NovelToon NovelToon
Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Sistem Apapun Yang Kuminta, Akan Menjadi Milikku

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Notdrick

Sepuluh persen. Itu bagian Elang Nugroho dari warisan keluarganya. Sembilan puluh persen sisanya jatuh ke tangan sang kakak, sementara tunangannya berdiri di sisi orang yang mengkhianatinya.

Elang tidak memohon. Ia pergi, dan memutus ikatan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya setara.

Namun sarung tangan hitam yang ia kenakan sejak SMA ternyata menyimpan rahasia. Satu sentuhan, satu permintaan, dan apa pun yang ia inginkan bisa menjadi miliknya: kemampuan, benda, bahkan orang. Di balik sistem itu, ada ruang yang menyimpan hal-hal yang tidak pernah ada di dunia manusia.

Dunia mengira ia kehilangan segalanya.

Mereka belum tahu, ia baru saja mulai memintanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Mobil belum berhenti sempurna ketika pintu belakang terbuka dari dalam.

Pak Wijaya melompat turun dengan satu tangan menahan jas. Tidak ada tongkat, tidak ada langkah berhati-hati, hanya sepatu pantofel yang menghantam aspal dan punggung yang membungkuk ke depan seperti orang berlari melawan angin. Dua pengawal menyusulnya, lalu tiga lagi dari mobil di belakang. Pintu kaca rumah sakit membuka, menelan mereka, dan menutup lagi.

Sedan itu kembali sunyi.

Elang tidak ikut turun. Pengemudi tadi juga sudah pergi, dan kunci mobil masih tergantung di kemudi, berayun pelan.

Ia memandang pintu kaca itu cukup lama. Papan nama berlapis emas tertera di atas atap bangunan, huruf-hurufnya terlalu rapi untuk tempat yang menyimpan begitu banyak orang yang takut.

'Ia lari seperti anak kecil.' Elang membuka sarung tangan di lututnya, lalu menutupnya lagi. 'Bahkan orang seperti dia.'

Ia menekan tonjolan di punggung sarung tangan.

Cahaya biru menyala, dan panel itu tidak lagi hanya dua baris.

[Misi: Pergi ke mall utama Wijaya Group, lalu selamatkan seorang pria tua.]

[Status: Selesai.]

[Hadiah: Satu Hak Permintaan Benda.]

[Silakan mengakses Ruang Sistem.]

Elang mengusap garis rahangnya dengan buku jari. Ia sudah memutuskan jawabannya sejak semalam, saat kasur tipis di kontrakan masih berderit di bawah punggungnya.

"Masuk."

Putih meledak. Mobil, pintu kaca, dan papan nama menguap seperti uap di cermin.

Lorong itu masih ada. Benda-benda melayang masih setinggi dada, masing-masing dibungkus pendar tipis, masing-masing sunyi. Ia berjalan melewati botol keemasan, melewati sarung tangan perak, melewati kristal-kristal penyimpan yang berkedip malas. Langkahnya tidak melambat, dan sepatunya tidak menimbulkan gema.

Kubus kecil itu melayang di sisi kiri, persis di tempat yang ia ingat. Warnanya perak pudar, ukurannya sebesar dadu, denyutnya seperti jantung yang tidak sabar.

[Perangkat Medis Nanoteknologi: melakukan prosedur medis di luar jangkauan teknologi modern.]

"Kau menungguku." Elang mengulurkan tangan kanannya ke depan benda itu. "Bagus."

Ia tidak bertanya apa yang akan terjadi. Ia hanya mengucapkannya.

"Aku mau yang ini."

[Permintaan dikabulkan.]

Kubus itu bergetar sekali. Lalu ia terbelah, tanpa suara, menjadi ribuan butir perak yang melayang di udara seperti kabut logam. Butir-butir itu mengalir ke punggung tangan Elang, merambati jahitan sarung tangan, dan menyusup ke antara jari-jarinya.

Rasanya dingin dan geli di kulit. Elang tidak bergerak.

Butir-butir itu terus naik. Pergelangan, lengan bawah, siku. Mereka merapat dan menyatu, membentuk lapisan tipis yang berkilat seperti sisik, tersusun rapi, lalu menggelap menjadi abu-abu gelap yang hampir menyerupai kain. Lapisan itu berhenti di bawah bahunya. Ketika ia mengepalkan tangan, lapisan itu mengikuti, lentur, tanpa bunyi.

Seperti zirah yang tidak berat.

[Perangkat Medis Nanoteknologi terintegrasi dengan Sarung Tangan Hak Mutlak.]

[Status: Siap digunakan.]

Elang mengangkat lengannya ke arah cahaya, memutarnya pelan, melihat bagaimana kilatan perak itu bergeser di balik kemeja. Ia tidak tersenyum lebar. Ujung bibirnya hanya terangkat sedikit, cukup bagi ia sendiri untuk tahu.

"Sepuluh tahun aku bertahan dengan satu permintaan sehari," katanya pada lorong sunyi itu. "Sekarang aku punya satu hal yang tidak dimiliki dokter mana pun di dunia ini."

[Host dipindahkan kembali ke dunia.]

...-----...

Putih menggulung dan lenyap.

Ia kembali di jok belakang sedan hitam itu. Kunci masih berayun di kemudi, dan jarum jam di dasbor belum berpindah satu pun.

Elang membuka pintu dan turun. Udara siang menyentuh wajahnya, panas dan berbau knalpot. Lapisan perak di lengannya sudah menghilang di balik kemeja, tidak meninggalkan kerutan, hanya berat tipis yang hangat di tulangnya.

Ia merapikan kerah, lalu berjalan ke pintu kaca.

Pintu itu membuka sendiri. Lobi rumah sakit dingin dan berbau antiseptik, dengan lantai putih yang memantulkan lampu langit-langit. Di meja resepsionis, seorang perawat mengangkat kepala, hendak bertanya, lalu urung.

"Lantai berapa kamar Nona Wijaya?" tanya Elang.

Perawat itu menelan ludah. "Lantai... lantai lima, Tuan. Sayap timur, ruang paling ujung. Tapi saat ini..."

"Terima kasih."

Elang sudah berjalan menuju lift sebelum kalimat itu selesai.

Di dalam lift yang naik pelan, ia menatap angka-angka yang berkedip. Pantulannya di dinding baja tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja membuang satu-satunya hak yang ia miliki hari ini demi menyelamatkan gadis yang belum pernah ia lihat.

Angka lima menyala. Pintu terbuka.

Dari ujung lorong terdengar langkah dan suara orang-orang yang menahan tangis.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!