Sinopsis
Zain Arvendra Atmaja, seorang remaja yang seakan tak pernah lelah terlibat masalah di sekolahnya. Setelah berbagai kejadian yang menumpuk, ayahnya akhirnya mengambil keputusan Zain harus pindah ke sebuah SMA berbasis asrama yang dikenal mampu membimbing anak-anak yang sedang kehilangan arah.
Awalnya Zain menolak keras. Namun seiring berjalannya waktu, ia perlahan mulai menerima kenyataan itu. Di asrama inilah ia bertemu dengan Vanya, seorang gadis ceroboh yang dengan polosnya kerap menyeret Zain ke dalam berbagai situasi baru yang tak terduga.
Cerita terasa semakin rumit ketika Keira Cattleya Wiratama, kekasihnya yang selama ini jauh dari sana, tiba-tiba memutuskan untuk pindah ke asrama yang sama pula.
Tiga orang, satu atap, dan hati-hati yang mulai saling bersilang. Bagaimana kelanjutan cerita mereka ? Baca selengkapnya !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah Mayaddah f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 HENING YANG LEBIH KERAS DARI KATA-KATA
Sisa hari itu terasa berat bagi Zain karena ke mana pun ia pergi, suasana terasa berbeda. Vanya tidak lagi menyapanya dengan semangat seperti biasanya, saat jam istirahat tiba gadis itu memilih duduk di ujung ruangan sambil membaca buku sendirian, dan sesekali melirik ke arahnya dengan tatapan yang cepat-cepat dialihkan saat mata mereka bertemu. Keira juga menjauh, ia tidak lagi menunggu di depan kelas, tidak lagi membawakan bekal, dan tidak lagi menyapanya sama sekali. Seolah-olah ia adalah orang asing yang baru pertama kali dilihatnya.
Di kamar asrama malam itu, keheningan terasa menyesakkan. Rian, Bima, dan Dimas saling bertukar pandang namun tidak ada yang berani bertanya. Zain berbaring menatap langit-langit kamar, pikirannya terus berputar. Ia tidak bermaksud menyakiti siapa pun, namun sepertinya itu justru yang terjadi tanpa ia sadari, tanpa ia sengaja.
Keesokan paginya, suasana belum membaik. Zain berjalan sendirian menuju ruang makan, di meja makan Vanya duduk berdua dengan beberapa gadis lain dan saat Zain melintas, ia hanya menunduk. Hati Zain terasa seperti tercubit, ia ingin berhenti, ingin meminta maaf, tapi lidahnya terasa berat.
Pelajaran pertama terasa berjalan sangat lambat. Saat bel istirahat berbunyi, Zain tetap duduk di kursinya. Ia tidak ingin ke kantin dan berisik. Ia lebih memilih berada di tempat yang sepi untuk sementara waktu. Namun tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Keira berdiri di sana, menatapnya dengan wajah yang terlihat lelah sekali.
"Boleh aku bicara sebentar?" tanyanya pelan.
Zain mengangguk, lalu berdiri dan berjalan keluar menuju koridor yang sepi.
"Zain, aku minta maaf untuk kejadian kemarin" Ucap Keira tiba-tiba, suaranya bergetar.
"Aku tahu aku salah. Aku seharusnya tidak bereaksi seperti itu. Tapi aku takut... aku takut kehilanganmu. Sejak kita kecil, kamu satu-satunya orang yang mengerti aku dan saat aku melihat kamu menemukan kenyamanan di tempat lain, hatiku terasa seperti diremas" Lanjut Keira
Zain menghela napas panjang.
"Leya, aku menghargai kejujuranmu tapi rasa takut bukan alasan untuk menyakiti orang lain. Vanya tidak pernah bermaksud mengambil apa pun darimu, dia hanya teman aku" Jawab Zain
"Teman..." Keira tersenyum getir.
"Mungkin bagimu hanya teman, tapi aku melihat lebih dari itu, Zain. Aku melihat caramu menatapnya, tatapan yang dulu hanya untukku" Lanjut Keira
Zain terdiam, dia tidak punya jawaban untuk itu. Sebagian dari dirinya tahu ada benarnya kata-kata Keira, tapi ia belum siap mengakuinya.
"Aku butuh waktu, Leya. Bukan karena aku ragu tentang kita, tapi karena aku ragu tentang diriku sendiri saat ini. Tolong beri aku ruang untuk berpikir jernih" Ucap Zain akhirnya.
Keira mengangguk pelan, air matanya jatuh perlahan di pipinya.
"Baiklah, aku akan menunggu tapi ingat Zain, hati tidak selalu sabar menunggu keputusan yang lama" Jawab Keira
Setelah Keira pergi, Zain berjalan tanpa arah. Kakinya membawanya ke perpustakaan yang sepi, di sudut paling belakang, ia melihat Vanya sedang duduk sendirian. Bukunya terbuka, tapi matanya menatap ke luar jendela, kosong. Zain berjalan mendekat dengan langkah hati-hati.
"Vanya..." Panggil Zain
Vanya menoleh, terkejut. Ia buru-buru menyeka sudut matanya yang terlihat sedikit lembap, lalu tersenyum canggung.
"Hai Zain, ada yang bisa aku bantu ?" Tanya Vanya
Suara yang begitu sopan dan jauh, itu jauh lebih menyakitkan daripada jika Vanya marah padanya.
"Aku datang untuk meminta maaf" Jawab Zain tulus, duduk di kursi di hadapan gadis itu namun menjaga jarak yang sopan.
"Maaf soal kejadian kemarin, seharusnya aku melindungimu, bukan membiarkanmu diperlakukan seperti itu. Dan maaf karena kamu harus terlibat dalam masalah yang bukan urusanmu" Lanjut Zain merasa bersalah
Vanya menunduk, memutar ujung bukunya perlahan.
"Kamu tidak perlu minta maaf, Zain. Aku mengerti, Keira cuma cemburu dan itu wajar. Aku hanya tidak nyaman menjadi penyebab pertengkaran kalian, mungkin lebih baik kalau kita menjaga jarak untuk sementara waktu agar tidak ada salah paham lagi" Ujar Vanya
Kata-kata itu seperti tusukan halus di dada Zain tahu itu keputusan yang bijak, tapi rasanya tetap terasa berat.
"Kalau itu yang terbaik untukmu, aku akan menghormatinya. Tapi tolong ingat, kamu tidak pernah menyusahkan siapa pun. Kehadiranmu di sini justru membuat banyak hal terasa lebih ringan, termasuk bagiku." Jawab Zain pelan
Vanya terdiam lama, lalu menatapnya dengan mata yang berusaha kuat.
"Terima kasih sudah berkata begitu, semoga semuanya kembali baik-baik saja untukmu, Zain" Ujar Vanya
Zain berdiri perlahan.
"Semoga juga untukmu, Vanya. Jaga dirimu baik-baik ya" Jawab Zain
Saat ia berjalan keluar dari perpustakaan, ia merasa seolah baru saja meletakkan sesuatu yang berharga di meja lalu berjalan pergi meninggalkannya. Di luar, angin sore berhembus dingin menerpa wajahnya. Ia mendapatkan apa yang seharusnya diinginkan yaitu Keira tenang, Vanya aman dari masalah. Tapi mengapa hatinya justru terasa semakin kosong ?
*****
Malam itu Zain menatap langit dari jendela asrama, ia menyadari satu hal yang menyakitkan. Kadang melakukan hal yang benar tetap bisa terasa salah di hati, dan di antara dua pilihan yang sama-sama berat, ia baru saja memilih jalan yang paling sepi untuk dijalani.
😏 jdi jalanin seadanya aja, gk usah milih
hehe pis ya mas Zain...