“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Celin dengan Luka nya...
"Cih, cari perhatian banget sih si Reja itu," gerutu Kirei yang sempat melirik lewat spion.
"Udah tahu ada lo lewat, malah pamer kemesraan sama nenek lampir itu. Lo nggak apa-apa kan, Celin?"
"Gue nggak peduli, Rei. Jalan aja," jawab Celin datar melalui interkom helm.
Sesampainya di kafe, Celin mencoba menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan. Ia mencuci piring dengan semangat dan telaten, seolah rasa dingin air bisa membekukan hatinya.
Namun, bayangan Reja yang mencium Tania terus berputar—bukan karena ia cemburu, tapi karena ia merasa betapa kotornya status "istri" yang ia sandang jika suaminya bersikap seperti itu di depan umum.
"Celin, ini pesanan meja nomor empat," Kirei menyodorkan nampan berisi kopi dan kue.
Celin membawanya keluar. Namun, jantungnya nyaris melompat saat melihat siapa yang duduk di meja nomor empat.
Reja. Sendirian. Tanpa Tania, tanpa teman-temannya. Ia masih memakai jaket kulit hitam yang tadi ia kenakan saat mencium Tania di sekolah.
Celin meletakkan kopi itu dengan kasar hingga sedikit tumpah ke meja. "Mau apa lo di sini?" desisnya rendah agar tidak terdengar Kirei.
Reja menyandarkan punggungnya, menatap Celin dengan puas. "Ternyata bener, bau bawang dan sabun cuci piring emang lebih cocok buat lo daripada bau parfum mahal yang Papa kasih."
"Kalau cuma mau menghina, silakan pergi. Gue lagi kerja," Celin berbalik, namun tangan Reja menahan pergelangan tangan kirinya tepat di atas jam tangan baru yang tadi pagi Reja berikan.
"Gimana rasanya liat adegan di gerbang tadi?" Reja berbisik, matanya berkilat jahat. "Sakit? Atau lo ngerasa makin nggak berharga?"
Celin menarik tangannya dengan paksa. Ia membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke arah Reja hingga jarak mereka hanya beberapa senti.
"Lo mau tau rasanya?" Celin tersenyum tipis, senyum yang membuat Reja merasa merinding.
"Gue malah kasihan sama Tania. Dia ngerasa dapet berlian, padahal dia cuma dapet barang bekas yang lagi dicicil buat lunasin utang judi bokap gue. Lo itu nggak lebih dari sekadar alat pembayaran buat gue, Reja. Jadi, jangan kepedean."
Wajah Reja mengeras. Smirk-nya menghilang seketika, digantikan oleh rahang yang mengatup rapat.
"Oh ya?" Reja berdiri, membuat kursinya berderit nyaring hingga beberapa pelanggan menoleh. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang seratus ribuan dan menjatuhkannya ke dalam nampan Celin.
"Bayar kopinya. Sisanya ambil buat beli harga diri lo yang udah hilang sejak bokap lo jual lo ke keluarga gue."
Reja melangkah keluar kafe dengan amarah yang meluap. Di ambang pintu, ia sempat berpapasan dengan Kirei yang menatapnya dengan curiga.
Celin berdiri mematung memegang nampan berisi uang itu. Tangannya gemetar hebat. Ia merasa ingin berteriak, ingin menyayat tangannya saat itu juga untuk mengeluarkan rasa sesak yang membakar dadanya.
"Celin? Reja ngapain lagi sih ke sini?!" Kirei menghampiri dengan wajah merah padam.
Celin mengepalkan uang itu hingga remuk. "Nggak ada, Rei. Dia cuma... mau pamer kalau dia kaya. Kayak biasanya."
Celin masuk ke dapur belakang, mengunci diri di kamar mandi. Ia membuka jam tangannya, melihat luka-luka lama di lengannya. Ia mengambil peniti kecil yang selalu ia sembunyikan di saku apronnya.
"Gue nggak akan kalah sama lo, Reja..." gumamnya lirih sambil menekan peniti itu ke kulitnya, mencari rasa perih yang bisa mengalihkan rasa hancur di hatinya. "Gue nggak akan pernah kalah."
Suara lembut Ibu Kirei terdengar dari arah ruang makan pribadi di bagian belakang kafe.
"Celin, Kirei! Ayo masuk dulu, Nak. Makanannya sudah siap, nanti keburu dingin!" teriak Ibu Kirei dengan nada yang begitu hangat.
Celin segera merapikan apronnya dan mengusap wajahnya, memastikan tidak ada jejak kerapuhan yang tersisa.
Ia melangkah ke luar dari kamar mandi dan masuk ke ruangan pribadi di belakang kafe mengikuti Kirei.
Di atas meja kayu sederhana, sudah tersaji semur daging yang aromanya memenuhi ruangan—aroma yang selalu berhasil membuat Celin merasa seolah "pulang".
"Sini, Celin sayang, duduk di dekat Ibu," sambut Ibu Kirei sambil menarikkan kursi untuk Celin.
Beliau mengelus kepala Celin dengan penuh kasih, sebuah sentuhan yang sudah lama tidak Celin rasakan sejak ibunya tiada. "Kamu keliatan makin kurus, Nak. Pasti belajar terlalu keras ya buat beasiswa itu? Jangan lupa makan, kesehatanmu itu harta yang paling berharga."
Celin merasakan tenggorokannya tercekat. Kebaikan Ibu Kirei selalu menjadi pedang bermata dua—memberikan kehangatan sekaligus mengingatkannya betapa hancur hidupnya yang sebenarnya.
"Terima kasih, Tante. Maaf Celin jadi merepotkan terus," ucap Celin pelan.
"Merepotkan apa toh? Ibu malah senang kalau kamu di sini. Kamu itu sudah seperti anak kedua Ibu," balas Ibu Kirei sambil menyendokkan nasi dan potongan daging yang besar ke piring Celin. "Ayo dimakan, harus habis ya!"
Kirei menyenggol bahu Celin sambil nyengir. "Tuh kan, Celin. Nyokap gue emang lebih sayang sama lo kayaknya daripada sama anak kandungnya sendiri."
Mereka pun makan dalam suasana yang jauh berbeda dari meja makan mewah di rumah Reja. Di sini, tidak ada tatapan menghina, tidak ada tuntutan untuk menjadi sempurna, dan tidak ada sandiwara.
Celin menyuap makanannya perlahan, mencoba menikmati setiap detik ketenangan ini.
"Celin," panggil Ibu Kirei lembut di tengah makan. "Tadi Ibu sempat lihat di depan... itu Reja ya? Anak donatur sekolah kalian? Dia ada urusan apa ke sini?"
Celin terhenti sejenak, jantungnya berdegup lebih kencang. Ia melirik Kirei yang juga tampak menunggu jawaban.
"Dia... cuma mau pesan kopi, Tante. Mungkin kebetulan lewat," jawab Celin berusaha senatural mungkin.
Ibu Kirei menghela napas, raut wajahnya berubah sedikit khawatir. "Hati-hati ya, Nak. Ibu dengar dari cerita-cerita di pasar, keluarga mereka memang sangat kaya, tapi anak itu kabarnya sering berulah. Ibu nggak mau kamu atau Kirei kena masalah sama orang-orang seperti mereka."
"Iya, Tante. Celin selalu jaga jarak kok," ucap Celin bohong, hatinya perih menyadari fakta bahwa ia tidak hanya tidak menjaga jarak, tapi sudah terikat secara hukum dengan orang itu.
"Baguslah. Kalau ada apa-apa, atau kalau ada yang ganggu kamu, bilang sama Ibu ya? Meskipun Ibu cuma punya kafe kecil ini, Ibu bakal belain kamu," tegas Ibu Kirei sambil menggenggam tangan Celin.
Sentuhan itu membuat jam tangan mahal pemberian Reja di bawah lengan baju Celin terasa sangat panas dan berat. Celin hanya bisa mengangguk kecil, menahan air mata yang hampir jatuh.
Ia merasa seperti pengkhianat karena menyimpan rahasia sebesar ini dari orang-orang yang begitu tulus menyayanginya.
Selesai makan, saat Celin membantu mencuci piring di dapur, Kirei mendekat. "Celin, tadi Reja ngasih lo duit banyak banget di nampan. Gue liat lo ngeremes uangnya. Kalau lo nggak nyaman, biar besok gue yang samperin dia di sekolah buat balikin."
"Jangan, Rei," cegah Celin cepat. "Gue udah urus. Jangan pernah cari masalah sama Reja, ya? Buat gue... tolong jauhi dia."
Kirei menatap sahabatnya dengan heran, namun ia melihat ketakutan yang nyata di mata Celin. "Oke, Celin. Gue janji. Tapi lo juga janji, kalau dia keterlaluan, lo cerita sama gue."
Bersambung....