Aturan Nomor 1: Jangan pernah jatuh cinta dengan dosen sendiri.
Aturan yang dibuat Kila sendiri, dan kemudian dia langgar di detik berikutnya.
Kehidupan kampus Kila yang tadinya membosankan, berubah total setelah dosen baru itu masuk.
Tiba-tiba penuh dengan hal-hal mendebarkan. Bimbingan yang bikin jantung mau copot, jemputan mobil hitam di gerbang kampus, sampai makan malam canggung di mana dia dipanggil "calon mantu".
Dosen baru itu adalah Pak Rhaegar. Dosen dingin kayak kulkas, dan... orang yang paling Kila hindari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ziziyuuu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Perjalanan pulang dari desa terasa jauh lebih lama daripada perjalanannya berangkat.
Bukan karena macet. Jalanan desa lengang. Tapi karena di dalam SUV hitam itu, keheningan terasa... aneh. Canggung. Sejak kejadian hampir jatuh dan ditangkap tadi di balai dusun, Kila tidak berani bersuara. Pak Rhaegar juga diam, fokus menyetir, kacamata hitamnya sudah dipakai lagi.
Kuesioner 50 rangkap yang sudah terisi ada di jok belakang, ditumpuk rapi.
Kila diam-diam melirik ke kaca spion tengah. Wajahnya masih merah. Lengan yang tadi dipegang Pak Rhaegar masih terasa hangat, padahal sudah 15 menit yang lalu.
"Kila."
"I-iya Pak?" Kila kaget dipanggil.
"Lengannya nggak apa-apa? Tadi saya nariknya kekencengan?" tanya Pak Rhaegar tanpa menoleh, matanya tetap di jalan, tapi suaranya pelan.
Kila langsung mengelus lengannya yang tadi dipegang. "Ng-nggak apa-apa Pak! Nggak sakit sama sekali! Malah... makasih Pak, kalau nggak ditangkap tadi saya udah nyium tanah."
"Hmm," Pak Rhaegar mengangguk. "Baguslah. Lain kali pakai sepatu yang bener, jangan kets licin kalau ke desa."
"Iya Pak, siap," Kila mengangguk cepat. Dalam hati dia senyum-senyum. Diperhatiin lagi. Untuk kesekian kalinya hari ini.
Mobil terus melaju. Sampai di jalan raya utama dekat kampus, jam menunjukkan pukul 12.15. Jam makan siang. Gerbang kampus pasti ramai.
Dan benar saja.
Begitu SUV hitam mengkilap itu belok masuk ke gerbang kampus, semua mata tertuju ke mobil itu.
Mobil Pak Rhaegar itu terkenal. Satu-satunya SUV hitam yang kinclong di parkiran dosen. Mahasiswa sudah hafal.
"Eh itu mobil Pak Rhaegar kan?"
"Iya! Yang dosen muda ganteng itu!"
Kila panik di dalam mobil. "Pak... Pak pelan-pelan Pak, banyak yang liat Pak!"
"Memang kenapa kalau dilihat? Kita kan habis penelitian, tugas resmi," jawab Pak Rhaegar santai, tetap melajukan mobil ke parkiran dosen yang berada tepat di depan kantin utama. Tempat paling ramai.
Kila ingin menghilang. Dia merosotkan tubuhnya di jok.
SUV itu berhenti sempurna. Parkir.
"Turun. Bawa kuesionernya ke ruang saya. Saya ada rapat sebentar," kata Pak Rhaegar mematikan mesin.
"Pak... nanti kalau ada yang nanya gimana Pak? Kita berdua..." Kila berbisik panik.
"Bilang aja apa adanya. Kita penelitian lapangan. Kenapa harus takut kalau memang kerja?" Pak Rhaegar menatap Kila dari balik kacamata hitamnya, tenang. "Atau kamu mau saya yang jelasin?"
"Jangan Pak! Jangan! Saya aja! Saya bisa!" Kila langsung membuka pintu dengan gerakan cepat.
Begitu Kila turun sambil memeluk 50 kuesioner yang berat itu, dan Pak Rhaegar turun dari sisi kemudi dengan tas laptopnya...
Hening. Kantin yang tadinya riuh mendadak sepi 3 detik.
Semua mata di kantin, di parkiran, di selasar, menatap mereka. Berdua. Turun dari mobil yang sama. Siang bolong.
Kila bisa mendengar bisikan-bisikan mulai muncul.
"Itu Kila kan? Panitia seminar?"
"Kok dia sama Pak Rhaegar? Berdua? Dari mana?"
"Naik mobilnya Pak Rhaegar dong, gila..."
"Jangan-jangan...?"
Wajah Kila sudah sepanas kompor. Dia menunduk, berjalan cepat menuju gedung dosen sambil membawa kuesioner, hampir lari.
"Jalan pelan-pelan. Nanti jatuh lagi," suara Pak Rhaegar terdengar dari belakangnya, cukup keras untuk didengar beberapa mahasiswa yang dekat. Nadanya... perhatian.
Kila makin ingin lari.
Di belakangnya, Pak Rhaegar berjalan santai dengan tangan di saku celana, tidak peduli dengan tatapan orang. Justru dia sengaja berjalan agak dekat di belakang Kila, seperti mengawal.
Sampai di koridor lantai 2, Elvano sudah berdiri di depan ruang panitia dengan mulut menganga.
"KILA?!" Elvano berteriak pelan tapi heboh, menarik lengan Kila ke pojok. "Kamu dari mana?! Sama Pak Rhaegar?! Naik mobilnya?! Berdua?! Sejak kapan?!"
"Shhh! Berisik! Nggak kayak yang kamu pikirin! Aku sama Pak Rhaegar cuma penelitian lapangan! Tugas kuesioner!" Kila menjelaskan panik, berbisik.
"Penelitian lapangan berdua? Jam segini? Pulang naik SUV hitamnya? Kil, lu tahu nggak gosip di grup angkatan udah meledak? Foto mobilnya udah masuk grup!" Elvano menunjukkan ponselnya. Di grup WA Angkatan 2024 sudah ada foto blur SUV hitam masuk gerbang dengan caption: "FIX PAK RHAEGAR BAWA CEWEK SIANG BOLONG?? SIAPA TUH?"
Kila lemas. "Mati aku. Mati."
Dari jauh, Pak Rhaegar yang masih berdiri di depan ruangannya melihat keributan kecil itu. Dia melepas kacamata hitamnya, menatap Elvano sekilas, lalu menatap Kila.
"Kila. Sini. Kuesionernya taruh di ruangan saya dulu," panggilnya dengan suara tenang, memotong gosip.
Kila terpaksa meninggalkan Elvano yang masih melongo.
Di dalam ruangan, Kila meletakkan kuesioner dengan napas ngos-ngosan karena panik, bukan karena berat.
"Pak... di grup angkatan udah gosip Pak... foto mobil Bapak masuk gerbang," kata Kila lirih.
Pak Rhaegar duduk di kursinya, menyeruput kopi hitam yang masih ada di mejanya.
"Terus?"
"Ya... nanti dikira gimana-gimana Pak... saya sama Bapak..."
Pak Rhaegar menatap Kila lama. Lalu dia tersenyum tipis, senyum yang Kila sudah mulai hafal artinya.
"Biarkan saja mereka bertanya-tanya," kata Pak Rhaegar, mengulangi kalimat yang sama seperti di mobil tadi. "Sama seperti jam tangan saya, mobil saya, parfum saya. Biarkan saja."
"Tapiii Pak..."
"Kila," Pak Rhaegar memotong, suaranya lebih lembut. "Kamu takut gosip, atau takut ketahuan kamu memang suka diperhatikan sama saya?"
DEG.
Wajah Kila meledak. Merah total.
"ENGGAK! Nggak gitu Pak! Saya nggak... saya..."
Pak Rhaegar tertawa kecil. Kali ini bukan kekehan tipis, tapi tawa kecil yang jelas terdengar.
Untuk pertama kalinya Kila melihat Pak Rhaegar tertawa karena menggodanya.
"Kamu pulang aja. Besok seminarnya. Jangan lupa jadi moderator pembuka, kan? Karena kamu yang berhasil melobi saya," kata Pak Rhaegar, kembali ke mode dosen.
"Hah? Saya moderator? Kapan? Kok saya nggak tahu Pak?"
"Barusan saya putuskan. Karena kamu sudah berhasil bawa 50 kuesioner tanpa jatuh dua kali. Itu prestasi," jawab Pak Rhaegar enteng sambil membuka laptop.
Kila ingin protes, tapi Pak Rhaegar sudah menunjuk pintu.
"Hati-hati di jalan. Ketujuh kalinya."
Kila keluar dari ruangan dengan kuesioner sudah aman, status jadi moderator dadakan, gosip satu kampus, dan jantung yang sudah tidak karuan.
Di luar, Elvano sudah menunggu dengan wajah kepo maksimal.
"Jelasin. Sekarang. Detail. Jangan ada yang ditutupin!"
Kila menarik napas panjang, menatap langit-langit koridor.
"Van... aku rasa... Bapak Kulkas itu bukan dosen biasa. Dan aku..."
"Dan kamu kenapa?"
"Dan aku kayaknya beneran bakal susah tidur lagi malam ini."
---
ayok ada dibaca🤭