Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Rania mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Ia menerima pinangan Arkan, seorang duda kaya raya berparas rupawan yang berusia 38 tahun. Kehidupan barunya tidak hanya membawanya pada gelimang kemewahan, tetapi juga menuntut Rania untuk beradaptasi dengan peran barunya sebagai ibu sambung bagi dua putra Arkan yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang.
Zidan, putra sulung Arkan ternyata bersahabat baik dengan keponakannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikah tidak harus punya pacar
"Tante nggak becus banget jagain anak orang." komentar Galang sambil melangkah masuk ke dalam kamar Rania. Sementara Zidan dan Arkan memilih menunggu di luar, merasa tidak enak jika langsung ikut menyelonong masuk ke kamar Rania.
"Masih untung dijagain daripada enggak." jawab Rania, santai.
"Bang Galang udah pulang? Abangku mana?" tanya Kenzie dari tempatnya berbaring. Dia sama seperti Rania, tampak santai.
"Ada di luar. Ayo ikut abang." ajak Galang mendekati tempat tidur.
"Nanti aja." geleng Kenzie. "Kenzie lagi menikmati hidup sama Tante Rania." katanya polos.
Galang melongos sambil menatap Rania, sementara tantenya itu terkekeh.
"Lihat, Galang, pengikut tante nambah satu." kata Rania, sambil mengusap puncak kepala Kenzie.
Galang menggeram kecil, "Kenzie jangan mau jadi pengikut Tante Rania, nanti kamu diajarin yang nggak-enggak." kata Galang memengaruhi Kenzie.
"Enggak." lagi-lagi Kenzie menggelengkan kepala kecilnya. "Tante baik, kok."
"Dih, baik dari mana, Kenzie? Dia itu Mak lampir." sahut Galang, geleng-geleng kepala.
"Heh, Galang, durhaka ya kamu sama tante. Mau tante usir kamu?" ancam Rania mode galak.
"Ini rumah almarhum kakekku, tante nggak bisa ngusir aku." jawab Galang, santai.
"Almarhum kakekmu itu bapakku. Ini rumah udah diwariskan ke aku, jadi suka-suka aku ngusir siapa aja." balas Rania, mulai mendebat Galang.
"Aduin ke mama nanti." ancam balik Galang.
Baru Rania akan menanggapi, Kenzie sudah menyahut. "Berantem terusssss." katanya lucu.
Rania dan Galang saling melengos malas. Maunya sih lanjut debat tapi malu sama Kenzie.
"Sana keluar, ngapain masih di sini? Tante mau tidur sama Kenzie." usir Rania pada akhirnya.
Galang mendengus, "Siapa juga yang mau lama-lama di sini." jawabnya sambil menatap pada Kenzie. "Ayo Kenzie, Daddy sama abangmu nunggu di luar." ajaknya lagi pada anak itu.
Kenzie menoleh pada Rania yang ikut juga menoleh ke arah anak kecil itu.
"Itu bapakmu udah jemput. Sana ikut Bang Galang, katanya tadi nanyain bapakmu kapan jemput." suruh Rania.
Kenzie malah menggelengkan kepala, "Nanti ajalah. Kenzie mau tidur dulu. Ngantuk." lalu bocah kecil itu akting menutup mata.
Gemas! Sungguh, Rania pengen banget cubit tuh pipi bocil.
"Sana keluar, Galang. Bilang ke bapaknya Kenzie, anaknya mau tidur. Jemput nanti malam aja." suruh Rania pada akhirnya.
"Tapi Om Arkan udah nunggu, Tan."
"Ya terus? Kalau anaknya belum mau pulang, gimana?" tanya Rania.
Galang menatap Kenzie, sekali lagi bertanya, "Kenzie, beneran nggak mau pulang sekarang?"
Kenzie membuka mata, "Nanti aja, Bang Galang. Kenzie mau cerita soal ngepet dulu sama Tante Rania."
Lah? Bener-bener kacau kalau minta Rania menjaga anak kecil.
"Yaudahlah, terserah." Galang memutuskan keluar dari kamar Rania tanpa hasil.
Di luar kamar, Arkan hanya bisa menghela napas mendengar percakapan Kenzie dan Rania.
"Daddy pulang dulu aja. Nanti Zidan yang bawa pulang Kenzie." ucap Zidan menyarankan.
Arkan menggelengkan kepala, "Kita tunggu sampai Kenzie bangun aja. Palingan sejam sudah puas tidurnya."
Galang keluar sambil menutup pintu kamar Rania. "Om, Kenzie belum mau pulang." ucap Galang pada Arkan.
Arkan mengangguk paham, "Om izin nunggu Kenzie sampai bangun, Lang. Apa nggak masalah?" tanya pria dewasa itu tak enak hati. Dia sudah mendengar dari Nathan bagaimana selama ini Zidan sering menginap di rumah Rania dan tentu saja pasti merepotkan.
"Santai aja, Om. Ayo kita ke bawah." ajak Galang, santai.
Arkan menunggu di ruang keluarga sambil memeriksa laporan yang dikirim Nathan via email.
Sementara itu Galang dan Zidan sedang membersihkan diri. Karena mereka berdua baru saja pulang dari outing class dan merasa gerah.
Satu jam kemudian.
Galang pikir Rania hanya bercanda saat bilang akan tidur, tapi tantenya itu beneran tidur nyenyak bersama Kenzie. Kenzie memeluk Rania dengan tangan kecilnya, sangat menggemaskan.
Karena tak mau mengganggu tidur Rania dan Kenzie, Galang kembali ke ruang keluarga.
"Mana adek gue, Lang?" tanya Zidan yang melihat Galang turun sendiri.
"Masih tidur." jawab Galang sambil mengangkat ponselnya. "Ada buktinya." Dia sempat mengambil video yang memperlihatkan Rania dan Kenzie tidur nyenyak.
Setelah melihat video itu, Zidan menghela napas. "Gimana, Dad? Kita pulang aja. Biar Kenzie nginep." usul Zidan.
"Kasihan adekmu, Kenzie." Arkan menggeleng ragu.
"Atau kita jemput lagi setelah Kenzie bangun." mencari jalan tengah.
Arkan tidak langsung menjawab. Dia perlu mempertimbangkannya dengan serius. Apalagi setelah tahu Kenzie sempat mengalami kekerasan dari pengasuhnya, rasanya ia tak bisa mempercayakan Kenzie pada orang lain.
"Kenzie nggak bakalan kenapa-napa, Dad. Di sini aman. Aku juga sering nginep." kata Zidan meyakinkan.
Pada akhirnya Arkan pun setuju pulang dulu bersama Zidan. Setelah berpamitan pada Galang, anak dan ayah itu langsung meninggalkan kediaman Rania.
"Daddy nggak bilang mau pulang cepat." ujar Zidan di perjalanan pulang. Arkan mengemudi sendiri dan Zidan duduk di sampingnya. Mobil Zidan ditinggal di rumah Galang.
"Niatnya mau kasih kejutan buat kamu dan Kenzie. Siapa sangka malah Daddy yang dapat kejutan, Kenzie mengalami kekerasan. Kamu nggak tahu?" tanya Arkan, serius. Tatapannya seolah menunjukkan dia tak menerima jawaban bohong. Hanya kejutan yang Arkan inginkan saat ini.
"Aku juga baru tahu semalam, Dad." jujur Zidan.
Arkan menghela napas panjang, dia tak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.
"Ya, semua salah Daddy." sesal Arkan.
"Salah Oma. Kalau Oma tulus sayang sama Kenzie, akan berbeda ceritanya." desah Zidan, mengepalkan tangannya.
Arkan ingin membantah tapi ucapan Zidan memang kenyataannya. Rosa tak pernah tulus menerima kehadiran Zidan dan Kenzie sebagai bagian dari Arkan. Padahal mereka berdua anak kandung Arkan.
"Kita akan pindah. Kamu dan Kenzie akan jarang bertemu Oma." ucap Arkan, tenang.
"Emang boleh pindah rumah?" telisik Zidan tak yakin. Dia tahu betul bagaimana Rosa mencoba menahan Arkan tinggal, dengan embel-embel Rosa akan membantu mengasuh Zidan dan Kenzie, nyatanya zonk. Jangankan mengasuh, Rosa justru memberikan tekanan mental buruk untuk Zidan dan Kenzie.
"Boleh." jawab Arkan.
"Baguslah. Jadi aku nggak perlu ketemu Oma sama Tante Luna." Zidan mengangguk, cukup lega.
"Tapi Oma kasih syarat. Kita bisa pindah kalau Daddy menikah. Menurut kamu, gimana?" tanya Arkan hati-hati. Selama ini ia tak pernah membahas ibu sambung dengan Zidan, ini pertamanya kalinya, dan Arkan cukup was-was dengan reaksi putra sulungnya itu.
"Daddy punya pacar?" tanya balik Zidan, tak langsung menjawab Arkan.
"Nggak" Arkan menggeleng kecil.
"Berarti sama aja bohong. Kita nggak akan bisa pindah dari rumah Oma." desah Zidan kecewa.
"Daddy emang nggak punya pacar, Zidan. Tapi bukan berarti nggak bisa menikah." jelas Arkan.
Zidan menggumam kecil tanpa menoleh pada Arkan, "Logikanya gimana mau nikah kalau pacar aja nggak punya."
"Menikah nggak harus ada pacar."
"Terus nikah sama siapa? Kalau sama Tante Luna, nggak akan Zidan kasih restu. Mending Zidan sama Kenzie ngekos aja, hidup berdua daripada tinggal sama ibu sambung pilihan Oma itu." gerutu Zidan, tapi serius.
"Kamu segitunya nggak suka sama Tante Luna?" toleh Arkan sebentar.
"Ngapain Zidan harus suka sama orang yang nggak suka kita? Buang-buang waktu. Tante Luna cuman suka Daddy aja, tapi sama aku dan Kenzie nggak pernah tulus." jawab Zidan, sesuai pengalaman. Dia sudah beberapa kali berinteraksi dengan si Luna-Luna itu.
"Yaudah, kamu bantu cariin istri buat Daddy." pinta Arkan. Lebih baik melibatkan putranya juga, karena dia memang mencari istri yang bisa akur dengan Zidan dan Kenzie.
"Ada tuh Tante Rania, mumpung single. "spontan Zidan menjawab.
Bantu share yah teman-teman.