Jingga pernah percaya bahwa pernikahannya dengan Rangga Cendana adalah kisah cinta yang sempurna. Namun, setelah kehilangan putra kecil mereka, Jingga justru kehilangan suami yang dahulu begitu mencintainya. Ia baru menyadari bahwa selama ini dirinya hanyalah alat bagi Rangga untuk membuat Dira, istri mendiang kakak Rangga, merasa cemburu.
Pengkhianatan, penghinaan, dan kehilangan membuat Jingga hancur. Puncaknya, ia dituduh mencelakai Varel, keponakan yang begitu disayangi Rangga, hingga sebuah tamparan menyadarkannya bahwa sudah cukup baginya menjadi wanita yang terus tersakiti.
Jingga pun bangkit dan memilih mengakhiri pernikahan yang hanya menyisakan luka. Ia akan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak sesuka hati.
Ketika Jingga mulai menata hidup dan menemukan cinta baru yang tulus, penyesalan Rangga dan keluarganya datang terlambat. Jingga telah memilih jalannya sendiri, sebab tidak semua luka harus disembuhkan dengan memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Jingga hingga wajahnya menoleh ke samping. Rasa perih langsung menjalar, membuat kulit putihnya memerah dalam sekejap. Namun, wanita itu tidak menangis. Ia hanya terdiam beberapa saat, berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.
“Beraninya kau mencelakai Varel! Dia itu keponakanmu sendiri, Jingga! Kau sengaja memberinya makanan yang membuat alerginya kambuh, hah? Kau mau membunuhnya?!”
Rangga Cendana, berdiri di hadapannya dengan wajah merah padam. Napas pria itu memburu, seolah kemarahannya sudah tidak bisa lagi dibendung. Sementara Jingga masih memegangi pipinya, berusaha menahan rasa sakit yang bukan hanya berasal dari tamparan, melainkan juga dari kenyataan bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah suaminya sendiri.
Pria yang dua tahun lalu berjanji akan selalu melindunginya. Pria yang dahulu bahkan tidak tega melihatnya menangis. Dan pria yang sekarang tidak ragu mengangkat tangan untuk menyakitinya.
“Mas, untuk apa tamparan ini?” tanya Jingga pelan.
Suaranya terdengar tenang, meskipun dadanya terasa sesak. Ia menatap Rangga, menunggu penjelasan yang masuk akal. Namun, yang didapatkannya justru tatapan penuh kebencian.
“Masih berani bertanya?! Kalau sampai terjadi sesuatu sama Varel, kau mau tanggung jawab?!”
Jingga mengembuskan napas panjang. Sudut bibirnya terangkat sedikit, karena ia mulai lelah menghadapi semua ini.
PLAK!
Kali ini, Jingga lah yang melayangkan tamparan keras ke pipi Rangga. Mata pria itu membelalak, tak menyangka perempuan yang selama ini diam dan terluka akhirnya berani membalasnya.
Varel adalah anak dari mendiang kakak Rangga yaitu Tara, dan Dira. Anak laki-laki berusia empat tahun itu menjadi kesayangan Rangga sejak Tara meninggal tiga bulan lalu. Apa pun yang diinginkan Varel, Rangga selalu berusaha memenuhinya. Bahkan, perhatian yang seharusnya diberikan kepada istrinya sendiri seolah sudah tidak tersisa lagi.
“KAU—!“ Rangga menunjuk wajah Jingga dengan wajah murka.
“Di rumah ini ada CCTV, Mas! Kalau memang kau yakin aku yang memberinya makanan, periksa saja rekamannya,” jawab Jingga.
“Kau pikir aku punya waktu untuk mengurusi kebohonganmu?”
“Jadi, kau menuduhku tanpa bukti?”
“Sudah jelas Varel makan makanan yang kau siapkan!”
Jingga tertawa kecil, tetapi tidak ada kebahagiaan di wajahnya.
“Lalu? Apa itu cukup untuk membuatmu langsung menamparku? Bahkan kau tidak bertanya apa pun kepadaku. Kau datang, menuduhku, lalu memukulku. Begitu caramu memperlakukan istrimu sendiri?”
Rangga terdiam sesaat. Sepertinya ia tidak menyangka Jingga akan membalas ucapannya. Selama ini, istrinya selalu mengalah. Sebesar apa pun kemarahannya, sekejam apa pun perkataannya, Jingga lebih sering memilih diam daripada memperpanjang masalah.
Namun, hari ini berbeda.
Jingga baru saja pulang dari makam putra kecilnya. Ia masih mengenakan pakaian sederhana berwarna hitam ketika Rangga menyambutnya dengan tuduhan dan tamparan.
Seolah kehilangan anak mereka belum cukup menyakitkan. Seolah dua tahun pernikahan yang penuh pengorbanan belum cukup membuatnya terluka.
“Aku baru saja pulang dari makam anakku, Mas,” ucap Jingga dengan suara bergetar. “Dan hal pertama yang kudapatkan saat masuk ke rumah ini adalah tuduhanmu. Apa kau pernah berpikir bagaimana perasaanku?”
“Jangan membawa-bawa anak kita dalam masalah ini!”
Kalimat itu membuat Jingga membeku, Rangga masih bisa menyebut anak mereka dengan begitu mudah, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal, ketika putra mereka mengalami kejang hebat malam itu, Jingga berteriak meminta pertolongan sambil memeluk tubuh mungil anaknya yang mulai melemah.
Ia menelepon Rangga berkali-kali, berharap suaminya segera datang ke rumah sakit. Namun, Rangga tidak pernah muncul.
Malam itu, pria tersebut sedang merayakan ulang tahun Varel di sebuah restoran bersama Dira dan kedua mertuanya. Jingga baru mengetahui hal itu setelah putra mereka dinyatakan meninggal dunia.
Anak mereka mengembuskan napas terakhir tanpa didampingi ayahnya. Sementara Rangga tertawa bahagia bersama wanita yang dicintainya.
“Jangan membawa-bawa anak kita?” Jingga mengulang kalimat itu dengan mata berkaca-kaca. “Kau masih ingat kalau kita punya anak, Mas? Kau ingat bagaimana dia kesakitan malam itu? Kau ingat aku meneleponmu sampai puluhan kali?”
Rangga mengalihkan pandangan. “Sudahlah! Kejadian itu sudah berlalu. Jangan terus membahasnya.”
“Berlalu untukmu, bukan untukku!” Suara Jingga meninggi. Air matanya akhirnya jatuh, tetapi kali ini bukan karena ia ingin dikasihani. “Aku yang menggendongnya ke rumah sakit! Aku yang memeluknya saat tubuhnya kejang! Aku yang menangis dan memohon kepada dokter agar menyelamatkan anak kita! Tapi kau di mana, Mas? Kau bahkan tidak datang ketika anakmu sendiri sedang berjuang untuk hidup!”
“Jingga!” bentak Rangga.
“Aku belum selesai!” Jingga menatap suaminya dengan mata merah, ia tidak peduli apakah Rangga akan marah atau kembali menyakitinya. “Setelah anak kita meninggal, apa yang kau katakan kepadaku? Kau menyuruhku pasrah karena katanya itu sudah takdir. Kau bilang aku harus menerima semuanya. Tapi sekarang... ketika Varel sakit, kau bisa begitu panik sampai tega menamparku. Apa anak kita dulu tidak sepenting Varel bagimu?”
Rangga mengepalkan tangannya. “Jangan membandingkan anak kita dengan Varel!”
“Kenapa? Karena dia anak Dira?”
Suasana mendadak hening.
Rangga menatap Jingga tajam. Sebelum pria itu sempat menjawab, Bu Farah, ibu mertua Jingga, muncul dari arah ruang tengah. Wajah wanita paruh baya itu tampak tidak senang mendengar pertengkaran mereka.
“Ada apa ini? Kenapa kalian berteriak-teriak?” tanyanya.
“Ma, Jingga sudah keterlaluan! Dia memberi Varel makanan yang membuat alerginya kambuh, tapi sekarang malah berani melawanku!”
Bu Farah langsung menoleh kepada Jingga. “Jingga, apa benar kamu melakukan itu? Varel masih kecil. Kalau memang kamu tidak suka dengan anak itu, bukan berarti kamu boleh mencelakainya!”
Jingga memandang ibu mertuanya dengan tatapan tak percaya. Bahkan belum ada yang memeriksa CCTV, tetapi dirinya sudah dianggap bersalah.
“Ma, saya tidak melakukan apa pun kepada Varel.”
“Kalau begitu, kenapa Rangga sampai semarah ini?”
“Karena dia tidak pernah mau mendengarkan penjelasan saya!”
“Jaga bicaramu, Jingga!” tegur Bu Farah. “Rangga itu suamimu.”
Jingga tersenyum pahit. Tentu saja, di rumah ini Rangga selalu benar. Apa pun yang terjadi, Jingga harus mengerti, harus mengalah, dan harus menerima.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak ada yang peduli bahwa ia masih berduka atas kematian anaknya sendiri. Dan tidak ada yang mau tahu bahwa selama tiga bulan terakhir, suaminya lebih sering menghabiskan waktu bersama Dira daripada dengannya.
“Kalau begitu, Mama juga harus tahu satu hal,” kata Jingga, menatap ibu mertuanya. “Putra Mama selama ini mencintai istri kakaknya sendiri.”
Wajah Bu Farah langsung berubah. “Jingga, apa yang kamu katakan?”
“Rangga mencintai Dira sejak SMA. Dia menikahi saya bukan karena cinta, melainkan karena ingin membuat Dira cemburu setelah wanita itu menikah dengan Mas Tara.”
“Diam!” bentak Rangga.
Namun, Jingga tidak berhenti. “Aku mendengar sendiri pengakuanmu, Mas. Kau bilang kau tidak pernah melupakan Dira. Kau bilang kau sakit hati ketika dia memilih menikah dengan kakakmu. Lalu kau mencari wanita lain untuk dijadikan istri hanya supaya dia merasa cemburu.”
“Rangga, apa maksud Jingga? Apa yang dia katakan itu benar?” Bu Farah menatap putranya dengan wajah pucat.
“Jangan dengarkan dia, Ma! Jingga hanya mengada-ada!”
“Kalau memang aku mengada-ada, kenapa kau begitu takut mendengarnya?”
Rangga melangkah maju, wajahnya memerah karena amarah. Tangannya kembali terangkat, hendak menampar Jingga untuk kedua kalinya.
Namun, kali ini Jingga tidak tinggal diam. Wanita itu menangkap pergelangan tangan suaminya sebelum tamparan itu mendarat.
“Cukup, Mas!”
Tatapan Rangga berubah terkejut.
Jingga mencengkeram tangan suaminya itu dengan erat, lalu melepaskannya dengan kasar. “Sekali lagi kau berani menamparku, aku akan melaporkanmu ke polisi! Aku tidak peduli kau Rangga Cendana atau bagian dari keluarga terpandang mana pun! Aku juga manusia yang punya harga diri!”
“Kau mengancamku?!” desis Rangga.
“Aku sedang memperingatkanmu!”
Jingga mengusap pipinya yang masih terasa panas. Ia memandang pria yang selama dua tahun terakhir dipanggilnya suami, mencoba mencari sedikit saja sosok Rangga yang dahulu pernah membuatnya jatuh cinta.
Namun, tidak ada yang tersisa.
Yang berdiri di hadapannya hanyalah pria yang tega menjadikannya pelampiasan, sementara hatinya sendiri masih tertinggal pada wanita lain.
Jingga menarik napas panjang. Dadanya masih terasa sakit, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang perlahan berubah. Ia tidak ingin lagi hidup dengan terus memohon perhatian dari seseorang yang tidak pernah benar-benar menginginkannya.
“Mulai hari ini, aku tidak akan lagi diam setiap kali kau menyakitiku, Mas.”
“Memangnya kau mau apa? Jangan lupa, kau itu istriku. Kau tinggal di rumah keluargaku dan hidupmu selama ini juga ditanggung olehku!” Rangga mendengus meremehkan.
Jingga menatap pria itu lekat-lekat. “Kalau begitu, bersiaplah. Sebentar lagi, kau tidak akan punya istri lagi.”
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jingga berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Kali ini, ia tidak menunggu Rangga memanggilnya kembali. Ia juga tidak berharap pria itu akan meminta maaf. Sebab, di dalam hatinya, sesuatu telah benar-benar berakhir.
Pernikahan yang selama ini ia pertahankan seorang diri. Cinta yang ternyata hanya kebohongan. Dan harapan bahwa suatu hari Rangga akan kembali menjadi suami yang mencintainya.
Malam itu, Jingga memutuskan satu hal. Ia akan pergi, dan akan mengakhiri pernikahannya meskipun harus memulai hidup dari nol. Ia akan kembali berdiri dengan kedua kakinya sendiri, tanpa bergantung pada keluarga Cendana.
Rangga mungkin mengira dirinya akan terus menjadi wanita lemah yang bisa diperlakukan sesuka hati. Namun, pria itu salah. Jingga sudah terlalu lama bertahan di tengah badai. Kini, saatnya ia menyelamatkan dirinya sendiri.
lanjut Thor👍
thor ngomong" masa ga ketauan si yg nyebarin berita ga bertanggung jawab itu, biar keluarganya Rangga tau seberapa manipulatif nya mantan menantunya yg sblah itu