua, duduk di sini sekarang," perintah Papa Devandra penuh wibawa, menunjuk ke arah sofa utama.
Gladys yang masih menyeka sisa air mata di pipinya melangkah pelan dan duduk di salah satu sofa tunggal, sementara Raka duduk dengan bahu merosot di sofa panjang, wajahnya kusut dan penuh keputusasaan.
Papa Devandra duduk di hadapan mereka, menatap bergantian ke arah anak dan menantunya dengan rahang mengetat.
"Gladys, Raka, pernikahan bukanlah permainan anak-anak yang bisa kalian buat main-main sesuka hati," suara Papa Devandra memecah keheningan yang mencekam, sarat akan ketegasan sekaligus kekecewaan.
"Kalian sudah mengikat janji suci di hadapan Tuhan, dan yang terpenting, kalian sudah berjanji kepada almarhumah Dewi."
Mendengar nama mendiang Dewi disebut kembali, Gladys menundukkan kepalanya.
Ia mengangkat wajah untuk menatap sang mertua yang selama ini sangat menyayanginya.
"Tapi, Pa." ucap Gladys lirih dengan mata kembali berkaca-kaca.
"Mas Raka tidak akan pernah mencintaiku, sampai kapan pun."
Sebelum Papa Devandra sempat merespons, Raka langsung mendongak.
Kepanikan tergambar jelas di wajah pria itu. Ia menatap Gladys dengan sorot mata penuh permohonan yang putus asa, lalu beralih menatap sang ayah.
"Pa, aku mohon, jangan biarkan Gladys pergi," ucap Raka setengah memohon, suaranya parau.
"Aku salah aku sadar aku brengsek. Beri aku satu kesempatan lagi, Pa. Aku akan memperbaiki semuanya. Aku akan buktikan kalau aku bisa jadi suami yang benar untuk Gladys!"
Papa Devandra menghela napas panjang, menatap putranya yang tampak begitu hancur dan putus asa.
Ia tahu betul sifat keras kepala Raka, tetapi ia juga melihat ketulusan serta luka yang teramat dalam di mata Gladys.
Sebagai orang tua, ia tidak ingin rumah tangga yang dibangun mendiang Dewi hancur begitu saja, namun, ia juga tidak akan tinggal diam jika menantunya terus tersiksa.
Papa Devandra menatap Gladys dengan sorot mata penuh pengertian.
"Baiklah. Papa beri kamu satu kali kesempatan, Raka. Jangan sia-siakan ini," ujar Papa Devandra tegas.
Ia kemudian beralih menatap menantunya. "Bagaimana, Gladys?"
Gladys terdiam sejenak, memandang mertua yang selama ini melindunginya itu dengan tatapan sendu.
Ia tahu menolak sepenuhnya akan sulit di hadapan Papa Devandra, namun ia juga sudah membulatkan tekadnya. Gladys akhirnya menganggukkan kepalanya pelan.
"Satu kali, Pa," ucap Gladys dengan suara tegas namun rapuh.
"Tapi, jika Mas Raka tetap seperti ini dan tidak berubah, tolong jangan halangi aku untuk bercerai."
Papa Devandra menganggukkan kepalanya perlahan, menyetujui syarat berat tersebut.
Mendengar persetujuan itu, setitik harapan seolah menyala di dada Raka.
Tanpa membuang waktu, pria itu langsung bangkit dari duduknya.
Ia menatap Gladys dengan sorot mata penuh penyesalan sekaligus permohonan.
"Sekarang, kemasi barang-barang mu dan kamu pindah ke kamar utama, Gladys," ucap Raka lembut, nyaris berbisik, seolah takut wanita itu akan berubah pikiran jika ia berbicara terlalu keras.
"Tidak, aku tetap di kamar ini saja," ucap Gladys dingin, menolak ajakan Raka tanpa sedikit pun keraguan di matanya.
Baginya, melangkah masuk ke kamar utama sama saja menyerahkan dirinya kembali ke tempat yang penuh kenangan pahit.
Mendengar penolakan itu, dada Raka terasa sesak, namun ia menahan emosinya.
Ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama. Dengan perlahan, Raka melangkah mendekat dan merendahkan tubuhnya di hadapan Gladys.
Tangannya terulur, jemarinya yang gemetar mendadak menggenggam erat telapak tangan istrinya yang terasa dingin.
"Gladys, tolong." bisik Raka parau, menatap dalam-dalam ke iris mata Gladys yang menatapnya datar.
"Aku tahu aku sudah melukaimu begitu dalam. Tapi kalau kamu tetap tidur terpisah dariku, bagaimana aku bisa membuktikan kalau aku ingin berubah? Beri aku kesempatan untuk berada di sisimu, Gladys. Tolong,"
Gladys menarik napas panjang, menatap tangannya yang kini berada dalam genggaman Raka.
Kehangatan telapak tangan suaminya yang dahulu sangat ia harapkan, kini justru terasa asing dan membebani perasaannya—terlebih bayangan kehangatan dan rasa aman yang diberikan Praduta tadi pagi masih tercetak jelas di benaknya.