📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7 - So Bad
Hari itu aku kembali bekerja seperti biasa.
Langit pagi terlihat cerah, tetapi hatiku justru terasa begitu berat.
Aku berusaha melupakan kejadian kemarin.
Namun, entah kenapa, aku malah teringat Sita.
Kalau dia tahu aku bertemu kembali dengan Liam dan bahkan membiarkan laki-laki itu masuk ke apartemenku, Sita pasti akan menceramahiku habis-habisan.
Dulu, saat mendengar apa yang Liam lakukan kepadaku, Sita bahkan hampir melabraknya. Tapi aku mencegahnya.
Liam sangat populer di sekolah. Aku takut kalau Sita benar-benar melabraknya, justru dia yang akan berhadapan dengan orang-orang yang membela Liam.
Aku sedang menatap layar komputer ketika Doni memanggilku.
“Elle...” panggil Doni.
Aku menatapnya.
“Tadi tim kreatif udah ngirim konsep awal Ginsera. Aku udah nerusin ke email kamu. Coba kamu cek.”
“Oke, Mas.”
Aku membuka email dan melihat konsep awal Ginsera.
Ada beberapa alternatif konsep yang dibuat berdasarkan brief dari Adinata Food.
“Udah, Elle?” tanya Doni.
“Udah, Mas.”
“Menurut kamu, mana yang paling sesuai dengan keinginan klien?”
Aku kembali melihat konsep-konsep tersebut.
“Kayaknya yang nomor dua, Mas.”
Doni mengangguk.
“Ya udah. Coba sekarang kamu hubungi pihak klien dan kirim juga konsep awalnya. Tanyakan mana yang paling sesuai sama keinginan mereka.”
“Siap, Mas.”
Aku kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan kepada Davin.
[ Kak, minta alamat email kamu dong. Aku mau kirim konsep awal Ginsera. Atau alamat email perusahaan juga nggak apa-apa. ]
Tak lama kemudian, Davin membalas dengan mengirimkan alamat email Adinata Food.
Aku pun langsung mengirimkan konsep awal Ginsera ke alamat email tersebut.
Setelah itu, aku kembali mengerjakan pekerjaanku yang lain.
Beberapa saat kemudian, ponselku berdering.
Davin menelepon.
Aku langsung mengangkatnya.
“Halo, Kak?”
Mona yang duduk di sebelah mejaku langsung menoleh.
“Kak Davin?” tanyanya lirih.
Aku mengangguk.
Mona langsung menggeser kursinya dan mendekat ke arahku.
Namun, suara yang terdengar dari seberang bukan suara Davin.
—Ini saya.
Aku membeku.
Suara Liam.
Mona yang penasaran langsung mendekatkan telinganya ke ponselku.
—Saya sudah melihat konsep awalnya.
Mona langsung menjauhkan telinganya dan menatapku.
“Bukan Kak Davin itu,” gumamnya.
Aku tetap diam.
—Yang paling sesuai dengan keinginan saya adalah konsep nomor dua. Tapi ada beberapa bagian yang perlu direvisi.
Mona kembali ke mejanya.
Aku menekan tombol mute pada ponselku.
Lalu aku berdiri.
“Elle, mau ke mana?” tanya Mona.
“Toilet.”
Begitu keluar dari ruangan, aku kembali menekan tombol mute.
“Bagian mana yang perlu direvisi?” tanyaku sambil berjalan menuju toilet.
—Unsur Koreanya masih terlalu sedikit.
“Bukannya kemarin Bapak meminta unsur Korea ditonjolkan, tetapi tidak ingin iklannya terlihat seperti iklan produk Korea?”
—Iya, betul.
“Kalau begitu, bagian mana yang menurut Bapak masih kurang?”
Begitu sampai di toilet, aku langsung masuk ke dalam salah satu bilik.
Aku sengaja pergi ke toilet karena aku tahu pembicaraanku dengan Liam tidak akan berlangsung dengan tenang jika dilakukan di meja kerja.
Aku tidak ingin orang-orang melihatku seperti sedang kurang ajar kepada klien.
—Di konsep ini, unsur Korea hanya muncul pada bagian akhir ketika produk ditampilkan. Saya ingin unsur itu terasa sejak awal.
“Tapi kalau unsur Korea terlalu banyak dimasukkan sejak awal, takutnya pesan tentang Ginsera sebagai minuman untuk semua kalangan malah kurang kuat.”
—Makanya bukan berarti semua adegan harus dibuat Korea semua.
Aku menghela napas.
—Kenapa kamu menghela napas? Apa kamu capek bicara dengan saya?
“Tidak.”
—Terus kenapa kamu menghela napas?
Aku mengepalkan tangan.
Kenapa Liam jadi menyebalkan seperti ini?
“Memangnya saya tidak boleh menghela napas? Saya manusia lho ini.”
Terdengar Liam tertawa di seberang sana.
Aku bingung.
“Kenapa Bapak tertawa?”
“Kamu lucu.”
Hah?
Lucu?
Aku terdiam.
Tiba-tiba aku teringat saat aku dan Liam masih bersama. Dulu, Liam juga pernah mengatakan aku lucu karena respons yang kuberikan.
Aku langsung menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan ingatan itu.
“Memangnya saya boneka? Lucu.”
Liam kembali tertawa.
Aku semakin bingung. Ada perasaan aneh yang perlahan muncul dalam diriku.
Entah kenapa, mendengar suara tawa Liam sedikit meredakan kekesalanku kepadanya.
“Lebih baik Bapak tertawa dulu saja. Nanti kita bicara lagi.”
—Eh, tunggu, tunggu. Jangan ditutup dulu.
“Baik.”
—Saya lanjutkan yang tadi. Berikan petunjuk Koreanya sejak awal. Bisa dari visual, musik, atau elemen lainnya. Biarkan orang penasaran sebelum produk ditampilkan.
“Baik, Pak. Saya akan sampaikan revisinya kepada tim kreatif.”
—Satu lagi.
“Apa lagi, Pak?”
—Jangan mengubah konsep besarnya.
“Baik, saya mengerti.” Aku terdiam sejenak. “Saya tutup, ya, Pak?”
—Mbak Elle...
Aku diam, menunggu lanjutan ucapannya.
—Saya senang bisa mengenal kamu.
Hah?
Apa?
Tut!
Telepon berakhir.
Aku menatap ponselku.
Kenapa Liam tiba-tiba mengatakan itu?
Itu pasti bukan berarti apa-apa.
Aku tidak akan mempercayainya lagi.
Setelah itu, aku langsung keluar dari toilet dan kembali ke ruanganku.
Begitu sampai di meja, aku mengirim email kepada tim kreatif untuk menyampaikan revisi yang diminta Liam.
Setelah email terkirim, tiba-tiba muncul notifikasi pesan masuk di ponselku.
Kulihat nomor yang tak kukenal.
Namun, bukan nomor itu yang membuatku terkejut.
Melainkan isi pesannya.
[ Kalau ada apa-apa, langsung hubungi aku aja. Nggak usah ke Davin. Liam. ]
Itu nomor Liam?
Liam mengirim pesan kepadaku?
Dari mana dia mendapatkan nomorku?
Hanya ada satu orang yang mungkin memberikan nomorku kepadanya.
Davin.
Aku langsung mengirim pesan kepada Davin.
[ Kak, kenapa kamu kasih nomor aku ke Pak William? ]
Tak lama kemudian, Davin membalas.
[ Maaf. Kata Pak William biar cepet aja. Nggak perlu perantara. Aku sebagai bawahannya ya nggak bisa nolak, dong. ]
Aku menghela napas membaca pesan Davin.
Dasar.
Aku kemudian mendekati meja Mona.
“Aku sebel sama pacar kamu,” kataku.
Mona langsung menoleh.
“Kenapa?”
Aku menunjukkan riwayat percakapanku dengan Davin.
“Cie...” ucap Mona.
“Ssst.” Aku langsung menempelkan jari telunjuk di bibir.
“Ada apa?” tanya Bintang yang ikut memperhatikan kami.
“Ah, nggak apa-apa. Kamu lanjut kerja aja.”
Bintang mengangkat bahu lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
Mona mendekatkan wajahnya kepadaku.
“Kayaknya Pak William suka sama kamu, nih, Elle.”
Aku langsung menatapnya.
“Ngaco. Nggak mungkin lah.”
“Nggak ada yang nggak mungkin, Elle. Itu Aldi aja bisa suka sama kamu.”
“Udah... udah. Lanjut kerja aja.”
Aku menarik kursiku kembali ke mejaku.
Liam menyukaiku?
Tidak mungkin.
Seseorang yang menjadikan seorang perempuan sebagai bahan taruhan bisa menyukai perempuan itu?
Tidak mungkin.
Aku tidak tahu kenapa dia memberiku nomor pribadinya. Kalau hanya untuk urusan pekerjaan, aku tetap bisa menghubunginya melalui Davin. Lalu kenapa Liam justru memintaku menghubunginya langsung?
Aku menghela napas dan kembali menatap layar komputer. Aku mencoba melupakan kejadian tadi, termasuk suara Liam yang tiba-tiba muncul dari nomor Davin dan pesannya yang menyuruhku menghubunginya langsung jika ada urusan pekerjaan. Menyebalkan.
Kenapa dia harus membuat semuanya jadi rumit?