Alina Elviana dan Rafael Mahendra menikah karena perjodohan. Namun hati Rafael tak pernah benar‑benar di sini, ia masih menyimpan perasaan pada seseorang di masa lalunya.
Revan Adinata, asisten yang bergabung enam bulan lalu, justru lebih memahami Alina, hadir mengisi kekosongan yang ditinggalkan suaminya. Namun di balik sikap tenang dan setianya, Revan menyimpan rahasia besar yang tak boleh terungkap.
Saat perasaan terlarang mulai tumbuh, Alina harus memilih: bertahan dalam pernikahan yang hampa, atau mengikuti suara hati yang terancam hancur saat kebenaran terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 22
Dua hari sudah berlalu sejak makan malam yang menyesakkan di rumah orang tua Rafael.
Sampai semalam pun, Alina masih memilih tidur terpisah. Beberapa kali Rafael mencoba mendekat dan membujuknya, tapi jawaban Alina selalu singkat dan tertutup. Rafael yang makin kesal akhirnya memilih tidur di ruang kerjanya atau kamar tamu.
Pagi ini, Alina keluar dari kamar mandi. Wajahnya tampak lebih segar setelah membersihkan diri, meskipun di balik itu pikirannya terus berputar tentang rencana perjodohan Revan dan Kayla yang membuat dadanya selalu terasa sesak. Ia mengambil riasan tipis, mengusapkannya perlahan ke wajah untuk menutupi tanda‑tanda lelah.
Saat ia membuka laci meja rias untuk mengambil sisir, matanya tiba‑tiba tertuju pada bungkus kecil yang tergeletak di sudut laci.
Selama ini, setiap kali bersama Rafael, mereka selalu menggunakan pengaman. Rafael sendiri yang selalu berkata dia belum siap punya anak.
Tapi seketika itu juga, ingatan tentang di kamar hotel muncul tiba‑tiba. Saat bersama Revan, mereka melakukannya tanpa pengaman.
Jantung Alina berdegup kencang. Tangannya masih menggantung di atas laci yang terbuka. Sisir kecil yang tadinya ingin ia ambil, kini terlupakan.
Matanya menatap bungkus kecil itu tanpa berkedip.
"Aku... bagaimana aku bisa lupa..." bisiknya pelan. Suaranya nyaris tidak terdengar, tertelan oleh dengung AC kamar yang pelan.
Alina buru‑buru bangkit dari depan meja rias, memasukkan ponsel dan dompet ke dalam tas selempangnya dengan tangan yang masih gemetar. Ia berjalan cepat menuju tangga, lalu turun ke lantai bawah.
Bi Hani yang sedang menyeka meja ruang tamu langsung berhenti dan menghampirinya.
"Nyonya mau ke mana?" tanyanya pelan.
"Bi, aku mau keluar. Mungkin tidak akan makan siang di rumah," jawab Alina dengan suara yang berusaha tenang, meskipun napasnya masih pendek.
Bi Hani mengangguk sopan. "Baik, Nyonya. Hati‑hati di jalan."
Alina segera mengambil kunci mobil dari lemari dinding tangga, lalu bergegas keluar menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Angin pagi yang sejuk menerpa wajahnya, tapi tidak bisa mendinginkan rasa cemas yang membara di dalam dada. Ia membuka pintu mobil, masuk dan menutupnya dengan bunyi tertutup yang keras, lalu menekan kepalanya ke kemudi sejenak sebelum menyalakan mesin.
-
-
-
Di lantai 20 gedung perkantoran Mahendra Group, lampu‑lampu studio bersinar terang, memantul di kaca jendela tinggi yang memandang ke pemandangan kota. Amara berdiri di tengah, mengenakan gaun koleksi terbaru beserta perhiasan eksklusif, mengikuti arahan fotografer dengan gerakan yang luwes.
Rafael berdiri agak ke samping, kedua tangannya terselip di kantong celana, tatapannya tertuju ke arah Amara, tampak tenang di permukaan, tapi di dalam dada ada perasaan bercampur yang tak bisa disembunyikan. Sedikit di belakangnya, Revan berdiri tegak dengan jas hitam rapi, matanya memantau semua yang terjadi sekaligus tetap waspada, tak mengucapkan sepatah kata pun. Hanya suara arahan fotografer dan bunyi klik kamera yang berulang memecah kesunyian ruangan itu.
Selesai pemotretan, Amara berjalan mendekat dengan senyum mengembang diwajahnya. Ia berdiri tepat di depan Rafael, tersenyum tipis.
"Bagaimana? Apa kamu puas dengan hasilnya?" tanyanya.
Rafael mengangguk pelan.
"Bagus. Sesuai yang tim harapkan," jawabnya dengan nada datar, berusaha tampak seperti pimpinan yang menilai hasil kerja saja.
Ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu menatap Amara.
"Sudah waktunya makan siang. Ganti bajumu dulu, setelah itu kita makan siang di luar," ucapnya dengan nada yang tetap berusaha terdengar seperti perintah pimpinan, meskipun ada nada pribadi yang halus terselip di sana.
Amara tersenyum tipis dan mengangguk. "Baiklah. Aku ganti baju dulu."
Amara berbalik, langkahnya pelan tapi pasti menuju ruang ganti kecil di sudut studio yang ditutupi tirai hitam tebal. Gaun dengan belahan tinggi itu berkibar pelan setiap kali ia melangkah, meninggalkan aroma parfum tipis yang familiar. Aroma yang dulu sering Rafael hirup waktu mereka masih kuliah.
Sepuluh menit berlalu. Amara muncul kembali dari balik tirai hitam dengan atasan rajut putih longgar dan rok panjang cokelat tua, tas rantai krem di tangannya. Rambutnya disisir rapi ke satu sisi, langkahnya ringan saat berjalan mendekat.
Rafael menoleh ke arah Revan yang masih berdiri diam di belakangnya.
"Revan, ikut ke bawah, siapkan mobil," ucapnya dengan nada perintah yang biasa ia gunakan.
Revan mengangguk sopan. "Baik, Tuan."
Mereka berjalan menuju lift kaca yang besar. Pintu lift terbuka perlahan, lalu ketiganya masuk ke dalam.
Di dalam lift yang dindingnya hampir semua kaca itu, keheningan terasa lebih nyaring daripada di studio tadi.
Amara berdiri di sebelah kanan Rafael. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup dekat untuk membuat pantulan mereka berdua terlihat jelas di kaca lift. Revan berdiri di belakang mereka, setengah langkah di belakang, punggungnya tegak, kedua tangan terlipat di depan.
"Apa Alina masih marah?" Amara memecah keheningan, suaranya pelan, sambil menatap pantulan Rafael di kaca. "Aku salah. Seharusnya aku tidak mengembalikan jam tangan itu pada Alina kalau tahu dia akan salah paham begini."
Rafael tidak menoleh. Ia menatap lurus ke angka yang terus menurun di atas pintu lift.
"Tidak perlu dibahas lagi," jawabnya singkat. "Fokus saja pada pemotretanmu."
Amara hanya mengangguk kecil dan tak berani bicara lagi. Rafael tetap menatap angka yang turun satu per satu, rahangnya mengeras diam‑diam. Di belakang mereka, Revan berdiri tegak, matanya menatap ke arah lantai, tapi setiap kata yang terucap tadi tertahan jelas di telinganya.
Pintu lift terbuka perlahan di lobi berlantai marmer berkilau. Mereka berjalan keluar, Revan tetap berjalan agak di belakang sesuai posisinya. Tepat saat itu pintu kaca utama gedung terbuka, dan Alina melangkah masuk.
Wajah Alina yang tadi tampak tenang membeku seketika. Matanya bertemu dulu dengan mata Rafael, lalu beralih ke Amara yang berjalan di samping suaminya, dan terakhir tertuju pada Revan yang berdiri agak di belakang. Semua berhenti sejenak di tengah keramaian lobi yang sibuk.
"Oh," ucap Alina pelan, matanya menatap atasan rajut putih Amara dari atas ke bawah, lalu beralih ke Rafael. Senyumnya tipis, terlalu tenang. "Apa sekarang tugas CEO Mahendra Group sudah berubah ya? Dari memimpin perusahaan, jadi menemani modelnya jalan‑jalan?"
-
-
-
Bersambung...
Maybe gt🤭
Konfliknya berlapis, bukan cuma soal Alina - Rafael - Revan. Tapi ada 2 bom waktu di sini:
Cinta terlarang Alina & Revan dan rahasia besar Revan.
Rafael sebagai suami yang dingin karena masa lalu, Revan sebagai penyelamat yang tenang dan setia. Kontrasnya dapet. Alina berada di posisi dilema dengan pilihan berat "bertahan dalam pernikahan hampa atau mengikuti suara hati". Itu bukan pilihan mudah. Apalagi ada embel-embel "Di Bawah Kendali Asisten Suami" - yang mengisyaratkan dominasi, posesif. Ini bukan cerita nikah biasa, ini cerita tentang kekosongan yang akhirnya diisi oleh orang yang seharusnya tidak boleh.
cerita kakak luar biasa. semangat berkarya🥰