NovelToon NovelToon
Saat Mantan Gendutku Berubah Tampan

Saat Mantan Gendutku Berubah Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:167.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yutantia 10

Setelah 8 tahun, Dara bertemu lagi dengan Luth, mantan pacarnya saat SMA yang dulu koma karenanya. Bukan hanya fisik sang mantan yang berubah jadi tampan, tapi ternyata, Luth juga tak mengenalinya.
"Kamu benar-benar tidak mengenaliku?" Dara menatap tak percaya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Luth terlihat bingung.
Dara semakin merasa bersalah, karena kemungkinan Luth hilang ingatan karena benturan keras yang sampai membuat dia koma 8 tahun lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12

Waktu berlalu lebih cepat dari yang Dara bayangkan. Tak terasa, sudah satu bulan ia bekerja sebagai sekretaris Luth. Sejauh ini, Luth selalu memperlakukannya dengan baik, sangat baik bahkan.

Luth tak pernah memarahinya di depan orang yang akan membuat ia malu. Tak pernah juga membentak jika dia melakukan kesalahan. Laki-laki itu hanya akan menegurnya pelan, bilang untuk lebih teliti dan jangan sampai diulang lagi.

Saat meeting di luar, tak jarang Luth memberikan perhatian kecil yang membuat Dara kadang sedikit baper. Seperti saat ini, ketika mereka berada di sebuah restoran, menunggu klien untuk meeting, Luth menarikkan kursi untuknya.

"Makasih" Dara tersenyum lalu duduk.

"Kamu terlalu sering bilang makasih, Ra. Kalau hanya berdua dan di luar seperti ini, santai aja, kita teman." Luth menarik kursi di samping Dara, lalu duduk disana.

"Silahkan." Seorang pelayan meletakkan dua buku menu ke atas meja.

Masing-masing, Dara dan Luth, mengambil satu buku lalu membacanya.

"Kami masih menunggu seseorang, mungkin pesen minum dulu aja," ujar Luth.

"Iya Pak, tidak apa-apa."

Luth menoleh ke arah Dara yang masih sibuk membaca menu.

"Mau pesan apa, Ra? Lemon squash?"

Dara reflek menoleh ke arah Luth. Darimana laki-laki itu tahu minuman kesukaannya saat masih SMA dulu.

"Kamu suka lemon squash kan?" tanya Luth.

"Da, dari mana kamu tahu?"

Dara tampak gelisah, ia merasa tak pernah bilang pada Luth jika suka minuman itu. Mungkinkah Luth sudah ingat semuanya, atau sebagian ingatannya mulai kembali. Bagaimana jika Luth akhirnya ingat kejadian itu, lalu membencinya?

"Bukannya kamu sering pesan itu ya?"

"Enggak, gak pernah." Dara merasa tak pernah sekali pun membeli minuman itu saat menjadi sekretaris Luth.

"Gak pernah ya? Tapi aku ngerasa kamu seperti sering minum minuman itu. Apa aku salah? Tapi..." Luth mencoba mengingat. Tiba-tiba, ia mengerang pelan sambil memegangi kepala.

"Pak, anda kenapa?' Dara panik melihat Luth yang terlihat kesakitan. "Pak, anda baik-baik saja?"

Selain Dara, pelayan yang ada disana juga ikut panik.

"Kepala saya sakit sekali." Sambil memegangi kepala, Luth terus mendesis.

"Apa kita perlu ke rumah sakit?" Dara makin cemas.

"Tidak, tidak usah."

"Tapi Anda terlihat sangat kesakitan."

"Air mineral dua." Ujar Luth pada pelayan yang masih berdiri di dekat mejanya.

"Baik, tunggu sebentar." Pelayan itu buru-buru mengambilkan pesanan Luth.

"Pak." Dara memegangi bahu Luth. "Yakin, tak perlu ke rumah sakit?"

Luth menggeleng. "Saya biasa seperti ini sejak kecelakaan itu, nanti juga hilang sendiri."

Dara terdiam, tubuhnya mendadak lemas, dan tangannya turun begitu saja dari bahu Luth. Tanganya beralih mencengkeram pinggiran kursi, menahan rasa sesak di dada. Gara-gara dia, Luth harus terbiasa menahan sakit seperti ini.

Pelayan datang dengan dua botol air mineral ukuran sedang, lalu meninggalkan meja.

Luth membuka tas kerjanya, mengambil sebuah botol kecil, lalu mengeluarkan sebuah pil dari sana. Ia mengambil air mineral, menggunakannya untuk membantu menelan obat. Hal itu, tak lepas dari perhatian Dara.

"Itu... obat apa?" tanya Dara.

Luth memasukkan kembali botol obat ke dalam tas.

"Obat pereda sakit kepala." Luth tersenyum, meski masih terlihat sedikit menahan rasa sakit. "Sejak bangun dari koma, saya harus selalu konsumsi obat ini untuk meredakan sakit kepala yang sering datang tiba-tiba saat saya mencoba mengingat sesuatu."

Dara membuang pandangan ke arah lain, menyeka air mata yang turun tanpa bisa ditahan. Luth seperti ini karenanya. Rasa bersalahnya semakin menderanya.

"Maaf," gumamnya pelan.

"Maaf?" Luth mengernyit. "Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak salah kok. Kamu gak minta aku mengingat tadi, tapi aku sendiri yang berusaha untuk mengingat. Jadi tak usah merasa bersalah."

Bukan karena itu Luth, tapi karena akulah penyebab kamu koma dan harus menanggung sakit kepala yang terus datang.

"Udah mendingan kok sekarang, tidak usah merasa bersalah." Luth menghabiskan sisa air mineralnya, lalu menyandarkan punggung di kursi. Cukup lama ia hanya diam sambil memejamkan mata.

Dara menatap Luth dengan dada yang dipenuhi rasa bersalah. Kalau saja hari itu dia tak janjian dengan Diego dan memanfaatkan Luth untuk membawanya ke taman, semua tidak akan berakhir seperti ini. Ia sungguh menyesal, tapi waktu tak bisa diulang.

Luth membuka mata perlahan, dan menegakkan badan kembali.

"Sudah enakan?"

"Lumayan." Luth tersenyum.

"Maaf."

Luth membuang nafas kasar. "Kamu kenapa sih, hobi banget minta maaf. Sudah saya bilang, bukan salah kamu. Oh iya, aku penasaran sekali dengan masa SMA ku dulu. Bisa kamu cerita sedikit."

"Cerita? Tentang apa?"

"Apapun. Apapun tentang aku. Apa dulu aku punya banyak temen? Apa aku pemalu, periang, atau malah tukang bikin onar?" Ia terkekeh. "Aku pengen tahu, seperti apa masa remajaku."

Dara gugup, bingung harus menceritakan bagian yang mana dari masa SMA mereka. Ia takut, saat ia bercerita, malah akan memancing Luth berusaha mengingat masa itu. Bagaimana jika Luth kembali sakit kepala?

"Kamu..."

"Aku gimana, Ra?" Luth tampak tak sabar mendengar cerita Dara.

"Kamu baik, kamu suka menolong, dan kamu termasuk siswa berprestasi."

"Kalau itu sih aku aku juga tahu, Ra. Ada beberapa piala dan piagam penghargaan di kamarku. Maksudku, yang lebih spesifik, seperti...apa dulu aku pernah menyukai seseorang?"

Dara meremat rok, gugup karena pertanyaan itu.

"E...." Luth tersenyum malu-malu sambil mengusap tengkuk. "Ra, boleh aku tanya?"

"Apa?"

"Apa dulu, aku suka sama kamu?"

"Hah!" Dara dibuat kaget dengan pertanyaan itu. Jangan-jangan, Luth memang sudah mulai ingat sedikit demi sedikit. Pertanyaannya dari tadi menjurus terus.

"Jangan-jangan iya ya?" Luth menutup wajah dengan telapak tangan, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu. "Pantas saja, ada foto kamu di laci mejaku. Ternyata dulu aku suka sama kamu ya?"

"E, enggak kok."

"Enggak?" Luth mengernyit, beberapa saat kemudian, ia tersenyum. "Sepertinya aku cuma diam-diam suka deh, makanya kamu gak tahu. Diam-diam aku jadi pengagum rahasia kamu, sampai nyimpen foto kamu di laci nakas. Mungkin dulu sebelum tidur, aku selalu natap foto kamu."

Dara tertunduk diam. Yang diucapkan Luth benar, dulu laki-laki itu pernah mengatakan soal itu saat telepon malam-malam.

"Ra, kamu tahu gak, aku lagi telepon kamu sambil ngapain?" tanya Luth

"Ngapain?"

"Sambil natap foto kamu." Luth terkekeh. "Setiap mau tidur, aku pasti menatap foto kamu dulu. Video call yuk."

"Ogah, aku ngantuk."

"Bentar aja, Ra. Please."

"Aku ngantuk, dengar gak sih." Dara buru-buru menutup telepon.

"Ra, Dara!" Luth menepuk pelan bahu Dara. "Ngelamunin apa sih?"

"E, enggak kok." Dara mengambil air mineral miliknya, lalu meminumnya. Ia berusaha untuk kembali terlihat biasa.

Luth tersenyum menatap Dara. "Untungnya, dulu aku gak nyatain cinta ke kamu, Ra. Kalau iya, sudah pasti aku kamu tolak. Iya gak?" Ia terkekeh pelan. "Sepertinya dulu aku cukup sadar diri dengan penampilanku yang kurang menarik." Pandangan Luth tiba-tiba tertuju pada gelang di pergelangan tangan kiri Dara. "Gelang kamu bagus."

Dara reflek menyentuh gelangnya.

"Dari pacar kamu ya?"

"Iya." Dara mengangguk.

"Jadi kamu sudah punya pacar, Ra? Kirain kamu jomblo."

"Bu, bukan pacar. Mantan pacar maksudku. Kami sudah gak pacaran lagi."

"Udah mantan, tapi gelangnya masih kamu pakai. Kayaknya mantan terindah. Benar gak?"

Dara menatap gelang hadiah jadiannya dengan Luth. "Bisa dibilang begitu." Ingatan kembali ke masa itu.

"Apa kamu masih mencintainya sampai sekarang?"

Dara terdiam cukup lama, bingung harus menjawab apa. "Iya, aku masih mencintainya."

Senyum Luth langsung merekah. Bukan senyum bahagia, melainkan sebuah senyum sinis.

Pembohong kamu Ra, kamu bahkan tak pernah mencintaiku sama sekali. Kamu hanya memanfaatku saja.

Di bawah meja, kedua telapak tangan Luth mengepal kuat. Ia tiba-tiba punya ide yang bakalan membuat Dara syok.

"E....kamu kenal Diego?"

Benar dugaan Luth, mulut Dara seketika terbuka seperti orang syok. Wajahnya juga terlihat pias. Ia yakin, saat ini jantung Dara berdegup kencang karena nama itu.

"Diego, siapa dia? Aku beberapa kali teringat nama itu?" tanya Luth sekali lagi.

"Dia..." Dara menoleh ke arah lain, menghindari tatapan Luth. "Dia..."

"Pak Luth."

Panggilan seseorang membuat Dara dan Luth menoleh bersama.

"Maaf terlambat, jalanannya macet." Pak Devan menyalami Luth dan Dara bergantian.

1
Hani Ekawati
Semudah itukah?😂
Hani Ekawati
Ternyata sudah 2x Dara mengalami pelecehan setelah Luth melancarkan balas dendam pada Dara. Yang pertama di lift, yang dada nya dipegang karyawan laki laki diperusahaan Luth dan sekarang yang kedua oleh Diego. Untung Dara engga gila 😂
Hani Ekawati
Karena rencana balas dendam yang kamu rencanakan tidak sesuai, malah ada kejadian diluar kendali kamu yang ternyata itu karena kemunculan Diego makanya kamu ada rasa iba sama Dara.
Hani Ekawati
Selalu begitu, membuat kebohongan baru agar bisa menutupi kebohongan lama.
Felycia Fernandez
Yakin??? gimana dengan ortu mu?? keluarga mu???
dyah EkaPratiwi
harus di proses Ra diegonya biar kapok takut dia ada foto n video kamu
Aprisya
yeeeeeessss
jumirah slavina
udah tua wweeii nikahin donkkkk
jumirah slavina
pprreeettttt🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Felycia Fernandez: laaaah samaan komen kita kk 🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Ummah Intan
Alhamdulillah..semoga Luth benar² tlh melupakan niat balas dendamnya ke Dara
jumirah slavina
bohong dia Dar...
dia gak pernah amnesia...
Felycia Fernandez: Ntah gimana ntar reaksi Ucup dan Isani liat anaknya malah balikan ma cewe yang buat dia koma
total 2 replies
Eli herlina
takutnya si diego di suruh sam si luth buat balas dendam lewat foto sama video nya si dara
SasSya
Alkhamdulilah🤲
Abinaya Albab
setelah mommy Daddy nya kakak²nya skg giliran Luth ,pasti mengurus jiwa raga & air mata ini karena Luth 11 12 dg Daddy nya 🙈
Abinaya Albab
nahhhhh kn bener Luth jadi kejam kaya' Daddy Yusuf sama Sani dlu 🙈
Sugiharti Rusli
nah kan akhirnya setelah kejadian kemaren si Dara baru notice kalo si Luth tahu kejadian dulu saat dia dihajar si Diego hingga koma, berarti si Luth sudah ga amnesia dia yah,,,
Sastri Dalila
/Joyful//Joyful//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Sugiharti Rusli
dan sayangnya si Dara ga berpikir saat kemaren membersihkan seharusnya dia visum dulu yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi saat Luth mau komplain ke manajemen hotel ternyata cctv depan kamar Dara rusak, entah betulan atau alasan mereka saja
Sastri Dalila
😅🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!