NovelToon NovelToon
Zombie Cordyceps

Zombie Cordyceps

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Zombie / Hari Kiamat
Popularitas:227
Nilai: 5
Nama Author: Fery Oktavian

Ketika kebocoran fasilitas riset menyebarkan mutasi jamur pembawa wabah kematian, dunia runtuh dalam hitungan hari dan mengubah manusia menjadi mayat hidup yang dikendalikan spora ganas. Di tengah kekacauan Kota Mati, Luna harus memimpin empat penyintas lain, Steve si petarung, Nancy sang peretas, Endru si tenaga medis, dan Onad sang mekanik humoris. untuk bertahan hidup dari kejaran monster cordyceps dan ancaman kejam kelompok penyintas manusia lainnya. Di antara semak sisa peradaban, adegan penjarahan yang menegangkan, serta benih-benih cinta yang hangat di tengah malam kelam, mereka harus memperebutkan satu-satunya wilayah safe zone yang tersisa. Mampukah naluri survival dan ikatan manusiawi membawa kelimanya selamat, ataukah mereka justru hancur oleh kejamnya sesama penyintas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20 - JALAN KELUAR DARI ATAP

Derap langkah kaki yang terburu-buru bergema keras di sepanjang anak tangga semen menuju lantai dua Gedung Apotek Sentral. Di bawah sana, benturan keras beruntun yang menghantam jeruji besi tempa akhirnya membuahkan hasil tragis. Suara dentang baja patah yang menyayat hati beradu dengan dentum runtuhnya bingkai semen, disusul oleh pecahan kaca yang berhamburan hebat di lantai dasar.

"Jeruji depannya jebol!" seru Rian dengan napas memburu kencang saat tiba di bordes lantai dua.

"Ganjal pintunya sekarang!" perintah Luna tegas seraya membalikkan badan di ambang pintu lorong atas.

Steve bergerak cepat. Tanpa memedulikan rasa pegal di bahu kirinya yang baru dibalut perban elastis, pria kekar itu mencengkeram tepi lemari arsip besi yang berdiri di samping pintu lorong. Dengan satu dorongan bertenaga, lemari besi sarat berkas itu roboh melintang, menyumbat rapat daun pintu kayu berlapis plat seng di puncak tangga.

Brakkk!

"Bantu aku pakai meja ini, Rian!" panggil Steve seraya menyapu keringat di dahinya dengan lengan kemeja.

Rian melompat maju, bersama Steve mendorong sebuah meja kayu tebal untuk menumpuk lemari arsip tersebut. Belum dua detik barikade darurat itu terpasang, benturan keras dari arah tangga bawah sudah menghantam pintu kayu. Erangan nyaring puluhan zombie yang merangsek naik terdengar begitu dekat, membuat permukaan plat seng bergetar hebat.

"Barikade ini cuma bisa nahan mereka dua atau tiga menit!" ujar Steve seraya memegang pipa besinya dengan posisi siap tempur.

"Nancy, di mana saluran ventilasinya?" tanya Luna cepat seraya menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan lantai dua.

Lantai dua Apotek Sentral merupakan area administrasi dan gudang penyimpanan stok sekunder. Puluhan rak besi berderet rapi memuat ribuan kotak obat bebas, sementara plafon gypsum di atas mereka tampak agak lembap oleh bekas rembesan air hujan.

Nancy melangkah cepat ke tengah ruangan, mengangkat tablet digitalnya tinggi-tinggi untuk mencocokkan skematik bangunan dengan kondisi fisik plafon. Lensa kacamatanya membiaskan pendaran biru layar tablet saat jemarinya bergeser lincah di antarmuka denah.

"Di sebelah kanan lorong gudang! Ada poros exhaust fan besar yang terhubung langsung ke atap dak beton!" kata Nancy seraya menunjuk satu sudut plafon yang ditutupi kisi-kisi besi persegi berukuran satu meter.

Endru yang memeluk erat dua ransel medis merah di dadanya menengadah menatap kisi-kisi besi di langit-langit. Jarak antara lantai keramik dan plafon itu sekitar dua setengah meter, terlalu tinggi untuk dijangkau tanpa pijakan.

"Plafonnya tinggi sekali, Nancy... Bagaimana cara kita naik ke sana?" tanya Endru dengan vokal cemas yang tak tertutup.

"Kita pakai meja kerja ini sebagai pijakan," potong Luna seraya menggeser sebuah meja kantor berbahan kayu lapis ke bawah kisi-kisi ventilasi.

Steve melangkah mendekati meja tersebut, mengayunkan pipa besi tebalnya ke atas. Dengan satu hantaman keras berkekuatan penuh, pipa besi itu menghantam poros pengunci kisi-kisi besi di plafon.

KLANG!

Terali besi penutup ventilasi itu terlepas dan jatuh meluncur ke atas meja, membocorkan embusan angin dingin yang segar dari arah atap. Lubang persegi berukuran cukup luas terkuak di atas mereka, menampilkan tangga monyet besi kusam yang tertancap di dinding semen saluran exhaust.

"Pintunya mulai renggang, Luna!" teriak Rian panik saat mendengar suara kayu pintu lantai dua mulai retak terbelah oleh dorongan massa di luar.

"Endru, kamu naik duluan! Bawa ransel medisnya!" instruksi Luna tanpa ragu.

Endru menelan ludah kaku, menatap lubang gelap di plafon dengan ragu-ragu. Ketakutan akan ketinggian dan kecanggungannya sebagai pemuda terisolasi mendadak mengunci pergerakan kakinya di atas meja.

Nancy melangkah menaiki meja kantor di samping Endru. Wanita berkacamata itu meraih jemari Endru yang dingin, menggenggamnya dengan kehangatan murni yang langsung menjangkau sanubari sang asisten apoteker.

"Kamu bisa, Endru. Aku di belakangmu," bisik Nancy lembut seraya menatap matanya dari balik kacamata.

Sentuhan dan dorongan emosional dari Nancy seolah menyuntikkan keberanian baru di dada Endru. Pemuda berkacamata itu mengangguk mantap, membetulkan letak ransel medis di punggungnya, lalu meraih pijakan pertama tangga besi di dalam saluran ventilasi.

"Aku dorong dari bawah, Endru," ujar Steve seraya menopang kedua telapak kaki Endru dengan tangannya yang kekar.

Dengan bantuan dorongan Steve, Endru berhasil memanjat masuk ke dalam poros exhaust fan, merayap naik menyusuri tangga monyet besi menuju celah cahaya fajar di puncak saluran.

"Rian, naik sekarang!" panggil Steve seraya memegang bahu pemuda itu.

Rian tidak membuang waktu. Ia dengan cepat memanjat meja dan menyusul Endru masuk ke dalam saluran ventilasi.

Brakkk! PRANGGG!

Barikade kayu dan lemari besi di pintu tangga akhirnya jebol di bawah tekanan belasan zombie yang saling bertumpuk. Pintu kayu terbelah dua, membiaskan sosok-sosok manusia terinfeksi berspora yang merangsek masuk ke ruangan lantai dua seraya melontarkan erangan haus darah.

"Nancy, naik cepat!" seru Luna seraya menarik tali busurnya dan melepaskan satu anak panah tepat ke dahi zombie terdepan.

BSSST!

Nancy memanjat tangga besi dengan tangkas, sementara Steve memagari bagian bawah meja dengan pipa besinya. Setiap ayunan pipa besi Steve menghantam rahang dan dada zombie yang mencoba mendekati meja kantor.

"Luna, giliranku! Kamu duluan atau aku?" tanya Steve seraya menyapu tiga zombie sekaligus dengan ayunan horizontal mematikan.

"Naik sekarang, Steve! Biar aku yang tutup barisan!" tegas Luna seraya melepaskan anak panah berikutnya.

Steve tahu tidak ada waktu untuk berdebat dengan mantan taruna itu. Pria kekar itu melompat ke atas meja, meraih besi tangga monyet, dan menarik tubuh besarnya naik ke dalam saluran ventilasi dengan lincah.

Luna melangkah mundur cepat ke atas meja, menginjakkan kakinya di atas kerangka kayu, lalu meraih tepi saluran besi plafon tepat saat tangan-tangan berkerak jamur dari bawah menggapai-gapai ujung sepatunya. Dengan kelenturan fisik yang luar biasa, Luna menarik tubuhnya naik penuh dan memicu katup penutup ventilasi besi dari dalam menggunakan ujung busurnya.

Brak!

Katup penutup besi itu terkunci rapat, memutus akses puluhan zombie di lantai dua yang terus meraung kebingungan di bawah sana.

Satu per satu dari mereka merayap keluar dari mulut saluran exhaust fan, tiba di atas atap dak beton Apotek Sentral. Udara pagi yang segar dan lapang seketika menyambut paru-paru mereka, menggantikan bau apak dan darah yang mengurung mereka sejak di lantai dasar.

Endru terduduk lemas di atas semen atap, memeluk dua ransel medisnya dengan napas terengah-engah kelelahan. Di sisinya, Nancy merosot duduk, menyunggingkan senyum lega seraya mengusap pelipisnya yang berkeringat.

"Kita... kita benar-benar lolos..." bisik Endru dengan rasa syukur yang mendalam.

Nancy menoleh ke arah Endru, lalu memegang tangan pemuda itu pelan. "Kamu hebat tadi, Endru."

Endru merona merah, menunduk malu namun jemarinya membalas genggaman hangat Nancy dengan ketulusan yang makin mengikat emosi di antara mereka.

Steve menyandarkan pipa besinya di pembatas atap, mengembuskan napas panjang seraya memeriksa balutan perban di bahunya. Rasa panas akibat infeksi kini telah surut berganti rasa dingin menenangkan berkat suntikan antibiotik Endru.

Luna berjalan mendekati tepi atap dak beton, memandangi pemandangan di bawah sana. Jalan Sudirman yang terbentang luas tampak dipenuhi lautan kerumunan zombie yang mengepung bangunan apotek dari segala sisi. Pintu depan gedung telah sepenuhnya lumpuh oleh massa terinfeksi.

"Kita selamat dari dalam, tapi kita terjebak di atas atap ini," kata Steve seraya menyapu pandangannya ke pemukiman sekitar.

Namun, sebelum kebingungan menyusun rute berikutnya sempat membelenggu mereka, sebuah getaran halus berfrekuensi rendah mulai merambat melalui permukaan lantai semen tempat mereka berdiri.

Ggrrrrr... BRRRRUMMM!

Suara raungan mesin diesel berkapasitas besar yang rakitannya terdengar kasar dan tidak stabil mendadak bergema keras dari arah lorong timur Jalan Sudirman. Suara raungan mesin mobil itu membelah keheningan Kota Mati dengan kebrutalan murni, disusul oleh dentuman besi berat yang menabrak barikade mobil-mobil rosok di jalan raya.

Luna, Steve, Nancy, Endru, dan Rian serentak menengadah dan berlari ke tepi atap, menatap penuh ketakjuban ke arah sumber suara yang kian mendekat secara liar.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!