NovelToon NovelToon
Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Aku Diasingkan Karena Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Single Mom
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

AKU DIASINGKAN KARENA HAMIL DULUAN

Namaku Kirana, 22 tahun.

Satu garis dua merubah hidupku jadi neraka. Pria yang berjanji akan menikahiku, menghilang begitu saja setelah tahu aku hamil.

Puncaknya, keluargaku sendiri mengusirku dengan hinaan paling menyakitkan.

"Pergi! Jangan bawa aib itu ke rumah ini! Anggap saja kamu sudah mati!"

Dalam keadaan hujan, perut yang mulai membesar, dan koper butut, aku diasingkan ke rumah peninggalan nenek di desa terpencil. Sendirian.

Aku pikir hidupku sudah selesai.

Sampai dia datang. Arga — pria dingin, duda beranak satu, yang menjadi tetanggaku.

Dia menatap perutku dan berkata dengan suara pelan:

"Aku akan menikahimu. Biar anak itu punya ayah."

Aku harusnya bahagia. Tapi kenapa tatapannya justru penuh rahasia? Dan kenapa semua orang di desa bilang, jangan pernah percaya pada Arga?

Apakah dia penyelamatku... atau dia adalah petaka yang lebih besar dari kehamilanku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7: AKU HAMIL TAPI HARUS JADI IBU UNTUK ANAK ORANG LAIN

Bungkusan kain hitam itu masih tergeletak di tanah depan pintu dapur. Basah, hangat, dan bau anyir darah ayam segar menusuk hidungku sampai membuat perutku yang sedang hamil muda ini mual ingin muntah.

Aku berdiri mematung, tidak berani menyentuhnya, tidak berani mendekatinya. Sapu lidi di tanganku sudah jatuh ke tanah becek. Napasku tersengal.

Kata-kata Arga tadi malam terngiang-ngiang di telingaku. Aku takut orang yang ngirim santet ke Mira dulu, sekarang mengincar kamu.

Jadi ini beneran. Santet Kembang Kantil itu beneran datang lagi. Setelah dua tahun tidur, sekarang dia bangun lagi dan mengincar aku.

"Bu Minah! Bu Minah!" aku berteriak sekeras yang aku bisa, suaraku pecah karena panik. Salsa yang masih tidur di dalam kamar langsung terbangun karena mendengar teriakanku.

Dari rumah sebelah yang hanya terpisah pagar bambu tipis, Bu Minah yang sedang menjemur pakaian langsung lari tergopoh-gopoh dengan daster dan rambut yang masih digulung.

"Ada apa, Nduk? Ada apa? Kok teriak-teriak? Kamu mau lahiran? Pendarahan?" tanya Bu Minah panik.

Aku menunjuk bungkusan hitam itu dengan tangan gemetar. "Bu... itu... itu di depan pintu dapur saya..."

Bu Minah melihat ke tanah. Saat matanya melihat bungkusan kain hitam yang terikat tali pocong itu, wajahnya yang tadinya panik langsung berubah menjadi pucat pasi, putih seperti kertas.

"Ya Allah... Kembang Kantil... Kembang Kantil datang lagi, Nduk..." bisik Bu Minah dengan suara gemetar. Dia langsung mundur dua langkah, tidak berani mendekat. "Jangan dipegang, Nduk! Jangan dipegang! Itu santet! Itu yang dulu ngirim ke Mbak Mira!"

Bu Minah langsung berlari kembali ke rumahnya dan kembali dengan membawa sapu lidi yang gagangnya panjang dan sebuah plastik kresek hitam besar.

"Pakai ini, Nduk. Jangan pakai tangan kosong. Nanti kamu yang kena getahnya. Nanti anak di perutmu yang kena," kata Bu Minah sambil menyodorkan sapu lidi panjang itu.

Dengan sapu lidi itu, aku mencungkil bungkusan itu pelan-pelan dan memasukkannya ke dalam plastik kresek hitam. Tangan ku gemetar hebat. Saat bungkusan itu masuk ke plastik, aku bisa merasakan ada sesuatu yang keras di dalamnya. Seperti boneka jerami.

Setelah berhasil dimasukkan, Bu Minah langsung mengikat plastik itu rapat-rapat dan membawanya jauh-jauh ke ujung kebun karet, ke dekat sungai kecil, dan membakarnya di sana dengan minyak tanah.

Asap hitam membubung tinggi. Bau kemenyan dan bau rambut terbakar bercampur menjadi satu, membuatku mual dan muntah di tempat.

Saat api sudah padam, Bu Minah kembali dengan wajah masih pucat.

"Nduk, kamu harus bilang sama Arga. Bilang sama Arga kalau santet itu datang lagi. Ini bahaya, Nduk. Ini bahaya buat kamu dan bayi mu," kata Bu Minah sambil memegang tanganku erat. "Dulu Mbak Mira juga begitu. Pertama dikirimin bungkusan, dia cuekin. Tiga hari kemudian dia pendarahan. Kamu jangan cuekin, Nduk."

Aku hanya mengangguk sambil menangis. Takut. Aku sangat takut.

Siang itu, aku tidak bisa melakukan apa pun. Aku hanya duduk di dalam kamar sambil memeluk Salsa yang kebingungan melihatku menangis terus.

Salsa, anak kecil umur dua tahun itu, dengan polosnya menghapus air mataku dengan tangan kecilnya yang mungil.

"Bunda jangan nangis... Salsa sayang Bunda..." kata Salsa dengan suara cadelnya.

Kata-kata itu membuatku semakin menangis. Bunda. Dia memanggilku Bunda. Padahal aku sendiri masih butuh ibu. Aku sendiri masih hamil, masih mual, masih butuh dimanja. Tapi sekarang, aku harus menjadi ibu untuk anak orang lain. Anak dari istri pertama suamiku yang meninggal karena santet yang sekarang mengincar aku.

Ironis sekali hidupku.

Dua minggu lalu, aku masih Kirana, mahasiswi semester akhir yang manja, yang kalau telat bangun dibangunkan Ibu, yang kalau lapar tinggal bilang ke Pembantu. Sekarang, aku adalah Kirana, janda hamil yang diusir, istri siri kedua seorang petani karet, ibu sambung untuk anak umur dua tahun, dan target santet mematikan.

Sore harinya, Arga pulang dari kebun lebih cepat dari biasanya. Wajahnya cemas. Bu Minah pasti sudah telepon dia.

Saat melihatku duduk di lantai kamar dengan mata bengkak karena menangis dan Salsa yang tertidur di pangkuanku karena kelelahan menenangkanku, Arga langsung membuang cangkulnya dan berlutut di depanku.

"Kamu gak apa-apa? Mana bungkusannya? Kamu pegang pakai tangan kosong?" tanya Arga bertubi-tubi, panik. Ini pertama kalinya aku melihat Arga panik seperti ini.

Aku menggeleng. "Tidak, Pak. Pakai sapu. Sudah dibakar Bu Minah di sungai."

Arga menghela napas lega, tapi wajahnya masih tegang. Dia duduk di sampingku, melihat Salsa yang tertidur.

"Maafkan aku, Kir. Aku yang bawa kamu ke dalam masalah keluarga ku. Seharusnya aku tidak nikahin kamu. Seharusnya kamu tetap di rumah ibumu, bukan di sini," kata Arga pelan, penuh rasa bersalah.

"Di rumah Ibu saya juga diusir, Pak. Di sini setidaknya saya masih bisa hidup," jawabku pelan.

Arga terdiam. Lalu dia melihat Salsa.

"Salsa tadi manggil kamu apa?"

"Bunda," jawabku pelan.

Arga tersenyum tipis. Senyum pertama yang aku lihat darinya sejak dua hari ini. "Dia sudah lama tidak manggil Bunda. Sejak Mira meninggal, dia tidak pernah manggil siapa pun Bunda. Dia cuma manggil Ayah. Sekarang dia manggil kamu Bunda. Berarti dia sudah anggap kamu ibunya."

Kata-kata itu membuat hatiku hangat sekaligus sesak.

"Pak, saya... saya takut, Pak. Saya takut jadi ibu. Saya sendiri masih hamil. Saya masih mual setiap pagi. Saya tidak tahu cara ganti popok Salsa yang benar. Saya tidak tahu cara masak nasi yang tidak gosong. Bagaimana saya bisa jadi ibu untuk Salsa, Pak, kalau saya saja belum bisa jadi ibu untuk anak saya sendiri?"

Itulah ketakutan terbesarku yang selama ini kupendam. Bukan santetnya, tapi peranku sebagai ibu.

Arga menatapku lama. Lalu dia berkata, "Tidak ada perempuan yang langsung bisa jadi ibu, Kir. Mira dulu juga begitu. Waktu Salsa baru lahir, Mira juga bingung. Dia juga nangis karena Salsa terus nangis. Dia juga tidak bisa masak. Nasi gosong terus. Tapi lama-lama dia belajar. Kamu juga bisa belajar. Aku akan ajarin kamu."

"Kamu hamil, Kir. Itu anugerah. Dan kamu dikasih Salsa, itu juga anugerah. Banyak perempuan di luar sana yang ingin hamil tapi tidak bisa. Banyak perempuan yang ingin punya anak seperti Salsa tapi tidak dikasih. Kamu dikasih dua-duanya sekaligus. Memang berat, tapi itu tandanya Allah percaya kamu kuat."

Kata-kata Arga yang sederhana itu, entah kenapa, menancap dalam di hatiku. Allah percaya aku kuat.

Malam harinya, setelah kejadian santet itu, Arga memutuskan untuk tidak tidur di ruang tamu lagi. Dia tidur di depan pintu kamar, di dalam kamar, dengan karung goni dan golok di sampingnya. Menjagaku dan Salsa.

Aku di dalam kamar, mencoba menjadi ibu.

Salsa terbangun tengah malam karena haus. Biasanya, Arga yang buatkan susu. Tapi malam itu, aku yang bangun.

Aku dengan kikuk, dengan tangan gemetar karena masih takut santet, aku buatkan susu untuk Salsa. Takarannya kebanyakan air, susunya menggumpal. Tapi Salsa meminumnya dengan lahap tanpa protes.

Setelah minum susu, Salsa tidak mau tidur lagi. Dia ingin bermain.

"Bunda, main kuda-kudaan..." rengek Salsa sambil menarik dasterku.

Padahal perutku mual. Kepalaku pusing karena hamil muda dan karena kurang tidur. Badanku lemas. Tapi melihat mata Salsa yang berbinar-binar penuh harap, aku tidak tega menolak.

Aku pun dengan perut yang masih mual, aku jongkok dan menjadi kuda-kudaan untuk Salsa di atas tikar pandan tipis itu. Salsa naik ke punggungku sambil tertawa cekikikan keras.

"Hore... Bunda kuda... Bunda kuda..."

Tawa Salsa itu, tawa cekikikan polos itu, untuk pertama kalinya sejak aku diusir dari rumah, membuatku ikut tertawa. Tawa yang tulus, bukan tawa yang dibuat-buat.

Arga yang tidur di depan pintu kamar terbangun karena mendengar tawa kami. Dia melihatku menjadi kuda-kudaan untuk Salsa sambil menahan mual, dan dia tersenyum. Senyum yang tulus, bukan senyum dingin.

Malam itu, di tengah teror santet yang mengintai, di tengah kehamilanku yang tidak diinginkan, dan di tengah peranku yang tiba-tiba menjadi ibu untuk anak orang lain, aku menemukan sedikit kebahagiaan.

Kebahagiaan yang sederhana. Tawa Salsa.

Mungkin, menjadi ibu untuk anak orang lain saat aku sendiri sedang hamil itu memang berat. Sangat berat.

Tapi mungkin, Salsa lah yang akan menguatkanku. Dan mungkin, anak yang ada di dalam perutku ini juga akan menguatkan Salsa.

Kami berdua, aku dan Salsa, sama-sama anak yang kehilangan ibu. Aku diusir ibu kandungku, Salsa ditinggal mati ibu kandungnya.

Sekarang kami saling memiliki. Aku menjadi ibu untuk Salsa, dan Salsa menjadi alasan untukku tetap bertahan hidup di rumah bocor ini, di bawah ancaman santet Kembang Kantil yang masih mengintai.

Menjelang pagi, saat Salsa sudah tertidur lagi setelah lelah bermain kuda-kudaan, aku mengelus perutku dan berbisik,

"Nak, lihat kakak Salsa ya. Kakak Salsa kuat. Mama juga harus kuat. Kita harus kuat bertiga lawan santet itu. Mama janji, Mama akan belajar jadi ibu yang baik untuk kakak Salsa, dan juga untuk kamu, Nak."

Di luar, suara jangkrik masih terdengar. Tapi malam itu, tidak ada lagi suara kresek-kresek langkah kaki. Tidak ada lagi teror.

Mungkin karena Arga tidur di depan pintu dengan goloknya. Atau mungkin karena tawa Salsa tadi mengusir setan-setan itu.

Entahlah. Yang jelas, malam itu aku bisa tidur nyenyak untuk pertama kalinya, dengan Salsa memelukku dari samping, dan Arga menjaga kami dari depan pintu.

---

1
Hasan Basri
alur cerita gx jelas
Ve Love: wah dibagian mana ini, aku suka kritiknya 🙏
total 1 replies
evana gusani
baru mampir
Ve Love: makasih ya udah mau mampir 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!