NovelToon NovelToon
Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Sumur Ajaib Penghubung Dua Dunia

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyeberangan Dunia Lain / Pulau Terpencil
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Senggrong

Xiao Luo membeli sebuah rumah tua bergaya kuno yang sudah terbengkalai. Ia terpaksa membeli rumah itu karena harganya yang murah.

Selain rumah bobrok yang tak terawat, rumah itu memiliki halaman yang luas. Entah kenapa tidak ada yang mau membeli rumah itu. Mungkin karena rumor yang beredar diluar tentang rumah itu berhantu.

Entah itu keberuntungan atau justru kesialan, Xiao Luo jatuh ke dalam sumur.

Ia pikir hidupnya sudah berakhir, namun ternyata ia muncul di dunia yang berbeda.

Sumur itu seperti lorong waktu yang menghubungkan dua dunia. Xiao Luo bisa pergi ke dua dunia itu dengan mudah melewati sumur tua itu.

Apakah Xiao Luo bisa terus seperti itu atau justru terjebak di dunia lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Senggrong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERCERITA

Kehangatan kecil yang merambat di dada Xiao Luo perlahan-lahan melunturkan sisa-sisa amarah dan kepenatan yang ia bawa dari dunia luar.

Di pulau pengasingan yang sunyi ini—jauh dari hiruk-pikuk kota metropolitan dan topeng kemunafikan orang-orang seperti keluarga pamannya—ia menemukan sebuah ketulusan yang sudah lama hilang dari hidupnya.

​"Sini, biarkan aku membawakan barang-barangmu, Nak. Maaf ya, sudah menyusahkanmu," ujar Nyonya Shen sambil tersenyum lembut, membantu Xiao Luo meletakkan kantong-kantong belanjaan berisi camilan dan kebutuhan harian ke atas meja kayu.

​"Tidak apa-apa, Bi. Aku senang kok," balas Xiao Luo ramah sembari menimang-nimang bayi di gendongannya yang kini sudah terlelap pulas. Napas mungil yang teratur itu terdengar begitu damai di dadanya.

​Shen Tingting menghela napas panjang, merapikan rambutnya yang sedikit kusut akibat semalaman begadang menjaga sang keponakan. "Anak ini benar-benar ada-ada saja. Sejak kemarin ia rewel luar biasa, digendong siapa saja langsung menangis. Kami sampai kewalahan bergantian menenangkannya. Rupanya, ia sedang menunggu 'ibu angkat' kesayangannya ini datang."

​Xiao Luo tersenyum simpul. Jemarinya dengan hati-hati mengelus pipi mungil Shen Yu Jin yang terasa lembut. "Mungkin dia rindu. Aku juga rindu, makanya langsung datang ke sini."

​Suasana mendadak hangat ketika Nyonya Shen menuangkan air hangat ke cangkir, lalu menatap Xiao Luo penuh perhatian. "Bagaimana pekerjaanmu? Lancar kan?"

​"Seperti biasa, Bi. Pagi berangkat, sorenya pulang."

​Shen Tingting yang duduk di sisi sofa menimpali dengan rasa penasaran yang kentara. "Sebenarnya, apa sih pekerjaanmu di sana?"

​"Aku bekerja sebagai office girl."

​"Pekerjaan apa itu?" dahi Shen Tingting berkerut ringan.

​"Kalau di sini mungkin semacam pelayan, tapi bukan di rumah orang. Aku bekerja di sebuah perusahaan makanan—bukan di bagian produksi atau kantoran, melainkan sebagai petugas kebersihan."

​"Perusahaan makanan? Apa sejenis restoran besar?"

​Xiao Luo tertawa kecil. "Mungkin persamaannya sama-sama mengurus hal makanan, tapi sistemnya jauh berbeda. Aku bahkan bingung menjelaskannya."

​"Ah, kalau bingung, tidak usah dipaksakan. Kami cuma ingin tahu saja," sahut Nyonya Shen maklum.

​"Oh, sebentar! Aku membawa ponsel. Di awal bulan kemarin, perusahaan sempat membuat video promosi dan aku menyimpannya di galeri. Biar kutunjukkan pada kalian," ujar Xiao Luo antusias.

Ia melirik Shen Tingting. "Tingting, tolong ambilkan ponselku di tas bagian depan, ya."

​Tanpa canggung, Shen Tingting merogoh tas Xiao Luo dan mengeluarkan ponsel pintar tersebut. Baginya benda itu sudah tidak asing lagi, sebab Xiao Luo beberapa kali pernah memperlihatkan cara kerjanya.

​"Ini ponselmu."

​"Terima kasih."

​Xiao Luo dengan gesit membuka galeri videonya. Setelah menemukan rekaman yang dicari, ia menyerahkan layar ponsel itu kepada Nyonya Shen dan Shen Tingting.

​"Wah, bagus sekali!" seru Nyonya Shen takjub. "Kok, bangunannya bisa tinggi sekali?"

​"Karena terdiri dari sembilan lantai, Bi. Tapi ini sebenarnya termasuk rendah. Di kota sana, ada gedung yang tingginya lebih dari lima puluh tingkat," terang Xiao Luo.

​Shen Tingting terperangah. "Kira-kira bagaimana cara membangunnya, ya? Pasti sulit sekali. Apa mereka tidak takut jatuh? Itu tinggi sekali!"

​Xiao Luo tergelak renyah. "Ha ha ha... Kalau itu sih, aku juga kurang paham. Yang pasti dikerjakan oleh orang-orang profesional dengan alat-alat canggih. Jadi, bagi mereka mungkin sudah biasa."

​Cklek.

​Pintu kayu berderit terbuka, memecah obrolan ringan mereka. "Lagi bicara apa sih? Kok sepertinya seru sekali?" suara berat Shen Munchen terdengar bersamaan dengan langkah kakinya.

​"Kakak? Kok tumben hari ini pulangnya lebih awal?" tanya Shen Tingting heran.

​Shen Munchen melangkah masuk, tatapannya langsung tertuju pada gendongan di pelukan Xiao Luo. "Aku khawatir Yu Jin menangis terus. Tapi sepertinya dia sudah tenang sekarang."

​"Dari tadi dia memang rewel, untung Xiao Luo datang. Anak ini sepertinya rindu berat, padahal baru tiga hari ditinggal," jelas Shen Tingting.

​Mendengar itu, Shen Munchen mengalihkan pandangannya kepada Xiao Luo. Ada sorot mata yang sulit diartikan—dalam dan sarat makna—membuat bulu kuduk Xiao Luo sedikit meremang. Namun, tatapan itu hanya singgah sekilas sebelum kembali jatuh pada putra kesayangannya yang sedang tidur pulas.

​"Kak, lihat deh tempat kerja Xiao Luo di video ini. Bagus sekali, kan?" panggil Shen Tingting sambil menyodorkan layar ponsel.

"Ternyata yang bekerja di sana banyak orang, tidak cuma laki-laki, perempuan juga banyak. Gedungnya juga tinggi menjulang."

​Shen Munchen ikut melirik video yang ditunjukkan adiknya. Ia tertegun sejenak, cukup takjub dengan pemandangan modern di layar kecil itu.

​"Apa rumah-rumah di sana semuanya setinggi itu?" tanyanya penasaran.

​Xiao Luo menggeleng pelan. "Tidaklah. Masih banyak juga kok rumah penduduk yang hanya berlantai satu."

Shen Munchen merapikan letak ponsel di atas meja kayu setelah video singkat itu usai. Suasana di ruang tamu kembali tenang, hanya menyisakan deru angin laut yang berhembus pelan dari celah jendela terbuka, membawa aroma asin yang khas.

​Shen Munchen masih berdiri di dekat kusen pintu, Pria itu menatap lurus ke arah Xiao Luo—bukan lagi dengan sorot menyelidik seperti tadi, melainkan tatapan yang menyiratkan kelegaan sekaligus rasa terima kasih yang berat diucapkan.

​"Terima kasih, Xiao Luo," ucap Shen Munchen tiba-tiba dengan suara baritonnya yang tenang.

"Sejak kemarin Yu Jin memang rewel. Kami sampai bergantian menenangkannya. Tapi anaknya masih nangis terus. Begitu Kamu datang anaknya malah diam seperti ini. Dasar manja? "

​Xiao Luo tertegun. Ia mengerjap pelan, merasakan kehangatan lain yang menjalar bukan lagi di dada, melainkan di tenggorokannya yang mendadak keluh.

​"Tuan Jendral tidak perlu berlebihan," balas Xiao Luo sambil tersenyum tulus, mencoba menutupi matanya yang mulai menghangat. "Aku justru berterima kasih. Di sini, aku merasa memiliki tempat untuk pulang. Di luar sana... dunia terasa begitu bising dan melelahkan."

​Nyonya Shen menghela napas panjang, matanya ikut berkaca-kaca mendengar nada getir yang terselip dalam kalimat terakhir gadis itu. Ia tahu betul beban apa yang dipikul Xiao Luo di kota besar.

Tanpa banyak bicara, wanita paruh baya itu melangkah maju dan merangkul pundak Xiao Luo dengan penuh kasih sayang.

​"Anggap saja pulau ini rumahmu sendiri, Nak. Biar dunia luar gaduh dengan segala kepentingannya, di sini kamu selalu aman," hibur Nyonya Shen lembut.

​Shen Tingting yang melihat suasana mulai melankolis segera mencairkan keadaan. Ia bertepuk tangan kecil sambil tertawa renyah. "Nah, benar kata Bibi! Daripada kita melow sore-sore begini, bagaimana kalau kita masak sesuatu yang enak? Xiao Luo, kamu pasti lapar kan setelah perjalanan panjang naik perahu tadi?"

​"Wah, kebetulan sekali. Aku bawa beberapa bahan makanan segar di kantong belanjaan tadi," sahut Xiao Luo, semangatnya langsung bangkit kembali.

​Bayi Shen Yu Jin menggeliat pelan dalam gendongan, seolah ikut menyetujui usul bibinya. Malam mulai merayap perlahan, menelan cahaya senja di luar jendela dan menggantinya dengan taburan bintang yang berkilauan di langit pulau yang bersih dari polusi.

​Di bawah temaram lampu minyak dan kehangatan keluarga kecil itu, luka-luka di hati Xiao Luo perlahan terobati, menjanjikan awal baru yang tenang di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk dunia.

1
Fauziah Daud
lanjuttt
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
upnya jgn lma2 thor yg busnyk n hrs tiap hri sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪 n makacih tuk upnya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor
kaylla salsabella
lanjut thor
kaylla salsabella
yeeeee berhasil
kaylla salsabella
kasihan xiao Lou
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
kaylla salsabella
aku mampir thor😍😍
Fauziah Daud
trusemangattt
Dinta Anikmah
bagus ceritanya, walaupun namanya susah banget buat nyebutinya
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
menarik
Wahyuningsih
thor xiao luo dpt ruang dimensi biar mkin sru
Wahyuningsih
q mampir thor
Fauziah Daud
lanjuttt
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Fauziah Daud
seru
Aisyah Suyuti
menarik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!