sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Truk Itu Bawa Papan Nama Rumah Bintang
Debu dari arah Waingapu naik lagi. Tebal.
Pagi ini matahari baru keluar, tapi langit sabana Kolorai jadi gelap lagi karena debu truk besar.
Di bawah pohon lontar, Sari masih duduk di tanah. Hamil tiga bulan, perutnya sakit lagi habis lari tadi. Johan di sampingnya, kaki diperban, tongkat bambunya patah. Bintang umur satu tahun di tengah, peluk Sari erat. Tadi dia baru lari 100 meter sambil teriak, "Mama rumah jangan dijual".
20 warga, Mama Leni, Pak Frans yang bawa HP, sama Ibu dari Dinsos yang tadi sudah sobek suratnya, semua lihat truk itu belok ke arah Rumah Bintang yang setengah gosong.
Truk berhenti. Pintu dibuka. Turun lima orang pakai helm kuning proyek. Bawa linggis sama gergaji mesin.
Yang paling depan angkat surat.
"Permisi warga Kolorai. Kami dari PT Nikel Sejahtera. Ada sengketa tanah dua hektar ini. Sesuai surat pengadilan, rumah kayu ini kami amankan dulu sebagai barang bukti. Kami bawa ke gudang di Waingapu. Tolong jangan halangi."
Mau angkut Rumah Bintang. Rumah kayu jati yang dibangun Sari sama Johan malam-malam dulu. Rumah yang semalam setengah jadi abu karena dibakar, sekarang mau dibawa pakai truk.
Sari mau berdiri, tapi perutnya nyeri lagi.
"Ini rumah saya! Tanah ini warisan bapak saya 30 tahun! Sertifikatnya asli!"
Johan ikut bangun pakai lutut. Tidak pakai tongkat.
"Jangan angkut rumah anak saya! Rumah ini saya bangun pas istri saya hamil Bintang. Pas semua orang bilang Bintang harus dibuang!"
Lima orang helm kuning itu tidak dengar. Mereka langsung congkel papan rumah yang gosong pakai linggis.
KREKKK.
Papan pertama lepas. Papan yang ada tulisan "Rumah Bintang" pakai cat putih. Tulisan yang dulu Johan tulis sendiri. Jatuh ke tanah.
Bintang lihat papan nama rumahnya jatuh.
Dia lepas pelukan Sari. Berdiri.
Tadi kakinya bengkok, sekarang bisa lari. Bintang lari 20 meter balik ke rumahnya yang mau diangkut itu.
Dia peluk tiang utama rumah yang masih berdiri. Kayu jatinya hitam gosong, tapi masih kuat. Dipeluk pakai dua tangan kecilnya.
"Jangan! Rumah! Bintang!"
Baru kali ini Bintang nangis kencang. Bukan nangis pelan. Nangis meraung keras. Seperti dulu waktu kakinya sakit setahun lalu.
Sari lihat Bintang peluk tiang. Sari ikut merangkak 20 meter dari pohon lontar ke rumah. Seperti Johan semalam merangkak lewat api.
"Johan! Sari! Bintang!" Mama Leni teriak. 20 warga ikut lari ke rumah, halangi lima orang helm kuning itu.
Dorong-dorongan di depan rumah gosong.
Pak Frans angkat HP, video lagi. Dia tulis judulnya cepat, "PT Nikel Mau Angkut Rumah Anak Yang Baru Bisa Lari Karena Cinta Ibunya".
Video itu di-upload. Satu menit sudah 20 ribu yang nonton.
Ibu Dinsos yang tadi sobek surat itu maju. Dia halangi linggis pakai badannya.
"Saya dari Dinas Sosial. Saya lihat sendiri Bintang tidak telantar. Rumah ini rumah anak. Tidak boleh diangkut! Kalau diangkut saya lapor ke Jakarta!"
Lima orang helm kuning kaget. Ada Ibu Dinsos, ada 20 warga, ada video Pak Frans yang sudah 50 ribu penonton dalam tiga menit.
Dari truk turun satu orang lagi. Pakai jas mahal, kacamata hitam mahal. Bukan helm kuning. Dia bosnya dari Jakarta.
Bos itu lihat Sari, Johan, Bintang peluk tiang rumah jadi satu.
Dia senyum dingin. Senyumnya sama seperti orang yang culik Bintang dulu.
"Wah drama yang bagus Bu Sari, Pak Johan. Drama peluk tiang rumah gosong demi konten viral ya? Saya sudah lihat video Pak Frans, 50 ribu views. Hebat. Tapi drama ini tidak akan selamatkan tanah ini di sidang tujuh hari lagi. Kita lihat saja di pengadilan nanti siapa yang menang."
Semua warga diam dengar itu.
Pak Frans dengar kalimat terakhir itu, langsung rekam pakai HP.
"Bapak tadi bilang apa? Saya rekam ya!"
Bos itu kaget keceplosan, langsung tutup mulut dan masuk lagi ke truk.
"Bawa rumah ini sekarang! Ke gudang Waingapu! Cepat!" Dia teriak dari dalam truk.
Lima orang helm kuning itu tarik tiang yang dipeluk Sari, Johan, Bintang.
Keluarga itu keseret satu meter di tanah berdebu.
Baju Sari kena paku di tiang gosong. Sobek sedikit. Tangannya luka kena paku. Bintang juga tangannya luka kena paku tiang.
"Bintang lepas nak! Tangan Mama luka!" Mama Leni teriak.
Tapi Bintang tidak lepas. Peluknya makin erat, meskipun tangannya luka.
Sari sama Bintang luka di tangan, darahnya netes ke tanah sabana Kolorai. Tanah dua hektar warisan bapak Sari itu.
Lihat Sari sama Bintang luka, 20 warga marah. Bukan dorong lagi. Mereka angkat batu kecil.
"Jangan angkut Rumah Bintang! Ini tanah mereka!"
Batu kena kaca depan truk. Pecah.
Bos di dalam truk panik.
"Jalan! Jalan sekarang! Bawa papan namanya saja! Tidak usah semua rumah!"
Lima orang helm kuning itu lepas tiang. Mereka cuma ambil papan nama "Rumah Bintang" yang sudah jatuh tadi. Papan cat putih itu.
Papan itu dinaikkan ke bak truk.
Truk besar itu jalan kencang tinggalkan Rumah Bintang gosong. Tiang utamanya masih berdiri, masih dipeluk Sari, Johan, Bintang yang tangannya luka.
Truk bawa papan nama Rumah Bintang ke Waingapu sebagai barang bukti.
Di bak truk yang jalan kencang itu, papan cat putih itu goyang-goyang mau jatuh.
Sari, Johan, Bintang lihat truk bawa papan nama rumah mereka.
"Papan nama Rumah Bintang dibawa!" Warga teriak.
Bintang yang tangannya luka, lihat papan namanya dibawa truk, teriak lagi lebih keras dari tadi pagi.
"Rumah Bintang! Jangan bawa! Bintang bisa lari!"
Tapi truk sudah jauh. Debunya tutup truk itu.
Di tanah depan rumah gosong, ada bekas luka tangan Sari sama Bintang tadi. Jatuh di tanah warisan.
Pak Frans video semua. Dari Bintang peluk tiang nangis, Sari merangkak, sampai papan nama diangkut truk. Video itu sudah 200 ribu penonton dalam 10 menit.
Judul videonya, "Tangan Ibu dan Anak Luka Demi Pertahankan Rumah Dari Truk PT!"
Komennya sudah 5 ribu. Semua bilang "Save Rumah Bintang!"
Di bawah pohon lontar tempat Sari melahirkan Bintang setahun lalu, di tanah yang ada bekas luka tangan tadi, tumbuh satu bunga kecil kuning. Bunga yang sama seperti kupu-kupu kuning yang dikejar Bintang empat hari lalu sebelum diculik.
Sari lihat bunga itu dari pelukan tiang rumah gosong, dia bisik ke Bintang,
"Bintang... lihat nak... bunga kuning... seperti kupu-kupu yang kamu kejar sebelum diculik... bunga itu tumbuh di atas tanah kita... tanah dua hektar ayah Mama..."
Bintang lihat bunga kuning itu, berhenti nangis. Senyum. Senyum pertama setelah nangis meraung tadi.
Johan lihat bunga itu juga, ikut nangis tapi senyum juga.
Malam itu jam delapan malam, tujuh hari sebelum sidang tanah. Rumah Bintang gosong setengah, tanpa papan nama, tiang utama masih dipeluk keluarga.
Dan di HP Pak Frans, video 200 ribu penonton itu sudah satu juta penonton dalam satu jam. Ada komen dari akun centang biru asli, akun Ibu Ani dari Yayasan Bintang Kecil Jakarta, yang kirim cek asli yang tidak kebakar dulu,
Komennya: "Bu Sari, Pak Johan, Adik Bintang, saya Ibu Ani dari Jakarta, saya lihat video papan nama diangkut truk, saya nangis, saya sudah naik pesawat ke Waingapu malam ini, saya bawa pengacara asli untuk sidang tujuh hari lagi, saya sampai besok pagi jam delapan, tunggu saya di Rumah Bintang gosong itu ya, jangan kasih tanah itu!"
Besok jam delapan pagi, Ibu Ani datang dari Jakarta.
Tapi malam ini, tangan Sari sama Bintang masih luka kena paku tiang rumah