NovelToon NovelToon
Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Biar Luka Itu Kubawa Pergi, Letnan!

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:787.7k
Nilai: 5
Nama Author: Deyulia

Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.

Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 Nayra Demam

     Nayra demam, tubuhnya menggigil. Ardana yang sempat ia hubungi dan dikirim pesan WA, sampai kini belum ada tanda-tanda pulang.

     Sementara obat di dalam kotak P3K, tidak ada obat penurun panas atau paracetamol sama sekali. "Tidak ada," desahnya sambil menahan rasa panas dingin di sekujur tubuhnya.

     Nayra akhirnya meraih gelas di atas rak, ia menuangkan air hangat untuk diminum. Setelah itu, ia berjalan menaiki tangga dan bermaksud mengistirahatkan tubuhnya di kamar. Selain demam, ia juga merasakan sakit di setiap sendi tubuhnya.

     "Mas Arda benar-benar tega. Dia lebih memilih bersama perempuan itu," keluhnya menangis. Nayra terisak, ia menangis karena Ardana, juga karena sakit yang kini sedang dialaminya.

     Nayra membaringkan tubuhnya perlahan, sebab kalau hanya didudukan saja, demam yang menggigil itu justru semakin menyasar tubuhnya.

     Nayra menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut, untuk menghalau hawa malam yang menusuk, terlebih saat ini ia demam.

     "Mas Arda...Mas...." Nayra mengigau. Mungkin saking demamnya tinggi. Tapi, tidak ada siapa-siapa yang menghiraukan, Nayra benar-benar sendiri.

     Tepat jam tiga dini hari, Ardana pulang ke rumah. Ia pulang dalam keadaan lelah. Semalaman ia berjaga di samping ranjang Tiana. Tiana kembali ngamuk, keadaannya tidak terkontrol, saat Ardana izin pamit. Dia seakan tidak ingin ditinggalkan Ardana.

Bukan hanya itu saja, ketika ngamuk, tangan kiri Tiana yang tidak diinfus, memegangi perut bawahnya serta meremas seperti merasakan sakit yang luar biasa.

     Dering ponsel Ardana kembali berdering, ia masih saja sibuk dengan komunikasi yang entah dengan siapa, padahal saat ini dia sudah berada di rumah.

     "Iya, Bro, semalam Tiana ngamuk lagi. Dia tidak mau aku tinggal," balas Ardana. Sepertinya ia sedang berbicara dengan dokter Arka.

     "Lalu, sekarang siapa yang menjaganya?"

     "Dia sudah sedikit tenang setelah diberi obat penenang oleh perawat. Dan sekarang aku pulang dulu ke rumah, aku mau istirahat dulu. Aku sangat lelah dan ngantuk."

     Ardana mengakhiri sambungan telpon bersama dokter Arka. Langkah kakinya kini menuju kamarnya di atas, yang harus ia lalui melalui tangga.

     Pintu kamar terbuka, cahaya remang-remang menyinari ruangan itu. Desah napas yang tidak beraturan terdengar di sana, tepatnya di atas ranjang.

     Ardana mendekat, keningnya sedikit naik ke atas, merasa ada sesuatu yang tidak biasa dari suara napas Nayra.

     Gerakan Ardana sangat pelan dan hati-hati, ia tidak mau menimbulkan suara yang bisa mengganggu tidur istrinya.

     "Mas Arda...Mas...."

     Ardana terperanjat, tepat saat tubuhnya sudah di bibir ranjang dan wajahnya mendongak untuk melihat wajah Nayra. Suara Nayra membuatnya terkejut.

     Bukan sekedar terkejut biasa, kali ini Ardana merasa curiga, sebab suara Nayra sedikit berbeda.

     "Nayra...." ucapnya heran. Suara napas itu terdengar berat dan semakin tidak beraturan. Ardana lantas meraba punggung Nayra, ia kaget karena punggung Nayra sangat panas.

     "Dia demam, sejak kapan dia demam?" gumamnya timbul rasa khawatir.

     Ardana menjauh dari bibir ranjang, untuk menyalakan lampu utama. Lalu ia kembali ke sisi ranjang, memastikan apa yang sedang Nayra alami dan rasakan.

     "Nayra, kamu sakit?" ujarnya bertanya sembari meraba bahu Nayra dan mengguncangnya pelan. "Nay...kamu sudah minum obat?" tanyanya.

     Tubuh Nayra yang panas perlahan bergerak, ia berusaha mengangkat kepalanya dan mendongak. Melihat ke arah suara.

     Nayra belum benar-benar bisa melihat dengan jelas, sebab cahaya lampu utama itu membuatnya silau dan memaksa tangannya untuk mengucek sejenak.

     Nayra langsung meringis ketika melihat wajah Ardana, yang tadi malam ia nantikan kehadirannya untuk membelikannya obat demam. Kini, entah jam berapa, sosok itu sudah berada di sampingnya di tepi ranjang menatapnya dengan rasa khawatir yang selama ini jarang ia perlihatkan.

     "Hah...hah...." Nayra tidak berkata apa-apa. Napasnya terdengar cepat pendek dan mengeluarkan hawa panas dari dalam. Wajahnya terlihat sangat menyedihkan, jelas sekali ia meringis menahan demam yang mendera.

Nayra kembali pada posisi semula. Sosok Ardana yang semalam ia nantikan tidak lagi ia harapkan sekarang, kini justru sangat menyakitkan.

     Ardana terlihat panik, ia melihat ke atas meja kecil di samping ranjang, tidak ia dapati gelas minum atau sebutir obat pun. Ardana menduga kalau Nayra belum minum obat.

     "Nayra, kamu demam. Kamu belum minum obat, kan? Bangkitlah, biar aku bantu. Aku akan cari obat di kotak P3K. Tunggu sebentar," ujarnya memperlihatkan kepanikan yang entah tulus atau tidak.

     Nayra berusaha menahan tubuhnya agar tidak diangkat Ardana, namun tenaga Ardana sangat kuat. Dan kini tubuhnya sudah terduduk di atas ranjang, dengan punggung bersandar di kepala ranjang. Ardana mengatur dan mengganjal punggung Nayra dengan bantal, sehingga posisi duduknya terlihat enak.

     "Tunggu sebentar, aku cari obat dulu...."

     "Tidak perlu, Mas...." cegah Nayra lirih disertai isak tangis yang keluar begitu saja. Air mata langsung rembes membasahi pipinya.

     Ardana membalikkan badan, lalu mendekat dan berkata, "Kenapa? Kamu sedang demam, aku mau mencari paracetamol."

     "Kalau ada, Nay tidak perlu membiarkan Mas Arda mencari obat itu. Jadi, tidak perlu Mas Arda repot-repot mencari obat itu. Bukankah selama ini Nay selalu mencari apa-apa kebutuhan Nay sendiri di rumah ini, Mas?"

     Ardana menghela napas, sampai bahunya terangkat. Kali ini ia seakan baru menyadari, bahwa selama menikah, Nayra belum pernah meminta bantuannya. Bahkan memasang tabung gas saja belum pernah. Nayra lakukan sendiri.

     "Tapi, kali ini beda. Kamu sedang sakit," ucap Ardana memberikan pengecualian.

     "Tidak usah, Mas. Nay tidak ingin membuat Mas Arda semakin kelelahan setelah mengurus pasien di RS," sindir Nayra dengan suara yang masih lemah, tapi cukup menyita perhatian Ardana.

     "Sudahlah, nggak usah kamu kaitkan dengan pekerjaanku di luar sana. Sekarang kamu sakit, dan kamu butuh bantuanku."

      "Nay, sudah tidak butuh bantuan apapun dari Mas Arda. Pergilah, Mas perhatikan saja pasien Mas itu. Nay, sama sekali tidak penting buat Mas Arda." Nayra langsung bangkit dari ranjang dan bermaksud keluar dari kamar. Ia mengurai selimut, lalu ia hempas dengan kasar. Nayra sudah tidak ingin menerima bantuan apa-apa dari suaminya itu.

     "Mau ke mana?" Tangan kekar Ardana mencoba menahan tubuh Nayra, tapi Nayra bergerak dengan brutal sehingga ia terlepas dari pertahanan Ardana.

     Nayra segera menuju pintu dengan tenaga yang lemah.

     "Nayra, patuhlah, kamu ini sedang sakit. Cobalah mengerti tugas aku, aku saat ini sedang menangani pasien. Kenapa harus kamu jadikan iri? Aku juga khawatir melihatmu sakit seperti ini, Nayra," sentak Ardana sembari menghampiri Nayra dan berhasil menahannya.

     "Lepaskan, Mas. Nay, sudah tidak butuh lagi bantuan atau belas kasih dari Mas Arda. Lebih baik curahkan semua perhatian Mas Arda untuk mantan kekasih Mas Arda. Nayra tidak berarti apa-apa buat Mas Arda," tukas Nayra masih berontak.

     "Kamu...kamu itu sedang mencemburui aku. Aku sungguh khawatir karena kamu sakit."

     "Tidak usah, biarkan Nayra mati saja, Mas. Dan jangan katakan Mas Arda khawatir dengan Nayra, kalau memang benar-benar khawatir, tidak mungkin panggilan atau pesan WA Nay, tidak Mas hiraukan."

     Ardana terperanjat mendengar ucapan Nayra barusan. Ia sadar, selama di RS ia tidak memeriksa pesan WA. Ia hanya sibuk berkomunikasi dengan dokter Arka semalaman.

     "Kamu menghubungi dan mengirim pesan WA?" Pertanyaan Ardana tanpa balas. Nayra justru berontak dari cengkraman Ardana, ia berhasil membuka pintu dan akan melangkah keluar. Namun tubuhnya tiba-tiba ambruk. Nayra terjatuh karena tubuhnya lemas dan sakit.

     "Nayra...."

NB: Hai pembaca yang baik, duh...jangan dulu pergi ya dari kisah ini. Mungkin kalian gemes karena Nayra yang terlalu lemah, tapi di sinilah saripati (ceileh apaan sih? 😄😄😄) ceritanya. Nayra itu bukan lemah, tapi dia terlalu baik, atau masih baik saja dan menunggu kapan suaminya bakal menganggapnya. Seperti kisah dalam kehidupan nyata, kita butuh diberi kesempatan dan memberi kesempatan. Nah Nayra ini, sepertinya masih memberikan kesempatan untuk Ardana. Siapat tahu Ardana bisa mencintainya?

Ok

Pokoknya lanjutkan, kalian pasti akan menemukan kejutan-kejutan dalam cerita ini. 🙏🙏🙏

1
Deera__
sabar ya... mending ama si San San itu atau semoga bertemu jodh yg baik yg lain kamu Tama.
Deera__
untung Nayra bertemu dengan ibu Ghina orang yang sngat baik dan tulus
Deera__
aamiin. semoga kak othor dan keluarga besar maupun kecilnya sehat, panjang umur dunia akhirat, dikelilingi orng baik dn selalu dalam lindungan-Nya aamiin.
Deera__
pasti Hamil itu kamu Nay, akibat ulah nakalll colongan si Ardan pas Nay demam kemarin² /Slight//Slight//Shy//Shy/
Deera__
waduuhh saingan Ardan nihh bosss. senggol bossquueee/Casual//Casual//Proud//Chuckle//Chuckle//Chuckle//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Deera__
wah enak tuh Coto Makassar 🤤🤤😍😋
Deera__
Makassar.. kota yang ingin ku datangi... rindu pada kakakku tercinta nan jauh disna.
Lina Zascia Amandia: Masya Allah, smg cpt bertemu kembali ya Kak... 🥰🥰
total 1 replies
Deera__
Nayra pasti dilindungi kakknya Kak Nayma.
Deera__
gilaaa udh nakall banget kau Tiana dulu. emng kebanyakan pilot itu kang selingkuh, kang modus dan hobbi modal manis doang. banyak intrik dikehidupan Pilot. karna kesibukan kerjanya itu dan sering dikelilingi wanita² cantik lagi seorang pramugari atau pilot wanita
Deera__: curcol aku kak🤣🤣🤭
total 2 replies
Deera__
miris hidupmu Nay 😢😢😢😓😓😓
Deera__
Ya Allah ya Rabb... jika sudh lelah dengan semua. GK sanggup bersama ma istrimu lebih baik pulangkan saja Nayra dengan baik² ke kedua orangtua dan kakaknya. Jangan terlalu dalam menggores luka dihati dan hidup istrimu. GK punya hati dan perasaan sedikit saja kamu.
Deera__
astaghfirullah ini namanya udh selingkuh. kurang ajar kau Ardana /Smug//Smug/
Deera__
diihh hueekk.. sok lembut dan perhatian. ma istri dingin cuek angkuh.. ku getok ya kau 🤣🤣🤣/Hammer//Hammer//Hammer//Hammer/
Agustinar Agustinar
semoga mereka bersatu kembali dan tidak ada masalah
Deera__
emang suamimu itu gendeng dan aneh bin idiot Nay. jadi gk ush dimasukin ke hati. Cukup sekarang btasi diri. jangan berharap lebih. berharaplah dan serahkan semua pada Allah. ku jamin hidupmu tenang dan bahagia.
Deera__
kau waras kan? aneh dipeluk istri kok risih ilfeel. /Slight//Drowsy//Drowsy/
Ririn Danayanti
lanjut dan semangat KK author
Lina Zascia Amandia: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Ari Sawitri
kaos kaki hitam warna navy???🤔🤔🤔 kok bingung ya?? jadinya ini kaos kaki warna hitam atau navy?😅😅
Lina Zascia Amandia: Wkwkwkwk.... nanti revisi Kak. Makasih atas kejeliannya... 🙏🙏🙏
total 1 replies
Ari Sawitri
tolol emang.. itu lagi si Tama sok sok mau jd pahlawan kesiangan. egois semua. ya jelas lah klu aku jd mertua nayra akan berpikir itu suami dan anak mereka 🤨🤨😕 bodoh banget
Ari Sawitri
harusnya nayra tegas menolak Tama utk menemani smp bandung .. jd tambah runyam kan😔🤔 kecewa dg sikap nayra yg egois
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!