Arka cowok paling populer di sekolah tapi punya sifat yang dingin dan keras kepala. Laras gadis pendiam yang selalu berusaha tampil biasa saja, tapi entah kenapa selalu berakhir berdebat sama Arka. Awalnya mereka saling tidak suka, selalu berselisih paham di mana pun mereka bertemu. Namun seiring waktu berlalu dan berbagai kejadian menyatukan mereka, rasa benci itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam rindu yang tak terucap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aulia Cemmzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melepas Bukan Berarti Melupakan
Suatu sore Laras membersihkan rak buku di kamarnya. Di sudut paling atas, tersimpan sebuah kotak kayu kecil yang sudah lama tidak dia sentuh. Dia menurunkannya perlahan, menyeka debu tipis yang menutupinya. Di dalamnya ada surat-surat dari Arka, foto mereka berdua, dan benda-benda kecil yang dulu terasa begitu berharga.
Saat dia membaca tulisan tangan Arka yang rapi di kertas yang sedikit menguning itu, dia tidak lagi merasakan sesak di dada seperti dulu. Dia tersenyum lembut, menyadari bahwa perasaannya telah berubah. Bukan berarti kenangan itu hilang atau tidak berarti lagi. Hanya saja, rasa rindu yang dulu menyakitkan kini berubah menjadi rasa syukur yang tenang.
Laras duduk di tepi tempat tidur sambil memegang selembar foto Arka yang tersenyum ke arah kamera. Dia berbicara pelan seakan Arka ada di ruangan itu bersamanya.
"Makasih ya Ka. Makasih sudah pernah hadir di hidup gue, sudah mengajarkan gue arti mencintai dan merindukan dengan tulus. Lu adalah bagian dari cerita hidup gue yang paling indah, dan gue tidak akan pernah menghapusnya. Tapi sekarang gue sadar, gue harus melangkah maju sepenuhnya. Bukan karena lu tidak berharga, tapi karena gue juga berhak bahagia di sini dan saat ini. Semoga lu juga bahagia di mana pun lu berada. Gue melepaskan lu sekarang, bukan karena gue lupa, tapi karena gue ingin kita berdua tumbuh masing-masing dengan damai."
Laras menutup kotak itu perlahan, lalu menyimpannya kembali di rak paling atas. Bukan di tempat yang tersembunyi dan dilupakan, tapi di tempat yang terhormat, sebagai bagian dari perjalanan hidupnya yang sudah selesai.
Dia tidak membuang apa pun. Dia hanya mengubah posisinya yang terbuka di masa kini yang selalu dia cari, menjadi masa lalu yang selalu dia hargai.
Saat dia keluar dari kamar dan turun ke bawah, dia melihat Sandi sedang menunggunya di teras rumah sambil memegang dua gelas jus buah segar. Sandi tersenyum saat melihat Laras, dan kali ini senyum yang Laras berikan balik terasa utuh, tanpa keraguan, tanpa perbandingan.
"Lu terlihat lebih ringan hari ini. Ada sesuatu yang baik terjadi ya?" tanya Sandi lembut saat Laras duduk di sebelahnya.
Laras mengangguk sambil tersenyum tulus. "Gue baru saja melepaskan sesuatu yang lama gue pegang terlalu erat. Bukan melupakan, tapi berhenti menoleh ke belakang terus menerus. Gue siap melihat ke depan sekarang Sandi. Gue siap untuk kita."
Sandi meletakkan gelas di meja, lalu menggenggam tangan Laras dengan lembut namun tegas. "Gue tidak meminta lu melupakan siapa pun. Gue hanya meminta lu ada di sini, bersama gue, dengan hati lu yang utuh. Kalau hari ini lu merasa siap, gue sangat berterima kasih. Tapi kalau suatu hari nanti lu merasa ragu, jangan takut untuk bilang. Gue akan selalu menghargai perasaan lu apa adanya."
Malam itu Laras tidur dengan perasaan yang sangat damai. Dia menyadari satu hal penting yang mungkin banyak orang salah paham. Melupakan bukanlah cara terbaik untuk melepaskan.
Menerima bahwa sesuatu telah berakhir, menghargai keindahannya di masa lalu, dan membuka hati untuk babak baru dan mengerti bawha itulah cara yang benar-benar membebaskan jiwa kita. Laras tidak melupakan Arka. Dia hanya berhenti menunggunya. Dan di ruang hatinya yang kini terbuka lebar, dia menyambut kebahagiaan yang baru datang dengan tangan terbuka dan hati yang penuh syukur.