NovelToon NovelToon
OM GANTENG ITU SUAMIKU

OM GANTENG ITU SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Leny Fairuz

Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34. Tatapan yang Mengusik Hati

Dari sisi lain area olahraga, Reihan melangkah menyusuri koridor yang menghubungkan ruang persiapan dengan lapangan utama. Suasana sore itu masih cukup ramai. Beberapa anggota tim sibuk membereskan perlengkapan pertandingan, sementara sebagian lainnya berkumpul untuk membicarakan strategi menghadapi pertandingan berikutnya. Suara sepatu yang beradu dengan lantai, percakapan para pemain, dan sesekali tawa yang pecah di antara mereka memenuhi ruangan yang luas itu.

Sebagai kapten yang membawahi prajurit, Reihan terbiasa memastikan segala sesuatu berjalan sesuai rencana. Baginya, kedisiplinan bukan sekadar aturan yang harus dipatuhi, melainkan fondasi yang menentukan keberhasilan sebuah tim. Ia tidak suka membiarkan sesuatu berjalan tanpa pengawasan, terlebih ketika timnya sedang berada dalam fase penting kompetisi.

Sore itu pun seharusnya tidak berbeda.

Ia baru saja selesai monitor  pertandingan sebelumnya ketika pandangannya tanpa sengaja tertuju ke sudut lapangan yang agak jauh dari keramaian. Di sana, pada deretan kursi penonton yang mulai kosong, ia melihat dua sosok yang langsung menarik perhatiannya.

Mita dan Budi.

Keduanya duduk berdampingan di pojok lapangan, sedikit terpisah dari anggota tim lainnya. Mita meletakkan tasnya di samping kursi, sementara Budi duduk menghadap kepadanya dengan posisi tubuh yang tampak santai.

Sekilas, pemandangan itu terlihat biasa saja. Mereka adalah rekan yang sudah saling mengenal, dan tidak ada yang aneh dengan percakapan di antara dua orang yang memiliki kepentingan sama dalam pertandingan.

Reihan semula berniat melanjutkan langkahnya.

Ia tidak memiliki alasan untuk memedulikan siapa yang sedang berbicara dengan Mita. Perempuan itu bukan siapa nya yang harus terus-menerus berada dalam pengawasannya, dan Budi pun bukan seseorang yang perlu ia curigai tanpa alasan.

Namun, entah mengapa, langkahnya melambat. Ada sesuatu dalam pemandangan itu yang membuatnya ingin berhenti sejenak.

Budi mencondongkan tubuhnya ke arah Mita. Ia mengatakan sesuatu yang tidak dapat didengar Reihan dari kejauhan. Gerakan bibirnya terlihat serius, begitu pula tatapannya yang tertuju langsung ke wajah perempuan itu. Tidak ada kesan bahwa ia sedang melontarkan candaan atau membicarakan sesuatu yang ringan.

Mita, yang semula duduk dengan santai, perlahan mengubah posisi tubuhnya. Matanya membesar sedikit, seolah perkataan Budi baru saja menyentuh sesuatu yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

Perempuan itu terdiam.

Budi pun tidak segera mengalihkan pandangan.

Reihan berhenti sepenuhnya. Dahinya berkerut tipis. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa apa yang dilihatnya tidak lebih dari percakapan biasa. Mungkin Budi sedang membicarakan pertandingan. Mungkin ia meminta pendapat Mita tentang sesuatu. Atau mungkin mereka sedang mendiskusikan hal lain yang sama sekali tidak berkaitan dengan perasaan.

Akan tetapi, semakin lama ia memperhatikan, semakin sulit baginya untuk menganggap semuanya biasa saja. Tatapan Budi terlalu serius. Sementara ekspresi Mita terlalu terkejut untuk menanggapi sebuah candaan sederhana.

Reihan mengembuskan napas perlahan melalui hidung. Rahangnya mengeras tanpa ia sadari.

“Apa yang sedang kau katakan kepadanya, Bud?”  pertanyaan itu muncul begitu saja di benaknya.

Ia tidak tahu jawabannya, tetapi pikirannya telanjur membentuk berbagai kemungkinan yang membuat rasa aneh bergolak di dadanya. Budi bukan orang asing baginya. Mereka telah melewati banyak hal bersama, mengenal karakter masing-masing, dan memahami bagaimana rasanya menghadapi tuntutan yang datang dari tanggung jawab mereka. Reihan bahkan menghormati Budi sebagai rekan yang memiliki keberanian dan keteguhan dalam mengambil keputusan.

Namun, justru karena mengenalnya, Reihan tahu bahwa Budi bukan tipe orang yang selalu menyembunyikan apa yang dirasakannya.

Jika Budi menginginkan sesuatu, ia akan berusaha mendapatkannya.

Jika Budi merasa perlu mengatakan sesuatu, ia akan mencari kesempatan untuk menyampaikannya.

Dan jika Budi sedang berbicara serius dengan seorang perempuan yang disukainya, Reihan tidak yakin bahwa sahabatnya itu akan memilih mundur hanya karena keadaan tidak sepenuhnya berpihak kepadanya.

Pikiran itu membuat Reihan merasa semakin tidak nyaman.

Ia kembali memandang Mita.

Awalnya, perempuan itu hanya hadir sebagai sosok yang menarik perhatiannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang kemudian membuat Reihan ingin mengenalnya lebih jauh. Bukan semata-mata karena kecantikannya, tetapi juga karena caranya menghadapi berbagai keadaan, keberaniannya menyampaikan pendapat, dan ketulusannya ketika berinteraksi dengan orang lain.

Mita tidak pernah berusaha mencari perhatian darinya. Ia juga tidak menunjukkan sikap berlebihan hanya karena mengetahui posisi Reihan sebagai kapten.

Perempuan itu memperlakukannya sebagaimana ia memperlakukan orang lain.

Entah mengapa, justru hal itulah yang membuat Reihan semakin tertarik.

Di hadapan banyak orang, ia terbiasa menjadi seseorang yang mengambil keputusan. Ia terbiasa memberikan arahan, menentukan langkah, dan memastikan orang-orang di sekitarnya memahami apa yang harus dilakukan. Namun, ketika berhadapan dengan Mita, ada bagian dari dirinya yang terasa berbeda.

Ia ingin berbicara lebih lama dengannya. Ia ingin mengetahui apa yang membuat perempuan itu tertawa, apa yang mengganggu pikirannya, dan apa yang sesungguhnya ia harapkan dari kehidupan.

Bahkan, ada kalanya Reihan sengaja mencari alasan untuk berada di tempat yang sama dengan Mita, meskipun ia tidak pernah mengakui hal tersebut kepada siapa pun, termasuk Yanto yang sudah curiga bahkan bisa menebak apa yang ada di benaknya.

Hanya ia masih mengulur waktu dan memilih waktu yang tepat untuk mengungkapkan semua yang ia rasakan akhir-akhir ini. Untuk yang lain, fix. Sudah tak ada kebohongan lagi. Ia benar-benar mengagumi kepribadian perempuan yang pernah ia tolong, bahkan kini telah menjadi rasa suka yang tak terbantahkan.

Anehnya, untuk urusan yang satu ini, terlalu banyak pertimbangan untuk melakukannya.

Ia selalu menemukan alasan untuk menunda. Menunggu waktu yang lebih tepat. Menunggu keadaan lebih tenang. Menunggu sampai ia benar-benar yakin bahwa perasaannya bukan sekadar ketertarikan sesaat.

Padahal, jauh di dalam hati, ia tahu bahwa semua alasan itu mungkin hanya cara untuk melindungi dirinya sendiri dari kemungkinan ditolak.

Reihan terbiasa menghadapi risiko dalam tugasnya. Ia tidak mudah mundur ketika harus mengambil keputusan sulit. Namun, menghadapi kemungkinan kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah ia miliki ternyata jauh lebih menakutkan daripada yang pernah ia bayangkan.

Dan sekarang, ketika ia masih sibuk meyakinkan dirinya bahwa waktu akan memberinya kesempatan, Budi justru tampak sedang melakukan sesuatu yang selama ini hanya berani ia pikirkan.

Budi sedang berbicara dari hati ke hati dengan Mita. Mungkin saja ia sedang mengungkapkan perasaannya. Mungkin saja ia sedang meminta kesempatan. Atau mungkin, ia hanya sedang mengatakan sesuatu yang selama ini juga disimpannya dalam diam.

Reihan tidak tahu.

Ketidaktahuan itu terasa menyiksa karena ia tidak memiliki alasan untuk mendekat dan mencari tahu. Ia bukan siapa-siapa bagi Mita dalam urusan perasaan. Ia tidak pernah menyatakan ketertarikan, tidak pernah meminta perempuan itu menunggunya, bahkan tidak pernah memberikan kepastian bahwa suatu hari ia akan berani melangkah lebih jauh.

Lantas, dengan hak apa ia harus merasa terganggu melihat Mita duduk bersama Budi?

Dengan hak apa ia harus merasa cemburu ketika perempuan itu mendengarkan perkataan orang lain dengan sungguh-sungguh?

Reihan mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Tidak ada hak apa pun, jawabnya sendiri. Jawaban itu benar, tetapi tetap saja tidak membuat dadanya terasa lebih lapang.

Ia kembali memperhatikan mereka. Kali ini, Budi tampak mengatakan sesuatu dengan ekspresi yang lebih lembut. Mita menundukkan kepala sesaat, kemudian kembali menatapnya. Ada jeda di antara keduanya, seolah mereka sedang memberi ruang bagi perkataan yang baru saja disampaikan untuk dipahami.

Reihan tidak bisa melihat dengan jelas apa yang terlintas di wajah Mita. Jarak di antara mereka terlalu jauh, dan ia pun tidak ingin terus-menerus berdiri di sana seperti seseorang yang sedang mengawasi urusan pribadi orang lain.

Namun, ia telanjur menangkap cukup banyak untuk membuat pikirannya dipenuhi dugaan.

Ia merasa asing dengan kecemburuan yang muncul di dalam dirinya. Bukan karena ia tidak pernah melihat seorang laki-laki mendekati perempuan yang disukainya, melainkan karena kali ini laki-laki itu adalah Budi, seseorang yang selama ini berada dalam lingkaran kepercayaannya.

Ada bagian dari dirinya yang ingin segera menghampiri mereka, mencari alasan untuk memutus percakapan itu, lalu membawa Mita pergi dengan dalih ada sesuatu yang harus dibicarakan.

Akan tetapi, Reihan segera menyadari betapa kekanak-kanakan keinginan tersebut.

Ia tidak bisa menggunakan kedudukannya sebagai kapten untuk mengatur kehidupan pribadi Mita. Ia juga tidak boleh menjadikan tanggung jawabnya sebagai alasan untuk menghalangi Budi melakukan sesuatu yang mungkin sudah lama ingin dilakukannya.

Jika ia benar-benar menghormati Mita, perempuan itu berhak menentukan sendiri kepada siapa ia akan membuka hati. Dan jika ia menganggap Budi sebagai sahabat, ia tidak seharusnya mencurigainya hanya karena kemungkinan bahwa mereka menginginkan orang yang sama.

Meski demikian, memahami sesuatu dengan akal sehat ternyata tidak serta-merta membuat hati bersedia menerimanya.

Reihan kembali menarik napas panjang. Ia akhirnya memutuskan untuk melanjutkan langkahnya, meskipun pikirannya masih tertinggal pada dua sosok yang duduk berdampingan di sudut lapangan itu.

Ia belum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Namun, untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa sesuatu yang selama ini disimpannya diam-diam mungkin akan segera berubah menjadi penyesalan.

1
Heti Supriyati Laela
ikutan senyum sendiri
Heti Supriyati Laela
semangat up othor
Heti Supriyati Laela
gasss kapten
rayhan dirgantara
up lg ga ka aku rayhan kls 4sd ka slm knal ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!