Lima tahun mencintai Hansen diam-diam membuat Jihan langsung menerima saat mereka dijodohkan. Hansen pun terpaksa menikahi Jihan karena merasa bertanggung jawab atas kecelakaan yang membuat kaki Jihan cacat.
Atas permintaan Hansen, pernikahan mereka disembunyikan. Selama sepuluh tahun, Jihan menjalani perannya sebagai istri tanpa pernah menuntut cinta dari Hansen yang selalu bersikap dingin.
Namun semuanya berubah ketika putra mereka yang berusia sembilan tahun mengatakan bahwa ia malu memiliki ibu yang pincang.
Hati Jihan hancur.
Di saat yang sama, Hansen mengaku sudah lelah dengan pernikahan pura-pura mereka dan mengajak Jihan bercerai.
Jihan hanya terdiam.
Tanpa air mata, tanpa protes, dan tanpa memohon agar Hansen tetap bersamanya.
Karena kali ini, Jihan memilih berhenti mencintai pria yang tak pernah benar-benar menginginkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Aneh Hansen
Hansen baru saja selesai menikmati sarapan plus makan siangnya saat bel rumahnya berbunyi. Ia sedang menyeka sudut bibirnya dengan tisu. Sementara itu Jihan masih di ruang cuci, sedang merapikan pekerjaannya yang ada di sana.
Bel rumah kembali berbunyi. Hansen sedikit malas. Namun ia tak jua melihat Jihan keluar dari ruang cuci.
Tak punya pilihan, Hansen pun segera melangkah ke depan dan terlihat di sana seorang kurir berdiri menunggu seseorang membukakan pintu untuknya.
"Ya," ucap Hansen menyapa.
"Ada paket atas nama Mbak Jihan, Pak. Ini silakan tanda tangan," ucap kurir tersebut sembari menyerahkan dua lembar kertas pada Hansen.
Hansen menerima kertas itu, membacanya sesaat.
Koper?
Tas baju?
"Ngapain Jihan beli koper? Ngapain dia beli tas baju?" gumam Hansen, merasa aneh. Sepertinya dia lupa dengan perbincangan mereka semalam.
"Ada masalah Pak?" tanya Kurir tersebut. Karena Hansen hanya bengong.
"Oh tidak, maaf." Hansen langsung menandatangani kedua kertas tersebut. Setelah itu menyerahkannya kembali pada kurir.
"Terima kasih, Pak."
"Hemm."
Kurir tersebut segera meninggalkan halaman rumah Hansen, sedangkan Hansen sendiri langsung membawa dua barang itu ke dalam rumah.
Bersamaan dengan itu, Jihan keluar dari ruang cuci.
"Ehhh, paket ku sudah datang, makasih, Mas," ucapnya seraya mendekati Hansen. Lalu ia pun segera meminta dua barang itu.
"Kenapa kamu beli dua barang ini?" tanya Hansen, sepertinya dia benar-benar lupa dengan percakapan mereka malam tadi.
"Hah?" Jihan terlihat kesusahan menjawab. Padahal seharusnya Hansen tau alasan mengapa dia beli dua barang ini.
"Kok hah, aku nanya kenapa kamu beli dua barang ini? Buat apa?" tanya Hansen lagi.
"Ya untuk barang-barang saya lah, Mas. Kan aku udah janji bakal pindah." Jihan tersenyum lalu segera mendorong koper itu ke ruang setrika dan ternyata Jihan sudah menyiapkan semua bajunya di ruangan tersebut.
Hansen tau, karena dia mengikuti langkah Jihan.
"Jihan, kamu nggak perlu buru-buru pergi," ucap Hansen.
"Ya, saya akan menunggu sampai proses kita selesai. Tapi saya akan tetap siap-siap, supaya nanti nggak ngrepotin."
"Jihan, kamu nggak ngrepotin. Jangan bilang gitu terus."
Jihan menghentikan aktifitasnya. Lalu menoleh ke arah Hansen.
"Mas jangan khawatir, aku aman kok." Jihan tersenyum.
Tapi tidak dengan Hansen, justru pria ini merasa gugup. Tiba-tiba saja ia tidak suka dengan kelanjutan hubungan mereka. Hansen tidak rela Jihan pergi. Padahal bukankan dia sendiri yang ingin Jihan pergi.
"Kamu harus tetap kasih tau aku, Jihan."
"Kasih tau apa?"
"Ya, ya, ya tempat tinggal kamu yang baru. Terus kamu tinggal sama siapa aja. Di mana. Pokoknya aku harus tau semua atau kalo nggak aku minta Juan buat cari tempat tinggal yang nyaman buat kamu. Aku suruh dia ya, sekarang ya?" Hansen tampak memaksa. Hansen benar-benar aneh, bukankah dia sendiri yang bilang kalo tugasnya menjaga Jihan sudah selesai. Laku mengapa masih repot mengurus keperluan Jihan.
"Ishh, nggak usah segitunya lah, Mas. Kan tugas Mas jaga saya udah selesai. Nggak usah mengkhawatirkan saya. Saya janji akan jaga diri dengan baik Saya pastikan, saya akan belajar mandiri." Lagi-lagi Jihan tersenyum. Senyum yang cukup manis.
Tapi tidak bagi perasaan Hansen, senyum itu tak lagi diartikan sebagai senyuman kebahagiaan, bukan senyuman yang membahagiakan, tapi senyuman perpisahan yang menyakitkan. Apa lagi Jihan tak memberitahu dirinya tempat tinggal barunya nanti.
"Aku nggak mau tahu, Jihan. Pokoknya kamu nggak boleh tinggal jauh dariku. Meskipun kita bukan lagi suami istri, tetap saja kamu harus tetap dalam pengawasanku."
Kali ini Jihan membalikkan tubuh, menatap suaminya dengan tatapan aneh.
Bagaimana tidak aneh? Selama sepuluh tahun ini, pria ini mengabaikannya, cuek dan dingin, tapi setelah mereka memutuskan untuk berpisah, justru pria ini seolah-olah mengkhawatirkan dirinya.
Jihan tak menjawab permintaan Hansen, menurutnya permintaan itu aneh dan tidak masuk akal. Andai dia menuruti permintaan itu, mana bisa. Jihan mana bisa. Mengingat cinta untuk pria ini masih sangat nyata. Dan arti perceraian ini bukankan dia dipaksa harus melupakan. Kalo masih berhubungan, bukankah akan lebih sulit melupakan.
"Kamu dengar Jihan?" tanya Hansen lagi, kali ini ekspresinya serius. menatap marah ke arah Jihan.
Jihan mengangguk. Namun tidak menjawab 'iya'. Jihan hanya tidak mau ada perdebatan di antara mereka.
Hansen tampak kesal. Terlihat dari sikapnya yang langsung pergi meninggalkan Jihan di ruang setrika dan seperti biasa, tanpa pamit ia meninggalkan rumah ini. Sedangkan di ruang setrika, Jihan hanya menghela napas dalam. Jujur Jihan bingung dengan sikap Hansen yang tiba-tiba peduli. Seharusnya Hansen tetap bersikap cuek, dingin dan tak peduli. Tapi mengapa, sejak memutuskan bercerai justru malah peduli.
***
Malam pun tiba..
Jihan baru saja pulang kerja. Karena hari ini dia shift siang. Tak menunggu waktu lagi, ia pun langsung ke dapur dan menyiapkan makan malam untuk Raka. Sedangkan Raka masih sibuk dengan PRnya.
Setelah semua siap, ia pun segera memanggil sang putra. Lalu mereka makan bersama.
Setengah jam kemudian, Raka sudah ada di kamar dan Jihan juga sudah selesai dengan aktivitasnya di dapur. Karena lelah, ia memutuskan mandi dan ingin istirahat.
Jam di dinding sudah menunjukkan setengah sembilan malam kala itu. Jihan yang tadinya mau istirahat, tiba-tiba teringat dengan request sang putra yang ingin bekalnya besok adalah udang tepung mayo dan tumis sawi putih plis tahu. Takut semua bahan tidak tersedia, ia pun memutuskan untuk mengecek semua bahan tersebut di kulkas.
Bersamaan dengan itu, tiba-tiba saja ia mendegar deru mobil masuk ke dalam garasi.
Jihan sedikit terkejut. Karena Hansen tak biasa pulang sesering ini.
Masih dalam keadaan tak percaya, tiba-tiba Hansen membuka pintu yang terhubung dengan garasi.
"Assalamualaikum," ucapnya.
Hah? tumben dia dalam. Biasanya.... ah sudahlah kenapa sekarang aku jadi banyak berpikir begini...
"Waalaikumsalam... " Jihan menghentikan aktivitasnya. Kemudian ia menatap sang suami yang tampak kerepotan dengan beberapa paparbag yang ia bawa.
"Mana Raka, Bun? Apa sudah tidur?" tanya Hansen.
Pertanyaan rutin saat Hansen datang.
"Sepertinya belum, dia baru saja masuk kamar."
"Ohh, oke lah kalo begitu, biar Papi yang pangil. Tolong siapkan makanan ini ya, Bun."
"Oh, oke... "
Bun? Apa aku nggak salah denger? Dia manggil aku Bun... ahhh sepertinya suamiku mabok darat....
Jihan tak mau banyak berpikir lagi. Semakin ia berpikir semakin pusing saja rasanya.
Tak ingin berdebat dengan batinnya sendiri, Jihan pun segera menyiapkan makanan yang suaminya bawa.
Sedangkan di sisi lain, tampak Hansen diam-diam tersenyum saat melihat Jihan membuka paparbag berisi makanan yang ia bawa. Diam-diam Hansen berharap, Jihan suka dengan makanan yang ia bawa. Karena ia memang sengaja membeli semua itu, untuk Jihan...
Bersambung...
Gaes, aku masih berharap sama, kalian like komen dan subscribe yes. Makasih...