Di dalam Menara Terkutuk yang membelah peradaban Valenthia, kaum jelata dilemparkan ke garis depan sebagai pasukan tumbal bagi kemuliaan para bangsawan darah biru. Ren, seorang prajurit buangan, dijatuhi vonis mati di Lantai 10 saat monster Chimera menerkam barisan mereka.
Namun ketika ajalnya tiba, waktu terputar mundur puluhan detik ke belakang. Terjebak dalam lingkaran maut yang tak berujung, Ren mengumpulkan ingatan dari setiap kematian untuk memetakan jalur bertahan hidup—merobek tirani aristokrasi dan memimpin para penyintas menembus Koloseum Darah Lantai Menara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ViNZ idk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Bayangan hitam pertama meluncur turun dari langit-langit gua tanpa suara.
Gerakannya secepat kilat di tengah kegelapan pekat yang membekukan. Tubuhnya menyerupai laba-laba raksasa berkaki delapan bersisik keras yang dilapisi lendir hitam. Sepasang capit bergerigi di moncongnya meneteskan cairan asam bening yang siap menyuntikkan racun pelumpuh ke urat saraf mangsanya.
Capit itu mematuk lurus ke arah leher Ren dari sudut atas yang gelap.
Ren yang masih bersandar di dinding batu berusaha mengayunkan belati patahnya untuk menangkis. Namun, rasa ngilu pada tulang selangkanya yang retak memperlambat refleks tangannya sepersekian detik.
Capit monster merobek bahu kanannya, menembus zirah kulit tipis dan menusuk daging lehernya.
Sensasi dingin membekukan seketika menjalar ke seluruh pembuluh darah. Otot-ototnya kaku dalam sekejap, membuatnya tak mampu bersuara saat monster kedua melompat dari kegelapan dan menancapkan cakar tajamnya ke rongga perut.
Kesadarannya padam dalam rasa sesak yang melumpuhkan seluruh tubuh ke dalam kehampaan dingin.
[Kematian Tercatat: Sengatan Racun Pelumpuh dan Luka Robek Fatal.]
[Pembalikan Waktu Singkat Berhasil Diaktifkan.]
[Memundurkan Kesadaran Jiwa Tiga Puluh Detik ke Belakang.]
Pusaran waktu menarik kembali kesadarannya dengan sentakan keras yang membuat dadanya sesak dan kepalanya berdenyut perih.
Ren tersentak kembali di sudut dinding batu gua yang berlumut. Rasa dingin di leher dan perutnya masih membekas pekat, meninggalkan sensasi kebas yang membuat jari-jarinya gemetar. Udara lembap berbau belerang kembali memenuhi kerongkongan, sementara tetesan air dari langit-langit gua terdengar jatuh teratur di atas batuan hitam.
Matanya menatap langit-langit gua dengan fokus penuh.
Ia tahu persis bahwa tepat di atas kepalanya, di balik bayang-bayang stalaktit yang pekat, seekor predator bawah tanah sedang merayap merapat, bersiap menyergap mangsa dalam hitungan detik.
Ren langsung merendahkan badan dan menjatuhkan diri ke samping, berguling cepat di atas lantai lumpur yang licin dan berbau bangkai.
Capit keras monster itu menghantam lantai batu tempat Ren berdiri sebelumnya, menancap dalam ke batuan basal dan memercikkan serpihan karang ke udara.
Memanfaatkan momentum bergulingnya, Ren bertumpu pada satu lutut. Ia memutar badan ke arah sang monster yang masih berusaha mencabut capitnya dari rekahan lantai batu, lalu menghunjamkan bilah belati patahnya ke bagian lunak di samping kepala sang predator dengan segenap tenaga.
Mata belati Ren menembus cangkang kepala monster.
Cairan hijau berbau amis menyembur membasahi tangan dan lengan bajunya saat makhluk berkaki delapan itu menggelepar sebelum akhirnya kaku di atas tanah basah.
Pekikan melengking bernada tinggi yang sempat dilepaskan makhluk itu memicu reaksi berantai dari lorong-lorong gelap di sekitarnya.
Dari dalam terowongan sempit di depan, suara gemerisik cakar tajam terdengar merayap di dinding dan kubah gua dengan cepat. Enam pasang mata merah redup menyala dalam kegelapan, merayap dari berbagai sudut untuk mengepung posisi Ren tanpa celah keluar.
Ren menekan rasa perih di dadanya, lalu bergeser mundur mencari sudut bertahan yang lebih sempit di sela pilar basal.
Di ruang terbuka, bertarung sendirian melawan kawanan pemburu bayangan adalah tindakan bunuh diri bagi seseorang yang sedang terluka dan kehabisan tenaga. Monster-monster itu bergerak sangat lincah di batuan licin, mampu menyergap serentak dari atas, samping, dan sudut buta di belakang.
Ia mencoba beberapa variasi gerakan dalam siklus kematian yang ia lalui di kepalanya.
Jika ia berlari lurus ke lorong terbuka, sabetan ekor bercapit akan memotong kakinya hingga terkapar tak berdaya. Jika ia melempar batu ke dinding terbuka, kawanan itu justru berbalik menerkam arah suara langkah kakinya karena pendengaran mereka yang sangat peka. Dan jika ia terpojok di ceruk sempit, semburan lendir beracun dari langit-langit akan mengunci gerakannya sebelum cakar-cakar runcing mencabik tubuhnya.
Setiap memori kematian itu membakar kepalanya dengan denyut rasa sakit yang menumpuk. Darah menetes dari kedua lubang hidung akibat beban saraf dari regresi mikro yang beruntun. Otaknya panas, memikul trauma fisik yang berulang dalam rentang waktu yang sangat padat.
Namun, dari kegagalan berdarah itu, Ren membaca satu kelemahan mendasar dari para pemburu bayangan ini.
Di dalam kegelapan abadi makam bawah tanah, makhluk-makhluk ini tidak berburu menggunakan mata merah mereka yang kusam. Mereka melacak mangsa melalui getaran langkah kaki di atas tanah dan bunyi gema pantulan udara di sepanjang terowongan batu.
Karakteristik itulah yang bisa dijadikan senjata untuk membalikkan keadaan.
Ren memungut bongkahan batu karang tajam dari lantai lumpur dengan tangan kirinya, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah formasi stalaktit tua yang menggantung rapuh di langit-langit ujung lorong sempit.
Batu itu membentur deretan pilar stalaktit dengan bunyi denting keras yang bergema nyaring di sepanjang rongga gua.
Mendengar suara gema yang memecah keheningan dari langit-langit, keenam monster pemburu bayangan seketika memutar tubuh serentak. Terdorong oleh insting akustik mereka yang buas, kawanan itu melesat cepat ke arah sumber suara, memanjat dinding batu dengan cakar-cakar tajam yang menggores batuan hitam.
Saat kawanan itu berkerumun berdesakan tepat di bawah formasi batu runcing tersebut, getaran dari langkah kaki mereka yang terburu-buru meretakkan fondasi stalaktit tua yang telah lapuk dimakan usia dan kelembapan asam.
Bongkahan stalaktit batu sebesar pilar benteng runtuh berhamburan dari kubah gua, menghujani kawanan monster di bawahnya seperti deretan tombak raksasa yang jatuh menghujam bumi.
Derak batu runtuh dan jeritan melengking monster bergema memekakkan telinga saat serpihan batu menimpa tubuh mereka menjadi serpihan cangkang hitam dan kubangan cairan hijau pekat.
Dua monster yang selamat dari reruntuhan melompat panik ke arah Ren dengan gerakan yang kacau dan kehilangan arah serangannya.
Ren merunduk rendah ke lantai lumpur, membiarkan cakar monster pertama melesat beberapa jengkal di atas kepalanya, lalu menghunjamkan belatinya ke sambungan leher sang monster saat makhluk itu mendarat di depannya. Cairan hijau menyembur ke lengannya saat monster itu tersungkur ke tanah tanpa sempat membalas.
Monster terakhir mencoba menerjang dari arah samping dengan ekor berduri yang mengembang. Ren melangkah menyamping ke balik pilar batu terdekat, membiarkan ekor monster menghantam batu basal hingga patah, sebelum melangkah maju dan membenamkan bilah belatinya ke rongga dada monster itu hingga makhluk tersebut berhenti bergerak untuk selamanya.
Keheningan dingin kembali menyelimuti lorong makam bawah tanah.
Ren bersandar pada pilar batu yang retak, napasnya memburu cepat menghirup udara berbau belerang dan asam. Keringat dingin bercampur darah menetes dari dagunya, membasahi kain kusam seragamnya yang kotor oleh lumpur dan cairan hijau pekat.
Seluruh tubuhnya terasa pegal dan kelelahan, tetapi matanya menatap bangkai-bangkai predator di sekitarnya dengan kewaspadaan penuh.
Ia berlutut di dekat bangkai monster terbesar, menggunakan ujung belatinya untuk memotong taring capit depan sang monster yang paling panjang. Taring hitam sepanjang tiga puluh sentimeter itu bertekstur keras dan padat, dilapisi racun alami yang telah mengering di ujungnya.
Ren merobek sehelai kain seragamnya yang masih kuat, melilitkannya erat-erat pada pangkal taring monster tersebut untuk dijadikan belati taring darurat yang kokoh. Ia mengayunkan belati taring itu di udara beberapa kali, merasakan keseimbangan bobot dan ketajamannya yang sanggup menembus sisik tebal monster lain.
Tenggorokannya terasa sangat kering dan panas. Ren mendekati dinding batu di dekatnya, menadahkan telapak tangan untuk menampung tetesan air jernih yang merembes dari sela batu karang, lalu membasahi bibir dan kerongkongannya yang perih. Air dingin itu memberi sedikit kesegaran di tengah kepungan udara beracun menara.
Ren mengencangkan lilitan perban di dadanya, menyeka sisa darah di bawah hidungnya, lalu melangkah maju menembus lorong gua yang berliku.
Lantai batu di depannya perlahan melandai ke bawah, digantikan oleh hamparan lumpur basah yang kian dalam. Udara yang semula kering dan berdebu kini terasa lembap menyengat, membawa aroma lumut busuk dan gas rawa yang mengendap pekat di permukaan tanah.
Ren menyalakan serpihan lumut fosfor pada dinding batu, menggunakannya sebagai sumber cahaya redup untuk mengamati tanah lumpur.
Sekitar lima puluh langkah dari pintu keluar lorong batu, matanya menangkap jejak kaki bersepatu bot besi yang terseret di lumpur. Di samping jejak itu, ada goresan garis memanjang yang khas—bekas ujung perisai besi berat milik Vargas.
Tak jauh dari situ, sehelai perban bernoda salep penawar racun tersangkut di batang jamur raksasa. Itu adalah jenis salep herbal yang biasa dibawa Shizuka di dalam tas medisnya.
Melihat bukti-bukti itu, ketegangan di dada Ren sedikit mereda. Rekan-rekannya selamat dari kejatuhan Lantai 10 dan sedang bergerak menyusuri rawa beracun di depan. Namun, jejak kaki itu tampak tergesa-gesa dan tidak teratur, menunjukkan bahwa mereka sedang dikejar oleh sesuatu atau berusaha menghindari bahaya besar di area rawa.
Ren memeriksa belati taring di tangan kanannya, memastikan ikatan kain pada gagangnya tidak licin.
Di kejauhan terowongan, kabut ungu pekat bergulung tebal di atas permukaan air rawa yang hitam kecokelatan. Bau belerang dan gas rawa menyergap indra penciumannya, menandakan batas zona makam batu telah berganti sepenuhnya menjadi rawa bawah tanah yang berbahaya.
Setiap langkah yang diambilnya harus diperhitungkan dengan cermat; tanah rawa di depan bisa saja menyembunyikan lumpur hisap, gas beracun, atau pemangsa air yang jauh lebih buas daripada pemburu bayangan. Ren menarik napas pendek yang terasa berat, lalu melangkah maju mengikuti jejak kaki Vargas yang menghilang ke dalam kabut racun.