NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Jatuh Cinta Pada Musuhku Sendiri

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Diam-Diam Cinta / Balas Dendam
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Uranenantios

🔥CRAZY UP🔥

Alina Prameswari ingin membersihkan nama mendiang ayahnya yang dituduh menggelapkan miliaran rupiah oleh keluarga Mahendra. Untuk membongkar kebenaran, ia harus berhadapan dengan Adrian Mahendra, CEO dingin yang ia anggap sebagai musuh.

Mereka terpaksa bekerja sama untuk mengungkap konspirasi di balik skandal perusahaan. Namun, ketika sandiwara menjadi pasangan mulai menumbuhkan perasaan, rahasia tentang kematian mantan tunangan Adrian justru mengancam menghancurkan segalanya.

Bagaimana jika pria yang paling ingin Alina jatuhkan justru menjadi orang yang paling sulit ia lepaskan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Jumat pagi Alina datang ke lantai tiga puluh dengan anggapan hari itu akan diisi baris yang sama. Ia sudah menyiapkan pertanyaan kecil soal catatan kaki Oscar, dan ia sudah bertekad tidak membahas usulan kemarin kecuali ada orang lain yang membukanya. Badge ia pasang sebelum keluar dari lift. Sari hanya mengangguk dari ujung koridor, tanda ruangan boleh dipakai, bukan tanda ada sambutan.

Jumat, 23 Oktober, pesan Gita masuk ke ponsel Dimas sebelum rapat pagi selesai. Tidak panjang. Tidak memanggil nama dengan ramah.

“Saya akan tulis soal penyusup di data room Mahendra akhir pekan ini kecuali ada klarifikasi yang masuk akal. Off the record, ada yang bilang perempuan itu dekat dengan direktur utama.”

Dimas membaca dua kali di lorong lantai dua puluh tujuh, lalu tidak membalas. Ia memotret layar hanya untuk dibawa ke atas, bukan untuk diteruskan. Pukul sepuluh ia sudah berdiri di pintu ruang baca terbatas. Adrian ada di dalam, dipanggil dari lantai tiga puluh dua dengan alasan yang Sari tulis sebagai “klarifikasi jadwal”. Alina sudah duduk, badge terpasang, folder belum dibuka karena Dimas yang memegang izin hari itu dan izinnya belum ia berikan.

“Waktu kita tinggal dua hari,” kata Dimas. Ia meletakkan ponsel di meja, pesan itu terbuka. “Kalau Gita turun dengan narasi penyusup, Aruna akan bereaksi sebelum kita sempat membersihkan draf.”

Alina membaca kalimat Gita tanpa menyentuh ponsel. Off the record lagi. Akhir pekan ini. Dan satu keterangan yang kemarin ia tolak sudah hidup di luar ruangan: ada yang bilang perempuan itu dekat dengan direktur utama. Ia tidak bertanya siapa “yang bilang”. Nama itu tidak akan membuat deadline bergeser.

Adrian berdiri di dekat jendela. Kerai tidak sepenuhnya turun. Dari celahnya Sudirman terlihat seperti hari kerja biasa. “Kemarin Anda menolak,” katanya. “Hari ini situasinya berubah. Saya tidak meminta Anda menjadi aksesori. Saya meminta Anda mempertimbangkan sandiwara terbatas untuk menutup rumor sebelum dia menutup deal.”

“Dia,” ulang Alina. “Gita. Bukan pasar secara umum.”

“Gita cukup,” jawab Dimas. “Helena sudah memegang penahanan, bukan selesai. Kalau tulisan ini terbit, penahanan itu tidak berguna. Saya tidak suka membawa usulan yang kemarin mati. Saya lebih tidak suka membaca judul yang tidak bisa kita tarik.”

Alina duduk diam lebih lama daripada yang biasa ia beri pada ruangan ini. Pena di tangannya tidak ia pakai untuk mencatat pesan. “Syarat.”

“Anda yang buat,” kata Adrian.

“Aturan tertulis. Batas sentuhan. Batas pernyataan ke media. Saya bukan pacar. Saya konsultan yang sedang menjalankan kontrak. Kalau ada yang bertanya, jawaban standar yang sama. Tidak ada kunjungan ke rumah. Tidak ada panggilan sayang. Dan ini sementara. Maksimal sampai closing atau sampai rumor reda, mana yang lebih dulu. Kalau salah satu dari itu dilanggar, sandiwaranya berhenti hari itu juga, tertulis.”

Adrian tidak menawar batasnya menjadi lebih longgar. “Ditulis. Bukan diingat.”

Adrian mengangguk. “Yusuf akan draft klausul tambahan. Risiko menyesatkan pasar ada. Kita harus hati-hati.”

“Panggil sekarang,” kata Alina. “Jangan saya setujui sesuatu yang besok diubah jadi pengumuman.”

Yusuf tiba empat puluh menit kemudian, dasinya masih dari rapat lain, map tipis di tangan. Sari menutup pintu dan tetap di luar. Di dalam, Dimas mengulang pesan Gita tanpa menambah kata. Yusuf tidak duduk sebelum membaca pesan itu sendiri.

“Kalau sandiwara ini terbaca sebagai pernyataan resmi yang menyesatkan investor, konsekuensinya bisa lebih besar dari rumor penyusup,” katanya. “Pastikan narasi tetap ‘hubungan pribadi yang tidak relevan dengan transaksi’. Jangan bilang hubungan itu menjelaskan akses. Jangan bilang akses diberikan karena hubungan. Jangan biarkan komunikasi perusahaan mengutip status pribadi sebagai alasan due diligence selesai. Saya bisa menyusun klausul tambahan di antara Anda berdua. Saya tidak bisa melindungi kalimat yang diucapkan berbeda dari klausul itu.”

“Klausulnya memuat apa?” tanya Alina.

“Bahwa pengaturan ini tidak mengubah perjanjian kerja sama terbatas. Bahwa Anda tetap konsultan eksternal di konteks bisnis. Bahwa setiap pernyataan ke media harus memakai kalimat yang sudah disepakati tertulis. Bahwa salah satu pihak dapat menghentikan pengaturan dengan pemberitahuan tertulis. Dan bahwa tidak ada pihak yang boleh menggambarkan hubungan itu sebagai faktor harga, faktor closing, atau faktor kebersihan draf.” Yusuf menatap Adrian, lalu Alina. “Saya tidak merestui bohong kepada pasar. Saya hanya bisa membuat batas supaya bohong itu tidak menyamar menjadi fakta transaksi. Kalau Anda tidak sanggup memegang batas itu, lebih baik Gita menulis dan kita hadapi tulisannya dengan bantahan yang miskin.”

“Bantahan yang miskin akan dibaca sebagai pengakuan,” kata Adrian.

“Bisa,” jawab Yusuf. “Itu sebabnya ini pilihan buruk di antara pilihan yang juga buruk. Saya ingin kalian mendengar itu sebelum mengangguk.”

Alina memandang pesan di ponsel Dimas sekali lagi. Akhir pekan. Dua hari. Ia memikirkan baris Lazuardi yang masih ditahan, bukan dihapus, dan betapa cepat sebuah tulisan bisa membuat orang panik lalu menghapus yang belum sempat ia cocokkan. Ia tidak memikirkan tangan siapa yang akan dipegang. Ia memikirkan pintu yang akan tertutup.

“Saya setuju sementara,” katanya. “Bukan karena saya ingin. Karena kalau tulisan itu turun tanpa klarifikasi, yang terbakar bukan hanya rumor. Syarat saya tetap. Aturan rinci kita tulis sebelum ada foto. Kalau ada kamera sebelum aturannya ada, saya tidak berdiri di samping siapa pun.”

“Tidak ada foto hari ini,” kata Adrian.

“Besok boleh, setelah kertas,” tambah Dimas. “Bukan di Menara kalau Mbak tidak mau gedung ini yang menjadi saksi pertama. Tempatnya bisa netral.”

“Saya yang tentukan tempatnya,” kata Alina. “Dan saksinya bukan orang kantor semata. Mei harus membaca. Kalau dia bilang aturannya mempermalukan, kita ubah sebelum tanda tangan.”

Adrian tidak bertanya siapa Mei panjang-panjang. Nama itu sudah ada di catatan kontak darurat yang Alina tulis di lampiran administrasi badge, sebagai teman, bukan sebagai keluarga. “Bawa dia. Asal bukan di sini, dan asal tidak ada salinan draf yang ikut.”

Yusuf sudah mencatat pokok klausul di kertasnya. “Saya kirim draf kalimat standar sore ini ke Pak Adrian dan ke Mbak Alina, terpisah. Kalimatnya satu: hubungan pribadi, tidak relevan dengan transaksi. Kalau ada yang menambahkan kata akses, tolak. Jangan diperhalus.”

“Kirim,” kata Alina.

Yusuf pamit. Dimas menyimpan ponsel. Pesan Gita tidak dibalas. Di ruang baca, folder yang sedari pagi belum dibuka akhirnya dibuka hanya untuk memastikan baris Lazuardi masih berstatus dalam peninjauan internal. Masih. Alina tidak menambah catatan baru. Hari ini catatannya bukan angka.

Ia keluar sebelum jam makan. Badge ia lepas di lift. Di taksi ia tidak menelepon siapa pun dulu, karena kalimat yang akan ia ucapkan perlu sampai di tempat yang tidak ada speaker perusahaan.

Malam itu, di studio, lampu tangga mati seperti biasa. Alina duduk di tepi kasur, bukan di meja lipat, dan menelepon Mei.

Mei mengangkat pada dering kedua. Di belakangnya ada suara mesin kopi dan piring. “Kalau ini soal gula habis, saya tutup.”

“Bukan.” Alina menekan ponsel lebih dekat. “Saya akan berpura-pura. Sementara. Jangan bilang Ibu dulu.”

Mei tidak tertawa. Suara piring di belakangnya berhenti. “Pura-pura apa?”

“Dekat dengan direktur Mahendra. Supaya saya tidak ditulis sebagai penyusup. Ada aturan. Besok saya ingin menulisnya di tempat kamu, bukan di gedungnya. Kamu baca. Kamu boleh mencoret. Kamu jangan menjadikan ini undangan.”

“Kopi Sore buka jam delapan,” kata Mei. “Datang sebelum orang kantor isi meja jendela. Bawa pena sendiri. Dan, Lin, saya tidak akan bilang ke Ibu. Saya juga tidak akan bilang ke siapa pun bahwa kamu sedang berhutang penjelasan. Makan dulu kalau kamu belum makan. Dendam dan sandiwara sama-sama tidak boleh disusun dengan perut kosong.”

Alina menatap coretan 12,4 di meja seberang. “Besok saya makan di sana.”

“Bagus. Sekarang tutup teleponnya. Jangan tulis detailnya di chat.”

Panggilan berakhir. Alina tidak mengirim pesan lanjutan. Di Menara, draf kalimat Yusuf masuk ke surel Adrian dan ke surel yang Alina baca sekali lalu unduh ke folder yang tidak tersambung awan kantor. Satu kalimat. Hubungan pribadi, tidak relevan dengan transaksi. Ia belum menandatangani apa pun malam itu. Persetujuan yang ia berikan sore tadi masih berupa kata, dan kata itu ia berikan karena tip Gita, bukan karena ia ingin berdiri di samping Adrian.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!