"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Ampun, Mayor!
Derap ketukan langkah sepatu lars kulit beradu nyaring dengan keramik teras—berat, teratur, dan kaku. Gagang pintu utama diputar dari luar, lalu engsel kayu tebal itu berderik terbuka.
Mayor Yudhana melangkah masuk dengan bahu tegak terpancang lurus. Seragam dinas harian bergaris kaku yang melekat di tubuh tegapnya tampak mulus tanpa kerut. Pria itu baru saja menyelesaikan jam dinas yang melelahkan di markas komando, dengan niat bulat untuk menegakkan kembali aturan dan wibawanya yang sempat runtuh berantakan kemarin.
Namun, begitu pijakan kakinya menembus ambang pintu utama, seluruh panca inderanya langsung dihantam guncangan hebat.
Aroma minyak gorengan pekat dan saus sambal murahan menyengat hidungnya, menggantikan wangi pelembut pakaian dan cairan pembersih lantai yang biasa menyambutnya. Suara raungan musik dan teriakan presenter acara gosip dari televisi menghantam gendang telinganya dengan ketukan volume yang memekakkan.
Yudhana membeku di ambang pintu; mata tajamnya yang biasa menundukkan ratusan prajurit kini tak berdaya menatap sepasang sandal jepit hijau yang bertengger tepat di atas karpet tamu kebanggaannya.
Tangan kirinya yang memegang baret hijau tua menegang kaku. Matanya bergulir perlahan ke arah sofa—melihat handuk basah merah muda yang tergantung di kursi ukir, gaun dinas yang terlipat asal, remah-remah tepung di atas karpet, dan ... Vina yang sedang duduk bersila sambil mengunyah gorengan tanpa beban.
Darah serasa meluncur kencang menembus kepala sang Mayor. Wajah tegasnya memerah padat dari leher hingga pelipis. Rahangnya mengeras kencang hingga otot paut di sekitar pipinya menonjol kaku.
"Vina!"
Suara bariton Yudhana menggelegar kencang, memotong bising suara televisi. Pria itu melangkah tegap mendekati area ruang tamu, sepatu larsnya sengaja dihentakkan keras ke lantai. "Apa-apaan semua ini?!"
Ita yang berdiri di dekat nakas langsung menundukkan kepala dalam-dalam, jemarinya meremas kain tasnya dengan rasa panik yang meluap.
Namun, Vina justru meraih remote TV di sampingnya, lalu menekan tombol volume turun tiga poin tanpa terburu-buru. Ia memalingkan wajahnya, menatap Yudhana dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan polos dan santai.
"Aduh, Si Om datang-datang udah kayak toa masjid!" celetuk Vina geleng-geleng kepala. "Kaget tau kagak? Salam dulu napa, main teriak-teriak aja. Nanti urat leher Om putus baru tahu rasa!"
"Vina!" tegur Yudhana, nada suaranya makin melengking kaku, mencoba merebut kembali kendali ruangan yang kacau-balau itu. "Lihat rumah ini! Karpet kotor, handuk dibuang sembarangan, suara TV seperti di pasar! Kamu pikir ini markas tempat penampungan liar?! Kamu ini istri perwira menengah, punya etika atau tidak?!"
Yudhana menunjuk handuk merah muda dan kantong gorengan berminyak itu dengan telunjuknya yang bergetar menahan gusar. Selama satu tahun, rumah ini adalah simbol ketertiban dan kedisiplinan yang ia banggakan. Sekarang, dalam kurun waktu kurang dari dua puluh empat jam, rumah dinas Batalyon ini telah disulap Vina menjadi benteng kebebasan anak SMA!
Vina meraih kantong plastik gorengan, membukanya lebar-lebar, lalu menyodorkannya tepat ke arah dada seragam Yudhana dengan wajah tanpa dosa.
"Dih, marah-marah terus," potong Vina santai, matanya berkedip jenaka. "Lapar kan, Om? Nih, makan tahu isi dulu mumpung masih hangat. Sausnya pedas mantap nih, bisa bikin darah tinggi lu makin naik!"
Yudhana membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang tadinya menunjuk kaku melayang canggung di udara.
Pria itu menatap kantong plastik berminyak yang disodorkan tepat di depan dada berseragamnya, lalu menatap wajah Vina yang tersenyum lebar tanpa rasa takut sedikit pun. Bukannya gemetar meminta maaf atau buru-buru merapikan rumah seperti biasanya, istrinya justru menawarkannya gorengan tahu isi dengan gaya barbar yang sangat kurang ajar.
"Saya ... saya tidak butuh gorengan kamu!" sentak Yudhana, suaranya sedikit tergagap akibat benturan gengsi yang tertahan di tenggorokan. Ia mengibaskan tangannya, menolak kantong plastik itu. "Saya minta kamu rapikan semua kekacauan ini sekarang juga! Pindahkan handuk itu dan matikan televisinya!"
Vina menghembuskan napas panjang, menarik kembali kantong gorengannya seraya mengambil satu gigitan tahu isi krispi.
"Alesan," cibir Vira sambil mengunyah renyah. "Bilang aja gengsi mau makan gorengan pinggir jalan. Ya udah kalau kagak mau, lagian ini sisa dua biji, mending buat gue sama Ita."
Vira lalu menunjuk ke arah koridor belakang dengan garpu plastiknya. "Lagian ya, Om Tentara ... kalau On risih liat rumah berantakan, Om kan punya tangan dua. Rapikan sendiri napa? Atau nyuruh prajurit piket Om di luar sana? Gue kan lagi masa pemulihan habis koma dua minggu, masa disuruh kerja bakti? Nggak ada rasa kemanusiaannya banget jadi Om-om!"
Pukulan kata-kata Vina menghantam wibawa Yudhana dengan telak. Pria itu menyentak napasnya kasar, matanya membelalak tak percaya.
Nggak ada rasa kemanusiaannya banget jadi Om-om!
Kalimat itu meluncur begitu mulus di depan Ita yang sedang menahan tawa di sudut ruangan. Yudhana merasa lehernya panas membara. Jika ia memaksa menyuruh Vina merapikan rumah saat ini, ia akan terlihat seperti suami kejam yang menindas wanita sakit. Namun jika ia membiarkannya, rumah dinasnya akan makin hancur berantakan.
"Kamu ...." Yudhana menunjuk Vira dengan jemari gemetar, kehilangan kata-kata untuk membalas argumen barbar istrinya. "Kamu benar-benar ...."
"Benar-benar cantik dan pemberani, kan?" potong Vina percaya diri, mengedipkan sebelah matanya seraya merebahkan kembali badannya ke sandaran sofa. "Udah ah, Om. Om mending mandi sana, bau keringat tentaranya menyengat banget sampai kalah bau gorengan nih. Bikin pusing kepala gue aja."
Vina kembali menaikkan volume TV, menaikkan kedua kakinya ke atas meja kaca, dan melanjutkan menonton acara gosip tanpa memedulikan keberadaan Yudhana lagi.
Yudhana berdiri mematung di tengah ruang tamu selama sepuluh detik yang menyiksa. Manik matanya yang pekat menatap Vina yang asyik tertawa menonton TV, seolah-olah sang Mayor tak lebih berbahaya dibanding nyamuk yang melintas.
Rasa malu, kejengkelan, dan keputusasaan bercampur aduk menggerogoti dadanya. Pria itu akhirnya memutar tubuhnya kaku. Dengan langkah-langkah berat yang menghentak keramik, Yudhana melangkah menuju ruang kerja belakang, meninggalkan ruang tamunya yang kini resmi dikuasai oleh jiwa barbar istrinya.
Di balik pintu ruang kerja yang ditutupnya kasar, Mayor Yudhana menyandarkan punggungnya pada pintu kayu. Pria itu mengusap wajahnya yang memerah panas dengan telapak tangan, mendengarkan gelak tawa Vina yang melambung tinggi dari ruang tamu—sebuah tawa lepas yang tanpa ia sadari, perlahan-lahan mulai merobek dinding dingin di dalam hatinya.
bersambung...
Alhamdulillah 🤲