Enam tahun lalu, Kenzo Roman De Luca kehilangan seorang wanita yang tak pernah berhasil ia lupakan. Yang tak pernah ia ketahui, wanita itu pergi membawa dua kehidupan yang tumbuh menjadi anak-anak genius.
Takdir mempertemukan mereka kembali.
Namun, sebelum Kenzo mengetahui kebenarannya, seorang bocah laki-laki yang tak sengaja bertemu dengannya dengan berani menawari sesuatu padanya.
"Asal Anda siap menikah dengan Mommy kami. Maka saya siap bekerja sama dengan Anda," ujar Mateo enteng.
Kenzo terpaku, dia tak tahu anak yang sedang memohon kepadanya itu adalah putranya sendiri. Akankah, Kenzo setuju atau justru sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Kenzo berdiri dengan wajah dingin di tengah halaman sekolah. Aura yang dibawanya membuat suasana yang semula gaduh mendadak sunyi. Melihat kedatangannya, kepala sekolah segera memasang senyum ramah dan bergegas menghampiri.
"Selamat siang, Tuan Kenzo." Ia mengulurkan tangan dengan penuh hormat.
"Merupakan kehormatan bagi kami akhirnya bisa bertemu langsung dengan Anda."
Kenzo hanya menatapnya sekilas tanpa membalas uluran tangan itu. Kepala sekolah tetap tersenyum canggung.
"Saya mohon maaf karena Tuan harus melihat suasana seperti ini. Harusnya penyambutan pertama Anda ke sekolah jauh lebih baik."
Dia terkekeh kecil, berusaha mencairkan suasana.
"Sayangnya semua ini terjadi gara-gara anak pindahan itu." Tangannya menunjuk ke arah Mateo.
"Orang tuanya tidak mampu, tetapi memaksakan anaknya sekolah di sini."
Kedua tangan Kenzo perlahan mengepal di balik jasnya. Tetapi, ekspresinya tetap datar.
Kepala sekolah yang tidak menyadari perubahan itu kembali melanjutkan, "Anak itu juga membuat keributan. Semua guru tau kalau anak itu tidak punya ayah. Lalu melukai putra Pak Farhan, pengacara hebat di kota ini."
Farhan mengangguk pelan. "Itu benar!"
Disti ikut menyilangkan kedua tangannya dengan wajah puas.
Kepala sekolah menggeleng pelan sebelum berkata, "Kalau menurut saya... anak haram seperti itu memang perlu dididik lebih keras."
Kalimat itu baru saja selesai keluar dari mulutnya. Sebuah tendangan telak menghantam perut kepala sekolah.
"Ugh!"
Tubuh pria itu langsung terlempar ke belakang dan jatuh tersungkur di atas paving halaman sekolah. Seluruh halaman sekolah membeku.
"Pak Kepala Sekolah!"
Beberapa guru menjerit kaget, Farhan membelalak. Disti menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tak ada seorang pun menyangka pria yang sejak tadi berdiri begitu tenang justru menjadi orang pertama yang melakukan tindakan itu.
Maya yang masih ditahan dua pengawal langsung memanfaatkan kelengahan mereka.
"Lepaskan aku!" Maya menarik tangannya sekuat tenaga hingga berhasil melepaskan diri.
Sementara itu, Mateo tidak bergerak. Ia hanya menatap lurus ke arah Kenzo. Tatapannya tetap dingin, tanpa sedikit pun menunjukkan keterkejutan. Di sampingnya, Alisya justru menangis semakin keras.
"Daddy..." bisiknya refleks ingin berlari menghampiri Kenzo. Namun, genggaman tangan Mateo tidak terlepas. Mateo menahan adiknya tetap di sampingnya.
"Tunggu..." bisiknya pelan.
Di tengah keheningan itu, Kenzo merapikan kembali ujung jasnya yang sedikit bergeser akibat tendangan tadi. Wajahnya tetap setenang sebelumnya. Kenzo, lalu menatap kepala sekolah yang masih meringis kesakitan di lantai. .
Dengan suara rendah yang membuat bulu kuduk siapa pun meremang, Kenzo berkata,
"Kalimat terakhir yang Anda ucapkan, adalah kesalahan terbesar Anda hari ini."
Halaman sekolah kembali diliputi keheningan. Bahkan, angin yang berembus pelan terasa lebih nyaring daripada suara siapa pun yang hadir. Tidak ada yang berani membuka mulut, untuk membela lagi setelah melihat aksi Kenzo barusan.
Beberapa guru yang melihat kepala sekolah tersungkur segera berlari menghampirinya.
"Pak! Kepala Sekolah, Anda nggak apa-apa?"
Salah seorang guru kemudian berdiri dan menatap Kenzo dengan wajah tidak puas.
"Tuan Kenzo, bagaimanapun juga, memukul kepala sekolah bukan tindakan yang benar."
Guru lain ikut menimpali, "dan apa yang beliau katakan ada benarnya. Anak itu memang melukai murid lain."
Suasana kembali memanas. Farhan melangkah maju beberapa langkah hingga berdiri berhadapan dengan Kenzo.
"Tuan Kenzo." Nada suaranya terdengar dingin.
"Anda segitunya membela anak itu?" Ia mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Raka yang masih duduk dengan kepala diperban.
"Anak saya terluka! Dia yang mendorongnya. Anak itu pantas dihukum." Farhan menatap tajam ke arah Mateo.
"Biarkan dia berlutut dan paksa dia meminta maaf sekarang juga!" Teriakannya menggema di halaman sekolah.
Bagi Farhan, kedatangan Kenzo tidak ada kaitannya dengan persoalan ini. Yang ia lihat hanyalah seorang pria yang membela anak lain, sementara putranya menjadi korban.
Namun, belum sempat siapa pun bergerak. Sebuah hantaman keras mengenai punggung Farhan.
"Ugh!"
Kedua lutut Farhan langsung menghantam lantai paving. Ia spontan berlutut akibat kehilangan keseimbangan. Seluruh halaman sekolah kembali membeku.
Farhan menoleh dengan napas memburu.
"Pak Digo!"
Digo berdiri tepat di belakangnya. Wajahnya tetap tenang, dia merapikan manset jasnya seolah baru saja melakukan sesuatu yang sangat biasa. Tatapannya turun menatap Farhan yang kini berlutut.
Sudut bibirnya terangkat tipis, "ini yang kau mau bukan? Berlutut di depan orang?!"
Kedua tangan Farhan terkepal di sisi tubuhnya.
anknya di biarin aja
bini nya tangannya ga mau dilepas 🫣🤣🤣
dasar...mantan jomblo 40 th🙄
aku suka keributan ini
asal kau di sisi ku dan memegang erat tangan ku
semua akan baik baik saja 😍