Setelah akar spiritual emasnya dirampas secara paksa oleh sepupunya sendiri dan tubuhnya dibuang ke Jurang Abu Api, Lin Xuan—seorang pemuda klan cabang yang sekarat—justru menyatu dengan Tungku Abu Takdir peninggalan zaman purba. Dari abu kehancuran, ia menempuh jalur kultivasi terlarang yang mampu melebur kutukan, meracik pil dari racun mematikan, dan menebas tatanan langit yang korup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Sembilan kali dentangan penuh—ditambah retaknya Lonceng Perunggu Penguji!
Bahkan para jenius murid inti yang kini telah mencapai Alam Fondasi Roh pun dulunya paling tinggi hanya sanggup membunyikan lonceng tersebut delapan kali saat ujian masuk!
Di barisan peserta, Pang Dahai membuka mulutnya lebar-lebar hingga hampir muat dimasuki telur bebek, sementara wajah Lin Tianhao di atas kursi roda giok berubah sepucat kertas mayat karena syok dan iri hati yang membakar dada.
"Daya hancur fisik dan kepadatan Qi macam apa itu?!" seru Tetua Agung Puncak Kedua (Puncak Pedang Awan) dengan mata berbinar terang sambil melompat maju ke tepi panggung. "Persetan dengan hasil Pilar Kristal yang rusak tadi! Dengan fondasi fisik dan kekuatan tempur semengerikan ini, Lin Xuan adalah bibit pendekar pedang sejati! Lin Xuan, masuklah ke Puncak Kedua kami, aku akan langsung mengangkatmu sebagai murid dalam!"
"Enak saja!" potong Tetua Puncak Kelima tidak mau kalah. "Kontrol ledakan Qi sembilan lapis yang begitu presisi barusan jelas menunjukkan bakat pengendalian api alkimia yang luar biasa! Lin Xuan, datanglah ke Puncak Kelima, tidak seorang pun dari Puncak Ketiga yang akan berani menyentuhmu!"
Melihat para Tetua Puncak mulai berebut, wajah Diakon Lin Cang dan Tetua Zhao Wuji berubah pucat kehijauan.
"Para Tetua Puncak, harap diingat bahwa berdasarkan aturan sekte, peserta dengan hasil akar spiritual kelas satu di pilar kristal tetap hanya berstatus murid luar selama tiga bulan pertama!" sela Tetua Zhao Wuji cepat dengan nada tegang.
Namun pada detik itu, di dalam benak Lin Xuan, suara Tetua Gu tiba-tiba berbisik penuh semangat:
"Bocah! Jangan pilih Puncak Kedua ataupun Puncak Kelima! Lihat kakek tua pemabuk yang baru saja membuka matanya di sudut bawah pohon pinus itu! Saat kau memukul lonceng tadi, aku merasakan secercah aura Alam Jiwa Baru Lahir dan Niat Pedang tingkat puncak yang sengaja ia sembunyikan di balik tubuh tuanya! Pilih Puncak Kesembilan sekarang!"
Lin Xuan melirik sekilas ke arah sudut alun-alun.
Di bawah pohon pinus tua, kakek berjubah kelabu lusuh dari Puncak Kesembilan (Puncak Pedang Patah) itu tampak baru saja menurunkan kendi araknya dan menatap lurus ke arah Pedang Abu Hitam di punggung Lin Xuan dengan sepasang mata yang sejenak berkilat setajam bintang membelah malam.
Lin Xuan menarik napas tenang, lalu menangkupkan kedua tangannya menghadap panggung utama.
"Terima kasih atas kebaikan hati para Tetua Puncak," ucap Lin Xuan dengan suara jernih yang terdengar ke seluruh alun-alun. "Berdasarkan hak pemenang sembilan dentangan lonceng, aku memilih untuk bergabung dengan Puncak Kesembilan — Puncak Pedang Patah!"
Apa?!
Seluruh alun-alun kembali gempar!
"Dia gila?! Menolak undangan Puncak Kedua dan Puncak Kelima, lalu memilih Puncak Pedang Patah yang terbengkalai dan tidak punya sumber daya?!"
Tetua Zhao Wuji dan Diakon Lin Cang yang semula panik justru langsung saling pandang dan menahan tawa gembira yang meluap-luap di dalam hati.
Jika Lin Xuan masuk ke Puncak Kedua atau Puncak Kelima, mereka tidak akan berani menyentuhnya karena takut pada para Tetua Puncak di sana. Tetapi jika bocah bodoh ini memilih masuk ke Puncak Kesembilan yang tidak dipedulikan oleh siapa pun dan hanya dihuni oleh seorang tetua tua pemabuk yang sudah puluhan tahun kehilangan kultivasinya... bukankah itu sama saja dengan menyerahkan nyawanya di atas nampan perak?!
"Hahaha! Karena Lin Xuan sendiri yang memilih Puncak Kesembilan di hadapan semua orang, maka keputusannya sah dan tidak bisa diubah lagi!" seru Diakon Lin Cang cepat-cepat sambil mencatat nama Lin Xuan ke dalam buku giok sebelum para tetua lain sempat membujuknya.
Di sudut alun-alun, kakek tua pemabuk itu—Tetua Jian Chen—menguap lebar sambil bangkit berdiri dan melemparkan sekeping lencana besi berkarat bertuliskan angka Sembilan ke arah Lin Xuan.
"Bocah, di puncakku tidak ada pelayan dan tidak ada jatah makan siang," gumam Tetua Jian Chen sambil berjalan terhuyung-huyung menuju jembatan gantung di sisi barat gunung. "Kalau tidak takut mati kelaparan, ikuti aku."
Lin Xuan menangkap lencana besi itu dengan senyum tipis, lalu melangkah mengikuti sang tetua meninggalkan ribuan tatapan penuh keheranan di belakangnya.