Bima Arka Pradipta , anak dari keluarga sederhana di pinggiran Manado. Keras kepala, tidak banyak bicara di luar lapangan tapi meledak-ledak di dalam lapangan. Hamstring putus , pensiun umur 34 tahun. Dikenal karena tendangan bebas melengkungnya dan loyalitasnya sama tim. Dari anak kampung yang main bola pakai kaki ayam -> ditolak akademi karena dianggap terlalu emosional -> bangkit setelah cedera parah di musim hujan -> jadi kapten yang mengangkat tim degradasi jadi juara.
"Bukan tentang seberapa keras kau terjatuh, tapi seberapa lama kau tetap berdiri di tengah hujan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SelToon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30 SINTA - TENDANGANNYA LEBIH KERAS DARIPADA BIMA
Sinta. Adik Ronald. Anak Joshua kedua.
Umur 12 tahun. Tahun 2042.
Ingat Joshua no 10 yang ACL putus , jualan es kelapa , ajar Ronald Pisang Raja di atas Sinar Bima ? Sekarang Joshua umur 38 tahun , punya 2 anak : Ronal no 10 Manado United , dan Sinta.
Sinta tidak seperti Ronald. Ronald teknik , Pisang Raja. Sinta tidak. Sinta berlari dan tendang keras. Persis seperti Bima.
Masalahnya di Tuminting , tidak ada sekolah bola putri. Yudi berkata "Cewek tidak boleh main bola di lumpur Tikala , nanti roknya kotor."
Ibu Bima yang duluan protes , sekarang umur 55 tahun , yang punya kuasa di Tuminting. Ibu berkata ke Yudi
"Yudi , kalau kau bilang cewek tidak boleh main bola lagi , kau saya siram pakai air tinutuan panas."
Yudi langsung diam.
Akhirnya , pada bulan Juli 2042 , Sekolah Bola Putri Tikala dibuka. Pelatihnya : Bima umur 34 tahun yang pensiun jadi nelayan. Asisten : Joshua yang kakinya masih pincang.
Murid pertama : 8 anak cewek , umur 10 - 12 tahun. Semuanya pakai jilbab , semuanya pakai sepatu sekolah yang disulap menjadi sepatu bola.
Sinta paling kecil badannya , tetapi yang paling keras tendangannya.
Latihan pertama , Bima suruh tes tendangan keras jarak 15 meter , sama seperti dulu Bima dites umur 12 tahun.
7 anak cewek tendang , bola cuma sampai 10 meter.
Sinta terakhir. Pakai sepatu no 38 bekas Ronald yang sudah 3 kali diwariskan ( Bima no 39 -> Ronald no 40 -> Sinta , karena kakinya kecil ). Sepatu kebesaran lagi.
Dia ancang - ancang. Bima melihat ancang - ancangnya , sama persis seperti dia dulu. Kaki miring , marah.
Tendang.
DUAR.
Bola 15 meter , tidak berhenti. Terus sampai 20 meter , kena tiang gawang bambu , tiangnya patah.
7 anak cewek terdiam. Joshua terdiam. Yudi yang menonton dari ojeknya , berteriak "ANJIR! LEBIH KERAS DARI BIMA UMUR 12 TAHUN!"
Bima terdiam. Dia melihat Sinta. Dia ingat dirinya waktu umur 12 tahun di Sawangan , tendang keras karena marah Bapak tidak pulang melaut.
Dia bertanya kepada Sinta "Sinta , kamu marah sama siapa ?"
Sinta menjawab , nafas ngos - ngosan , jilbabnya miring "Marah sama kak Ronald , Om. Dia bilang cewek tidak bisa tendangan Pisang Raja."
Bima tertawa. Pertama kali tertawa keras setelah dia pensiun.
Hari kedua , seleksi Manado United Putri U-13 buka. Bima daftarkan 8 anak cewek. Panitia melihat alamat Tuminting , sudah tidak tertawa lagi. Sekarang mereka berkata "Tuminting lagi ? Yang putri sekarang"
Tes pertama : Yo - yo test. 8 anak cewek Tuminting lolos semua. Karena lari pagi di Tikala pada jam 5 pagi , lumpur , sama seperti anak cowok.
Tes teknik : Sinta disuruh tendang keras.
Sama seperti Ronald dulu , 2 kali kesempatan.
Tendangan pertama : Gol. Keras , kiper putri U-13 tidak bergerak , takut.
Panitia seleksi cewek , pelatihnya mantan pemain Timnas Putri Indonesia , berkata "Anak ini , siapa yang mengajar?"
Joshua angkat tangan dari pinggir lapangan , kakinya pincang "Saya , Bu. No 10 dulu."
Pelatih putri itu kenal Joshua ? Tidak. Tapi dia kenal Bima. "Oh , anaknya Joshua yang dulu no 10 ? Yang sekarang Bima yang latih ?"
Sinta lolos. Satu - satunya dari 8 anak. 7 anak lain gagal , menangis di lumpur Klabat.
Sore harinya , di Sinar Bima , Sinta menangis juga. Bukan karena lolos. Karena 7 temannya gagal.
Bima peluk Sinta , berkata "Dulu om juga begitu. 12 anak , cuma om yang lolos Manado United. 11 lain gagal dulu. Tapi sekarang ? Lihat Ronald kakakmu. Dia lolos 7 tahun kemudian. Mereka akan lolos juga."
Sinta bertanya "Om Bima , saya pakai no berapa ?"
Bima sudah siapkan. Dia kasih jersey Manado United Putri U-13 yang masih baru dan masih bau toko , no 10.
"Pakai no 10 bapakmu. Jangan no 7 Om. No 10 itu untuk yang teknik dan yang keras. Kamu bisa dua - duanya."
Sinta pakai jersey no 10 kebesaran. Sama seperti Bima dulu no 39 kebesaran. Dia berlari - lari di atas Sinar Bima yang baru dicat.
Malam harinya , Bima tulis di buku tulis baru.
SINTA NO 10. TENDANGAN 20 METER , TIANG BAMBU PATAH. MARAH SAMA KAKAKNYA. LOLOS MANADO UNITED PUTRI U-13. 7 TEMANNYA GAGAL , TAPI TIDAK APA - APA , DULU SAYA JUGA SENDIRIAN.
CATATAN : TERNYATA TENDANGAN KERAS TIDAK HARUS ANAK LAKI-LAKI. ANAK CEWEK PAKAI JILBAB BISA LEBIH KERAS.
Di luar , Ronald no 10 Manado United Senior sedang ajar 12 anak baru cowok lari pagi pada jam 5 pagi. Di dalam , Sinta no 10 sedang tidur pakai jersey kebesaran , mimpi gol dari jarak 30 meter.
Dua no 10 di satu rumah panggung bocor di Tuminting. Satu warisan Joshua , satu warisan Bima.
#####################################
Cukup sampai disini dulu ya , besok lanjut lagi. Semoga suka , jangan lupa berikan saran , like dan hadiahnya
Happy reading