NovelToon NovelToon
Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Kaisar, Kesempatan Kedua Ini, Aku Mencintaimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:48.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Mo Yuuran, seorang permaisuri yang dikenal bengis dan kejam, pernah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, menjatuhkan Kaisar Zi Xuan dari tahtanya demi cinta butanya kepada Bo Wen. Ia rela mengorbankan segalanya, bahkan mengkhianati pria yang mencintainya dengan sepenuh jiwa.

Tapi kenyataan yang terungkap di akhir hidupnya jauh lebih kejam dari apa pun yang pernah ia lakukan.

Bo Wen, pria yang ia cintai mati-matian, ternyata bersekongkol dengan keluarganya sendiri, kakak dan orang tuanya untuk membunuhnya. Selama ini, Mo Yuuran hanyalah alat. Sebuah pion yang dimanfaatkan untuk menyingkirkan Kaisar Zi Xuan, satu-satunya pria yang benar-benar mencintainya, bahkan terobsesi.

Saat napas terakhirnya terenggut dalam pengkhianatan, penyesalan memenuhi hatinya. Tapi, takdir memberinya kesempatan kedua.

Mo Yuuran terbangun kembali di masa lalu sebelum semuanya hancur. Dengan ingatan akan kematian tragisnya, ia bersumpah untuk mengubah segalanya. Termasuk menjadi ibu tiri yang baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sakit

Malam itu sunyi, hanya suara angin musim dingin yang berhembus di luar Paviliun Naga. Mo Yuuran perlahan membuka matanya, napasnya ringan namun gelisah.

Ia menoleh ke samping dan melihat Zi Xuan masih terlelap, wajahnya tampak tenang untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Namun begitu Mo Yuuran bergerak, pria itu langsung membuka mata.

“Ada apa?” tanya Zi Xuan dengan suara serak, masih setengah mengantuk.

Mo Yuuran duduk perlahan di tepi ranjang. “Aku ingin melihat anak-anak,” jawabnya pelan.

Alis Zi Xuan langsung berkerut. Ia bangkit sedikit, menatap wanita itu dengan tidak suka. “Sekarang?” tanyanya. “Sudah tengah malam.”

Mo Yuuran mengangguk kecil. “Aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.”

Zi Xuan menghela napas, jelas tidak setuju. “Tidak perlu. Mereka punya pelayan,” katanya dingin. “Kau tidak harus melakukan semuanya sendiri.”

Mo Yuuran menatapnya lembut. “Aku tahu,” ujarnya pelan. “Tapi aku tetap ingin melihat mereka.”

Zi Xuan terdiam, menatap mata wanita itu yang penuh keteguhan. Ia tahu, jika Mo Yuuran sudah seperti ini, sulit untuk menghentikannya.

“Aku tidak suka kau keluar malam-malam begini, apalagi hanya hal yang tidak penting,” gumamnya akhirnya.

Mo Yuuran tersenyum tipis. “Aku akan cepat kembali.”

Hening sejenak. Lalu Zi Xuan menghela napas panjang. “Baiklah,” katanya pasrah. “Tapi jangan lama.”

Mo Yuuran mengangguk, lalu bangkit dan segera mengenakan jubah hangat sebelum keluar dari paviliun.

Di sisi lain istana, di paviliun kumuh yang jauh dari perhatian, udara dingin terasa lebih menusuk. Di atas kasur lapuk, tubuh kecil Zi Rui mulai menggigil hebat.

“Kak … dingin .…” gumamnya lemah, suaranya bergetar.

Zi Xin langsung bangkit. “Dia mulai lagi,” katanya panik.

Zi Cheng segera mendekat, menyentuh dahi adiknya. “Panas .…” bisiknya tegang. “Kita harus cari bantuan.”

Tanpa membuang waktu, keduanya berlari keluar paviliun. “Tolong! Ada yang bisa bantu?!” teriak Zi Xin.

Tapi lorong itu sepi. Tidak ada pelayan yang terlihat.

Saat itu, seorang wanita paruh baya baru saja melangkah masuk dari gerbang samping. Kepala pelayan itu tampak terkejut melihat dua anak kecil berdiri di sana.

“Kalian?” ucapnya kaget.

Zi Cheng dan Zi Xin langsung menghampirinya tanpa berpikir panjang. “Tolong!” kata Zi Cheng cepat. “Adik kami sakit, panggilkan tabib istana!”

Kepala pelayan itu menegang sesaat, jelas terkejut karena ketahuan baru kembali dari luar. Namun ekspresinya segera berubah dingin.

“Berisik sekali kalian ini!” bentaknya tiba-tiba.

Ia mendorong kedua anak itu hingga terhuyung. “Mengganggu saja!”

Brugh!

Zi Xin terjatuh, namun segera bangkit lagi. “Tolong … dia benar-benar sakit,” katanya memohon.

Zi Cheng kembali berdiri tegak, meski wajahnya menahan emosi. “Kami mohon,” ucapnya tegas. “Panggilkan tabib.”

Namun wanita itu hanya mendengus sinis. “Tabib? Untuk anak buangan seperti kalian?” ejeknya.

Zi Xin menggenggam tangannya erat. “Dia bisa mati!” serunya.

Kepala pelayan itu justru tersenyum dingin. “Kalau mati, ya bagus,” katanya tanpa ragu. “Tidak perlu menyusahkan orang lagi.”

Kedua anak itu membeku di tempat.

Zi Cheng melangkah maju lagi, kali ini suaranya lebih rendah namun penuh tekanan. “Aku mohon … selamatkan adikku.”

Wanita itu menepis tangannya dengan kasar. “Pergi dari hadapanku!” bentaknya. “Dasar anak-anak menyusahkan! Aku harap adiik kalian itu mati dan kalian berdua menyusulnya.”

Wanita itu menepis tangan Zi Cheng dengan kasar, wajahnya dipenuhi kebencian. “Pergi dari hadapanku!” bentaknya. “Dasar anak-anak menyusahkan! Aku harap adik kalian itu mati dan kalian berdua menyusulnya.”

“Apa yang kau katakan?” suara dingin tiba-tiba terdengar dari belakang. “Coba ulangi sekali lagi.”

Deg!

Tubuh kepala pelayan itu langsung menegang. Ia membeku di tempat sebelum perlahan berbalik, wajahnya memucat saat melihat Mo Yuuran berdiri di sana dengan tatapan dingin menusuk.

“Apa yang kau katakan? Coba ulangi lagi!” titah Mo Yuuran datar.

“Pe–Permaisuri … salam hormat,” ucapnya gugup, segera membungkuk hormat. Ia mencoba tersenyum kaku. “Hamba hanya sedang menegur mereka karena—”

“Tolong adik kami, Permaisuri!” potong Zi Xin cepat, suaranya penuh kepanikan.

Mo Yuuran langsung mengalihkan pandangannya pada kedua anak itu. “Ada apa?” tanyan lembut.

“Dia sakit,” jawab Zi Cheng singkat. “Tubuhnya panas dan menggigil.”

Tanpa ragu, Mo Yuuran langsung melangkah maju. “Ayo, kita ke sana sekarang.”

Baru saja ia bergerak, kepala pelayan itu buru-buru menghalangi di depannya. “Permaisuri tidak perlu turun tangan,” katanya cepat. “Biarkan hamba yang menangani. Yang Mulia sebaiknya kembali beristirahat.”

Tentu ia tidak ingin Mo Yuuran melihat tempat tinggal ketiga si kembar itu. Apalagi ia sudah mendengar jika Mo Yuuran sudah berubah dan tak lagi sejalan dengan tuannya.

Langkah Mo Yuuran terhenti. Wajahnya yang sudah dingin kini semakin membeku.

“Menyingkir,” ucapnya singkat.

Kepala pelayan itu menelan ludah, namun tetap bertahan. “Tempat itu tidak layak untuk Yang Mulia … hamba akan mengurusnya—”

“Aku bilang menyingkir,” ulang Mo Yuuran, kali ini lebih tajam.

Wanita itu mulai terbata-bata. “Ta-tapi Permaisuri … itu hanya—”

Belum selesai ia bicara, Mo Yuuran langsung menarik lengannya dengan keras.

Brak!

Tubuh kepala pelayan itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai dengan kasar.

“Cukup,” ucap Mo Yuuran dingin, menatapnya dari atas. “Kau terlalu lancang.”

Kepala pelayan itu gemetar, tak berani menatap balik.

“Aku mendengar semuanya,” lanjut Mo Yuuran, suaranya rendah namun penuh tekanan. “Dan kau masih berani menghalangiku?”

Ia melangkah mendekat, tatapannya tajam seperti es. “Orang yang berani mengutuk anak-anakku di hadapanku tidak pantas berdiri di istana ini. Tunggu hukuman untukmu.”

Kepala pelayan itu langsung menunduk dalam, tubuhnya gemetar. “Ampun, Permaisuri.”

Mo Yuuran tidak lagi memedulikannya. Ia berbalik cepat. “Tunjukkan jalannya,” katanya pada Zi Cheng dan Zi Xin.

Kedua anak itu langsung mengangguk dan berlari lebih dulu. Mo Yuuran mengikuti.

Begitu tiba di paviliun kumuh itu, langkah Mo Yuuran langsung terhenti. Matanya membesar saat melihat tubuh kecil Zi Rui yang terbaring di ranjang reyot, menggigil hebat disertai kejang-kejang.

“Adik!” seru Zi Xin panik, berlari mendekat. “Ada apa dengan dia?!”

Zi Cheng mengepalkan tangan, wajahnya pucat. “Kenapa jadi seperti ini?”

Mo Yuuran segera menghampiri, tangannya cepat memeriksa dahi dan nadi Zi Rui. Wajahnya berubah serius, napasnya sedikit memburu.

“Kalian mundur sedikit,” katanya tegas. “Aku akan mengobatinya.”

“Dia akan baik-baik saja, kan?” tanya Zi Xin dengan suara gemetar.

Mo Yuuran tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap kondisi Zi Rui sejenak, lalu berdiri dengan cepat.

Tanpa penjelasan lebih lanjut, ia berbalik dan berlari keluar dari paviliun. Langkahnya begitu cepat hingga bayangannya hampir lenyap di lorong gelap.

Zi Xin tertegun. “Dia … pergi?”

Zi Cheng mendengus kesal, rasa kecewa langsung memenuhi wajahnya. “Sudah kubilang,” ujarnya dingin. “Jangan minta tolong pada wanita jahat itu.”

Ia menatap ke arah pintu dengan rahang mengeras. “Lihat saja, dia bahkan melarikan diri.”

Zi Xin menunduk pelan, menggigit bibirnya. “Iya, kau benar kak. Tak ada yang benar-benar tulus pada kita,” bisiknya lirih.

Belum sempat suasana menjadi semakin putus asa, terdengar suara langkah tergesa-gesa dari luar. Keduanya menoleh bersamaan.

Mo Yuuran muncul kembali di ambang pintu, napasnya sedikit terengah. Di tangannya, ia membawa kotak obat dan beberapa kain bersih.

Langkahnya begitu terburu-buru hingga ujung hanfu-nya tersangkut. Tubuhnya hampir tersandung, namun ia segera menyeimbangkan diri dan tetap berlari masuk.

Zi Cheng dan Zi Xin tertegun, mata mereka membelalak.

“Ambilkan air hangat!” perintah Mo Yuuran tanpa membuang waktu.

Kedua anak itu langsung tersadar. “Iya!” jawab mereka bersamaan, segera bergerak.

Mo Yuuran sudah berada di sisi Zi Rui lagi, membuka kotak obat dengan tangan cekatan. Wajahnya fokus, tak lagi menyisakan keraguan sedikit pun.

“Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padanya,” gumamnya pelan, lebih pada dirinya sendiri.

1
tinie
kasian dia lu🤣
dia ketakutan
Maydian li Maydian
lanjut thor lebih banyak up nya
Fia Ayu
Akhirnya nongol jg, othor nya masih kecapean 😢🙏🏻
Atik Kiswati
next...
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iih jangan janji 😅 siapa tau pas Zi Rui mamggil anda lagi ngadon 🤭
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Nah tusuk juga tu si bonteng Suri
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
Iishh Xia Lu ini biarin aja jangan dibangunan, biar aja si bonteng suri nunggu sampe lumutan 🤣🤣
Mama Hasby
semakin seru thooor...😍😍
smngat terus buat up'y ya....💪💪
Icka Soesan
Alhamdulillah up juga terimakasih update nya Thor 🥰🙏🙏, semakin seru ceritanya.
Dew666
Lanjut dong
≛⃝⃕|ℙ$Ŋบ𝑟ļịãŊãᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🏡⃟ªʸ
🤣🤣 Lucu kalian maling teriak maling /Facepalm/
Sekar
lanjut thor💪💪😍😍
Sekar
ckckck jalang teriak jalang
tinie
ya lagian jadi pelayan aja
belagu tidur nyenyak dikasur empuk
eeh justru anak kaisar malah dikasih kasur tikar
RheaAdelya
😍
༺⬙⃟⛅ 𝒚𝒂𝒚𝒖𝒌 𝒋ᷟ𝒖ⷽ𝒐ᷟ𝒔ⷽ
ini siapa yg tak tau malu
mama_im
mantap👍👍🤣🤣🤣
FAISHAL GAMING
luar biasa
💟노르 아스마💟
whuuuhhhh...keren!!!👏👏👏👏
Allfa Rizky
suka sama cerita spt ini FL nya Badas keren banget gak menye-menye,, sar set eksekusi man taappp
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!