Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 — Jejak yang Ingin Kutelusuri
Minggu-minggu berikutnya aku nggak langsung pergi ke mana-mana yang jauh. Aku coba mulai dari hal yang paling dulu aja. Setiap sore setelah selesai urusan aku jalan kaki sebentar keliling sekitar rumah, bukan buat ke taman itu, tapi buat lihat sudut-sudut kota yang dulu aku lewati begitu aja tanpa benar-benar melihatnya. Bima pernah bilang kan kalau dunia ini penuh cerita di mana-mana, asal kita mau melambat sebentar dan perhatiin sekeliling. Sekarang aku coba lakukan itu.
Ada sebuah perpustakaan kecil yang dulu pernah dia sebutkan namanya sekilas. Katanya dia suka duduk di pojok ruangan dekat jendela sana, menghabiskan waktu berjam-jam cuma baca buku tanpa ada yang ganggu. Aku putuskan buat ke sana satu sore. Jalan menuju ke sana lumayan jauh, aku naik angkot dulu terus jalan kaki sekitar sepuluh menit. Pas sampai di depan pintu, aku berdiri sebentar, tarik napas dalam, lalu melangkah masuk. Suasananya tenang banget, beraroma kertas tua dan kayu, persis kayak yang dia ceritakan. Hatiku berdebar pelan. Di mana dia biasa duduk ya? Aku cari bangku dekat jendela di pojok ruangan paling belakang, dan pas aku sampai di sana, aku lihat sebuah meja kecil yang ada tanda goresan samar di pinggirnya. Entah kenapa aku yakin ini tempat dia biasa duduk.
Aku duduk di sana, menatap jendela yang menghadap ke jalan raya di bawah. Dari sini orang-orang kelihatan kecil, sibuk ke sana kemari, masing-masing punya tujuannya sendiri. Rasanya aku ngerti kenapa dia suka tempat ini. Di sini dia bisa lihat dunia tanpa ikut terseret arusnya. Aku taruh buku catatanku di meja itu, persis kayak yang mungkin biasa dia lakukan. Nggak ada pesan tertulis di sana, nggak ada namanya terukir di meja. Tapi rasanya aku dekat banget sama dia sore itu. Seperti kita pernah duduk berdampingan di sini, dia diam baca bukunya, aku diam di sebelahnya, dan waktu berjalan pelan sekali tanpa perlu banyak kata.
Beberapa hari kemudian aku beranikan diri lewat di depan rumah Rian. Dia tinggal di kawasan yang tenang, rumahnya nggak terlalu besar tapi halamannya rapi banget. Aku sempat ragu seharusnya mampir atau enggak, tapi kakiku melangkah sendiri menuju gerbang. Rian sedang menyiram tanaman di halaman depan, dia kaget pas lihat aku berdiri di sana, lalu senyum lebar banget. Dia ajak aku duduk di teras, bawa dua gelas teh hangat, dan kita mulai cerita soal Bima dari sisi yang belum pernah aku ketahui.
"Bima itu pendengar paling jago sedunia," kata Rian sambil senyum samar ke arah halaman rumahnya. "Kalau ada yang punya masalah, dia yang pertama datang tanpa diminta. Dia nggak akan kasih nasihat panjang lebar, dia cuma duduk di sebelahmu sampai kamu merasa cukup baik buat lanjut lagi. Dia bilang kadang orang nggak butuh solusi, mereka cuma butuh tahu kalau mereka nggak sendirian."
Hatiku terasa hangat sekaligus perih. Jadi dia memang begitu ke semua orang. Bukan cuma ke aku. Dia memang lahir dengan hati yang terlalu luas buat satu orang saja.
"Dia jarang cerita soal dirinya sendiri kan?" tanyaku pelan.
Rian mengangguk. "Sangat jarang. Waktu dia sakit, dia tetap senyum dan bilang dia baik-baik aja. Aku baru tahu seriusnya pas dokter bilang waktunya nggak banyak lagi. Itu pertama kalinya aku lihat dia nangis. Bukan karena dia takut pergi, tapi karena dia takut belum sempat ketemu kamu sekali lagi. Dia bilang kamu tujuan terdekat yang belum sempat dia capai sepenuhnya."
Air mataku jatuh pelan, tapi kali ini aku nggak coba menyekanya. "Dia sampai kok. Dia memang sampai, cuma jalannya beda dari yang kita kira."
Malam itu aku pulang dengan kepala penuh cerita baru tentang dia. Aku pelan-pelan mengumpulkan kepingan yang hilang. Setiap orang yang aku temui, setiap tempat yang aku kunjungi, semuanya menambah sedikit bagian dari dirinya yang belum aku kenal sepenuhnya. Rasanya kayak dia masih di sana, di setiap cerita yang orang-orang sampaikan, di setiap sudut tempat yang pernah dia singgahi. Dia bukan sekadar kenangan yang harus dikubur dan dilupakan. Dia hidup di semua hal baik yang pernah dia lakukan.
Minggu berikutnya aku berencana pergi ke tempat pertama yang ada di buku sketsanya. Sebuah bukit nggak terlalu tinggi di pinggiran kota, tempat dia bilang pemandangan matahari terbitnya paling indah sedunia. Aku bangun jam empat pagi, udara masih dingin banget pas aku keluar rumah. Perjalanan naik ojek terus jalan kaki menanjak lumayan melelahkan, tapi aku nggak mau berhenti. Setiap langkah yang kuambil terasa kayak aku menyelesaikan bagian dari perjalanannya yang belum selesai.
Pas sampai di puncak, langit masih gelap tapi di ufuk timur sudah mulai terlihat cahaya pudar yang perlahan mengubah warna langit dari hitam pekat jadi biru lembut, lalu merah muda, lalu keemasan. Saat matahari perlahan muncul dari balik bukit di kejauhan, napasku tertahan. Indah banget. Lebih indah dari yang pernah aku bayangkan. Aku berdiri diam di sana, angin pagi menerpa wajahku, dan aku berbicara pelan pada udara di sekitarku.
"Kamu benar Bima. Ini pemandangan terindah yang pernah kulihat. Maaf ya aku datang terlambat. Tapi aku datang kok. Aku lihat ini buat kita berdua."
Aku duduk di batu besar di pinggir tebing, membuka buku sketsanya, membandingkan gambarnya dengan pemandangan aslinya di depanku. Dia menggambarnya persis sama, seolah dia sudah di sini berkali-kali. Di sudut halaman itu dia menulis satu kalimat pendek: "Suatu hari nanti aku akan bawa dia ke sini. Kita akan lihat matahari terbit bersama. Semoga waktu cukup buat aku."
Kalimat itu bikin dadaku terasa sesak sebentar, lalu aku tersenyum pelan. Waktu memang nggak cukup buat dia. Tapi waktu cukup buat aku untuk datang ke sini atas namanya. Itu udah lebih dari cukup. Aku tinggal di sana sampai matahari benar-benar tinggi di atas langit, menikmati ketenangan pagi, merasa dia duduk di sebelahku, ikut melihat ke depan dengan senyumnya yang tenang.
Pas turun aku mampir ke warung kecil di kaki bukit, beli dua gelas air dingin. Satu untukku, satu lagi aku taruh di dekat pohon besar di pinggir jalan, sambil berbisik pelan "Ini buat kamu. Makasih udah ajak aku ke sini walau nggak bisa datang bareng. Sampai ketemu di tempat berikutnya ya."
Perjalanan pulang terasa ringan banget. Kakiku lelah tapi hatiku terasa penuh. Aku sadar sekarang, aku nggak kehilangan dia sepenuhnya. Dia ada di setiap tempat yang kita kunjungi bersama lewat ceritanya. Dia ada di setiap kebaikan yang aku lakukan ke orang lain kayak yang biasa dia lakukan. Dia ada di setiap pagi yang aku syukuri, setiap senyum yang aku berikan, setiap langkah berani yang kuambil. Cintanya nggak berakhir saat dia pergi. Itu baru permulaan yang dititipkan ke aku buat terus dijaga dan disebarkan ke orang lain. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, aku nggak akan menyia-nyiakan titipan itu.