Diusir ke jalanan di tengah badai hujan bersama sepasang anak kembarnya yang menangis kelaparan, hidup Jiang Muchen hancur berkeping-keping saat istrinya memilih pergi demi gemerlap harta seorang tuan muda kaya.
Namun, tepat ketika keputusasaan nyaris menelan kewarasannya, "Sistem Ayah Super Tajir" tiba-tiba aktif, mengubah takdirnya dalam semalam dengan menjanjikan kekayaan tak terhingga hanya lewat satu syarat mutlak: membahagiakan anak-anaknya.
Kini, dengan kekuatan finansial yang perlahan mampu menggenggam ekonomi seluruh Kota Jiangcheng, Jiang Muchen bersumpah untuk membangun surga dunia bagi putra-putrinya, Zihan dan Ziyue, sembari memastikan siapa pun yang pernah menginjak-injak harga diri keluarganya... terutama sang mantan istri akan berlutut dalam penyesalan yang terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Jiang Muchen menatap layar laptopnya yang masih menampilkan rencana pembunuhan tersebut. Jika dia tidak datang, Jenderal Song pasti akan mati malam ini. Keluarga Song adalah bidak yang cukup berguna baginya untuk saat ini, dia tidak akan membiarkan bidaknya dihancurkan oleh faksi lain.
"Jam delapan malam? Aku akan ke sana setelah menidurkan anak-anakku."
Terdengar hembusan napas lega dari seberang telepon.
"Terima kasih banyak, Tuan Jiang. Saya akan mengirimkan iring-iringan mobil untuk menjemput Anda."
"Tidak perlu. Aku akan menyetir sendiri. Sampai jumpa nanti malam, Nona Song."
Klik.
Jiang Muchen memutus panggilan. Dia menutup laptopnya dan berjalan keluar dari ruang kerja. Persiapan untuk malam ini tidak membutuhkan senjata atau pasukan. Dengan Ketenangan Mutlak dan kemampuan medis serta fisiknya, dia sendirian sudah lebih dari cukup untuk membalikkan langit dan bumi di perjamuan tersebut.
Waktu berlalu dengan cepat. Malam hari tiba di Kota Jiangcheng, diwarnai oleh rintik hujan gerimis yang membuat udara terasa sangat dingin.
Di sebuah kompleks bangunan megah bergaya keraton yang dijaga ketat oleh ratusan tentara bersenjata lengkap, Aula Kenegaraan Provinsi tampak bermandikan cahaya lampu keemasan. Deretan mobil mewah dari berbagai merek top dunia terparkir memenuhi halaman. Malam ini, semua naga dan harimau dari seluruh provinsi berkumpul di satu tempat.
Wrrrrmmm.
Ciiit.
Monster baja hitam pekat, Dartz Prombron, muncul dari balik kabut gerimis dan berhenti tepat di depan karpet merah lobi utama. Kendaraan buas itu seketika menarik perhatian para tamu penting yang sedang berjalan masuk. Beberapa jenderal dan walikota mengerutkan kening, bertanya-tanya siapa orang gila yang berani membawa kendaraan militer lapis baja ke acara kenegaraan yang damai.
Pintu mobil terbuka. Jiang Muchen melangkah turun.
Alih-alih mengenakan kemeja putih sederhana seperti biasanya, malam ini Jiang Muchen mengenakan setelan jas tuksedo berwarna hitam pekat dengan potongan yang sangat pas memeluk tubuh atletisnya. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Postur tubuhnya yang tinggi dan Aura Ketenangan Mutlak yang memancar dari setiap langkahnya membuat para tamu di sekitarnya tanpa sadar menahan napas dan membuka jalan.
Dari ujung karpet merah, Song Yan berdiri mematung menatap kedatangan Jiang Muchen.
Malam ini, cucu sang jenderal itu tidak mengenakan pakaian taktis militer. Dia mengenakan gaun malam berbahan sutra berwarna merah gelap yang memamerkan lekuk tubuh sempurnanya dan bahu putihnya yang mulus. Rambut hitamnya disanggul elegan, dengan jepit rambut berlian yang berkilau. Dia tampak luar biasa mempesona, membuat banyak tuan muda konglomerat sedari tadi menelan ludah.
Namun, di mata Song Yan saat ini, hanya ada satu pria.
"Tuan Jiang," sapa Song Yan dengan senyum manis, melangkah maju menyambutnya. Rona merah jelas terlihat di kedua pipinya saat dia melihat ketampanan Jiang Muchen dari jarak dekat.
"Kau terlihat berbeda malam ini, Nona Song. Sangat anggun," puji Jiang Muchen datar, nada suaranya tidak mengandung rayuan sama sekali, namun justru kejujuran itulah yang membuat jantung Song Yan berdegup kencang.
"Terima kasih. Mari, Kakek sudah menunggu Anda di ruangan VVIP di lantai dua."
Song Yan secara alami mengulurkan tangannya, menyelipkannya ke lengan Jiang Muchen, lalu berjalan berdampingan memasuki aula besar tersebut. Pemandangan itu langsung memicu gelombang bisik-bisik di antara para tamu. Bunga mawar berduri dari militer timur, wanita yang terkenal menolak lamaran puluhan pewaris keluarga top, kini menggandeng lengan seorang pemuda asing dengan wajah merona.
Mereka menaiki tangga melingkar menuju lantai dua. Di sana, di sebuah balkon tertutup yang mewah, Jenderal Song Tianhao sedang duduk di kursi kebesarannya, didampingi oleh dua pengawal elit. Pria tua itu tampak jauh lebih segar dibandingkan saat insiden serangan jantung di jalan waktu itu.
Melihat Jiang Muchen datang, Jenderal Song langsung berdiri dan tertawa hangat.
"Hahaha! Pahlawan muda kita akhirnya datang! Tuan Jiang, silakan duduk. Yan'er, tuangkan teh terbaik kita untuk tamu kehormatan ini."
Jiang Muchen mengangguk pelan dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sang jenderal.
Song Yan mengambil sebuah teko keramik porselen putih dari meja. Asap hangat mengepul dari mulut teko, menyebarkan aroma teh hijau pegunungan yang sangat menenangkan. Dia menuangkan teh itu ke dalam dua cangkir kecil, lalu menyajikannya ke hadapan kakeknya dan Jiang Muchen.
"Ini adalah Teh Da Pao kualitas tertinggi yang hanya disajikan untuk tamu negara. Kakek menyimpannya secara khusus untuk malam ini," jelas Song Yan.
Jenderal Song mengangkat cangkirnya sambil tersenyum.
"Mari, Tuan Jiang. Anggap ini sebagai ucapan terima kasih sekali lagi dari purnawirawan tua ini."