NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Cinta Terlarang Di Pabrik Sawit

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Cinta Terlarang
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Siska Delvi

Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Pelaminan di Atas Lantai Semen

Pintu mess putri berderit saat Rizki mendorongnya.

Rizki berhenti di ambang pintu, menatap sekeliling. Kamar Nadia cuma tiga kali empat meter. Lantai semen, dinding setengah bata, setengah triplek. Kasur busa tipis, lemari plastik, dan meja kecil yang di atasnya masih ada sisa mangkuk bubur semalam. Di sudut, ada ember cucian yang belum sempat Nadia bilas.

Wajah Rizki tidak bisa sembunyikan keterkejutannya.

"Nad... kamu tinggal di sini?" tanya Rizki pelan, suaranya seperti tidak percaya. "Selama ini?"

Nadia meletakkan tasnya di atas kasur, sedikit malu.

"Iya. Ini mess putri. Semua staf perempuan di sini tinggal di sini. Lumayan, Riz. Bersih kok. Airnya juga lancar," jawab Nadia berusaha santai.

Rizki tidak duduk. Ia masih berdiri di dekat pintu, seolah takut sepatu kulitnya yang mengkilap itu kena debu lantai. Ia keluarkan tisu dari saku dan usap ujung sepatunya yang tadi kena cipratan lumpur di halaman.

"Maaf ya, Nad. Aku tidak tahu kamu ditempatkan di tempat seperti ini. Ibu pasti tidak akan setuju kalau tahu," kata Rizki.

Itu kalimat yang paling Nadia takut dengar. Ibu.

"Nanti saja ceritanya, Riz. Kamu duduk dulu. Kamu pasti capek nyetir enam jam," kata Nadia.

Akhirnya Rizki duduk di kursi plastik satu-satunya di kamar itu. Ia buka tas jinjing kulitnya, keluarkan dua kotak makanan dari restoran Padang yang ia bawa dari kota.

"Aku bawakan ayam pop dan rendang dari Sederhana dari padang. Kamu pasti bosan makan di kantin pabrik terus," kata Rizki sambil buka kotaknya. Aroma rendang langsung memenuhi kamar.

Nadia duduk di tepi kasur, berhadapan dengan Rizki. Jarak mereka cuma satu meter, tapi rasanya jauh sekali.

Mereka makan dalam diam beberapa menit. Hanya suara sendok beradu piring plastik.

"Nad," Rizki buka suara dulu, menatap Nadia lekat. "Aku tadi lihat kamu kerja. Di pabrik yang panas itu. Jujur, aku kaget. Aku tidak pernah bayangkan tunanganku kerja di tempat seperti itu."

Nadia menelan suapan nasinya.

"Itu memang kerjaanku, Riz. Aku admin. Harus cek lapangan juga," jawab Nadia.

"Iya, aku tahu. Dan aku bangga kamu kuat. Tapi..." Rizki jeda, lalu meraih tangan Nadia yang ada di atas kasur. Tangannya halus, hangat, bersih. "Tapi kamu tidak harus kuat terus di tempat seperti ini, Nad. Bulan depan kita menikah. Setelah itu kamu tidak perlu lagi menghirup debu sawit. Kamu bisa fokus di rumah. Buka les privat. Hidup bersih. Tidak bau oli."

Lagi. Kata resign. Kata bersih.

Nadia menarik tangannya pelan.

"Riz, aku suka kerja di sini. Aku baru saja mulai paham alur produksi. Aku merasa berguna," kata Nadia, suaranya kecil tapi tegas.

Rizki tersenyum, senyum yang biasa ia pakai saat hadapi murid yang ngeyel.

"Nad, perempuan itu kalau sudah menikah surganya di rumah. Aku tidak melarang kamu bekerja, tapi tempatnya harus yang pantas untuk istri seorang guru. Bukan di pabrik yang isinya laki-laki semua, bau solar, dan mandornya teriak-teriak."

Nadia ingin membantah. Ingin bilang bahwa mandor itu tidak teriak tanpa alasan. Ingin bilang bahwa bau solar itu justru membuatnya merasa hidup. Tapi lidahnya kelu.

Di luar jendela kamar mess yang setengah terbuka, bayangan seseorang lewat.

Arif.

Ia tidak masuk. Ia hanya lewat sambil bawa helm safety. Tapi langkahnya melambat tepat di depan jendela Nadia. Dari celah gorden, Nadia bisa lihat Arif menoleh sekilas ke dalam.

Mata mereka bertemu sepersekian detik.

Arif melihat Rizki duduk di kursi plastik, melihat kotak rendang di meja, melihat tangan Rizki yang tadi merangkulnya. Rahang Arif mengeras. Ia tidak berhenti. Ia terus jalan, pura-pura tidak lihat.

Tapi Nadia tahu, Arif lihat semuanya.

Jantung Nadia berdegup kencang. Rasa bersalah dan sesuatu yang lain bercampur jadi satu.

"Nad? Kamu dengar aku?" Rizki melambaikan tangan di depan wajah Nadia.

"Eh, iya. Dengar," kata Nadia gugup.

"Bagus. Jadi kita sepakat ya. Minggu depan kita ke vendor pelaminan. Aku sudah DP pelaminan warna Ivory Cream itu. Tinggal pilih bunganya. Kamu mau bunga mawar putih atau melati?" Rizki keluarkan ponselnya, tunjukkan foto pelaminan mewah di Instagram vendor Padang.

Foto pelaminan itu cantik. Putih, bersih, penuh lampu kristal. Jauh sekali dari dinding triplek mess ini.

"Cantik," kata Nadia datar. Matanya menatap foto itu, tapi yang ia lihat adalah punggung Arif yang tadi lewat di jendela.

"Cantik kan? Ibu juga suka. Ibu bilang, pelaminan itu harus tinggi, biar semua orang lihat kamu seperti ratu," Rizki lanjut dengan antusias.

Ratu. Dipajang di atas pelaminan tinggi. Dilihat orang. Tidak boleh turun. Tidak boleh kotor.

Nadia tiba-tiba merasa mual lagi. Bukan karena demamnya yang belum sembuh total, tapi karena bayangan dirinya duduk di atas pelaminan itu.

"Riz, aku boleh jujur?" Nadia menatap Rizki, matanya mulai berkaca-kaca.

Rizki menatap balik, sedikit kaget. "Tentu, Nad. Jujur apa?"

"Aku... aku tidak bahagia membayangkan pernikahan itu," kata Nadia pelan, suaranya bergetar. "Aku merasa semua sudah diatur. Warna undangan, warna pelaminan, baju kebaya, bahkan kapan aku harus resign. Aku seperti... aku seperti boneka yang didandani."

Wajah Rizki berubah. Senyumnya hilang.

"Nad, itu bukan diatur. Itu direncanakan. Pernikahan itu harus direncanakan dengan matang. Tidak bisa asal-asalan seperti..." Rizki melirik ke sekeliling kamar mess yang sempit, "...seperti hidup di sini. Aku melakukan ini untuk masa depan kita."

"Tapi masa depan yang mana, Riz? Masa depanmu atau masa depanku?" Nadia tidak tahan lagi. Air matanya menetes satu. "Aku lulusan terbaik, Riz. Aku punya mimpi. Aku tidak mau cuma jadi istri yang nunggu di rumah sambil buka les privat."

Rizki diam lama. Ia usap wajahnya dengan kedua tangan. Ia terlihat kecewa, bukan marah.

"Nad, kamu lagi sakit. Kamu lagi demam, jadi pikiranmu kemana-mana. Istirahat saja dulu. Besok kita pulang ke Padang Panjang, ketemu Ibu. Ibu pasti bisa kasih penjelasan lebih baik," kata Rizki akhirnya. Ia berdiri, merapikan kotak makanannya. "Aku pesan penginapan di depan. Kamu istirahat di sini. Besok pagi jam delapan aku jemput."

Rizki tidak memeluknya. Ia hanya menepuk bahu Nadia pelan, seperti menepuk bahu muridnya.

"Jaga kesehatan, ya."

Pintu tertutup. Suara sepatu mengkilap Rizki menjauh di koridor mess.

Nadia terduduk di tepi kasur, menangis tanpa suara. Bahunya naik turun.

Di luar, hujan rintik mulai turun lagi. Sore di Dharmasraya selalu hujan.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Bukan dari Rizki.

Pesan dari nomor tak dikenal, tapi Nadia tahu siapa.

Arif: Laporan rugi laba sore ini tidak usah kamu kerjakan. Istirahat. Besok saya tunggu di kantor jam tujuh. Jangan telat.

Hanya itu. Singkat. Dingin. Profesional.

Tapi di bawah pesan itu, ada pesan kedua yang baru masuk beberapa detik kemudian.

Arif: Dan jangan nangis di kamar sendirian. Tidak bagus untuk orang yang lagi demam.

Nadia terbelalak. Bagaimana Arif tahu ia nangis?

Ia menoleh ke jendela. Gorden masih setengah terbuka. Dari celah itu, terlihat samar sosok Arif berdiri di bawah atap mess putra yang jaraknya dua puluh meter, sedang merokok, menatap ke arah kamarnya.

Arif melihatnya. Sejak tadi.

Nadia tidak membalas pesan itu. Ia hanya menarik gorden hingga tertutup rapat, lalu merebahkan diri di kasur, memeluk selimut.

Di satu sisi, ada Rizki yang memberinya pelaminan Ivory Cream yang bersih dan aman. Di sisi lain, ada Arif yang memberinya tatapan dari balik hujan dan pesan singkat yang membuatnya merasa dilihat.

Dan untuk pertama kalinya, Nadia tidak ingin menjadi ratu di atas pelaminan tinggi.

Ia hanya ingin menjadi Nadia yang boleh menangis tanpa harus menjelaskan kenapa.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Nadia melepas cincin tunangannya dan meletakkannya di atas meja kecil. Cincin itu berkilau di bawah lampu redup mess.

Tanpa cincin itu, jarinya terasa lebih ringan. Lebih bebas.

Tapi juga lebih takut.

Bersambung

1
𝐀⃝🥀Weny
semoga kalian berjodoh🤲 tambah up lagi dong thor 😊
𝐀⃝🥀Weny: 😊😊😊😊😊
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!