Bagi Ayara, hidup hanya tentang bekerja tanpa pernah mengenal cinta. Namun, saat ia mendaki gunung bersama teman-temannya semuanya berubah. Sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang pria di jalur pendakian menjadi awal baru baginya untuk mengenal rasa jatuh cinta.
Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada Ayara? Siapa pria yang ditemui Ayara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cepat Sekali?
Linda pun pergi dan meninggalkan Ayara sendirian di pelataran parkir yang kian sepi, lalu Ayara pun melaju membelah jalanan malam menuju ATM terdekat.
Langkah kaki Ayara terasa jauh lebih ringan saat melangkah masuk ke dalam bilik kaca ATM di pinggir jalan raya. Dengan hati-hati, ia menarik seluruh uang tunai sebesar lima belas juta tersebut secara bertahap, lembar demi lembar uang kertas merah seratus ribu itu dimasukkan dengan rapi ke dalam tasnya.
Setelah itu, Ayara pun langsung pulang. Sesampainya di rumah, suasana rumah sudah gelap, hanya lampu teras bohlam kuning yang menyinari dinding bata setengah plester itu. Dengan langkah perlahan agar tidak membangunkan ibu dan adiknya yang mungkin sudah lelap, Ayara membuka pintu pelan-pelan.
Namun, begitu pintu terbuka, Ayara tertegun melihat Ibu Yati yang masih duduk menunggunya di atas tikar pandan sambil mengupas kacang milik tetangga, wajah ibu Yati tampak letih dengan rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
"Belum tidur, Bu?" sapa Ayara lembut seraya mendekat dan mencium tangan sang ibu.
"Ibu ndak bisa tidur nyenyak, Nduk... kepikiran utang kita sama Bu Marni," sahut Ibu Yati pelan, suaranya bergetar menahan kesedihan.
Ayara tersenyum hangat, lalu duduk bersimpuh di depan ibunya. Dengan perlahan, ia merogoh tas kainnya dan mengeluarkan uang yang ia ambil tadi, lalu meletakkannya tepat di atas pangkuan sang ibu.
"Ibu nggak usah kepikiran lagi, ya. Ini... uang lima belas juta untuk melunasi seluruh utang kita ke Bu Marni," ucap Ayara penuh kelembutan.
Ibu Yati membelalakkan mata, tangannya yang keriput menepuk pelan uang itu seolah tak percaya. "Gusti Allah... Ra! Kamu dapet uang dari mana sebanyak ini, Nduk? Kamu nggak aneh-aneh, kan?" tanya Ibu Yati panik, matanya menatap tajam mencari kejujuran pada manik mata putrinya.
"Enggak, Bu! Ayara nggak akan pernah melakukan hal aneh-aneh. Tadi pas kumpul, Ayara monta bantuan Linda. Alhamdulillah Linda minjemin uang ini tanpa bunga dan dia bolehin Ayara bayar mencicil pelan-pelan sesuai kemampuan Ayara," terang Ayara menenangkan.
Seketika tumpah air mata haru dari kelopak mata Ibu Yati, wanita paruh baya itu langsung memeluk erat putri sulungnya dan mengusap punggung Ayara sembari menengadahkan doa syukur yang riuh ke udara.
"Bilangin makasih Ibu ke Linda ya, Ra. Ibu nggak tahu harus gimana lagi," ucap Ibu Yati.
"Iya, Bu. Ayara tadi juga udah bilang makasih ke Linda... oh ya, Ayara juga mau izin buat ikut teman-teman mendaki ke Argopuro, Bu," izin Ayara.
"Apa nggak capek kalau mendaki, Nduk?" tanya Ibu Yati ragu untuk mengizinkannya.
"Pasti capek, Bu. Tapi, salah satu syarat Linda mau minjemin uang ini, aku harus ikut mendaki, Bu. Makanya, aku minta izin Ibu dulu," ucap Ayara.
"Yasudah, Ibu izinkan. Kamu jaga diri baik-baik, jangan aneh-aneh," ucap Ibu Yati.
"Iya, Bu. Makasih ya, Bu," ucap Ayara.
"Iya, sekarang udah malam. Kamu cepat istirahat, pasti kamu capek banget," ucap Ibu Yati dan diangguki Ayara.
.
Keesokan harinya, sebelum Ayara berangkat kerja, ia dan Ibu Yati melangkah bersama menuju rumah Bu Marni yang terletak tiga rumah dari rumah mereka.
Bu Marni yang saat itu sedang menyapu halaman terkejut melihat kedatangan ibu dan anak tersebut pagi-pagi sekali. "Eh, Bu Yati, Ayara... Ada apa?" tanya Bu Marni ramah, meski raut cemas sisa kemarin masih membayang tipis.
"Bu Marni, maaf mengganggu waktunya sebentar. Kami mau menyerahkan ini...," ucap Ayara menyodorkan amplop cokelat tebal berisi uang tunai.
"Ini adalah pelunasan utang kami sebesar lima belas juta. Tolong dihitung dulu ya, Bu," tambah Ibu Yati.
Bu Marni terpana, matanya mengerjap tak percaya menerima amplop tebal tersebut. "Loh... Ayara, Bu Yati... Cepat sekali? Baru kemarin saya bilangnya...,"
"Bu Marni sudah sangat baik membantu keluarga kami selama ini, kami sangat berterima kasih atas kebaikan Bu Marni. Sekarang anak Bu Marni butuh biaya masuk kuliah, jadi ini sudah menjadi kewajiban kami untuk mengembalikannya tepat waktu," ucap Ayara dengan penuh rasa hormat.
Dengan mata berkaca-kaca, Bu Marni memeluk Ibu Yati dan Ayara bergantian. "Terima kasih banyak ya, Ra, Bu Yati... Kalian bener-bener orang yang jujur dan bertanggung jawab, semoga rezeki kalian dilipatgandakan oleh Allah."
"Amin, Bu. Kalau begitu, saya dan Ibu pamit dulu ya," pamit Ayara.
"Iya, nanti kalau kalian butuh bantuan, bilang ya. Insyaallah, kalau saya bisa bantu pasti saya bakal bantu," ucap Bu Marni.
"Iya, Bu," jawab Ayara.
Setelah itu, Ayara pun mengendarai sepeda motornya menuju tempatnya bekerja. Sesampainya di gerbang pabrik, Ayara memarkirkan motornya di tempat biasa dan merapikan bajunya, lalu melangkah masuk seperti biasanya.
Namun, suasana di dalam ruang produksi pagi ini terasa sedikit berbeda dari biasanya. Begitu Ayara berjalan melewati koridor menuju lokernya, ia langsung merasakan beberapa pasang mata tertuju padanya. Bisik-bisik pelan mendadak memenuhi sudut ruangan, berhamburan di antara deru mesin jahit yang mulai dinyalakan.
"Eh, itu kan si Ayara...,"
"Iya, bener. Kemarin katanya dia nyari pinjaman uang sampai jutaan, ya?"
"Wah, berani juga ya dia minjem uang di pabrik?"
Ayara menghentikan langkahnya sejenak, mengerjap bingung mendengar potongan-potongan kalimat yang terlontar dari para rekan kerjanya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat, ia tidak menyangka kabar tentang usahanya mencari pinjaman kemarin bisa menyebar begitu cepat ke seluruh penjuru pabrik.
Dengan menarik napas dalam-dalam, Ayara mencoba mengabaikan bisikan-bisikan tersebut dan tetap berjalan menuju mejanya. Namun, tatapan melihat kearah Mbak Ningsih yang melihat Ayara tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Dengan berani, Ayara menghampiri Mbak Ningsih ingin meminta penjelasan. "Mbak Ningsih yang sebarin soal aku pinjam uang ke Mbak ya?" tanya Ayara tanpa basa basi.
"Nggak tuh, mereka aja kemarin denger omongan kamu pas minjem uang," jawab Mbak Ningsih.
"Oalah, aku kirain Mbak Ningsih yang bilang. Untung aja Mbak Ningsih nggak jadi minjemin aku uang ya, kalau sampai minjemin aku uang, bisa-bisa langsung jadi artis aku," ucap Ayara.
Mbak Ningsih yang mendengar hal itu pun merasa panas, ia sengaja memberitahu orang-orang tentang Ayara yang meminjam uang padanya. Namun, Ayara justru bersikap biasa saja, bahkan menyindirnya.
Ayara bukannya tidak tahu, tapi ia tidak ingin memperpanjang semuanya. Mbak Ningsih salah satu karyawan senior dan banyak temannya, jika Ayara mencari masalah, bisa-bisa Ayara akan dimusuhi banyak orang. Ayara tidak mau itu terjadi, karena Ayara hanya ingin bekerja dan mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Meski bisik-bisik di sudut pabrik sempat membuat telinganya panas, Ayara memilih untuk tidak ambil pusing. Bagi Ayara, energi yang dimilikinya terlalu berharga jika harus dihabiskan untuk meladeni orang-orang yang suka ikut campur urusan orang lain dan kembali fokus pada pekerjaannya.
.
.
.
Bersambung.....
gimana menghadapi calon mertua yang ngeremehin kita