Alya Renata adalah aktris terkenal yang hidupnya selalu berada di bawah sorotan kamera.
Arka Pratama hanyalah seorang mahasiswa yang terlihat biasa—tenang, sederhana, dan tidak tertarik dengan dunia selebritas.
Pertemuan tak sengaja di tengah hujan membuat dua dunia yang berbeda mulai saling mendekat.
Alya tidak pernah menyangka bahwa pria yang membuatnya merasa nyaman itu menyimpan identitas besar di balik kehidupannya yang sederhana.
Arka bukan sekadar mahasiswa.
Ia adalah pewaris keluarga Pratama, salah satu keluarga konglomerat terbesar di negeri ini.
Ketika cinta mereka mulai diketahui publik, mereka harus menghadapi usia, keluarga, media, karier, dan perbedaan dunia yang semakin sulit diabaikan.
Karena mencintai seseorang ternyata mudah.
Yang sulit adalah memilih untuk tetap berjalan bersamanya ketika seluruh dunia meminta mereka berpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sphinxeditz77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Tak Terduga
Hujan turun tanpa peringatan.
Beberapa menit sebelumnya, langit di atas kawasan pusat kota masih terlihat kelabu biasa. Tidak terlalu gelap, tidak pula menunjukkan tanda-tanda akan menurunkan hujan deras.
Namun sekarang, suara air yang menghantam aspal terdengar hampir menenggelamkan gemuruh mesin kendaraan.
Arka Pratama berdiri di depan sebuah minimarket sambil menatap langit.
"Serius?"
Ia baru saja keluar dari area kampus sekitar dua puluh menit lalu. Rencananya sederhana—pulang ke apartemen, mandi, lalu menyelesaikan revisi skripsi yang sudah dua hari ia tunda.
Sayangnya, rencana itu harus berhadapan dengan hujan.
Arka menghela napas. Untungnya, ia masih membawa payung lipat di dalam tas ranselnya. Mahasiswa tingkat akhir seperti dirinya sudah terbiasa membawa berbagai barang yang tidak jelas kapan akan berguna.
Payung. Power bank. Laptop. Buku catatan. Bahkan terkadang makanan ringan. Hidup sebagai mahasiswa memang tidak pernah bisa ditebak.
Arka membuka tas dan mengambil payungnya. Sebelum membukanya, ia melirik ke dalam minimarket. Ia masih membutuhkan sesuatu untuk mengganjal perut malam ini.
"Roti sama kopi cukup."
Arka kembali masuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan satu kantong plastik berisi roti dan minuman kaleng.
Saat itulah ia melihat seseorang berdiri tidak jauh dari pintu minimarket.
Seorang wanita.
Ia mengenakan jaket berwarna gelap, celana panjang, masker medis, serta topi bisbol yang ditarik cukup rendah hingga sebagian wajahnya tertutup rapat.
Wanita itu berdiri gelisah sambil menatap tirai hujan. Tidak membawa payung.
Arka berhenti sebentar. Kemudian ia melirik jalan di depan minimarket. Hujan justru turun semakin beringas.
Wanita itu mengeluarkan ponselnya, menatap layar dengan kening berkerut, lalu memasukkannya kembali ke saku. Sepertinya sedang menunggu seseorang yang tak kunjung tiba.
Arka tidak terlalu memikirkannya. Ia membuka payungnya.
"Permisi."
Wanita itu menoleh dengan cepat.
Arka mengangkat payungnya sedikit. "Kalau mau menyeberang atau ke parkiran, saya bisa pinjemin payung sampai sana."
Wanita itu terlihat sedikit terkejut. Pundaknya yang sempat menegang perlahan turun.
"Oh..." Suaranya terdengar pelan, sedikit teredam masker. "Tidak perlu. Saya bisa menunggu."
Arka mengangguk santai. "Oh, oke."
Tidak ada alasan baginya untuk memaksa. Ia pun melangkah keluar, bersiap menembus hujan.
Baru beberapa langkah, ia mendengar suara wanita itu lagi.
"Mas."
Arka menoleh.
Wanita tersebut menunjuk ke arah jalan di seberang dengan ragu. "Kalau tidak merepotkan... saya mau ke sana."
Arka melihat arah yang ditunjuk. "Ya sudah."
Ia kembali mendekat dan mengarahkan payungnya agar cukup menaungi mereka berdua. Mereka mulai melangkah berdampingan meninggalkan pelataran minimarket.
Tidak ada percakapan. Hanya suara air yang beradu dengan kain payung dan genangan di aspal jalanan.
Di balik maskernya, Alya diam-diam melirik lewat sudut matanya. Ia menyadari langkah mahasiswa di sebelahnya perlahan melambat, sengaja menyesuaikan dengan ritme langkahnya.
Tidak hanya itu.
Payung lipat yang mereka gunakan sebenarnya tidak terlalu besar untuk dua orang. Namun, Alya sama sekali tidak merasakan tetesan air. Saat ia melirik ke atas, ia baru sadar bahwa pria itu sengaja mencondongkan gagang payungnya lebih banyak ke arah Alya.
Akibatnya, sisi bahu kiri pria itu mulai basah kuyup terkena tempias hujan. Ia melakukannya tanpa mengeluh. Tanpa pamer. Seolah memastikan orang di sebelahnya tetap kering adalah hal yang paling wajar untuk dilakukan.
Rasa canggung yang awalnya Alya rasakan perlahan berganti menjadi rasa nyaman yang aneh.
Ketika sampai di seberang jalan, Alya berhenti.
"Terima kasih."
"Sama-sama." Arka mengulurkan gagang payung itu sedikit ke arahnya. "Kalau mau dipakai sampai tempat tujuan, ambil saja."
Alya langsung menggeleng. "Tidak perlu."
"Baik." Arka menarik kembali payungnya. "Kalau begitu saya duluan."
Alya mengangguk pelan. "Hati-hati."
Arka hanya mengangkat tangan sekilas. "Kamu juga."
Ia kemudian berbalik dan berjalan menembus malam. Begitu beberapa meter menjauh, Arka kembali fokus merogoh ponsel di sakunya yang terus bergetar. Ada tiga pesan masuk dari temannya.
> Rendy: Bro, besok jadi masuk kampus?
> Rendy: Jangan bilang lu masih di rumah.
> Rendy: Dosen pembimbing lu nyariin.
>
Arka menghela napas panjang. "Masalah skripsi lagi."
Ia memasukkan ponselnya kembali dan terus berjalan. Baginya, kejadian meminjamkan payung barusan bukanlah sesuatu yang penting. Ia bahkan mungkin akan melupakannya begitu bangun besok pagi.
Sementara itu, wanita yang baru saja dibantunya masih berdiri di tempat. Matanya terus memperhatikan punggung Arka yang semakin jauh ditelan gelapnya malam.
Ponsel di saku wanita itu bergetar. Sebuah pesan masuk.
> Satria: Mobil sudah sampai di ujung jalan. Maaf, Alya. Tadi jalanan macet parah.
>
Alya menghela napas lega. Ia menoleh sekali lagi ke arah jalanan tempat Arka pergi. Mahasiswa itu sudah benar-benar menghilang.
"Orang baik," gumamnya pelan.
Ia kemudian berjalan cepat menuju sebuah MPV hitam mengilap yang baru saja menepi. Begitu pintu geser mobil terbuka, seorang pria dari dalam segera menyapanya dengan panik.
"Maaf, Alya. Tadi di depan ada kecelakaan jadi—"
"Tidak apa-apa."
Alya masuk dan pintu mobil otomatis tertutup rapat, mengisolasi suara hujan di luar. Ia melepas masker yang sejak tadi membuatnya sesak. Topinya juga ia buka, membiarkan rambut panjangnya tergerai bebas.
Wajah yang selama ini hanya dikenal melalui layar televisi, film box office, dan berbagai poster iklan raksasa di pusat kota akhirnya terlihat jelas.
Alya Renata.
Aktris berusia tiga puluh tahun yang namanya sedang berada di puncak rantai makanan industri hiburan. Bertahun-tahun hidup di bawah sorotan kamera membuat hampir setiap gerakannya selalu diawasi. Karena itu, malam ini ia sengaja keluar dengan penyamaran ekstra hanya untuk sekadar membeli minuman tanpa harus dikerumuni penggemar atau disorot lensa paparazi.
Namun ternyata, hujan lebat malah membuatnya bertemu seseorang yang bahkan sama sekali tidak mengenalinya.
Alya menyandarkan kepalanya ke kursi kulit yang empuk. Matanya menatap rintik air di kaca jendela.
Biasanya, orang-orang yang mengenali wajahnya akan langsung berubah sikap. Ada yang histeris meminta foto. Ada yang mendadak gagap. Ada yang tiba-tiba menjadi terlalu ramah dan mencari muka.
Tapi mahasiswa tadi?
Jangankan meminta foto, pria itu bahkan tidak repot-repot menatap wajahnya lama-lama. Tidak peduli siapa yang ada di balik masker itu. Dia hanya meminjamkan payung, merelakan bahunya basah, lalu pergi begitu saja.
Sesederhana itu.
Bibir Alya perlahan melengkung membentuk senyum tipis. "Menarik."
Mobil mewah itu mulai melaju membelah jalanan kota yang basah.
Di sisi lain kota, Arka sudah sampai di halte bus yang sepi. Ia berdiri di bawah kanopi sambil membuka bungkus roti minimarketnya. Hujan belum juga reda.
Ia menggigit roti itu sambil membaca ulang pesan dari Rendy. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan.
> Arka: Besok masuk. Jangan cerewet.
>
Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jaketnya yang sedikit lembap.
Tidak ada satu pun orang di halte itu yang tahu bahwa mahasiswa berpenampilan sederhana yang sedang mengunyah roti murah tersebut sebenarnya adalah putra mahkota keluarga Pratama.
Pewaris tunggal Skysea Group.
Salah satu konglomerasi bisnis terbesar dan paling ditakuti di negeri ini.
Namun bagi Arka, identitas itu tidak pernah terasa seperti sebuah pencapaian. Justru sebaliknya, itu adalah sangkar emas yang membuat napasnya sesak. Karena itu, di sisa waktu kuliahnya, ia sengaja menyembunyikan nama besar keluarganya di kampus.
Ia hanya ingin hidup normal. Masuk kelas, mengerjakan tugas, bercanda dengan teman, pusing memikirkan skripsi yang direvisi berkali-kali, dan pulang tanpa harus dikelilingi orang-orang yang mendekatinya demi keuntungan bisnis.
Malam itu, Arka tidak pernah tahu bahwa keputusannya untuk menawarkan payung kepada seorang wanita asing akan menjadi awal dari hancurnya kehidupan tenang yang selama ini ia bangun.
Dan Alya juga belum tahu, bahwa mahasiswa biasa yang telah menyelamatkannya dari hujan malam ini, memiliki dunia yang jauh lebih besar dan lebih berbahaya dari gemerlap industri hiburan yang ia tempati.
Mereka hanya dua orang asing.
Satu aktris yang sedang berusaha melarikan diri dari sorotan. Satu pewaris takhta yang sedang berusaha menyembunyikan siapa dirinya.
Pertemuan mereka berlangsung kurang dari lima menit. Namun terkadang, lima menit sudah lebih dari cukup untuk mengubah arah sebuah takdir.
Bersambung...
Arka yang lebih dewasa cara mikirnya "panik juga gak bikin kita bisa terbang" dan kalem nutupin Alya pas ketahuan Dina, bikin Alya yang hidupnya capek jadi artis tuh ngerasa aman, bukan diatur. Bukan yang posesif "kamu gak boleh syuting", tapi yang support "Aku respect sama kamu, Al" habis lihat Alya take 9x.
Itu bedanya age gap yang mateng vs yang maksa. Protective tapi tetap ngasih ruang buat Alya berkarir. Suka banget dinamikanya!
Semangat kak, ditunggu update-nya!
Arka: "Belum tentu, skripsi belum kelar"
AKU SEBAGAI PEMBACA: Arka, skripsimu bisa nunggu, Alya gak bisa! 😭
Next bab tolong Arka jangan ilang dulu, sponsor Alya lagi di ujung tanduk nih!
Alya yang udah 10 tahun dianggap trofi, baru kali ini ada yang ngeliat capeknya sebagai manusia. Dan Alya yang bilang 3x "Jangan pulang dulu" itu gemes banget. Tapi endingnya Riko manajer produksi + nomor portal gosip ngechat "Selamat sore Mas Arka Pratama?" MERINDING. Skysea Group mau kebongkar!
Di sini baru Arka ngerti kenapa Alya bisa jadi aktris bayaran termahal - bukan karena cantik doang, tapi pas kamera nyala, Alya beneran lenyap dan jadi karakternya. Dan Arka yang dateng bawa 2 es kopi langganan mereka 😭 simple tapi sweet banget!
Alya seumur hidup: Langsung hangat dadanya
Kalimat paling tulus di novel ini. No gombal, cuma jujur. Love!