Raya Aprillia Safitri tidak pernah membayangkan bahwa hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaannya justru berubah menjadi awal dari kehancurannya.
Demi baktinya kepada sang ayah, Raya menerima perjodohan dengan seorang pria bernama Kamil. Ia menekan segala keraguan, meyakinkan dirinya bahwa pernikahan bisa tumbuh seiring waktu. Namun, takdir berkata lain.
Baru saja ijab kabul dinyatakan sah, belum sempat Raya menghela napas lega sebagai seorang istri, satu kata menghancurkan segalanya.
Talak.
Di hadapan saksi. Di detik yang sama ketika statusnya berubah menjadi seorang istri, ia juga sekaligus menjadi wanita yang diceraikan.
Lebih menyakitkan lagi, ayah yang begitu ia cintai tumbang saat itu juga, tak kuat menahan kenyataan pahit yang terjadi di depan matanya… dan menghembuskan napas terakhirnya.
Di tengah duka dan kehancuran, Raya hanya bisa terpaku… sementara Kamil berdiri dengan senyum penuh kemenangan, seolah semua ini adalah bagian dari rencana yang telah lama ia susun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Dipecat
Kamil langsung masuk ke garasi tanpa banyak bicara. Langkahnya cepat, seolah ingin menghindari tatapan siapa pun yang mungkin melihatnya pagi itu. Ia membuka pintu mobilnya dengan kasar, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi pengemudi.
Matanya menyapu bagian dalam mobil, hingga tiba-tiba berhenti pada sesuatu di dekat dashboard.
"Oh ternyata hp-ku ada di sini, dari semalam dicari-cari,” gumamnya pelan, sambil meraih ponsel itu.
Ia menekan tombol power.
"Yaa mati,” desahnya kesal.
Dengan gerakan cepat, Kamil mengambil charger mobil, lalu menyambungkannya. Ia menunggu beberapa detik hingga layar ponsel itu akhirnya menyala, menampilkan deretan notifikasi yang tak terbaca. Namun ia tak langsung membukanya. Entah kenapa, ada perasaan enggan yang tiba-tiba menyelinap.
Kamil menghela napas, lalu menyalakan mesin mobil.
Pagi itu, jalanan sudah cukup ramai. Deretan kendaraan memenuhi ruas jalan, klakson sesekali bersahutan. Hari Senin selalu seperti ini—padat, terburu-buru, dan penuh tekanan.
Namun di balik hiruk-pikuk itu, pikiran Kamil justru terasa kosong.
Ia mengemudi dalam diam. Tanpa musik, tanpa membuka ponsel, hanya suara mesin dan lalu lintas yang menemani. Wajahnya datar, seolah tak ada beban, padahal dunia di sekitarnya sedang perlahan berubah menjadi tempat yang tidak lagi ramah untuknya.
Beberapa waktu kemudian, mobilnya memasuki area parkir kantor.
Kamil turun, merapikan kemejanya, lalu melangkah masuk ke dalam gedung dengan kepala tegak. Seperti biasa, ia berusaha tampil percaya diri, seolah tidak terjadi apa-apa.
Namun suasana terasa berbeda.
Tak ada sapaan.
Tak ada senyum basa-basi.
Beberapa orang yang biasanya menyapanya kini justru menunduk, pura-pura sibuk, atau menjauh perlahan.
Kamil mengerutkan kening, tapi tetap melangkah menuju lift.
Saat pintu lift terbuka, ia masuk bersama beberapa karyawan lain. Ruangan sempit itu mendadak terasa pengap. Tidak ada yang berbicara langsung padanya, tapi bisik-bisik mulai terdengar jelas di telinganya.
"Ini ya laki-laki tak tahu diri itu…”
"Semoga dia merasakan azabnya, karena telah mempermainkan sakralnya pernikahan…”
Kamil mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, tapi ia memilih diam. Matanya menatap lurus ke depan, pura-pura tidak mendengar, meski setiap kata terasa seperti tamparan.
Denting lift terasa lebih lama dari biasanya.
Saat pintu terbuka di lantai kantornya, Kamil melangkah keluar dengan cepat. Namun baru beberapa langkah, seseorang tiba-tiba menghentikannya.
Seorang ibu-ibu, salah satu karyawan senior, berdiri di depannya dengan wajah penuh amarah.
"Hai laki-laki laknat!” suaranya lantang, membuat beberapa orang di sekitar langsung berhenti dan memperhatikan. "Berani sekali muncul di muka umum tanpa merasa bersalah sedikit pun? Padahal wanita yang lu nikahi dan lu talak kemarin sekarang sedang sedih, karena kehilangan ayahnya!”
Kamil menatap tajam, emosinya langsung terpancing.
"Ih apa urusanmu? Kok ikut campur?” balasnya dengan nada tinggi. “Apapun yang gue lakukan gak ada urusannya denganmu.”
Wanita itu tertawa sinis, matanya penuh kebencian.
"Ya ada lah! Sebagai sesama wanita, gue mengutuk perbuatan lu!” katanya tanpa gentar. “Semoga aja Allah segera membalas perbuatanmu!”
Ucapan itu menggantung di udara.
Beberapa orang mulai berbisik lagi, suasana semakin panas. Tatapan-tatapan tajam kini tertuju pada Kamil dari berbagai arah.
Untuk pertama kalinya, Kamil merasakan sesuatu yang berbeda.
Bukan marah.
Bukan juga kesal.
Tapi… tekanan.
Seolah dunia yang selama ini ia kendalikan, kini berbalik menelannya perlahan.
Namun bukannya mundur, Kamil justru mendengus pelan. Ia memalingkan wajah, lalu berjalan melewati wanita itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Langkahnya tetap tegap.
Tapi entah kenapa… terasa lebih berat dari biasanya.
Kamil kembali melangkah menuju ruangannya dengan wajah yang justru tampak ringan. Senyum tipis menghiasi bibirnya, seolah semua bisik-bisik yang ia dengar tadi hanyalah angin lalu.
Tubuhnya masih tegap, penuh percaya diri.
Begitu masuk ke dalam ruangan, seperti biasa ia mengangkat suaranya dengan nada ceria.
Selamat pagi semuaaa!” ucapnya ramah.
Namun…
Tak ada satu pun yang menjawab.
Ruangan itu tetap hening. Beberapa orang hanya menunduk menatap layar komputer, yang lain pura-pura sibuk dengan berkas. Tak ada senyum, tak ada sapaan balik—hanya keheningan yang dingin dan menyesakkan.
Senyum Kamil sempat menggantung, tapi ia segera menutupinya dengan ekspresi biasa. Seolah tidak terjadi apa-apa.
Tiba-tiba, seorang karyawan menghampirinya dengan langkah ragu.
"Pak Kamil sudah ditunggu direktur Wilmar di ruangannya.”
"Ok, makasih ya,” jawab Kamil lugas.
Tanpa banyak pikir, ia meletakkan tas kerjanya di meja. Gerakannya santai, bahkan nyaris tanpa beban. Dipanggil atasan? Itu hal biasa baginya. Mungkin hanya soal proyek, atau rapat mendadak seperti biasanya.
Ia pun berjalan menuju ruangan direktur.
Langkahnya mantap.
Tak ada sedikit pun rasa gugup.
Sampai akhirnya ia berdiri di depan pintu. Tok… tok… tok, tanpa ragu Kamil mengetuk pintu Sang Direktur.
"Masuk!”
Kamil membuka pintu dan melangkah masuk.
'Assalamualaikum, selamat pagi, Pak!” sapanya sopan.
Namun tak seperti biasanya, tak ada senyum hangat. Tak ada sapaan balik yang ramah. Yang ada hanya wajah datar dan tatapan tajam.
"Duduk!” kata Wilmar singkat.
Kamil langsung duduk tanpa disuruh dua kali. Ia mulai merasa ada yang berbeda, tapi tetap berusaha tenang.
"Kamu sudah tahu apa kesalahanmu sehingga saya panggil ke sini?” tanya Wilmar, suaranya dingin.
"Nggak, Pak. Mungkin ada tugas untuk saya?” jawab Kamil santai.
"No.” Wilmar menggeleng pelan. “Mulai saat ini dan seterusnya sudah tidak ada tugas lagi untuk kamu.”
Kamil mengernyit.
"Maksud Bapak?”
"Kamu dipecat.”
Kalimat itu jatuh begitu saja. Singkat. Tegas. Tanpa jeda.
Kamil terdiam sesaat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
"Apa? Salah saya apa, Pak?” suaranya mulai meninggi.
Wilmar menatapnya dalam, penuh kekecewaan.
"Salahmu adalah mempermainkan anak orang. Bisa-bisanya kemarin kamu berbuat sekeji itu, Mil.”
Rahang Kamil mengeras.
"Pak, apa hubungannya semua itu dengan kerjaan saya?” balasnya, nadanya mulai emosional.
"Banyak.” Suara Wilmar tetap tenang, tapi penuh tekanan. “Kantor ini tidak mau menampung orang yang tidak punya hati nurani.”
"Ini tidak adil buat saya, Pak,” Kamil membalas cepat.
Wilmar menyandarkan tubuhnya, menatap Kamil tanpa ekspresi.
"Terserah kamu bilang tidak adil juga. Tapi buat kami ini sangat adil. Kamu tahu, teman-temanmu malah mau mengajukan petisi kalau perusahaan tidak memecatmu."
Hening.
"Kok segitunya banget, Pak? Padahal yang aku lakukan sama sekali tidak ada urusannya dengan kantor,” ujar Kamil, nada suaranya mulai meninggi, antara tidak terima dan mencoba membela diri.
Wilmar menatapnya tajam, lalu menghela napas panjang, seolah menahan emosi yang sejak tadi ia jaga.
"Banyak sekali hubungannya,” jawabnya tegas. "Perusahaan ini bergerak di bidang fashion khusus wanita. Kamu tahu itu, kan?”
Kamil terdiam, tapi rahangnya mengeras.
"Wanita-wanita di luar sana akan sangat tersakiti kalau kamu masih ada di sini,” lanjut Wilmar. "Mereka sudah mulai bersuara. Mereka mau memboikot semua produk kita.”
Kamil mendengus pelan, bibirnya melengkung sinis.
"Dasar wanita kampungan.”
Kalimat itu meluncur begitu saja, tanpa pikir panjang.
Namun justru itulah yang membuat suasana berubah semakin tegang.
"Kamu yang kampungan!” bentak Wilmar, untuk pertama kalinya suaranya benar-benar meninggi. "Harusnya kalau kamu nggak suka dengan calonmu itu, tolak dari awal! Bukan terus jalan, malah setelah sah kamu talak!”
Ia sedikit condong ke depan, menatap Kamil dengan penuh kemarahan.
"Di mana hati nuranimu, hah?”
Kamil terdiam.
Tak ada jawaban.
Tak ada bantahan.
Untuk sesaat, egonya seperti tertahan oleh kenyataan yang sulit ia lawan dengan kata-kata.
Namun diamnya bukan karena sadar…
Melainkan karena kehabisan alasan.
Ruangan itu kembali hening.
Wilmar menarik napas panjang, lalu merapikan beberapa berkas di mejanya, seolah ingin segera mengakhiri percakapan itu.
"Sudah,” katanya dingin. “Saya banyak kerjaan.”
Ia bahkan tak lagi menatap Kamil.
"Silakan keluar. Semua hak kamu bisa kamu ambil di bagian keuangan.”
Kalimat itu terdengar seperti penutup yang tak bisa ditawar lagi.
Kamil masih duduk beberapa detik. Wajahnya menegang, tangannya mengepal di atas paha. Amarah, gengsi, dan keterkejutan bercampur jadi satu.
Namun pada akhirnya…
Ia berdiri.
Tanpa pamit.
Tanpa kata-kata.
Hanya langkah kaki yang terasa lebih berat dari sebelumnya saat ia berjalan keluar dari ruangan itu.
Dan saat pintu tertutup di belakangnya—
Seolah satu per satu pintu dalam hidupnya… ikut tertutup.
Untuk pertama kalinya, Kamil benar-benar kehabisan kata.
mantappp