NovelToon NovelToon
Lentera Terakhir Sang Kultivator

Lentera Terakhir Sang Kultivator

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:741
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.

Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.

Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.

Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Sembilan Lingkaran

Lapangan turnamen berada di dataran batu di belakang sekte dalam, tempat sembilan lingkaran putih digambar di atas tanah dengan kapur setebal dua jari. Setiap lingkaran berdiameter dua puluh langkah dan dikelilingi tali merah rendah. Di sekeliling lapangan, tribun kayu bertingkat dipenuhi ratusan penonton: murid luar berdesakan di barisan belakang, murid dalam duduk di tengah, dan para tetua berada di panggung tinggi dengan kanopi biru di atas kepala mereka.

Jian Chen berdiri di barisan peserta bersama seratus tujuh orang lain. Pedang Embun Perak tergantung di pinggang kanan, pedang pendek tanpa nama di pinggang kiri. Di sampingnya, seorang pemuda berbadan tinggi sedang merapikan ikat kepala dengan jari gemetar. Di sisi lain, Fang Cheng berdiri dengan wajah keras dan tombak berkepala lebar di bahu, tidak sekali pun menoleh padanya.

Tetua Yan naik ke panggung dan mengangkat tangan. Seluruh lapangan hening.

"Turnamen Sekte Pedang Fajar tahun ini dibuka," katanya. Suaranya tajam dan jelas. "Seratus delapan peserta, sembilan lingkaran, dua belas orang tiap lingkaran. Aturan sudah diumumkan. Aku akan mengatakan satu hal tambahan: aula hukum mengawasi setiap lingkaran. Siapa pun yang membunuh, curang, atau memakai benda terlarang akan dicoret seumur hidup dan diserahkan kepada hukum sekte."

Kata benda terlarang membuat beberapa kepala menoleh ke arah barisan peserta. Jian Chen merasakan Tetua Yan menatap lurus ke arahnya sejenak, lalu berpindah.

"Undian dimulai."

Seorang pembantu aula membawa sebuah guci kayu besar. Nama-nama ditarik satu per satu, dan setiap peserta diarahkan ke lingkarannya. Zhao Feng ditempatkan di lingkaran satu. Shen Yu di lingkaran tiga. Fang Cheng di lingkaran enam. Dan ketika batang bambu bertulis Jian Chen ditarik, pembantu itu mengumumkan lingkaran enam juga.

"Lingkaran enam," bisik pemuda tinggi di samping Jian Chen. "Kau satu lingkaran dengan Fang Cheng. Dan Mu Han."

"Aku tahu."

"Kau tidak takut?"

"Takut," kata Jian Chen. "Tapi tidak lebih dari kemarin."

Fang Cheng akhirnya menoleh. Matanya dingin. "Kau dengar tadi," katanya pelan. "Lingkaran enam. Aku akan menjatuhkanmu lebih dulu dari siapa pun."

"Kau boleh mencoba."

"Aku tidak mencoba. Aku memberitahu."

"Itu juga yang kau katakan di ujian," jawab Jian Chen.

Fang Cheng mendengus dan membuang muka.

Pertandingan dimulai dari lingkaran satu sampai tiga, sementara lingkaran lain menunggu giliran. Jian Chen berdiri di tepi lapangan bersama peserta lingkaran enam, cukup dekat untuk melihat tetapi cukup jauh untuk tidak mengganggu. Di tribun, ia melihat Dao melambaikan tangan besar-besar dari barisan tengah, Qiu Bo dan Tan Fu berdiri di sampingnya berebut tempat dengan murid lain, dan Lin Xue duduk tegak di sisi Ye Ran dengan tangan terlipat. Ye Ran memeluk lampion kuningnya dan menatap lapangan dengan mata lebar.

Di lingkaran satu, dua belas peserta berdiri melingkar. Zhao Feng berdiri di antara mereka dengan pedang tipis tersarung dan wajah tanpa ekspresi. Gong dipukul. Tiga orang langsung menyerangnya. Zhao Feng menarik pedangnya setengah saja, membiarkan sarungnya menghantam lutut penyerang pertama, memutar tubuh, menepis pedang kedua dengan punggung bilah, dan mendorong yang ketiga keluar garis kapur dengan satu tendangan rendah. Tidak ada tebasan yang terlihat. Dalam sepuluh tarikan napas, tiga orang sudah di luar lingkaran. Dalam dua puluh, delapan.

"Mengerikan," gumam pemuda tinggi di samping Jian Chen.

"Dia Pembentuk Fondasi tengah," kata Jian Chen. "Itu bukan kekuatan. Itu keterampilan."

Zhao Feng menyelesaikan lingkarannya dengan satu peserta tersisa, seorang murid dalam yang menyerah dengan wajah merah. Tidak ada satu pun luka yang tampak.

Di lingkaran tiga, giliran Shen Yu. Ia berdiri di tengah dengan satu pedang dan senyum tipis, seperti orang yang menunggu teman di pasar. Gong berbunyi. Peserta di sekelilingnya bergerak maju, tetapi Shen Yu tidak menunggu. Ia berjalan ke arah yang paling sepi, menepis satu tusukan dengan gerakan malas, menyentuh pergelangan tangan lawan dengan bilah datar sehingga senjatanya jatuh, dan memutar tubuh menghadapi penyerang berikutnya. Setiap gerakannya hemat. Setiap sentuhannya cukup.

Jian Chen memperhatikan dengan dada yang menegang. Sikap Shen Yu mirip sikap pertamanya, hanya lebih matang dan lebih rapi. Ia mengingat penjelasan di belakang gudang kayu. Shen Yu berbakat, dan ia melihat Jian Chen berlatih setiap subuh selama berbulan-bulan. Orang berbakat bisa meniru dengan cepat.

"Kau melamun," kata pemuda tinggi di sampingnya.

"Aku mengamati."

"Wajahmu seperti melihat hantu."

"Aku sering diberi tahu begitu," jawab Jian Chen.

Ia menutup mata sebentar dan mengatur napas. Ia membuka mata kembali dan memaksa dirinya mengalihkan pandangan ke lingkaran lain.

Di lingkaran empat, pertandingan lebih kasar. Seorang pemuda berambut hitam panjang, Luo Jin, yang namanya ada di daftar tujuh lingkaran merah milik Zhao Feng, berdiri di tengah dengan sebilah pedang bermata dua. Ia bertarung melawan lima orang sekaligus, dan Jian Chen memperhatikannya dengan mata menyipit. Luo Jin bergerak dengan pola yang aneh: setiap kali lawan menyerang, ia tidak menangkis atau menghindar, tetapi menyentuh pedang lawan dengan ujung bilahnya dan memutar pergelangan, membuat tenaga lawan berbalik arah dan menghantam tubuh lawan sendiri.

Jian Chen berhenti bernapas.

Ia mengenal gerakan itu. Bukan hanya mengenal. Ia mengenal namanya. Arus Balik. Teknik pengalihan tenaga lawan dengan sentuhan dan putaran, yang pertama kali diperkenalkan oleh seorang pendekar pengembara bernama Guru Lu di Benua Selatan, sepuluh tahun dari sekarang. Teknik itu tidak ada dalam catatan sekte mana pun saat ini. Tidak ada orang yang bisa mengajarkannya, karena penemunya belum menemukannya.

"Itu..." gumam Jian Chen.

"Kenapa?" tanya pemuda tinggi di sampingnya.

"Tidak apa-apa."

Di lingkaran empat, Luo Jin menyelesaikan pertandingannya tanpa luka, dengan senyum tipis yang tidak sampai ke mata. Ia menyarungkan pedangnya dan menoleh sedikit ke arah tribun, seakan mencari seseorang. Jian Chen mengikuti arah pandangannya, tetapi hanya melihat deretan kepala penonton dan bayangan kanopi.

Tangannya dingin. Di dalam dadanya, sesuatu yang selama berbulan-bulan hanya berupa dugaan akhirnya memiliki bentuk.

Seseorang di dunia ini mengetahui teknik yang seharusnya baru ditemukan sepuluh tahun lagi. Dan seseorang itu telah mengajarkannya kepada orang lain.

1
Paw_chan🐾
bagus🤟
Uranenantios: Makasih 😺
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!