Dia hanyalah sekretaris tak menarik dan berkacamata yang selalu terlihat sibuk dengan tugasnya.
Tapi di balik penampilannya yang polos, Cassia Manon diam-diam menyimpan rasa pada bos playboy, Maxence Kingsford.
Sayangnya, Maxence tak pernah menggodanya meskipun dia seorang playboy karena mungkin di matanya—Cassia sama sekali tak menarik.
Sampai suatu malam dalam sebuah pesta bisnis, Max dijebak dengan minuman perangsang oleh seorang wanita yang menginginkan dirinya.
Cassia Manon yang selalu bersamanya—akhirnya menyelamatkannya, tapi konsekuensinya berat, satu malam menjadi pelampiasan hasrat bosnya. Dan Cassia justru menyerahkan tubuhnya dengan sukarela.
Pagi harinya, Cassia mengira semuanya selesai. Tapi ternyata Maxence tak ingin berhenti.
Bagaimana hubungan mereka selanjutnya? Apakah tetap tanpa ikatan dan hanya sekadar pelampiasan semata? Ataukah akan ada benih-benih cinta di hati Max untuk Cassia yang semakin lama cintanya semakin besar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zarin.violetta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bos Playboy
Wanita itu menatap Cassia dengan malas. "Oh, sekretaris Max? Dia di kamar mandi. Katanya ada dokumen, mana berikan padaku." Wanita itu meregangkan tubuh, pakaiannya sedikit terbuka di bagian dada.
Cassia tidak menunduk. Tidak malu. Matanya datar.
"Ya, aku Cassia Manon, sekretaris eksekutif Tuan Kingsford. Dokumen ini sangat penting. Aku akan menunggu di ruang tamu."
Dia berbalik dan duduk di sofa, meletakkan map di atas meja. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Dingin seperti es.
“Hei, kau pikir aku akan merusak dan mencuri dokumennya?” wanita itu sedikit marah dengan sikap Cassia.
Cassia hanya diam saja, tak terlalu mempedulikannya.
Dari dalam kamar mandi, suara air berhenti. Maxence keluar beberapa menit kemudian—hanya mengenakan handuk yang disampirkan di pinggangnya, dada bidangnya masih basah, rambut gelapnya digerai ke belakang.
Dia mengusap wajahnya dengan handuk kecil, lalu tersenyum melihat Cassia.
"Ah, Cass. Tepat waktu seperti biasa."
Cass. Panggilan yang sudah biasa. Tidak akrab. Hanya agar lebih singkat saja.
Wanita pirang tadi masuk kembali ke dalam kamar dengan wajah kesal.
Max mengambil dokumen itu, membacanya sekilas—Cassia tahu dia tidak benar-benar membaca, karena dia sudah meringkas semuanya di halaman pertama—lalu menandatangani di lima tempat.
"Selesai." Dia menyerahkan kembali map itu. "Tadi itu Natasha. Pacar baruku."
Cassia mengangguk. ‘Tak akan lama. Kutebak, mungkin hanya seminggu. Apa yang sebenarnya Max cari? Semua wanita selalu terhempas dengan mudah, secantik apapun mereka,’ pikir Cassia.
Tidak ada cemburu di hatinya meskipun sebenarnya dia diam-diam menyukai sang bos yang sebenarnya memiliki sifat yang sangat baik dan terlalu dermawan. Mungkin karena Cassia sadar bahwa Max tak akan pernah tertarik padanya, pada gadis kuno yang membosankan.
Max tidak pernah, tidak sekali pun menatapnya dengan hasrat. Dia hanya menatap Cassia dengan rasa hormat profesional.
Kadang dengan rasa kagum saat Cassia menyelamatkan perusahaan dari kesalahan strategis. Tapi tidak pernah sebagai wanita, hanya pegawai teladan.
‘Dia hanya tertarik pada otakku,’ pikir Cassia. ‘Dan itu sudah cukup. Aku sudah cukup senang karena aku masih berguna baginya.’
"Itu saja, Cass. Terima kasih sudah mengantar sampai sini. Kau boleh kembali ke kantor." Max sudah tidak memperhatikannya lagi. Dia berbalik masuk ke dalam kamarnya.
Cassia berdiri. Membungkuk sopan meskipun pria itu tak melihatnya lagi.
Dia berjalan keluar, menekan tombol lift. Pintu lift menutup. Cassia sendirian di ruang kecil itu. Hanya dia dan bayangannya di dinding lift berlapis cermin.
Dia menatap pantulannya, kacamata, setelan kuno yang terlalu besar, rambut kuncir rapi tanpa gaya. Tidak ada satu pria pun yang akan menatapnya dua kali. ‘Itu kan, yang kau inginkan?’ bisiknya dalam hati.
‘Tapi tidak apa-apa,’ bisiknya dalam hati. ‘Aku butuh uang dan pekerjaan ini. Aku butuh uang untuk membuktikan pada keluarga Manon bahwa aku bisa hidup tanpa mereka.’
Dia mengepalkan tangannya. Lalu melepaskannya.
Saat lift mencapai lobi dan pintu terbuka, Cassia melangkah keluar dan berjalan menuju gedung perusahaan tempatnya bekerja tanpa menoleh ke belakang.
Tak lama, ponselnya berbunyi. Dia mengambilnya dari tas dengan cepat, takut jika sang bos menelepon.
Tapi ternyata, nama ayahnya yang ada di layar ponselnya. Dia mengangkatnya. “Halo, Dad.”
“Cia, nanti malam datanglah ke rumah,” kata Bobby Manon, ayah kandung Cassia.
Cassia tak segera menjawab. “Selamat ulang tahun, Dad,” ucapnya kemudian.
“Terima kasih, Cia. Nanti malam datanglah ke rumah. Akan ada makan malam bersama keluarga.”
“Tapi … mereka tak menerimaku, Dad.”
“Kau tetap anakku. Datanglah.”
“Bagaimana dengan nenek dan … istrimu?” Suara Cassia semakin pelan dan ragu.
“Datanglah. Aku mengharapkan kehadiranmu. Jangan hiraukan mereka. Oh ya, kau butuh uang, Cia? Jangan sungkan jika—“
“Gajiku sangat besar, Dad,” potong Cassia. “Aku sangat cukup.”
“Syukurlah. Jangan lupa nanti datang. Tak perlu membawa hadiah. Hadiahku adalah kehadiranmu,” sahut sang ayah yang suaranya selalu menenangkan.
“Baiklah, Dad.” Lalu sambungan telepon berakhir. Cassia menghela napas panjang, kemudian kembali berjalan.