NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Kamar Cuci

Kardus pertama sudah berdiri di dekat pintu kamar ketika aku selesai menutup laptop.

Aku memandangnya beberapa detik. Kardus itu terisi pakaian yang biasa kugantung di lemari. Kemeja, celana panjang, kaus rumah, bahkan sandal yang kupakai di dalam rumah sudah dimasukkan ke kantong plastik.

Aku meletakkan laptop di meja.

Di layar, dokumen pekerjaan masih terbuka. Ada beberapa bagian yang belum selesai kutinjau, termasuk lampiran yang membutuhkan pemeriksaan sebelum diteruskan. Ada angka yang harus dipastikan, ada bagian hukum yang harus diperiksa, dan ada persetujuan yang tetap harus melewati jalurnya.

Aku menyimpan pekerjaan itu, lalu berdiri.

Lemari pakaian terbuka. Separuh isinya sudah kosong. Laci tempat aku menyimpan barang-barang pribadi juga dibiarkan terbuka, seolah seseorang ingin memastikan tidak ada satu pun benda milikku yang tertinggal.

Aku nggak perlu bertanya siapa yang melakukannya.

“Arkan.”

Suara Ibu Retno terdengar dari ruang tengah.

“Keluar sebentar.”

Aku menutup laptop, memastikan berkas pekerjaan tersimpan, lalu berjalan keluar kamar.

Ibu Retno berdiri di samping sofa. Laras duduk dengan ponsel di tangan. Di dekat sofa, dua kardus tambahan sudah disiapkan.

“Barang-barangmu sudah dikumpulkan,” kata Ibu Retno. “Tinggal kamu rapikan sendiri.”

Aku memandang kardus itu, lalu menatapnya.

“Kenapa harus dikarduskan?”

Ibu Retno mengangkat dagu. “Supaya rumah ini lebih rapi. Kamu sendiri tahu keadaan kalian sudah begini. Buat apa masih memenuhi kamar dengan barang-barang yang tidak diperlukan?”

Barang-barang yang tidak diperlukan.

Aku menatap kardus itu lagi. Kemeja yang kupakai ketika menemani Laras menghadiri acara kantor. Buku-buku yang kubaca saat menunggunya pulang. Barang-barang sederhana yang selama ini kusimpan tanpa pernah menganggapnya penting.

Sekarang, semuanya sudah dipindahkan tanpa sepengetahuanku.

“Aku belum meminta barang-barangku dipindahkan.”

“Memangnya harus menunggu kamu meminta?” Ibu Retno menyahut cepat. “Kamu dan Laras sedang dalam proses cerai. Lebih baik mulai membiasakan diri. Jangan terus bertingkah seolah tidak ada yang berubah.”

Aku melirik Laras.

Ia masih memegang ponselnya. Ibu jarinya bergerak sebentar sebelum akhirnya berhenti.

“Laras?”

Ia mengangkat wajah. “Apa?”

“Barang-barang ini kamu yang minta dipindahkan?”

Laras mengembuskan napas pendek. “Mama cuma ingin semuanya lebih tertata.”

“Itu bukan jawaban.”

“Arkan, jangan mulai lagi.” Suaranya terdengar lelah. “Kita sudah membicarakan perceraian. Aku pikir kamu bisa bersikap dewasa.”

Aku menatapnya tanpa menyela.

Sepuluh hari yang kuminta dulu bukan permintaan untuk mengubah keputusannya dengan paksa. Aku hanya ingin memastikan semuanya dijalani dengan kepala dingin. Aku tidak pernah menggunakan waktu itu untuk mengancam, apalagi memaksanya bertahan dalam perkawinan yang tidak lagi diinginkannya.

Namun, diamku rupanya ditafsirkan dengan cara lain.

Mereka menganggap aku tidak keberatan.

“Kalau memang kalian ingin aku membereskan barang-barangku, katakan saja,” ujarku. “Tidak perlu memindahkannya diam-diam.”

Ibu Retno mendengus.

“Diam-diam bagaimana? Ini rumah yang kamu tempati bersama Laras. Sekarang hubungan kalian sudah tidak jelas. Wajar kalau ada perubahan.”

Aku ingin mengatakan bahwa perubahan tidak harus dilakukan dengan memperlakukan seseorang seperti tamu yang terlambat pergi. Namun, aku tahu percakapan ini tidak akan membawa kami ke mana-mana.

Selama ini, setiap penjelasan selalu berakhir dengan penilaian yang sama. Aku dianggap mencari alasan. Jika aku memilih tidak menjawab, mereka menganggapku tidak punya jawaban.

“Aku mengerti,” kataku.

Ibu Retno tampak sedikit terkejut. Mungkin ia mengira aku akan membantah lebih panjang.

“Bagus kalau kamu mengerti.” Ia menunjuk lorong di sebelah dapur. “Untuk sementara, kamu bisa tidur di ruang cuci. Kasurnya bisa dipindahkan ke sana. Kamar ini nanti dipakai Laras.”

Aku menoleh ke arah lorong.

Ruang cuci berada di bagian belakang rumah. Di dalamnya ada mesin cuci, rak deterjen, dan tempat menyimpan perlengkapan kebersihan. Ruangan itu tidak dirancang untuk tidur.

Aku sudah sering masuk ke sana untuk mencuci pakaian sendiri ketika Laras terlalu sibuk. Aku tahu tempat itu sempit, dan udara di dalamnya mudah pengap ketika jendela tertutup.

Sekarang, ruangan itu disiapkan sebagai tempat tidurku.

“Kenapa harus di ruang cuci?” tanyaku.

“Karena kamar ini akan dipakai Laras,” jawab Ibu Retno. “Kamu tidak mungkin terus tinggal di kamar yang sama setelah semua ini.”

“Masih ada kamar lain.”

“Yang lain bukan untuk kamu.”

Aku memandangnya.

Kalimat itu keluar begitu mudah dari mulutnya. Tidak ada keraguan, tidak ada rasa tidak enak. Ia bahkan tidak merasa perlu memberikan alasan yang masuk akal.

Laras akhirnya meletakkan ponselnya.

“Arkan, tolong jangan memperpanjang masalah. Aku juga tidak nyaman dengan keadaan seperti ini.”

Aku mengalihkan pandangan kepadanya.

“Kamu tidak nyaman karena kita masih tinggal di rumah yang sama, atau karena aku belum pergi?”

Ia terdiam sebentar.

“Aku ingin semuanya berjalan baik-baik.”

“Begitu juga aku.”

“Kalau begitu, kenapa kamu selalu membuat semuanya terasa sulit?”

Aku memandangnya. Dulu, Laras pernah menungguku pulang hanya untuk menceritakan kejadian kecil di kantornya. Ia bisa menghabiskan waktu cukup lama membahas satu masalah, lalu meminta pendapatku sebelum mengambil keputusan.

Sekarang, keberadaanku di rumah sendiri dianggap sebagai sumber kesulitan.

“Aku tidak sedang mempersulitmu, Laras.”

“Lalu kenapa kamu masih bertahan?”

Aku bisa saja menjawab bahwa ada banyak urusan yang harus diselesaikan dengan benar sebelum seseorang meninggalkan rumah. Ada barang pribadi, dokumen, dan proses hukum yang tidak bisa diperlakukan seperti urusan sepele.

Namun, penjelasan panjang tidak akan mengubah cara mereka memandangku.

“Aku sedang membereskan urusanku,” jawabku.

Ibu Retno menyilangkan tangan.

“Kalau begitu, bereskan. Jangan membuat Laras menunggu.”

Aku mengangguk sekali, lalu kembali ke kamar.

Tidak ada yang menahanku.

Di ambang pintu, aku sempat mendengar Ibu Retno berbicara kepada Laras. Suaranya mengecil ketika aku menjauh, tetapi satu kalimat masih terdengar jelas.

“Kalau terlalu lama dibiarkan, nanti dia merasa masih punya hak di sini.”

Langkahku berhenti sebentar.

Masih punya hak.

Aku menunduk melihat lantai, lalu melanjutkan langkah tanpa menoleh.

Di dalam kamar, aku menarik kardus yang paling dekat dengan lemari. Pakaian-pakaian di dalamnya kususun kembali supaya tidak kusut. Aku memisahkan dokumen pribadi, menyimpan beberapa alat tulis, lalu memeriksa laci kecil di meja samping tempat tidur.

Ada jam tangan lama, beberapa kertas, dan sebuah buku catatan. Aku memasukkan barang-barang yang masih diperlukan ke dalam tas.

Bukan karena semuanya berharga mahal. Aku hanya tidak ingin meninggalkan sesuatu yang nantinya bisa dianggap tidak pernah menjadi milikku.

Aku menutup tas, lalu membawa kardus pertama menuju ruang cuci.

Lorong belakang terasa lebih dingin daripada bagian rumah yang lain. Lampu di dekat dapur menyinari lantai keramik, sementara suara televisi terdengar dari ruang tengah.

Di ruang cuci, kasur lipat tipis sudah disandarkan di dinding. Aku membentangkannya, lalu menekan permukaannya dengan telapak tangan. Ada bagian yang menonjol karena terlalu lama dilipat.

Aku merapikannya sebisaku.

Tidak ada yang istimewa dari pekerjaan itu. Aku pernah tidur di tempat yang lebih sederhana ketika masih muda. Aku juga pernah melewati malam panjang dengan tubuh lelah tanpa mengeluh kepada siapa pun.

Masalahnya bukan tempat tidur ini.

Masalahnya adalah cara mereka memutuskan bahwa aku pantas ditempatkan di sini.

Aku meletakkan kardus di sisi dinding, menjauh dari mesin cuci. Setelah memastikan dokumen pribadi berada di dalam tas, aku kembali ke kamar untuk mengambil laptop.

Laras berdiri di dekat pintu ketika aku masuk.

“Kamu benar-benar mau tidur di sana?” tanyanya.

Aku mengangkat laptop dari meja.

“Untuk sementara.”

Ia melihat kardus-kardus yang tersisa. “Kalau tidak nyaman, kamu bisa mencari tempat lain.”

Aku menatapnya beberapa saat.

“Memangnya kamu ingin aku pergi malam ini?”

Laras tidak langsung menjawab. Ia merapikan ujung lengan bajunya, lalu melihat ke arah lemari yang hampir kosong.

“Aku cuma ingin keadaan ini cepat selesai.”

Aku memahami keinginannya. Laras ingin perceraian berjalan tanpa keributan. Ia ingin kembali menjalani hidupnya tanpa harus menghadapi pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya.

Tetapi aku juga memiliki urusan yang harus kuselesaikan.

“Aku nggak akan menghalangi prosesnya,” kataku. “Aku hanya ingin semuanya diselesaikan dengan benar.”

Wajahnya berubah sedikit.

“Aku tidak pernah meminta kamu melakukan hal lain.”

“Baik.”

Aku tidak menambahkan apa-apa.

Ia menunggu beberapa detik, mungkin mengira aku akan melanjutkan. Ketika aku kembali memasukkan barang ke dalam tas, ia akhirnya menyingkir dari pintu.

Aku melewatinya tanpa menyentuh bahunya.

Dulu, jarak sedekat itu tidak pernah terasa asing. Sekarang, kami berdiri dalam satu kamar dan bahkan tidak tahu harus mengatakan apa kepada satu sama lain.

Aku membawa laptop ke ruang cuci, kemudian kembali sekali lagi untuk memastikan tidak ada dokumen yang tertinggal. Setelah itu, aku menutup pintu kamar.

Bukan membantingnya.

Aku hanya menutupnya sampai kait pintu berbunyi pelan.

Malam berjalan lambat.

Aku duduk di tepi kasur lipat, membuka laptop, lalu memeriksa kembali dokumen yang tadi kutinggalkan. Ada pesan dari Pak Surya yang belum sempat kubaca sepenuhnya. Aku melihat pemberitahuan itu, tetapi memilih tidak membukanya dahulu.

Pekerjaan perusahaan harus tetap berjalan. Berkas yang sedang kutangani memiliki tenggat, dan setiap keputusan harus melewati pemeriksaan yang diperlukan. Aku tidak akan membawa persoalan rumah tangga ke dalam proses kerja, apalagi menggunakan kewenanganku untuk melampiaskan sesuatu kepada orang lain.

Reno masih harus berhadapan dengan konsekuensi tindakannya sendiri. Pesan yang kulihat sebelumnya cukup untuk membuatku waspada, tetapi belum cukup untuk menuduh siapa pun tanpa pemeriksaan lebih lanjut.

Aku menyimpan ponsel di samping laptop.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan pada malam yang sama.

Aku menatap ruangan di sekelilingku. Kasur lipat itu memenuhi sebagian besar ruang kosong. Kardus-kardus berdiri di sampingnya, menyisakan sedikit tempat untuk bergerak.

Aku mengambil ponsel dan membuka daftar dokumen pribadi yang tersimpan di perangkat. Setelah memeriksa nama berkas, aku mencari salinan dokumen kepemilikan rumah.

Aku menemukannya di folder yang sudah lama kususun.

Berkas itu tidak kubuka untuk mencari alasan bertengkar. Aku hanya ingin memastikan salinannya tersimpan dengan baik, sebagaimana dokumen lain yang menyangkut urusan pribadiku.

Namun, ketika membaca nama yang tercantum di dalamnya, tanganku berhenti di atas papan ketik.

Arkana Pramudya.

Namaku sendiri.

Aku membaca baris itu sekali lagi, kemudian menutup dokumen dan bersandar pada dinding.

Selama ini, aku membiarkan banyak hal berjalan tanpa perlu menjelaskan semuanya. Aku tidak merasa harus menyebutkan apa yang kumiliki setiap kali seseorang meremehkanku. Aku juga tidak ingin mengubah rumah tangga menjadi perlombaan tentang siapa yang membayar lebih banyak.

Aku mengira sikap itu akan membuat kehidupan kami lebih tenang.

Ternyata, diam juga bisa menciptakan kesalahpahaman. Ketika tidak ada batas yang pernah ditegaskan, orang lain bisa melangkah semakin jauh dan menganggap tindakannya wajar.

Aku tidak perlu mengungkapkan seluruh hidupku kepada Laras malam ini. Aku tidak perlu memperlihatkan dokumen itu kepada Ibu Retno, lalu menunggu wajah mereka berubah.

Rumah ini bukan alat untuk membalas penghinaan. Kepemilikan bukan alasan untuk mempermalukan siapa pun, dan aku tidak berniat menggunakan dokumen itu sebagai senjata dalam pertengkaran.

Namun, aku juga tidak harus terus membiarkan diriku diperlakukan seolah tidak memiliki kedudukan apa pun.

Aku menyalin berkas itu ke penyimpanan pribadi, memastikan salinannya aman, lalu menutup laptop.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku benar-benar memikirkan kemungkinan meninggalkan rumah ini lebih cepat daripada yang kurencanakan.

Bukan karena aku tidak mampu bertahan di ruang cuci.

Bukan pula karena aku ingin membuat Laras merasa bersalah.

Aku hanya mulai memahami bahwa bertahan tanpa batas bukan selalu bentuk kesabaran. Ketika seseorang terus mengalah, orang lain bisa menganggapnya sebagai izin untuk melangkah lebih jauh.

Aku mematikan lampu utama, menyisakan cahaya dari lampu lorong.

Kardus-kardus itu masih berdiri di samping kasur. Barang-barangku tersusun di dalamnya, menunggu saat yang tepat untuk dipindahkan. Aku mengambil satu kemeja dari tumpukan, melipatnya kembali, lalu meletakkannya di atas tas.

Besok, aku akan menentukan langkah berikutnya dengan kepala dingin.

Aku tidak akan membuat keputusan hanya karena tersinggung. Aku juga tidak akan membiarkan persoalan rumah tangga mengacaukan tanggung jawab yang masih harus kuselesaikan.

Namun, ada satu hal yang malam ini tidak lagi bisa kuabaikan.

Dokumen kepemilikan rumah itu tersimpan atas namaku.

Dan selama ini, aku membiarkan semua orang bertindak seolah-olah aku tidak punya hak untuk menentukan batas di rumah sendiri.

Aku memandang pintu ruang cuci yang tertutup.

Mereka boleh menganggapku tidak punya apa-apa. Mereka boleh menyimpulkan bahwa diamku berarti menyerah.

Tetapi mulai malam ini, aku tidak akan lagi menyamakan kesabaran dengan membiarkan diriku diinjak.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!