NovelToon NovelToon
Kaisar Naga Bela Diri

Kaisar Naga Bela Diri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Balas Dendam
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di ujung terlupakan Kerajaan Tianhe, seorang anak yatim bernama Qin Mu tumbuh di Desa Canglan bersama seorang pemabuk tua yang mengaku petani. Yang ia miliki hanyalah pisau berburu berkarat, liontin batu hitam peninggalan ayah yang tak pernah kembali, dan satu pertanyaan yang tak terjawab: mengapa ia ditinggalkan?

Ketika dunia kultivator yang selama ini hanya ia dengar sebagai legenda tiba-tiba menghancurkan kedamaian desanya, Qin Mu dipaksa memasuki jalan yang telah ditentukan jauh sebelum ia lahir jalan yang berlumuran darah, penuh pengkhianatan, dan dibayar dengan harga yang tak seorang pun mau membayarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 14

Air keruh di dalam terowongan terus meninggi, kini telah merendam betis dan merayap naik ke lutut mereka. Dinginnya air malam itu menusuk tulang, namun tidak sedingin dua puluh ujung anak panah baja spiritual yang berkilau di balik jeruji besi.

Wei Canglan menyesap teh dari cangkir gioknya dengan tenang. Matanya yang sipit memandang rendah ke arah tiga orang yang terperangkap di dalam saluran pembuangan itu layaknya melihat tikus di dalam ember.

"Penatua Luo, kau seharusnya tahu bahwa menolak undangan Klan Wei adalah kebodohan," ujar Wei Canglan lembut, namun suaranya bergema dingin di dinding batu bata. "Aku tidak butuh nyawamu. Aku hanya butuh keahlian meracik obatmu. Prajuritku akan mematahkan kedua kakimu malam ini, lalu merantaimu di ruang bawah tanah kediamanku. Kau akan menghabiskan sisa hidupmu memurnikan pil untukku."

Pandangan Wei Canglan bergeser pada Gu Shanyin dan Qin Mu. "Sedangkan orang tua sekarat dan bocah gila yang membunuh pengawalku itu... jadikan mereka landak, lalu biarkan bangkai mereka membusuk di air selokan."

Krek! Krek!

Dua puluh busur silang ditarik serentak. Fluktuasi Qi dari ukiran formasi di busur-busur itu membuat udara di dalam terowongan bergetar hebat. Dengan jarak sedekat ini dan ruang yang begitu sempit, bahkan seorang kultivator Qi Gathering pun akan hancur tertembus panah, apalagi Qin Mu yang baru menyentuh tahap awal Penempaan Tubuh.

Namun, Qin Mu tidak mundur.

Pemuda berusia empat belas tahun itu melangkah maju, berdiri tepat di depan Gu Shanyin dan Penatua Luo. Punggungnya yang belum sepenuhnya tumbuh dewasa tegak lurus, menghalangi garis bidik panah dari tubuh kedua orang tua itu. Tangan kanannya dan kirinya menggenggam erat Bilah Kembar Taring Hantu, sementara darah dari luka di rusuknya menetes, larut ke dalam air keruh di bawah kakinya.

"Kek, mundur ke belakangku," desis Qin Mu. Matanya mengunci celah jeruji besi, mencari bagian terlemah yang bisa ia tebas, meski logikanya tahu ia akan mati sebelum mencapai jeruji itu.

Di belakangnya, Penatua Luo terpaku.

Mata tua sang alkemis yang biasanya licik dan sinis kini bergetar hebat saat menatap punggung sempit Qin Mu yang bersimbah darah. Dalam sekejap, bayangan punggung pemuda itu tumpang tindih dengan ingatan masa lalunya yang paling menyakitkan bayangan murid satu-satunya yang tewas sepuluh tahun lalu, yang juga berdiri merentangkan tangan untuk melindunginya dari kejaran musuh sekte.

Jika ia menyerah malam ini, kakinya akan dipatahkan, ia akan diperbudak sampai mati, dan pemuda di depannya ini akan tewas sia-sia.

Penatua Luo memejamkan matanya, lalu mengembuskan napas panjang yang terdengar begitu berat dan putus asa, namun sekaligus dipenuhi kelegaan aneh dari seseorang yang akhirnya berhenti berlari.

"Gu Tua..." bisik Penatua Luo dengan suara serak, tidak lagi cempreng seperti sebelumnya. Tangannya yang keriput merogoh ke bagian paling dalam dari jubahnya, mengeluarkan sebuah kotak giok berwarna merah gelap yang disegel dengan kertas jimat emas. "Sepertinya kita berdua memang ditakdirkan mengakhiri langkah di selokan bau ini."

Gu Shanyin menoleh sedikit di balik caping bambunya, menatap kotak giok di tangan Penatua Luo. "Apa itu?"

"Satu-satunya karya gila yang kubuat setelah muridku mati, tapi tidak pernah berani kugunakan atau kuujikan pada siapa pun," Penatua Luo tersenyum pahit, merobek segel jimat di kotak itu hingga memperlihatkan dua butir pil sewarna darah menyala yang berdenyut seperti jantung hidup. "Pil Pembakar Kehidupan. Pil ini tidak membakar fondasi Qi... melainkan langsung membakar sisa umur, sumsum tulang, dan roh jiwa pemakannya untuk meledakkan kekuatan puncak dalam sepuluh tarikan napas."

Penatua Luo menatap punggung Qin Mu dengan tatapan lembut yang belum pernah ia tunjukkan sebelumnya.

"Jika kita berdua menelannya sekarang, ledakan kekuatannya setidaknya cukup untuk menghancurkan jeruji ini dan membuka jalan agar bocah ini bisa kabur," lanjut Penatua Luo pelan. "Kita para orang tua yang sudah bau tanah ini... bukankah sudah seharusnya memberi peluang hidup untuk yang muda?"

Hening sejenak.

Detik berikutnya, Gu Shanyin tertawa.

Tawa lelaki tua itu meledak lantang, menggelegar memenuhi terowongan bawah tanah hingga membuat para prajurit di balik jeruji besi tersentak kaget. Tidak ada lagi nada lemah atau batuk berdarah. Itu adalah tawa seorang pendekar besar yang menertawakan langit dan bumi.

"Hahaha! Kau benar, Luo Tua! Hidup bersembunyi di lumpur selama sepuluh tahun sudah cukup membosankan bagiku!"

Tanpa ragu sedikit pun, jari Gu Shanyin menyambar satu butir Pil Pembakar Kehidupan dari kotak itu dan langsung melemparkannya ke dalam mulutnya, menelannya bulat-bulat!

"Kakek! Apa yang kau lakukan?!" Qin Mu berbalik dengan panik, wajahnya pucat pasi. Ia hendak memukul leher Gu Shanyin agar memuntahkan pil itu, namun tangan kiri Gu Shanyin yang tiba-tiba dipenuhi kekuatan luar biasa langsung mencengkeram bahu Qin Mu hingga pemuda itu tak bisa bergerak.

Di sebelahnya, Penatua Luo mendengus sambil tersenyum miring. "Jangan biarkan aku kalah berani dari orang tua sepertimu!" Sang alkemis menelan butir pil kedua tanpa berkedip.

"Kek! Muntahkan! Kita bisa cari jalan lain!" suara Qin Mu pecah, matanya memerah menahan air mata yang mendesak keluar. Untuk pertama kalinya sejak malam hujan di desanya, Qin Mu merasakan ketakutan yang meremukkan jiwanya ketakutan akan ditinggalkan sendirian lagi.

"Dengarkan aku baik-baik, Qin Mu! Waktuku tidak banyak!" bentak Gu Shanyin. Rambut uban lelaki tua itu tiba-tiba berkibar liar tanpa angin, dan uap panas berwarna merah darah mulai mengepul dari pori-pori kulitnya.

Gu Shanyin menatap dalam ke mata Qin Mu, menembus hingga ke dasar ingatan pemuda itu.

"Nama orang tuamu yang kau dengar dari mulut orang-orang di Desa Canglan hanyalah nama samaran fana untuk menipu mata langit!" suara Gu Shanyin menggema tegas di telinga Qin Mu di tengah gemuruh air yang mulai mendidih. "Ingat darah yang mengalir di tubuhmu! Nama asli ayahmu adalah Qin Long, dari Klan Qin sebuah klan yang entah berada di mana di balik luasnya dunia ini! Dan ibumu... namanya adalah Yan Ruo, putri dari sebuah klan misterius yang bahkan aku sendiri tidak tahu letak aslinya, Klan Yan!"

Di samping mereka, tubuh Penatua Luo yang juga mulai memancarkan api kehidupan mendadak membeku. Mata sang alkemis terbelalak lebar, menatap Qin Mu dengan keterkejutan yang luar biasa.

"Yan Ruo...?! Maksudmu... Klan Yan yang tersembunyi di balik kabut sejarah itu?!" suara Penatua Luo bergetar hebat. Sebagai pengembara yang pernah membaca gulungan rahasia alkimia kuno, ia pernah mendengar sedikit legenda tentang klan misterius yang darahnya mampu memurnikan hukum kehidupan itu. "Pantas saja! Pantas saja darah bocah ini tidak masuk akal! Jadi dia keturunan dari sana?!"

Menyadari betapa besarnya takdir yang dipikul pemuda di depannya, Penatua Luo tidak membuang waktu lagi. Dengan tangan yang mulai retak oleh cahaya merah Pil Pembakar Kehidupan, ia merogoh kantung penyimpannya dan menarik keluar sebuah plakat berat yang terbuat dari besi bintang dan giok putih, berukir lambang naga kekaisaran.

Penatua Luo menghantamkan plakat itu langsung ke dada Qin Mu, memaksanya menggenggam benda tersebut, sekaligus mengaitkan kantung ramuan miliknya ke pinggang Qin Mu.

"Ambil ini, Bocah!" teriak Penatua Luo cepat. "Ini Plakat Pendaftaran Akademi Kekaisaran Tianhe yang kudapatkan dari seorang bangsawan tua yang pernah kuselamatkan nyawanya! Pergi ke pusat kota dan daftarlah ke Akademi Kekaisaran! Selama kau memegang plakat ini dan masuk ke dalam akademi itu, anjing-anjing lokal seperti Klan Wei tidak akan pernah berani memburumu secara terbuka! Di dalam kantungku ada catatan ramuan penyeimbang untuk tubuhmu, jangan mati konyol sebelum kau mencapai puncak!"

"Tembak! Jangan biarkan mereka melakukan sesuatu!"

Di luar jeruji, Wei Canglan akhirnya menyadari perubahan aura yang mengerikan dari kedua kakek tua itu. Wajah tampannya berubah pucat saat merasakan tekanan Qi yang mendadak melonjak menembus batas Foundation Establishment. Ia berdiri dari kursinya dan berteriak panik.

Sring! Sring! Sring!

Dua puluh anak panah baja spiritual melesat menembus celah jeruji besi, membelah kegelapan terowongan menuju jantung mereka bertiga.

"Kekek Gu! Penatua Luo!" teriak Qin Mu histeris, berusaha meronta dari cengkeraman Gu Shanyin untuk menangkis panah-panah itu.

Namun Gu Shanyin hanya tersenyum. Senyum hangat seorang kakek yang terakhir kali menatap cucunya.

"Aturan pertama pegunungan, Bocah... tetaplah hidup."

Gu Shanyin mengayunkan telapak tangannya yang terbungkus Qi lembut ke dada Qin Mu, sementara tangan satunya melepaskan tebasan Niat Pedang keperakan ke arah langit-langit terowongan tepat di belakang mereka.

BOOM!

Langit-langit batu bata terowongan itu hancur lebur, membuka lubang vertikal yang tembus langsung ke jalanan sepi di luar tembok selatan. Dorongan telapak tangan Gu Shanyin melontarkan tubuh Qin Mu terbang ke atas melewati lubang runtuhan tersebut, menjauhkannya dari neraka di bawah sana.

Dalam pandangannya yang kabur oleh air mata saat tubuhnya terlempar ke udara malam, hal terakhir yang dilihat Qin Mu di dasar lubang itu adalah dua sosok tua yang berbalik menghadap jeruji besi.

Rambut Gu Shanyin dan Penatua Luo telah memutih seluruhnya seperti abu. Tubuh mereka menyala bagaikan dua matahari merah yang membakar habis sisa hidup mereka sendiri.

KRAAAAK! DUAAAAR!

Niat Pedang Hantu yang agung dan kobaran Api Alkimia hijau menyatu, menghantam dua puluh anak panah spiritual hingga menjadi debu, melelehkan jeruji besi seberat ribuan kati dalam sekejap mata, dan menerjang lurus ke arah barisan prajurit serta Wei Canglan yang menjerit ketakutan di tengah ledakan cahaya yang membutakan malam!

1
Am Mi
up
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
Asta Hariadi
bagus, ceritanya menarik
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
Sang_Imajinasi: oke lanjut 4 bab
total 4 replies
Budi Wahyono
biasanya tokoh jahat ketika mau mati,ada aja yg nyelametin...
ini enak nih gak bertele2,tinggal musuh yg lebih kuat udah nunggu
Begin Bae
/Determined/
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
ibarumbung
keren 👍👍👍👍👍
Sang_Imajinasi: Terima Kasih Bintang 5 nya 🙏
total 1 replies
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
ibarumbung
👍👍👍👍👍
ibarumbung
💛💛💛💛💛
ibarumbung
💪💪💪💪💪
ibarumbung
⭐⭐⭐⭐⭐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!