Enzo pikir hidupnya yang serba pas-pasan dan biasa saja tidak akan pernah berubah, sampai sebuah notifikasi aneh bertajuk “Sistem Penakluk Dewi” muncul di ponselnya. Bukan memberi kekayaan dadakan atau jurus sakti, sistem ini justru bekerja seperti cermin jujur yang menelanjangi kelemahan dirinya sekaligus mengurai trauma orang-orang di sekitarnya. Terjebak di antara tuntutan ekonomi, dinamika tiga gadis muda yang menyimpan luka masa lalu, dan dua wanita matang yang lelah dengan kepalsuan hidup, Enzo dipaksa belajar satu hal: menaklukkan hati seseorang tidak pernah butuh trik sulap, melainkan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menerima ketidaksempurnaan manusia apa adanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TATAPAN MENGINTIMIDASI
Suara gemuruh tepuk tangan dari ratusan peserta seminar membahana menembus dinding kedap suara aula utama. Acara tahunan kewirausahaan yang dihadiri para pelaku bisnis terkemuka itu telah resmi dimulai. Di dalam koridor khusus belakang panggung yang temaram, suasana terasa jauh lebih lengang, hanya diisi oleh lalu lalang panitia yang sibuk membawa walkie-talkie dan berkas acara.
Enzo menyapu peluh tipis di pelipisnya seraya menyandarkan tubuh di samping troli pembersih. Kemeja kebersihan biru tuanya yang bersih melingkupi bahunya yang tegap. Walaupun keletihan dari pekerjaan memanggul semen kemarin masih menyisakan pegal di persendiannya, mata pemuda itu tetap jernih dan fokus.
"Tolong rapikan meja transit VIP sekarang, peserta seminar sudah mulai memasuki aula utama," perintah pengawas kebersihan seraya menunjuk ruangan kaca berpendingin udara di sudut belakang panggung.
"Baik, Pak," sahut Enzo seraya mengangguk tenang.
Enzo mendorong troli kecilnya mendekati pintu kaca ruang VIP. Di dalam ruangan bernuansa elegan itu, terdapat satu set sofa kulit hitam dan meja kaca persegi panjang yang diperuntukkan bagi para narasumber utama sebelum naik ke panggung. Enzo melangkah masuk dengan hati-hati, membasahi kain mikrofiber bersihnya untuk menyapu sisa debu di atas permukaan meja kaca.
Saat Enzo sedang membungkuk mengusap tepi meja kaca, pintu ruang VIP terbuka secara mendadak.
Derap langkah kaki berhias ketukan sepatu hak tinggi beradu nyaring dengan lantai parket. Tante Elvira melangkah masuk dengan anggun, disampingi oleh dua orang panitia pelaksana dan seorang wanita muda yang bertindak sebagai sekretaris pribadinya. Raut wajah cantik wanita empat puluh satu tahun itu tampak sangat serius, memancarkan fokus penuh menjelang sesi presentasi utamanya.
"Dokumen analisis pasar yang saya minta tadi malam sudah diprint ulang, kan?" tanya Tante Elvira dengan suara alto yang tenang namun berwibawa.
"Sudah, Bu Elvira. Semua dokumen sudah kami susun di atas meja transit," jawab sekretarisnya seraya menunjuk ke arah meja kaca tempat Enzo sedang bekerja.
Tante Elvira mengangguk pelan seraya melangkah mendekati meja kaca. Namun, ketika jemari lentiknya hendak meraih map kulit sintesis berwarna cokelat tua di atas meja, gerakan tangannya terhenti seketika.
Sepasang mata tajam di balik kacamata berbingkai keemasan itu membelalak tipis. Di sudut kanan bawah map kulit penting tersebut, terdapat sebuah bercak air tipis berdiameter dua sentimeter yang membuat permukaan kulit sintesis itu tampak basah dan meresap samar ke celah kertas lembar depan.
Suasana di dalam ruang VIP mendadak membeku secara instan.
"Siapa yang bertanggung jawab membersihkan meja ini?" tanya Tante Elvira dengan nada suara yang turun beberapa oktav, dingin dan menekan.
Pengawas kebersihan yang baru saja berdiri di ambang pintu langsung pucat pasi. Panitia pelaksana yang berada di belakang Elvira pun tampak panik, saling melempar pandangan cemas karena tahu betapa ketatnya standar kesempurnaan yang dituntut oleh pimpinan PT Elvira Nusa Korpora tersebut.
"Itu... Bu... maafkan staf kami, mungkin tadi ada kebocoran dari kain lap—" gagap pengawas kebersihan seraya mencoba menyalahkan kebetulan.
"Saya tidak menanyakan alasan kebocoran," potong Tante Elvira tajam tanpa berpaling sedikit pun dari map kulit di tangannya.
Wanita anggun itu memutar tubuhnya perlahan, lalu mengarahkan pandangan matanya tepat ke arah Enzo yang berdiri paling dekat dengan meja.
Tante Elvira menatap Enzo dengan tatapan yang sangat mengintimidasi. Tatapan mata itu seperti sebilah pisau analisis yang sanggup menguliti keberanian siapa pun di hadapannya. Sebagai seorang direktur utama yang terbiasa menghadapi negosiasi bernilai miliaran rupiah dan menindak tegas kesalahan karyawannya, daya tekan emosional yang dipancarkan Elvira sanggup membuat pekerja biasa langsung menunduk gemetar atau meraba-raba kebohongan untuk menyelamatkan diri.
"Kenapa ujung sudut map kulit ini bisa ternoda air, Enzo?" tanya Tante Elvira dengan nada datar yang sarat akan teguran keras.
Di bawah tekanan tatapan mengintimidasi yang begitu pekat, Enzo tidak sedikit pun mengalihkan pandangannya. Ia tidak menunduk panik, tidak menyalahkan pengawasnya, dan tidak pula mengarang alasan konyol tentang kebetulan. Pemuda itu berdiri tegap, menatap lurus ke dalam sepasang mata tajam Tante Elvira dengan raut wajah yang murni dan jujur.
"Itu murni kesalahan saya, Bu," jawab Enzo lugas tanpa ada getaran ragu di suaranya.
Tante Elvira menaikkan sebelah alisnya dari balik kacamata, sedikit terkejut dengan kecepatan Enzo mengambil tanggung jawab secara penuh.
"Saat saya mengusap permukaan kaca meja tadi, ada satu tetes air sisa perasan kain lap saya yang terjatuh di sudut map, dan saya tidak menyadarinya sampai Ibu datang," sambung Enzo menjelaskan duduk perkara secara objektif, tanpa sedikit pun menambahkan nada mengasihani diri sendiri.
"Kamu tahu ini dokumen utama untuk presentasi saya sepuluh menit lagi?" tegur Tante Elvira seraya melangkah satu tapak lebih dekat, menatap mata Enzo dari jarak sangat dekat. "Kecerobohan kecil seperti ini bisa merusak profesionalitas di depan ribuan peserta."
"Saya paham betul, Bu. Kecerobohan tetaplah kecerobohan," balas Enzo tenang seraya merapatkan tangannya di samping tubuh. "Kertas lembar pertama di dalam map ini memang agak lembab di ujungnya, tetapi tulisan dan data di dalamnya masih utuh. Kalau Ibu mengizinkan waktu dua menit, saya bisa memindahkan seluruh isi dokumen ini ke map cadangan yang baru tanpa mengubah susunannya."
Keheningan melingkupi ruang VIP selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Sekretaris Elvira dan pengawas kebersihan menahan napas mereka, menunggu ledakan amarah atau keputusan tegas dari wanita berwibawa itu.
Namun, yang terjadi selanjutnya justru di luar dugaan semua orang.
Sorot mata dingin dan mengintimidasi di balik kacamata Tante Elvira perlahan-lahan mencair. Rasa mengintimidasi itu berganti dengan kilat ketertarikan yang amat dalam. Sepanjang kariernya memimpin puluhan proyek besar, Elvira sudah terlalu sering melihat bawahan atau pekerja yang langsung melemparkan kesalahan pada orang lain, menangis, atau berpura-pura tidak tahu saat melakukan kesalahan kecil.
Tetapi pemuda di hadapannya ini sangat berbeda. Enzo mengakui kesalahannya secara terbuka tanpa topeng rasa takut, tidak mencari-cari alasan perlindungan, dan langsung menawarkan solusi praktis dengan kepala dingin. Kejujuran yang tanpa rasa gentar itu memancarkan kedewasaan karakter yang sangat langka di mata seorang wanita karir tingkat atas.
Tante Elvira menghembuskan napas pelan lewat hidungnya, lalu menyodorkan map kulit tersebut kepada Enzo.
"Dua menit," kata Tante Elvira singkat dengan nada suara yang tidak lagi menusuk. "Buktikan kalau kamu bisa membereskan kesalahan kamu sendiri."
"Baik, Bu," sahut Enzo mantap.
Dengan gerakan tangan yang terampil, tenang, dan sangat presisi, Enzo mengambil map cadangan bersih dari tas sekretaris, memindahkan tumpukan dokumen penting itu lembar demi lembar, lalu mengusap sela-sela jilidnya hingga rapi sempurna. Seluruh proses itu diselesaikan Enzo dalam waktu satu menit empat puluh detik.
Enzo menyerahkan kembali map baru yang rapi itu kepada Tante Elvira seraya membungkuk sopan. "Sudah selesai, Bu. Dokumen di dalamnya bersih seratus persen."
Tante Elvira menerima map tersebut, memeriksa susunan kertas di dalamnya, lalu menatap Enzo dalam diam. Ada rasa hormat yang samar bersemi di dalam hatinya terhadap integritas pemuda kebersihan ini.
Wanita anggun itu berbalik menuju tas tangannya, mengambil sebuah memo pad kulit berkulit cokelat kecil dan pulpen hitamnya. Dengan jemarinya yang lentik, Elvira menuliskan sesuatu di atas lembaran kertas memo tersebut, memotongnya rapi, lalu menyerahkannya kepada sekretaris pribadinya.
"Minta nomor kontak anak ini dari pengawas kebersihan," perintah Tante Elvira pelan kepada sekretarisnya seraya melirik Enzo dari sudut matanya. "Catat namanya di daftar asisten logistik harian untuk pameran UMKM minggu depan."
Sekretarisnya tersentak kaget, namun dengan cepat mengangguk hormat. "Baik, Bu Elvira."
Tante Elvira merapikan letak jas abu-abunya, menyambar map dokumennya, lalu melangkah keluar dari ruang VIP menuju panggung utama dengan langkah tegap dan anggun.
Saat pintu kaca ruang VIP tertutup rapat, Enzo menghembuskan napas panjang, menyapu peluh tipis di dahinya. Di dalam saku celana jins lamanya, ponsel tuanya bergetar halus dua kali secara berurutan.
Enzo merogoh benda itu, membuka pendar layar retaknya yang menyala di bawah cahaya lampu ruangan.
[Pembaruan Data Target: Tante Elvira (41 Tahun)]
[Status Ujian Karakter: Lulus Ujian Integritas Di Bawah Tekanan.]
[Analisis Emosional: Target sangat terkesan oleh kejujuran tanpa alasan, keberanian mengakui kesalahan, serta ketenangan Anda di bawah intimidasi. Sikap Anda telah membedakan Anda dari kebanyakan pria biasa di matanya.]
[Keterikatan Tante Elvira Meningkat: 8% -> 15%]
[Catatan Sistem: Nama Anda telah terukir khusus di dalam catatan pribadi Target.]
Enzo menyunggingkan senyum tipis yang membumi seraya mengantongi kembali ponselnya. Sambil menyambar troli pembersihnya, pemuda itu melangkah keluar dari ruang VIP, siap menuntaskan sisa tugas hari ini dengan kepala tegak.