NovelToon NovelToon
Becoming Nyonya Kim

Becoming Nyonya Kim

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Selingkuh
Popularitas:433
Nilai: 5
Nama Author: Isaidno

Status calon nyonya Kim yang sudah diketahui seantero kota, seharusnya tinggal menunggu pengesahan sebentar lagi, ketika tiba-tiba terjadi perubahan kandidat.

Bagaimana tidak? Tuan Muda Kim - Alexander Kim, yang sebentar lagi akan menikah, malah terjebak satu malam dengan wanita asing yang berakhir final.

Harga yang sangat mahal yang harus dibayar Alexander, sebagai seorang pria, anak, pengusaha dan calon politikus. Benar-benar mahal dan berat, tapi dia tetap membayar karena tidak ingin menjadi Ayah yang gagal.

Tapi bahkan setelah semua harga mahal itu, Alexander yang sudah berkorban banyak masih harus stress menghadapi Soraya -- wanita malam itu, yang hidup tanpa beban.
•
“Kenapa berpisah dengan tunanganmu? Kenapa tidak kalian saja yang merawat anak kita!?” ujar Soraya, yang sukses membuat Alexander sakit kepala.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isaidno, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7.

Siang tidak hanya berganti malam, tetapi juga tengah malam, ketika Alexander akhirnya tiba di bandara utama kota tempat Soraya berada.

Di waktu yang sama, di tempat lain, Soraya sedang sibuk mengemasi barang-barangnya. Beberapa jam lagi, tepat menjelang subuh, penerbangannya akan membawanya kembali ke tempat ia menempuh pendidikan.

Waktu yang tersisa tidak banyak. Karena itu, Alexander melangkahkan kakinya dengan cepat. Mengenakan celana kain dan kemeja hitam formal yang dilapisi jaket tebal untuk menghadapi udara yang mulai mendekati musim dingin, ia berusaha menenangkan degup jantungnya yang terus meningkat.

Berdasarkan informasi dari pihak hotel, jadwal check-out Soraya dan timnya akan berlangsung sebentar lagi. Alexander harus segera sampai di sana.

Beruntung, ia memiliki seorang teman di kota ini yang bersedia memberikan salah satu orang kepercayaannya untuk membantu memenuhi segala keperluannya selama berada di Montera, termasuk menjemputnya malam ini.

“Selamat datang, Tuan.”

“Terima kasih. Mari langsung saja. Saya sedang berpacu dengan waktu.”

“Baik, Tuan.”

Alexander menaiki sebuah sedan terbaik dari merek kelas atas. Namun, semewah dan senyaman apa pun kendaraan itu, tetap saja tidak mampu membuatnya tenang. Sepanjang perjalanan, tatapannya terus tertuju pada lampu-lampu kota yang di balik jendela.

Pikirannya dipenuhi kegelisahan tentang apa yang harus ia katakan kepada Soraya nanti, terutama jika tiba-tiba muncul di depan pintu kamar gadis itu.

Namun, yang lebih membuatnya gelisah adalah hasil dari percakapan mereka nanti.

“Ehm.”

Alexander berdeham pelan sambil mengepalkan tangan di depan mulut, berusaha membasahi tenggorokannya yang terasa kering. Ia bahkan tidak pernah merasa terbebani seperti ini ketika menghadapi percakapan bisnis. Namun kali ini, belum berbicara saja kepalanya sudah terasa sakit.

Hingga karena terlalu larut dalam pikirannya, Alexander tidak menyadari bahwa mobil tersebut telah memasuki area hotel dan bahkan sudah berhenti.

“Sudah sampai?”

“Ya, Tuan. Kita sudah sampai.”

Alexander terdiam sejenak. Tak lama kemudian, sang pengemudi turun dan membukakan pintu untuknya.

“Saya akan turun dan memastikan urusan Anda berjalan lancar sampai Anda menyuruh saya berhenti, Tuan.”

Mendengar pelayanan yang begitu diplomatis, Alexander sedikit terhibur. Ia tahu akan lebih mudah jika membawa orangnya sendiri, tetapi utusan temannya di kota ini ternyata cukup bisa diandalkan.

“Tidak perlu. Saya akan masuk sendiri.”

“Baik, Tuan. Namun orang kami di bagian hotel akan tetap menuntun Anda. Kamar presidential suite dan akses menuju kamar yang Anda minta juga sudah disediakan.”

Alis Alexander sedikit mengernyit.

Ia memang meminta akses tersebut, tetapi permintaannya disampaikan langsung kepada pihak hotel melalui Karel. Lalu, bagaimana bisa temannya di sini ikut mengetahuinya?

Namun, Alexander tidak ingin memikirkan hal itu terlalu jauh. Untuk saat ini, ia hanya ingin memastikan dirinya bisa menemui Soraya secepat mungkin.

Tepat setelah itu, seorang pegawai hotel yang tampaknya bukan orang sembarangan datang menghampirinya. Ia menjemput Alexander secara pribadi dan kemudian mengantarnya hingga ke depan kamar Soraya.

Barang-barang Alexander dibawa menuju presidential suite, sementara dirinya memilih langsung pergi ke kamar Soraya.

Ketika melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul dua lewat sedikit, Alexander teringat pada waktu yang hampir sama saat mereka jatuh ke dalam kesalahan malam itu.

Hanya saja, kali ini mereka akan bertemu dalam keadaan sadar.

“Tidak apa-apa, Alexander. Kau memang harus melakukan ini.”

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya ia merasa cukup siap. Alexander mengangkat tangannya dan menekan layar digital di dinding yang berfungsi sebagai bel kamar.

Di dalam kamar, Soraya yang sedang mengatur pakaian merasa terganggu ketika bel berbunyi pada jam seperti ini. Punggungnya kembali terasa sakit sehingga ia bahkan belum selesai membereskan barang-barangnya.

Awalnya, ia mengira Gavin atau salah satu anggota timnya datang untuk berbicara. Mengingat pukul setengah lima pagi mereka sudah harus berada di bandara, mungkin ada sesuatu yang perlu dibicarakan sebelum berangkat.

Dengan kedua tangan menopang punggungnya, Soraya berjalan malas menuju pintu dan membukanya.

Hingga—

DEG.

“Kau?”

Soraya kehilangan kata-kata begitu melihat wajah yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan akan muncul di hadapannya.

Sementara itu, Alexander memperhatikan penampilan Soraya dari ujung kepala hingga kaki.

Gadis itu masih mengenakan set piyama satin hijau dengan celana pendek. Kakinya bahkan telanjang tanpa alas.

Sekilas, kedatangan seorang pria ke kamar perempuan pada tengah malam dengan keadaan seperti itu memang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Namun, Alexander sama sekali tidak memikirkan hal tersebut.

Satu-satunya yang memenuhi pikirannya kini adalah kekhawatiran.

Soraya tampak tidak pandai menjaga dirinya sendiri. Wajahnya pucat, rambutnya berantakan, dan ekspresinya terlihat begitu lelah hingga membuat Alexander merasa tidak nyaman.

Begitu tubuh Soraya tiba-tiba kehilangan keseimbangan, Alexander bergerak sigap.

Ia langsung melingkarkan lengannya di pinggang ramping Soraya.

Soraya, yang sudah menahan rasa sakit sekaligus dikejutkan oleh kehadiran Alexander, menjadi lunglai di atas tumitnya dan hampir terjatuh.

“Ka-kau...”

Gumaman pelan itu bahkan belum selesai ketika Alexander sudah mengangkat tubuhnya dalam gendongan ala bridal style.

Dengan hati-hati, ia membawa Soraya menuju tempat tidur dan membaringkannya di sana. Alexander kemudian menyusun beberapa bantal agar tubuh Soraya berada dalam posisi yang lebih nyaman sebelum perlahan melepaskan kepalanya dari lengannya.

“Tunggu.”

Di bawah naluri seorang pria dewasa yang sedang mengkhawatirkan seseorang, Alexander segera mengambil air hangat yang kebetulan telah disediakan pihak hotel. Ia membawanya kembali dan menyodorkannya kepada Soraya.

“Aku bisa sendiri.”

“Tidak. Aku yang akan memegangnya.”

Melihat keteguhan Alexander, Soraya akhirnya pasrah. Ia membiarkan pria itu memegang gelas sementara dirinya meminum air tersebut perlahan.

Setelah selesai minum, suasana kembali canggung.

Soraya segera mengatur posisi tubuhnya agar duduk bersandar pada beberapa bantal. Ia tidak sepenuhnya menghindari Alexander, tetapi tetap merasa gugup karena pria itu tiba-tiba berada di dalam kamarnya pada tengah malam.

Meski begitu, sikap Alexander yang tetap tenang dan gentleman membuat Soraya memberanikan diri bertanya.

“Eh, siapa Paman...”

Soraya terdiam. Ia bahkan lupa nama pria di hadapannya.

“Alexander.”

“Um... iya. Kak Alexander, bagaimana kau bisa ada di sini? Bahkan sampai berada di depan pintu kamarku pada jam seperti ini? Maksudku, tidak mungkin ini kebetulan, kan?”

Alexander tidak menghindari tatapannya. Namun, ia justru menundukkan kepala, seolah meminta maaf.

Sempat terlintas dalam pikirannya untuk berpura-pura bahwa pertemuan ini hanyalah sebuah kebetulan. Namun, Alexander tidak sanggup membuat kebohongan lain.

Lagi pula, tidak ada kebetulan yang bisa menjelaskan kedatangannya sedetail ini.

“Maaf. Aku memang sengaja datang menemuimu.”

Soraya menahan napas.

Jawaban itu terdengar seperti sesuatu yang biasa ia temukan dalam film-film.

Tanpa banyak basa-basi, Alexander mengeluarkan ponselnya dan membuka sebuah dokumen. Ia kemudian mengangkat layar tersebut ke hadapan Soraya.

Menurutnya, menunjukkan bukti akan jauh lebih efektif daripada menjelaskan semuanya dengan kata-kata.

Namun, begitu Soraya melihat hasil pemeriksaan kehamilannya terpampang di layar ponsel Alexander, matanya langsung membulat.

“Ka-kau...”

Kedua tangan Soraya refleks menutup mulutnya. Ia menatap Alexander dengan wajah penuh ketakutan.

“Dengar, jangan panik seperti itu.”

Alexander segera coba menenangkan Soraya, mengingat kondisi wanita muda itu yang sedang sangat sensitif.

Namun, Soraya justru menarik tubuhnya menjauh secara naluriah.

Pria itu langsung mengalah. Ia berdiri dan mengangkat kedua tangannya, menunjukkan bahwa dirinya tidak akan melakukan apa pun.

“Dengar. Jangan banyak bergerak. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku bisa menjelaskan semuanya. Aku bahkan bersedia berbicara dari sini kalau kamu tidak merasa aman.”

Namun, Alexander tidak tahu apa yang sedang memenuhi kepala Soraya.

Dalam pikirannya, pria itu datang untuk melenyapkannya karena mengetahui bahwa ia mengandung anaknya. Seolah-olah mereka sedang berada dalam film mafia.

Wajah Soraya semakin pucat.

Ia bahkan mulai berpikir bagaimana caranya menyelamatkan dirinya sendiri.

“Jangan bermimpi untuk menyakitiku! Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada bayiku!”

“Soraya, tidak!”

Alexander memanggil namanya dengan panik. Di satu sisi, ia hampir ingin tertawa karena melihat betapa defensifnya Soraya. Namun, ia segera menahan diri.

Sayangnya, ekspresi Alexander yang tampak seperti sedang menahan tawa justru membuat imajinasi Soraya semakin liar.

Dalam pikirannya, para penjahat memang selalu tertawa ketika korbannya sudah terpojok.

“Sialan kau! Jangan kira aku takut!”

“Soraya...”

“Jangan mendekatiku!”

Soraya turun dari tempat tidur dan semakin mundur, menjaga jarak di antara mereka.

Melihat wanita muda di hadapannya berubah dari begitu tenang menjadi ketakutan dan defensif, Alexander benar-benar panik.

Tanpa banyak berpikir, lututnya perlahan menekuk hingga akhirnya ia berlutut di hadapan Soraya.

Kedua tangannya terangkat, menunjukkan bahwa ia menyerah.

“Soraya, dengarkan aku...” Suaranya terdengar sungguh-sungguh. “Aku minta maaf. Aku sudah membuatmu takut. Tapi aku sama sekali tidak berniat menyakitimu. Tidak sedikit pun. Jadi, tolong dengarkan aku.”

1
Isaidno
Tolong like atau tinggalkan komentar ya, kalau suka 🥀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!