Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Pagi hari datang menyapa dengan cuaca kota yang agak mendung.
Bima duduk di depan laptopnya sambil memeriksa dokumen digital baru yang dikirim oleh Rian.
"Data ini sangat menarik," gumam Bima dalam hati sambil menatap layar monitor.
Dokumen itu berisi daftar lengkap para pemegang saham lama di PT Cipta Sentosa.
Bima menelusuri satu per satu nama yang tertera di dalam dokumen tersebut.
Matanya berhenti pada satu nama pemegang saham minoritas yang memegang porsi cukup besar.
"Namanya Pak Hartawan," ucap Bima pelan menyebut nama di layar.
Beliau adalah salah satu komisaris tua yang sudah ada sejak era kepemimpinan kakek Bima dulu.
"Hubungannya dengan Hendra dikabarkan sangat buruk akhir-akhir ini," lanjut Bima menganalisis informasi yang ia baca.
Orang tua itu sering menentang kebijakan Hendra karena dianggap merusak perusahaan peninggalan keluarga.
Bima mengambil ponselnya dari atas meja kecil di sebelah kasur busa.
"Rian, bisakah kamu atur jadwal pertemuan rahasia dengan Pak Hartawan hari ini?" tanya Bima lewat panggilan suara.
Tentu saja, Tuan Bima, beliau kebetulan sedang tidak aktif di kantor pusat dan sering menghabiskan waktu di restoran tua miliknya, jawab Rian di ujung telepon.
Bagus, kirimkan alamat lengkapnya padaku sekarang, perintah Bima tegas.
Baik, Tuan, saya akan urus semuanya agar pertemuan ini tidak tercium oleh orang-orang Hendra, balas Rian profesional.
Pip...
Panggilan telepon terputus begitu saja.
Bima menutup laptopnya dan bersiap-siap untuk pergi keluar paviliun.
Ia mengenakan jaket hitam kesayangannya dan memastikan ponselnya aman di dalam saku.
Bima melangkah keluar kamar dan mengunci pintu rapat-rapat.
Klotak...
Suara gembok besi berbunyi nyaring di pagi yang tenang itu.
Ia berjalan menuju jalan raya utama untuk mencari taksi online menuju lokasi pertemuan.
Tidak lama kemudian, sebuah mobil hitam datang dan berhenti tepat di depannya.
Bima langsung masuk ke dalam kabin mobil yang berasa sejuk.
Sreett...
Pintu mobil tertutup rapat.
Perjalanan menuju restoran tua di kawasan utara kota memakan waktu sekitar tiga puluh menit.
Suasana jalanan tampak cukup padat oleh kendaraan roda empat yang lalu-lalang.
"Silakan, Mas, sudah sampai di depan restoran yang dituju," ucap sopir taksi ramah.
Terima kasih, Bang, kata Bima sambil menyerahkan uang pembayaran.
Bima turun dari mobil dan mendapati sebuah bangunan restoran bergaya klasik kolonial di depannya.
Papan nama kayu tua bertuliskan Restoran Melati tampak tergantung di atas pintu masuk.
Kring...
Lonceng kecil berbunyi nyaring saat Bima mendorong pintu kayu terbuka.
Suasana di dalam restoran tampak sangat sepi dan klasik dengan interior kayu jati tua.
Seorang pelayan paruh baya menyambutnya dengan senyuman sopan.
Selamat pagi, anak muda, mau cari meja untuk berapa orang? tanya pelayan itu ramah.
Saya ada janji dengan Pak Hartawan di meja sudut nomor empat, jawab Bima tenang.
Oh, silakan lewat sebelah sini, beliau sudah menunggu di sana, arahkan pelayan itu.
Bima mengikuti langkah pelayan melintasi ruangan yang beraroma teh herbal hangat.
Di sudut ruangan dekat jendela besar, seorang kakek berusia sekitar tujuh puluhan duduk sendiri membaca koran.
Kakek itu adalah Pak Hartawan dengan rambut putih bersih dan tatapan mata yang masih tajam.
Terima kasih, Mbak, silakan tinggalkan kami, ucap Bima kepada pelayan tersebut.
Bima melangkah mendekati meja dan langsung menarik kursi di hadapan kakek itu.
Kriet...
Suara kursi bergeser pelan di atas lantai kayu.
Permisi, apakah saya boleh duduk di sini, Pak Hartawan? tanya Bima sopan.
Pak Hartawan menurunkan koran yang sedang dibacanya dan menatap Bima dengan pandangan menyelidik.
Silakan duduk, anak muda, tapi saya merasa tidak punya janji temu dengan orang sepertimu hari ini, jawab Pak Hartawan datar.
Anda mungkin tidak kenal saya, tapi saya tahu persis masalah besar yang sedang Anda hadapi di PT Cipta Sentosa, balas Bima tenang.
Kening Pak Hartawan langsung berkerut dalam mendengar ucapan berani dari pemuda di depannya itu.
Anak muda, jangan bicara sembarangan tentang perusahaan di hadapanku kalau kamu tidak tahu apa-apa, tegur Pak Hartawan tegas.
Bima tersenyum tipis tanpa merasa gentar sedikit pun oleh teguran kakek berpengalaman itu.
Bagaimana kalau saya bilang bahwa saya adalah orang yang baru saja memborong lima persen saham perusahaan itu kemarin malam? ucap Bima membuka kartu.
Mata Pak Hartawan langsung membelalak lebar mendengar pengakuan mengejutkan tersebut.
Kamu... investor misterius yang dibicarakan orang-orang di lantai bursa itu?! tanya Pak Hartawan tidak percaya.
Tepat sekali, dan saya punya tujuan yang sama dengan Anda, yaitu menyingkirkan Hendra dari kursi kepemimpinan, jawab Bima dingin.
Pak Hartawan terdiam cukup lama sambil mengamati setiap gerak-gerik dan tatapan mata Bima yang penuh keyakinan.
Apa buktinya kalau kamu benar-benar punya saham itu dan bukan sedang membual di hadapanku? tantang Pak Hartawan serius.
Bima mengeluarkan ponselnya dan membuka laporan resmi kepemilikan saham atas nama perusahaan cangkangnya.
Ia meletakkan ponsel itu di atas meja kayu tepat di hadapan Pak Hartawan.
Silakan periksa sendiri datanya, semua legalitasnya sah dan terdaftar di bursa, kata Bima santai.
Pak Hartawan memeriksa layar ponsel tersebut dengan teliti menggunakan kacamata bacanya.
Angka kepemilikan lima persen atas nama PT Garuda Investama tertera sangat jelas di sana.
Luar biasa... bagaimana mungkin anak seandaimu bisa mendapatkan dana sebesar itu dalam waktu singkat? gumam Pak Hartawan kagum.
Itu bukan hal penting, yang terpenting adalah kita bisa bekerja sama untuk menghancurkan Hendra dari dalam, jawab Bima tegas.
Kenapa kamu begitu membenci Hendra sampai ingin menghancurkannya separah itu? tanya Pak Hartawan menyelidik penuh rasa penasaran.
Karena dia adalah pria bajingan yang merampas seluruh hak milik keluarga saya di masa lalu, jawab Bima dengan suara dingin penuh penekanan.
Suasana di meja sudut itu mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang.
Pak Hartawan menatap lurus ke dalam mata Bima dan melihat kobaran dendam serta kecerdasan luar biasa di sana.
Kamu mengingatkanku pada sahabat lama, almarhum pemilik asli perusahaan itu, ucap Pak Hartawan pelan dengan nada bernostalgia.
Beliau adalah kakek saya, sahut Bima langsung tanpa ragu.
Pak Hartawan terkesiap kaget untuk kedua kalinya mendengar pernyataan mengejutkan dari Bima.
Astaga... jadi kamu adalah cucu dari mendiang Pak Seno? tanya Pak Hartawan dengan suara bergetar.
Benar, dan saya kembali untuk mengambil semua yang sudah dirampas oleh pengkhianat seperti Hendra, jawab Bima mantap.
Pak Hartawan menghela napas panjang dan mengangguk pelan penuh pengertian.
Baiklah, Bima, aku setuju untuk bersekutu denganmu melawan Hendra si bajingan itu, kata Pak Hartawan mantap.
Sebagai sesama pemegang saham lama, aku punya hak suara yang cukup besar di rapat umum pemegang saham nanti, lanjutnya menjelaskan.
Kerja sama yang sangat bagus, kita akan hancurkan kekuasaan Hendra pada rapat luar biasa bulan depan, rencana Bima tersusun rapi.
Apa rencana selanjutnya yang harus kita lakukan di internal perusahaan? tanya Pak Hartawan antusias.
Kita biarkan Hendra semakin panik dan membuat kesalahan fatal dalam laporan keuangan berikutnya, jawab Bima tersenyum sinis.
Dan saat dia jatuh di titik terendah, kita ambil alih kursi direktur utamanya secara sah, tambah Bima penuh percaya diri.
Pak Hartawan tertawa pelan mendengar strategi licik namun cerdas dari pemuda di depannya itu.
Kamu benar-benar cucu kakekmu, cerdik dan tidak kenal takut, puji Pak Hartawan tulus.
Mari kita pesan makanan dulu sambil merinci strategi kita selanjutnya, ajak Pak Hartawan ramah.
Pelayan restoran segera datang menghampiri meja mereka untuk mencatat pesanan.
Setelah memesan dua mangkuk sup hangat, obrolan rahasia mereka berlanjut dengan membahas celah hukum di perusahaan.
Bima merasa semakin di atas angin karena kini ia memiliki sekutu kuat di dalam lingkaran internal musuhnya.
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Hendra, situasi semakin kacau balai.
Hendra membanting meja kerjanya karena mendapat laporan bahwa Pak Hartawan mulai bermanuver di belakangnya.
Sialan! Orang tua bangka itu berani-aninya menentang keputusanku di rapat komisaris! teriak Hendra murka di ruang kerjanya.
Rina yang berdiri di sampingnya berusaha menenangkan dengan suara cemas.
Sabar dulu, Ayah, kita cari cara lain untuk mendepak orang tua itu dari jabatannya, bujuk Rina lembut.
Bagaimana bisa sabar kalau semua orang di perusahaan seakan bersekutu ingin menjatuhkanku?! bentak Hendra frustrasi.
Kevin yang baru masuk kamar kerja tanpa izin ikut berkomentar acuh tak acuh.
Gitu aja pusing, tinggal pecat aja semua orang yang berani ngelawan Papa, kata Kevin enteng.
Diam kamu, anak bodoh! Kamu tidak tahu apa-apa soal politik kantor! maki Hendra meluapkan seluruh emosinya ke arah Kevin.
Kevin mendengus kesal dan memutar bola matanya malas mendengar amukan ayah tirinya.
Paling juga nanti perusahaan baik-baik saja, gitu aja baper, cibir Kevin lalu melangkah pergi keluar ruangan.
Hendra merasa kepalanya sangat pusing dan hampir pingsan menahan amarah yang luar biasa.
Rentetan masalah ini membuat benteng pertahanan keluarga Hendra semakin rapuh dari hari ke hari.
Dan di tempat lain, Bima sedang menikmati makan siang bersama sekutu barunya sambil merencanakan langkah mematikan berikutnya.