Namanya yang terkenal sebagai ketua geng Tunas Bangsa, Theo Bramansya cowok paling di takuti di wilayahnya,
Usia: 19 tahun
Tinggi: 190 cm
Berat: 82 kg
Penampilan: Tinggi, tegap, bahu lebar, kulit putih bersih, rahang tegas, hidung mancung, alis tebal, mata tajam dan dingin, rambut hitam sedikit berantakan. Tatapannya sering terlihat malas dan mengintimidasi. Memiliki tubuh atletis karena sering mengendarai motor dan berkelahi.
Kepribadian: Dingin, cuek, keras kepala, dominan, percaya diri, sulit didekati, dan tidak mudah menunjukkan emosi. Dia jarang tersenyum dan lebih sering menjawab singkat. Tidak suka basa-basi dan tidak peduli dengan pendapat orang lain.
Dia adalah ketua geng motor yang cukup disegani. Berani, nekat, memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat, dan terbiasa mendapatkan apa yang dia inginkan. Dia tidak takut pada siapa pun dan tidak suka diperintah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
Pekikan nyaring itu menembus deru puluhan mesin knalpot, langsung memicu gerak refleks theo tanpa sempat ia nalar. Dalam hitungan detik, ia membanting setang ke sisi kiri jalan, menghentikan laju kendaraan tepat di pembatas trotoar hingga debu jalanan berhamburan. Mata elangnya menangkap figur yang terengah-engah itu di bawah temaram lampu jalan, seketika menyulut denyut amarah yang tak terkendali di balik dadanya.
Ia mengangkat kaca pelindung helmnya, menatap tajam ke arah sosok yang berlari kalang kabut itu. Seluruh wibawa dingin yang biasa ia pasang terkikis oleh rasa terusik yang teramat kuat.
"Berhenti di situ,"
titah theo dengan suara bariton yang berat dan menekan, terdengar mutlak di tengah keheningan jalanan yang mendadak mencekam.
Ia menurunkan standar samping motornya dengan entakan tumit yang mantap, lalu melangkah turun tanpa melepaskan pandangannya dari arah belakang sang gadis. Tangannya terkepal erat, urat-urat lengannya mencuat di balik balutan jaket.
"Siapa yang ngejar lo?"
desisnya rendah, aura dominan dan berbahaya menguar pekat dari postur tubuhnya yang berdiri kokoh menghadang malam.
"Nggak ada yang ngejar gue, gue yang lagi ngejar copet itu!" Eca memegang lengan theo sambil menangis dan kepanikan
"Tolong, copet itu ambil barang berharga gue" sambil melipat telapak tangannya, eca meminta tolong kepada theo, orang yang baru dia kenal.
Rahang theo mengeras seketika saat kata itu meluncur di udara malam. Insting liarnya mengambil alih seluruh kendali pikiran, tanpa ragu sedikit pun, tangannya terulur menyambar pergelangan tangan sang gadis, menariknya dengan sentakan tegas ke area aman di belakang postur tubuhnya yang menjulang. Sensasi panik dari napas perempuan itu menyengat harga dirinya—tak ada bajingan jalanan yang boleh berbuat onar di hadapan matanya.
Pandangan theo menyapu trotoar yang temaram, memindai siluet mencurigakan yang tengah memacu langkah menjauh di sela kegelapan lorong ruko. Napas theo terdengar berat dan teratur, menyimpan amarah membara yang siap meledak.
"Tetap di belakang gue, jangan ke mana-mana,"
titah theo dingin, suaranya sarat akan otoritas mutlak yang tak terbantahkan.
Ia mengangkat tangan kiri, memberi isyarat tunggal tanpa menoleh ke belakang. Dalam sekejap, empat rekannya langsung memacu kuda besi mereka membelah trotoar, memblokir jalan tikus tempat si pelaku berusaha kabur. theo memiringkan kepala sedikit, memastikan perempuan di balik tubuhnya tidak terluka sebelum melangkah maju memburu si perampas.
"Awas!"
"Dia membawa pisau" sahut eca untuk memperingatkan theo
Peringatan itu sama sekali tak menggetarkan nyalinya. Kilatan bilah tajam di bawah sorot lampu jalanan justru menyulut seringai dingin di wajah theo. Bau anyir aspal malam berpadu dengan desing logam yang mengancam, tetapi ia tetap berdiri tegak bak dinding karang yang tak tergoyahkan.
"Pisau mainan begitu lo takutin?"
Theo mendengus rendah, nada bicaranya meremehkan ancaman di depan mata.
Satu lengannya merentang ke samping, mengunci posisi agar sosok di belakangnya tak melangkah sembarangan. Saat si perampas mengayunkan senjata tajam itu secara membabi buta, theo berkelit gesit ke sisi luar, memanfaatkan celah sempit untuk mencengkeram pergelangan tangan pelaku dengan kekuatan penuh hingga sendi tulangnya bergemeletuk nyeri.
Dua rekannya melompat turun dari boncengan, langsung menelikung tubuh kurus itu ke tanah becek dekat parit. Bungkusan plastik berisi obat-obatan terlempar ke dekat ujung sepatu theo, tampak kotor namun masih utuh tersegel.
theo memungut bungkusan itu dengan ujung jarinya, lalu menyodorkannya ke belakang tanpa memutar seluruh tubuh.
"Pegang ini baik-baik. Jangan bikin gue repot dua kali cuma gara-gara urusan remeh lo."
"Nyebelin bangeet..."
"masalahnya copetnya ada 2 dan yang satunya kabur terpisah nggak tahu kemana, please tolong..."
"ada barang berhaga gue yang mereka ambil" sambil menggenggam tangan theo dengan erat
Dua orang. Rahang theo mengeras mendengar rincian yang terlewat itu. Rasa jengkel berdenyut di pelipisnya, bukan hanya karena kelalaian situasi, melainkan kenyataan bahwa ia terpaksa terseret lebih jauh ke dalam kekacauan perempuan ini. Matanya menyipit, membedah lorong-lorong gelap di seberang persimpangan jalan tempat bayangan manusia kerap lenyap ditelan malam.
"Bisa-bisanya lo teledor sampai kecolongan dua kali,"
dengus theo dingin, menyamarkan rasa cemas yang mendadak melintas di benaknya.
Tanpa membuang tempo, ia berbalik dan menyambar setang motornya. Dengan satu hentakan kaki, mesin besar itu kembali meraung buas, memuntahkan asap tipis ke udara lembap sisa hujan. theo menoleh sekilas melalui bahunya, memberikan sorotan tajam yang menuntut kepatuhan mutlak.
"Naik ke jok belakang,"
perintah theo datar namun sarat intimidasi, menepuk jok kosong di belakangnya.
"Sebutin ciri-ciri barang lo sekarang. Wilayah ini halaman belakang gue; nggak bakal ada tikus busuk yang bisa lolos bawa barang lo malam ini."
"Dompet gue yang warna pink ada gambar hellokittynya,ukurannya kecil tapi bisa nyaman di pegang, itu dompet berharga gue" jawab eca dengan sedikit menangis kesegukan
Isak tangis yang tersengal-sengal itu menusuk gendang telinganya, meruntuhkan sisa-sisa kesabaran yang ia miliki. theo mendengus kasar, bukan lantaran jengkel pada deskripsi benda merah muda kekanak-kanakan yang terdengar konyol di tengah malam buta, melainkan rasa tak nyaman yang membuncah saat menyaksikan pertahanan perempuan itu ambruk total. Dadanya berdenyut ganjil melihat air mata yang mengalir tanpa henti tersebut.
"Berhenti nangis, berisik banget,"
desis theo, suaranya terdengar ketus kendati nada ancamannya telah melunak drastis.
Tanpa aba-aba, ia melepas jaket kulit tebalnya lalu melemparkannya begitu saja ke pundak sang gadis agar hawa dingin malam tak semakin menyiksa tubuh yang gemetar itu. theo kini hanya berbalut kaus hitam pas badan yang memperlihatkan lekuk otot bahunya yang tegap di bawah temaram lentera jalan.
"Gue bilang naik, ya naik. Nggak ada gunanya lo ngabisin napas buat meraung di sini."
theo menyalakan mesin kendaraannya kembali, sorot matanya berkilat buas membelah kegelapan gang di seberang jalan.
"Gue bakal seret si brengsek itu ke hadapan lo sekarang juga."
..
..
hadir kak, mampir juga ya😊