Nayara tak pernah menyangka, pria yang dinikahinya dengan penuh cinta, justru tega mengkhianatinya.
Adrian berselingkuh, bahkan menghamili wanita lain, di belakang dirinya.
Di tengah luka dan pengkhianatan, hadir seorang pria yang mencintainya.
Rendra, pria yang mencintai Nayara dalam diam dan bersedia memberinya ketulusan, dan cinta yang tak pernah ia dapatkan dari suaminya sendiri.
Kini, Nayara dihadapkan pada pilihan yang menyakitkan: bertahan demi pernikahan yang telah dikhianati atau pergi bersama luka yang belum sembuh.
Sementara itu, ada hati lain yang menunggunya, berharap suatu hari Nayara mampu membuka kembali pintu cintanya.
Namun, ketika Nayara akhirnya menentukan pilihannya, siapa yang akan ia genggam, suami yang mengkhianatinya, atau pria yang mencintainya? Dan akankah Adrian rela kehilangan istri yang selama ini ia sia-siakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27: Bukan Rumahku Lagi
____🌺
"Bukan cuma namaku yang akan hancur! Citra perusahaan juga bisa terkena imbasnya kalau isu perceraian ini sampai ke telinga pemegang saham!" bentak Adrian. Urat di lehernya mulai menonjol.
"Aku butuh kamu hadir malam ini. Kita datang bersama, tersenyum di depan mereka, dan membuktikan kalau semua yang mereka dengar itu, tidak benar."
Nayara tertawa pelan. Tawa sinis, yang sama sekali, tidak menunjukkan rasa gembira.
"Mas! Kamu menyuruhku berpura-pura bahagia, di depan keluargamu, sementara keluargamu sendiri tahu, kalau kamu menghamili mantan kekasihmu, Mas!"
Adrian membuang muka sejenak, lalu mengusap lehernya dengan gelisah. Ia menarik napas panjang sebelum kembali menatap istrinya, berusaha untuk tetap tenang.
"Dan ... ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu," ucap Adrian pelan. Ia sengaja merendahkan suaranya. "Selena juga akan datang malam ini."
Gerakan tangan Nayara terhenti. Tubuhnya mematung saat menatap suaminya tanpa berkedip.
"Apa yang kamu bilang, Mas?"
"Selena akan hadir malam ini. Mama yang mengundangnya langsung," jelas Adrian cepat, berusaha meredam amarah istrinya sebelum meledak.
"Dia datang sebagai perwakilan perusahaan investor. Statusnya murni sebagai mitra bisnis Mahendra Group."
Dada Nayara naik turun dengan cepat. Rasa panas menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Mas! Kamu, sama ibumu, benar-benar sakit jiwa!"
"Jaga bicaramu, Nay!"
"Kamu menyuruhku datang, berdiri di sampingmu, lalu tersenyum di acara yang sama dengan selingkuhanmu?!" bentak Nayara.
Suara Nayara menggema keras di ruang tengah. "Kamu mau memamerkan istrimu, sekaligus perempuan yang sedang mengandung anakmu, dalam satu ruangan yang sama?!"
"Itu hanya formalitas bisnis, Nayara!" Adrian ikut meninggikan suaranya karena merasa tersudut.
"Mama sengaja mengundang Selena supaya para pemegang saham melihat bahwa kerja sama proyek kita berjalan lancar! Tidak ada niat untuk memamerkan apa-apa! Kamu tetap istriku. Posisimu ada di sampingku, sedangkan Selena hanya akan duduk di meja tamu!"
"Aku tidak peduli, mau dia duduk di mana!"
Nayara menunjuk wajah Adrian dengan telunjuk yang bergetar. "Aku menolak dijadikan sebagai alat pencitraan kalian! Kalian pikir aku ini apa? Badut yang bisa disuruh tersenyum di depan orang-orang, lalu setelah acara selesai, sementara suaminya pergi mengurus perempuan lain?!"
"Ini kewajibanmu sebagai menantu keluarga Mahendra!" balas Adrian keras.
Pria itu melangkah maju, menatap Nayara dengan penuh tuntutan.
"Aku selama ini sudah membiayai hidupmu dan keluargamu! Aku sudah memberikan rumah ini dan fasilitas mewah untukmu! Sekarang, saat keluargaku membutuhkanmu untuk menutupi masalah ini sebentar saja, kenapa kamu susah sekali diajak kerja sama?!"
"Karena aku masih punya harga diri, Mas!" jerit Nayara.
Ia mendorong bahu suaminya agar pria itu menjauh.
"Harga diriku tidak bisa kamu beli dengan uang belanja dan fasilitas! Aku lebih baik mati, daripada harus berdiri satu ruangan dengan perempuan yang sudah merebut suamiku!"
"Dia tidak akan merebut ku, kalau kamu bisa melayaniku dengan benar!"
Kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Adrian. Cepat, tajam, dan menyakitkan.
Hening seketika menyergap ruang tengah.
Adrian langsung terdiam. Matanya membelalak ketika menyadari perkataan yang baru saja keluar dari mulutnya.
Sementara itu, Nayara berdiri kaku. Wajahnya memucat.
Kata-kata tersebut terasa lebih menyakitkan daripada tamparan ibu mertuanya kemarin siang. Pria yang pernah berjanji akan melindungi dan mencintainya justru merendahkannya hingga ke titik paling menyakitkan.
"Nay ... Nayara ... a-aku tidak bermaksud bicara begitu," ucap Adrian terbata-bata.
Ia mencoba mendekat dan merentangkan tangan, hendak memeluk istrinya.
"Maaf, Nay. Aku emosi. Aku terlalu pusing dan sangat stres, hari ini."
Nayara segera mundur dua langkah.
Tak!
Tak!
Tatapannya tertuju pada Adrian seolah-olah ia sedang melihat sesuatu yang menjijikkan.
"Jangan berani menyentuhku lagi, Mas," desis Nayara.
Suaranya tidak lagi meninggi, tetapi terdengar rendah dengan getaran amarah yang tertahan.
"Ternyata begini cara kamu mu melihatku selama dua tahun ini, Mas. Aku hanya sebatas pelayan di hadapan kamu."
"Bu-bukan begitu, Nay. Tolong dengarkan aku—"
"Kamu tahu, Mas?" potong Nayara.
Ia menatap lurus ke mata suaminya tanpa berkedip.
"Tadi malam aku bertemu Dimas. Dia menunjukkan bukti transfer dari rekening operasional perusahaanmu ke rekening atas nama Bramantyo."
Wajah Adrian yang semula memelas mendadak pucat pasi. Tubuhnya menegang.
"Kamu ... kamu bicara apa sama, Dimas?”
"Iya. Dan aku tahu kalau Bramantyo adalah orang yang mengurus sengketa utang antara ayahku dan ayahmu dulu," lanjut Nayara dingin.
"Aku tahu kalau pernikahan ini adalah transaksi. Dan yang lebih menjijikkan lagi, aku tahu kalau Selena menggunakan wewenangnya di perusahaan investor untuk menggelapkan uang operasional bersamamu selama enam bulan terakhir."
Adrian mundur selangkah. Kepanikannya tidak lagi bisa disembunyikan.
"Itu bukan penggelapan, Nay! Itu ... itu bonus di luar kontrak!"
"Apa pun sebutan kamu untuk semua itu, aku tidak peduli," tegas Nayara.
Ia mengangkat salah satu kardus dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
"Kalian berdua bukan cuma pembohong, tetapi juga penipu. Dan aku menolak ikut campur atau menutupi kebusukan kalian malam ini."
Nayara melangkah menuju pintu depan sambil membawa kardusnya.
"Berhenti di situ, Nayara!" bentak Adrian.
Kepanikan pria itu berubah menjadi kemarahan karena merasa benar-benar kehilangan kendali atas istrinya.
Namun, Nayara tidak menghiraukannya. Ia terus melangkah menuju pintu.
Adrian mengejar dan berdiri menghalangi jalan keluar. Matanya memerah, menatap Nayara dengan penuh ancaman.
Rasa penyesalan yang sejak tadi dikenakannya lenyap. Kini, pria itu kembali menunjukkan wajah aslinya.
"Aku sudah berusaha bicara baik-baik sama kamu Nay, tapi kamu sendiri yang menolak,” ucap Adrian dengan suara berat dan dingin.
Ia merogoh saku celananya, lalu menatap istrinya dengan pandangan merendahkan.
"Kamu merasa bisa mandiri? Kamu pikir kamu bisa bertahan hidup di luar sana setelah dua tahun hanya bergantung pada uangku?"
Nayara memeluk kardusnya erat-erat. Meski berdiri di hadapan suaminya sendiri, ia tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun.
"Minggir, Mas." perintah Nayara tegas.
"Dengar baik-baik, Nayara," desis Adrian sambil tetap menghalangi pintu. "Kalau kamu berani melangkah keluar dari rumah ini, hari ini, dan menolak datang ke acara malam ini, aku akan mencabut semua fasilitas yang kamu pakai, dan jangan harap kamu akan mendapatkan apapun setelah keluar dari sini!"
Nayara terdiam. Tatapannya tetap tertuju pada wajah suaminya.
"Mobil yang kamu pakai, kartu kredit di dompetmu, dan semua asuransi mu, semuanya atas namaku," lanjut Adrian dengan senyum sinis. "Aku akan menelepon bank sekarang juga."
Adrian mengancam akan menghentikan akses Nayara terhadap uang rumah tangga jika perempuan itu terus mempermalukannya.
"Ingat Nayara! Selama ini, kamu hanya bergantung kepada diriku! Apa kamu bisa, hidup tanpa diriku?"
emang lu doang yang bisa 🤣🤣