Kenalin, Sahat Tua. Umur baru 30-an, tapi dipanggil "Bang Tua" sejak jadi maba, entah karena mukanya emang dari sononya udah kayak bapak-bapak, atau emang takdir aja nggak kasih dia opsi lain.
Dosen matematika, kalem di luar, tapi isi kepalanya? Berisik banget. Tiap hari nahan diri biar nggak protes sama orang nyerobot antrian, sopir angkot ugal-ugalan, sampai penipu receh yang sok pinter nelepon minta kode OTP.
Biasanya dia cuma bisa ngedumel pelan terus lanjut hidup.
Sampai suatu hari... dumelannya kejadian beneran.
Awalnya dikira kebetulan. Lama-lama, kok kebetulannya kompak banget?
Ternyata, mulut Bang Tua tuh bukan kaleng kerupuk.
Dan dunia belum siap sama akibatnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pak Tua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7: CURHAT TANPA MEMBUKA RAHASIA
Malam itu, seperti biasa setiap Kamis, Bang Tua duduk di warung kopi Bu Rohana bersama Pak Ferdinand, dosen senior di jurusan yang sama, yang sudah dianggapnya sebagai kolega paling dekat, meski tetap saja tidak benar benar dekat dalam artian sahabat karib, lebih tepatnya semacam teman ngobrol rutin yang nyaman diajak berbagi keluh kesah ringan seputar dunia akademik, sebuah rutinitas yang sudah berjalan sejak Bang Tua pertama kali diangkat jadi dosen tetap dua tahun lalu. Mereka biasa berbagi cerita ringan soal kampus, mahasiswa, sampai keluhan keluhan kecil seputar birokrasi akademik yang tak kunjung habis, ditemani gorengan pisang hangat yang selalu jadi menu wajib obrolan malam Kamis mereka, pesanan yang bahkan tidak perlu lagi mereka sebutkan karena Bu Rohana sudah otomatis menyiapkannya begitu melihat keduanya datang bersama.
"Kau kenapa, Sahat? Kayak ada yang dipikirkan," tanya Pak Ferdinand sambil menyeruput kopinya, memperhatikan Bang Tua yang sedari tadi melamun sambil sesekali mengaduk kopinya tanpa benar benar meminumnya, gerakan tangannya berputar putar tanpa arah yang jelas, sesuatu yang cukup mencolok bagi orang yang sudah cukup lama mengenal kebiasaannya, karena biasanya Bang Tua selalu menghabiskan kopinya sebelum setengah jam berlalu.
Bang Tua tersentak sedikit, buru buru memasang wajah datarnya lagi, mengangkat sendok dan meletakkannya di pinggir gelas seolah baru sadar sedang melakukan hal itu. "Ah, nggak ada apa apa, Pak. Cuma mikirin bab disertasi yang belum kelar kelar."
Pak Ferdinand mengangguk, meski sepertinya tidak sepenuhnya percaya, matanya sempat menatap Bang Tua lebih lama dari biasanya sebelum akhirnya kembali fokus pada kopinya sendiri, sambil sesekali melirik ke arah Bang Tua seperti menunggu kelanjutan cerita yang sebenarnya. Beberapa saat kemudian, sambil setengah bercanda, Bang Tua akhirnya membuka sedikit soal apa yang mengganggu pikirannya, meski dengan cara yang jauh dari serius, seolah dia sendiri ingin menertawakan pikirannya yang menurutnya konyol, mencoba mengemasnya seringan mungkin supaya tidak terkesan aneh, jari jarinya mengetuk ngetuk meja pelan sebelum akhirnya berbicara.
"Pak, pernah nggak ngerasa, kejadian kejadian kecil di sekitar kita tuh kayak kebetulan banget waktunya? Kayak, misalnya, kesel sama orang, terus nggak lama orang itu kena apes juga," ucapnya sambil tertawa kecil di akhir kalimat, berusaha membuat pertanyaan itu terdengar seringan mungkin, meski matanya tetap serius menunggu jawaban.
Pak Ferdinand tertawa kecil, menggeleng gelengkan kepalanya sambil menambahkan gula ke kopinya yang sudah setengah habis. "Itu namanya karma, Sahat. Biasa itu. Aku juga sering ngerasa gitu, apalagi sama dosen dosen yang suka nyusahin mahasiswa, biasanya emang kena batunya juga cepat atau lambat, entah itu mobilnya mogok atau proposalnya ditolak berkali kali."
"Iya sih, tapi ini kok kayak, terlalu pas gitu waktunya. Dua kali kejadian, dua duanya persis abis aku kesel," Bang Tua melanjutkan, masih dengan nada bercanda, meski matanya sesekali menerawang, seperti benar benar mencoba mencari jawaban dari lawan bicaranya, jari jarinya kembali memainkan sendok kopinya tanpa dia sadari, sesekali mengetuk pelan ke pinggir gelas hingga menimbulkan bunyi kecil yang berulang.
"Halah, kau ini kebanyakan baca jurnal statistik kali, sampai pola pola gitu aja dicari cari korelasinya," goda Pak Ferdinand sambil tertawa lebih keras, menepuk pundak Bang Tua cukup keras hingga membuatnya sedikit terguncang, membuat kopinya nyaris tumpah kalau saja tidak buru buru dia tahan. "Namanya juga hidup, Sahat. Kadang emang ada aja kejadian yang mirip mirip. Kau jangan terlalu banyak mikir, nanti cepat botak kau, kasian mahasiswamu nanti kalau dosennya botak sebelum waktunya, malu malu in kau kalau lagi seminar."
Bang Tua ikut tertawa, meski tawanya terasa sedikit dipaksakan, tangannya mengusap kepalanya sendiri seolah ikut membayangkan skenario yang dilontarkan Pak Ferdinand. "Iya juga sih, Pak. Mungkin aku aja yang kebanyakan mikir. Kebanyakan begadang kali ini, jadi imajinasinya liar."
Percakapan itu kemudian bergeser ke topik lain, seputar rencana seminar jurusan bulan depan, siapa saja pembicara yang akan diundang, sampai keluhan Pak Ferdinand soal proposal penelitiannya yang belum juga disetujui pihak fakultas gara gara masalah administrasi yang berbelit belit, dan Bang Tua pun membiarkan rasa penasarannya tenggelam lagi di balik obrolan ringan malam itu, ikut menimpali sesekali meski pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana, sesekali tersenyum atau mengangguk di saat yang tepat meski separuh perhatiannya masih melayang entah ke mana. Tapi jauh di dalam hatinya, dia tahu, ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya dia tertawakan begitu saja, sesuatu yang terus mengintai di sudut kesadarannya meski berusaha dia abaikan sepanjang malam itu.
Malam itu, sebelum tidur, setelah mengantar Pak Ferdinand pulang sampai ke depan gang kosnya seperti biasa, sebuah kebiasaan kecil yang sudah mereka jalani bertahun tahun tanpa pernah benar benar dibicarakan, dia sempat berbaring lama menatap langit langit kamar kosnya, mengingat ulang satu persatu kejadian yang belakangan terasa begitu janggal, menyusun ulang kronologinya dalam kepala seperti dia biasa menyusun bukti bukti dalam sebuah argumen matematis, lengkap dengan urutan waktu dan detail detail kecil yang mungkin luput dari perhatiannya sebelumnya. Dia belum berani menyimpulkan apa apa. Tapi untuk pertama kalinya, muncul satu pertanyaan kecil di kepalanya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja.
"Jangan jangan... ini ada hubungannya sama aku?"
Pertanyaan itu terasa konyol, bahkan bagi dirinya sendiri, sesuatu yang kalau dia ucapkan lantang lantang di depan orang lain pasti akan membuatnya dianggap kurang tidur atau terlalu stres mengurus disertasi. Tapi malam itu, entah kenapa, dia tidak bisa langsung tertidur seperti biasanya, matanya terus terbuka menatap kegelapan kamar, ditemani suara jangkrik dari luar jendela dan dengungan kipas angin tua yang berputar pelan di sudut ruangan, seolah ikut menemani kegelisahan yang untuk pertama kalinya benar benar mengusik ketenangannya yang selama ini begitu terjaga.
Dia mencoba berbagai cara untuk mengalihkan pikirannya, membuka buku bacaan ringan yang biasa dia simpan di meja samping tempat tidur, tapi kalimat kalimatnya terasa hambar, tidak satu pun benar benar masuk ke kepalanya. Dicobanya juga memutar lagu lagu lawas kesukaannya lewat ponsel dengan volume pelan, sesuatu yang biasanya ampuh membuatnya cepat mengantuk, tapi malam itu bahkan lagu favoritnya sekalipun tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya dari pertanyaan yang terus berputar putar.
Menjelang dini hari, dengan mata yang sudah terasa berat tapi pikiran yang masih enggan benar benar tenang, dia akhirnya memutuskan untuk berhenti melawan rasa kantuknya sendiri dan membiarkan tubuhnya perlahan lahan tertidur, meski di ambang kesadarannya yang terakhir, pertanyaan itu masih saja terngiang, seperti gema kecil yang menolak untuk benar benar hilang.