Blurb!
Tujuh tahun menikah, tapi belum dikaruniai anak? Siap-siap telinga panas mendengar julidan mertua!
Nisa dan Dimas harus bertahan dari teror Bu Ratna, mertua sosialita gengsian yang menghalalkan segala cara absurd, demi menimang cucu. Mulai dari minum jus delima pencahar, hingga tidur di kasur giok penyiksa raga. Sanggupkah Nisa bertahan dibawah tekanan mertuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 07
_____🌺
Nisa protes, sambil membawa kotak beludru merah berisi koleksi kalung paling besar milik Mama mertuanya itu.
"Heh! Kamu itu dibilangin mertua ngejawab terus ya dari tadi pagi! Ini tuh namanya strategi perang mental, Nis. Kamu pikir Bu RW yang sombongnya selangit itu bakal ciut nyalinya kalau kita keliling kompleks cuma pakai daster katun biasa? Nggak bakal!" balas sang mertua.
Ia langsung menyambar kalung emas sebesar rantai pagar dari tangan Nisa dan langsung mengalungkannya ke lehernya sendiri.
"Tapi ini berat loh, Ma. Leher Nisa rasanya pegel banget dipakein kalung segede gaban ini," keluh Nisa.
Menantu itu memegang lehernya sendiri yang sudah dihiasi emas kuning berkilau, yang menyilaukan mata.
"Aduh, kamu ini umurnya aja yang masih muda, tapi tulang kamu rapuh banget kayak kerupuk seblak bantat! Pakai aja udah, jangan banyak protes terus! Ingat pesan Mama tadi pagi, kamu nanti jalannya harus tegap. Jangan bungkuk kayak orang mikirin utang pinjaman online. Biar semua tetangga tukang gosip itu lihat kalau menantu nyonya Ratna itu hidupnya makmur sentosa, bahagia bergelimang harta, bukannya menderita tiap hari nangis di pojokan gara-gara dibilang mandul!" cerocos sang Mama mertua panjang lebar sambil memoles lipstik merah menyala ke bibirnya.
"Iya, Ma. Nisa ngerti. Nisa bakal jalan tegap nanti. Tapi ini cincinnya beneran harus Nisa pakai di lima jari sebelah kanan semua? Kan Nisa yang tugasnya pegang tumpukan brosur, Ma. Nanti kalau brosurnya pada jatuh gimana coba karena Nisa susah megang-nya?"
Nisa memperlihatkan jari-jarinya yang sudah berat oleh cincin berlian dan emas.
"Pakai semuanya! Jangan ada yang dicopot satu pun! Kalau perlu jempol kaki kamu sekalian Mama pake-in cincin biar tambah silau matanya orang-orang kompleks ini! Biar mereka sadar, walaupun kamu belum hamil-hamil juga selama tujuh tahun, tapi harta kamu jauh lebih banyak daripada beras di rumah mereka!"
Nisa hanya bisa menarik napas panjang. Berdebat dengan bu Ratna di saat wanita itu sedang mode siap tempur adalah perbuatan yang sangat sia-sia.
_____🌺
Akhirnya, tepat pukul setengah lima sore, dua wanita beda generasi itu melangkah keluar dari pagar rumah mewah mereka bagaikan dua artis ibu kota yang mau berjalan di atas karpet merah.
Di pos satpam kompleks perumahan, Pak Jaja yang sedang asyik ngopi sampai tersedak melihat penampilan majikan dan menantu tersebut.
"Uhukkk! Eh, Bu Ratna, Mba Nisa. Tumben sore-sore jalan kaki keluar rumah. Mau kondangan ke mana, Bu? Kok bajunya meriah banget kayak mau nanggap dangdut keliling?" sapa Pak Jaja basa-basi sambil mengelap mulutnya yang basah terkena cipratan kopi.
"Kondangan matamu picek, Pak Jaja! Ini tuh gaya kasual, dan trending satu, buat jalan sore keliling kompleks. Biasa, nyari udara segar sambil mau amal donasi sedikit," jawab bu Ratna ketus, dagunya diangkat tinggi-tinggi dengan sangat angkuh.
"Olahraga ringan tapi kalungnya berat gitu ya, Bu?" celetuk Pak Jaja tanpa sadar dan sangat polos.
"Heh! Satpam kompleks dilarang keras ikut campur urusan gaya nyonya besar! Daripada kamu ngurusin tebal kalung saya, mending kamu awasi tuh rumahnya Bu RW di ujung jalan. Jangan-jangan nanti malam ikannya terbang lagi ke sini cari majikan baru!" sungut bu Ratna tajam, merujuk pada insiden salmon di tukang sayur.
Nisa buru-buru menarik lengan mertuanya menjauh dari pos satpam. "Udah, Ma. Kasihan Pak Jaja dimarahin juga. Ayo kita lanjut jalan bagikan brosurnya. Mau ke blok mana dulu kita ini?"
"Kita langsung menuju sasaran utama! Blok C! Rumahnya Bu Tejo, sekutu setianya Bu RW itu. Mama yakin banget, saat ini Bu RW pasti lagi ngumpet di sana sambil ngerumpiin kejadian tadi pagi bareng pasukan gosipnya," ucapnya penuh percaya diri.
Mereka berdua berjalan menyusuri trotoar kompleks perumahan. Bunyi gemerincing gelang emas di tangan bu Ratna terdengar sangat nyaring setiap kali wanita itu mengayunkan tangannya, persis seperti tukang es krim keliling yang memukul bel lonceng.
Benar saja dugaan Bu Ratna. Di teras rumah Bu Tejo, terlihat empat orang ibu-ibu sedang duduk melingkar sambil makan gorengan. Dan salah satunya adalah Bu RW yang wajahnya masih terlihat ditekuk masam dan penuh emosi.
"Nah, bener kan kata Mama? Pasukan gosip lagi kumpul lengkap. Ayo, Nis, busungkan dadamu! Tunjukkan senyum paling sombong yang kamu punya dari bibirmu!" bisiknya sebelum melangkah santai memasuki halaman rumah Bu Tejo yang pagarnya kebetulan terbuka lebar.
"Sore, Ibu-ibu sekalian! Wah, lagi pada arisan dadakan ya ini di sini? Kok Mama nggak diajak-ajak sih? Takut ya gorengannya habis Mama borong sendirian?" sapa bu Ratna dengan suara lantang dan senyum dibuat-buat yang sangat lebar.
Keempat wanita itu langsung menoleh terkejut kaget. Bu RW membelalakkan matanya melihat penampilan Ibu Ratna dan Nisa yang sangat menyilaukan mata di bawah sinar matahari sore yang terik.
"Eh, Bu Ratna. Tumben mampir ke sini sore-sore begini. Ada angin apa ini tiba-tiba masuk rumah orang?" balas Bu Tejo kaku, matanya tak berkedip menatap kalung rantai kapal di leher Bu Ratna.
"Nggak ada angin apa-apa sih, Bu Tejo. Ini lho, Mama sama Nisa lagi jalan santai sore sekalian mau bagi-bagi brosur. Tadi siang Mama habis telepon pengurus panti asuhan di ujung jalan sana, Mama mau donasi bangun asrama baru buat anak-anak panti. Terus pengurusnya nitip brosur ini ke Mama, siapa tahu ibu-ibu di sini yang rezekinya lagi pas-pasan, mau ikut nyumbang juga seribu dua ribu rupiah. Namanya juga pahala, sedikitan juga nggak apa-apa asal ikhlas," ucap Bu Ratna lancar tanpa jeda sedetik pun.
Nisa dengan sigap langsung membagikan lembaran brosur itu ke atas meja kaca di depan ibu-ibu tersebut. Ia berusaha keras menahan tawa melihat wajah Bu RW yang semakin merah padam mendidih.
"Wah, Bu Ratna mau nyumbang asrama baru? Hebat banget ya. Pasti habis ratusan juta ya, Bu?" tanya salah satu ibu dengan nada takjub melihat brosur tersebut.
"Ah, nggak seberapa kok, Bu. Cuma seharga mobil Alphard baru aja. Daripada uangnya numpuk di bank nggak ada bunganya, mending Mama pakai buat amal, kan? Lagian, Mama ini kan orangnya sadar diri. Menantu Mama ini, si Nisa, kan belum dikasih anak sama Tuhan selama tujuh tahun. Mungkin ini cara Tuhan biar kami lebih banyak sedekah dulu sebelum dikasih keturunan. Iya kan, Nis?"
Mertua itu melirik tajam ke arah menantunya.
"Iya, Ma. Bener kata Mama," jawab Nisa singkat sambil tersenyum tipis ke arah ibu-ibu tersebut.
Bu RW yang sedari tadi diam akhirnya tidak tahan lagi untuk ikut campur. Mulutnya terasa gatal ingin membalas dendam kejadian tamparan ikan salmon mentah tadi pagi yang memalukan.
anda sebenarnya sayang ma Nisa Bu ,, cuma julid ma gengsi ny tu looo gede banget same nutupin rasa sayang yg sbenarny besar tu ,,
jgn sampai km menyesal Bu ,, ayooo baikan ,, jgn2 julid2an lgi ,, 😁😁😁😁😁🤭
semoga cepat2 dapet momongan yx Nisa ,, buat nyumpel mulut mertua mu yg gx da rem ny ,,
ad nilai plus ny nih Bu Ratna ,,
hadeh