Empat tahun lamanya mengarungi bahtera rumah tangga, dan tepat di ulang tahun pernikahan yang seharusnya disambut bahagia, Arjanti harus menelan kecewa, dipaksa memberi izin suaminya menikah lagi.
Mertuanya terus menekan, melimpahkan kekurangan ada pada dirinya yang tak kunjung hamil, sementara mereka ingin segera menggendong cucu.
Sang suami yang awalnya menentang keras saat dipaksa menikah lagi, lama kelamaan setuju dengan alasan ingin menimang anak.
Pada akhirnya, Arjanti harus berbagi suami. Tinggal satu atap dengan wanita bermuka dua, berambisi menjadi istri tunggal.
Lantas, bagaimana kehidupan Arjanti pasca pria yang dicintai segenap jiwa itu menghadirkan wanita lain selain dirinya?
Apa benar kalau dia memang mandul?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMWI : 16
“Aku butuh waktu untuk berpikir. Walau bagaimanapun, Janti istriku bukan orang lain. Dia seperti itu cuma dikarenakan belum sepenuhnya menerima status barunya, dan tentu sulit berdamai dengan kenyataan harus berbagi suami,” jawabnya mantap. Kali ini enggan langsung menuruti permintaan keluarganya.
Ada rasa cinta masih cukup besar yang menjadi alasannya tetap mempertahankan Janti dirumah ini. Dia pernah bolak-balik menempuh perjalanan berjam-jam lamanya demi menyakinkan wanita itu saat dulu mereka masih tahap pendekatan.
Saila baru saja mau protes, namun urung ketika mendapati gelengan samar kepala ibunya.
“Gak usah kelamaan berpikir, Herlan! Atau mau nunggu sampai salah satu dari kita dicelakai dia baru kamu ngambil tindakan, iya?” Darti meradang, tak senang jika putranya membela menantu miskin enggan diakuinya kalau bukan dalam keadaan terpaksa.
Herlan tetap bersuara lembut meski dia lelah, belum sempat istirahat sejak pulang mendadak dari Bali. “Ma, Janti bukan penjahat, dia cuma sedang kecewa.”
“Terserah!” sahutnya lantang. Kemudian menghempaskan punggung ke sofa.
“Mbak Astuti, untuk beberapa hari kedepan sampai saya berhasil berbicara dengan Arjanti, kamu yang merawat Ibu dulu. Jangan ganggu istriku selagi aku berusaha menyakinkan nya,” titahnya tanpa mempedulikan raut masam sang pelayan.
“Urusan rumah, kerjakan setelah selesai mengurus mamaku. Nanti gajimu bakalan ditambah 500 ribu,” sambungnya.
“Baik, Den,” jawabnya sambil menahan kesal, memaksa tersenyum walau terlihat kaku.
‘Kurang ajar kamu Janti!’ hatinya meradang, sayang dia tidak bisa protes. Astuti menyumpahi nyonya muda keluarga Doko.
‘Cih, uang 500 ribu itu gak sepadan dengan tenaga yang aku keluarkan membopong, mengurus si cacat! Pemberian Doko sepuluh kali lipat tergantung bagaimana keberhasilanku memuaskan pria memiliki nafsu masih tinggi itu,’ gerutunya dalam hati.
“Ayo Saila, kita butuh istirahat. Aku lelah.” Herlan menarik lembut tangan istrinya.
Saila menurut meski dalam hati masih enggan beranjak. Tidak puas sebelum Janti diusir dari rumah ini. Sialnya rencananya gagal, tak berjalan seperti skenario telah dirancang matang.
“Astuti, bawa aku ke kamar. Kepalaku nyut-nyutan akibat mikirin si Janti stres.” Darti mengurut pelipisnya.
Terpaksa, teramat terpaksa Astuti menurut seraya menekan rasa kesal sulit dikendalikan.
Wajahnya memerah saat membopong tubuh lumpuh dan mendudukkan di kursi roda. ‘Keberatan dosa ini si nenek tua.’
Dalam hati, dia terus mengumpat. Mendorong kursi roda memasuki kamar bersebelahan dengan ruangan dimana Janti duduk berselonjor kaki di belakang pintu.
Wanita itu sedari tadi menguping, mendengar semua perdebatan bernada menggeram, tinggi, dan penuh emosi.
Janti membiarkan air matanya terus terjatuh tanpa berniat mengelap. Hatinya nyeri, ternyata mereka yang empat tahun ini disayangi olehnya, tak pernah benar-benar menganggap dia bagian keluarga.
“Aku bukan penjahat, dan takkan pernah melakukan tindakan yang merugikan diri sendiri,” ucapnya pelan.
Lelah fisik sehabis jalan-jalan, dan letih hati menanggung beban berat, Janti beranjak sambil menenteng paper bag.
Uang sepuluh juta masih utuh itu disimpan ke dalam koper. Dan di dalam ATM masih sisa 3 juta lagi, rencananya besok mau ditarik.
Tadi dia menghabiskan dana sebesar 2 juta lebih untuk membeli beberapa pakaian baru, skincare, parfum, dan makan di restoran, nonton bioskop. Pembayaran melalui kartu ATM.
Tubuhnya dijatuhkan ke atas kasur. Membiarkan tas belanjaan teronggok di lantai. Rasa malas menguasai, dan dia seperti orang kehilangan semangat hidup di rumah yang mati-matian dijaganya hubungan harmonis sampai menutup mata atas perselingkuhan Doko bersama Astuti.
“Kedepannya, terserah mau jadi apa keluarga ini. Aku tak lagi peduli,” gumamnya lirih seraya menatap lampu menyala.
Ingatan Janti kembali ke masa dimana dia pertama kali dibawa pulang oleh Herlan setelah mereka resmi menikah.
Sambutan ketus Darti, tatapan menghina ibu mertua seraya menelisik penampilan sederhananya, hingga kini masih melekat dan tergambar jelas.
Ayah mertua hanya menatap sekilas, lalu membuang muka seakan tidak sudi beradu pandang dengan menantunya.
Hari demi hari dijalani oleh Janti dengan hati tabah. Sikapnya begitu patuh, takut bersuara.
Jika berbicara, akan memilah kata paling sopan agar tidak menyinggung perasaan kedua mertuanya.
Setiap titah dikerjakan tanpa protes meski bertentangan dengan hatinya.
Bukan ucapan terima kasih diterimanya, melainkan rasa tak pernah puas akan apapun itu yang dilakukan, diusahakan teruntuk keluarga suaminya.
“Bertahun-tahun hidup bukan untuk diri sendiri, sampai lupa bagaimana rasanya bahagia sesungguhnya, wajarkan apabila aku memberontak bukan dikarenakan ingin berkuasa cuma mau dihargai sedikit saja?” ia berbicara pada ruangan kosong, dan ditemani keheningan.
Arjanti termenung. Memori masa lalu berlomba-lomba untuk menampilkan banyaknya momen tumpang tindih.
“Astaghfirullah,” ia beristighfar ketika pikiran tak lagi tenang. Janti bergegas bangun, lalu turun dari ranjang.
“Aku butuh mandi untuk menyegarkan pikiran, habis itu ngobrol dengan Tuhan, karena hanya Allah yang paling paham perasaanku ini.” Lemari pakaian dibuka, diambilnya baju tidur berikut dalaman.
***
Di lantai atas, Saila mengomel. Hatinya kesal sekali. “Bantuin, Mas!”
“Ckk … Aku ini kepala keluarga, pantang mengerjakan tugas rumah. Janti mana pernah nyuruh bantuin masang sprei dan pekerjaan wanita lainnya,” tolaknya enggan menolong istri muda.
Saila memejamkan guna meredam emosi yang bak air mendidih dalam sanubari. “Awas kamu Janti!”
Betapa kesalnya dia tadi saat masuk ke dalam kamar yang porak poranda. Sprei terlempar ke lantai, bantal dan selimut pun sama. Tisu berceceran dibiarkan saja, bahkan banyak yang masuk ke kolong ranjang.
Niat hati mau memanggil Astuti agar dia saja yang membereskan kamar utama, namun Herlan malah memberi dua pilihan; mengurus ibunya atau merapikan sendiri kamar mereka.
Pilihan Saila tentu mengerjakan pekerjaan yang jauh lebih ringan dibandingkan merawat orang lumpuh.
Berharap dibantu oleh suaminya, malah Herlan tiduran santai di sofa bed seraya menonton televisi.
Putra semata wayang keluarga Doko, tipikal pria patriarki. Dia dididik menjadi pemimpin yang bertugas mencari nafkah, dan tidak pernah diajarkan apalagi dibekali keahlian bebersih rumah. Merasa, meyakini, menerapkan kalau wanita lah yang mengerjakan pekerjaan rumah.
Saila bermuram durja. Bulan madunya gagal total, sekarang diharuskan berkutat dengan pekerjaan sangat tidak disukainya itu.
***
Sampai pada pukul sembilan malam, tidak ada tanda-tanda Arjanti keluar dari kamarnya.
Herlan terus mengetuk pintu kamar tertutup rapat seraya membujuk. “Janti, Sayang, ini udah malam loh, kamu harus makan biar gak sakit perut berakhir maagmu kambuh.”
Usahanya bukan cuma mengetuk lalu menggedor pintu, tapi juga berusaha menghubungi nomor ponsel Janti yang sayangnya masih mati.
Hatinya panas sekali menyaksikan suaminya masih memberi perhatian ke istri pertama. Kalau saja sang ibu tidak mewanti-wanti, sudah Saila labrak si Arjanti yang berani membuatnya diabaikan Herlan.
Darti pun tengah kesal. Dia mengalami darah tinggi dikarenakan dirawat seseorang yang tidak melibatkan hati. Sudah tak terhitung berapa kali dia memarahi Astuti.
“Kamu gosoknya kekencangan! Mau buat kulitku lecet-lecet, iya?” ia tadi membentak Astuti saat dibantu mandi.
“Astuti! Kamu mau buat pinggangku encok, hah?! Pelan-pelan menurunkan badanku ke kasur!” setelah mandi, sang pelayan tampak tidak sanggup membopong, berakhir dia setengah terbanting ke atas kasur.
Yang belum lama dimarahi habis-habisan, kini memasang raut wajah masam tanpa senyuman. Astuti mengumpat seraya mengupas buah Apel dan Pir.
“Setan apa yang merasuki si Janti itu? Kok tiba-tiba dia punya nyali, malah semakin ngelunjak pake acara ngurung diri dikamar lagi, kurang ajar. Akhhh!” Tubuhnya melompat rendah. Dan dia meringis sakit akibat jari telunjuk tertusuk ujung pisau buah.
“Mas, Mas! Tanganku kena pisau! Sakit sekali ini sayang, hu hu hu ....”
.
.
Bersambung.
sm org yg pling plang,yg belum pitus sm masa lalunya nanti kamu jd pelampiasan,semangat Janti