Dunia tidak pernah tahu nama negeri ini. Tapi semua orang di dalamnya tahu satu aturan: jangan pernah percaya siapa pun.
Kenzo Adriel berumur tujuh tahun saat ia bersembunyi di balik semak dan menyaksikan keluarganya dibantai habis — sementara negerinya sendiri berpura-pura hal itu tidak pernah terjadi.
Sepuluh tahun kemudian, ia bukan lagi anak itu.
Ia adalah bayangan yang disewa untuk membunuh orang-orang yang terlalu berbahaya untuk disentuh hukum. Tidak ada yang tahu wajahnya. Tidak ada yang tahu namanya yang sebenarnya. Dan tidak ada yang tahu bahwa setiap kontrak yang ia ambil hanyalah alasan untuk mendekati satu nama — dalang dari malam yang menghancurkan hidupnya.
Pencarian itu membawanya ke dalam rumah Alexander Gunawan, salah satu orang paling berkuasa — dan paling berbahaya — di negeri ini.
Sebagai tamu, bukan pembunuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Komara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 31: BUNGA UNTUK AYAH YANG TIDAK DIAKUI
Yayasan Buku Pelabuhan hanya sebuah toko buku tua dengan rak kayu miring dan bau kertas lembap. Sore itu belasan anak buruh pelabuhan duduk di lantai, membaca keras-keras dengan telunjuk menyusuri baris. Pintu berdenting, dan seorang gadis masuk membawa koper kecil.
Anak-anak berhenti membaca.
Ia tidak memakai apa pun yang mahal, hanya blus putih, rok panjang abu muda, dan rambut hitam sebahu yang disisir sederhana. Tapi wajahnya tenang dan teduh, dan senyumnya membuat penjaga toko yang sedang mengelap meja lupa mengelap.
"Maaf mengganggu," katanya. Suaranya pelan dan jernih. "Saya Gina. Saya dengar yayasan ini butuh relawan."
"Butuh," kata penjaga itu cepat, terlalu cepat. "Eh, maksud saya... iya, Mbak. Silakan."
Seorang bocah laki-laki menarik ujung roknya. "Kakak cantik banget kayak putri."
Gadis itu berjongkok sampai matanya sejajar dengan anak itu. "Terima kasih. Tapi aku lebih suka dipanggil Kak Gina. Putri nggak pernah mau bantu cuci piring."
Anak-anak tertawa. Di sudut, seorang bapak pengantar galon berhenti di ambang pintu dan lupa menurunkan galonnya.
Setengah jam kemudian Gina sudah duduk bersila di lantai, membacakan dongeng dengan suara yang berbeda untuk tiap tokoh. Sebelum pergi ia menyelipkan amplop tebal ke kotak donasi tanpa menulis nama.
"Ini terlalu banyak, Mbak," bisik penjaga toko, setelah mengintip isinya.
"Buat beli buku. Sama sepatu anak-anak yang jari kakinya keluar." Ia tersenyum kecil. "Jangan bilang siapa yang kasih, ya."
Di pintu, seorang perempuan berusia tiga puluhan menunggunya. Bajunya rapi dan sederhana, matanya waspada. Namanya Retno, mantan pengasuh yang sudah mengikuti Gina sejak umur sepuluh tahun. Ia menatap amplop yang masuk kotak, lalu menatap majikannya, lalu menghela napas pelan.
"Itu uang sekolahmu bulan depan."
"Aku masih punya beasiswa."
"Beasiswa tidak cukup buat sepatu semua anak itu."
"Makanya aku mau cari tahu dari mana uang ini sebenarnya datang." Gina menurunkan suaranya. "Yayasan ini dapat dana dari rekening yang salah hitung. Rekening ayah, Mbak."
Retno menoleh ke kiri dan kanan, lalu menutup pintu toko sampai rapat. "Jangan sebut itu di sini."
"Aku tahu."
Pemakaman keluarga Gunawan ada di punggung bukit di utara Sarvenna, dikelilingi pagar besi dan pohon kamboja yang jarang dirawat. Sore itu tidak ada pelayat, karangan bunga, atau polisi. Hanya satu nisan marmer baru, dan di sebuah tiang penanda kecil tertulis nama ayahnya serta tanggal yang tidak ia kenali.
*ALEXANDER GUNAWAN. Berpulang akibat kecelakaan kapal.*
Gina berdiri lama di depannya dengan seikat melati putih. Retno berdiri dua langkah di belakang, tangan terlipat di depan, seperti penjaga yang bukan penjaga.
"Kata koran, kapalnya korsleting," kata Gina akhirnya. "Vila di bukit juga korsleting. Dua-duanya dalam dua hari."
"Mbak Gina..."
"Dan hanya satu pemakaman besar di kota ini, untuk pamanku Hendra. Ribuan orang, pejabat, kamera. Untuk ayahku, tidak ada siapa-siapa." Ia berjongkok dan meletakkan melati itu di kaki nisan. "Mbak, aku mahasiswi akuntansi forensik. Aku belajar membaca angka yang tidak mau jujur. Dua kecelakaan yang bunyinya sama persis dalam dua hari itu bukan kecelakaan."
Retno tidak membantah. Ia hanya menatap tanah.
"Siapa yang tahu?" tanya Gina, tanpa menoleh.
"Tidak ada yang berani bicara. Kemarin saya tanya ke kantor polisi, pura-pura keluarga jauh. Mereka bilang berkas sudah ditutup. Jam yang sama, tiga orang berjas hitam datang dan menyuruh saya pulang."
"Mereka bukan polisi."
"Bukan."
Gina menarik napas panjang. Tangannya yang tadi tegar mulai gemetar di atas lutut.
"Mbak Retno. Kamu tahu aku tahu ayahku bukan orang baik." Suaranya mengecil. "Dari umur empat belas aku tahu. Makanya aku pergi, makanya aku ganti nama, makanya aku nggak pernah pulang waktu Natal. Tapi dia yang menggendongku waktu aku demam, dia yang menandatangani kertas sekolahku dengan tangan yang selalu bau cerutu."
Ia menutup mulutnya dengan telapak tangan. Bahunya terguncang.
"Sejahat apa pun dia... aku nggak pernah mau dia dibunuh." Air matanya jatuh ke tanah merah. "Dia menyuruh orang menghilangkan orang. Aku tahu. Tapi kalau yang dibalas dengan membunuhnya itu berhenti, aku bisa mengerti. Kenapa harus ada yang membalas? Kenapa darah selalu bales darah? Kapan ini berhenti?"
Retno berlutut dan merengkuh bahunya. Gina menangis dalam diam, kepalanya bersandar ke dada perempuan itu seperti anak kecil.
"Dengarkan saya," bisik Retno. "Cuma saya dan Mbak yang tahu Mbak anaknya. Kita tidak bilang ke siapa pun. Tidak ke relawan, tidak ke kampus, tidak ke yayasan itu. Kalau yang membunuh ayah Mbak mau menghabisi sampai ke keturunannya, Mbak akan jadi yang pertama."
"Aku tahu."
"Pulanglah ke luar negeri. Besok saya urus tiketnya."
Gina mengangkat wajah. Mata merahnya basah, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya.
"Belum. Aku mau tahu dulu siapa yang menggerakkan ini. Bukan untuk membalas. Aku cuma... mau tahu." Ia menyeka pipinya dengan punggung tangan. "Dan satu lagi, Mbak. Aku mau yayasan itu hidup terus. Anak-anak itu nggak salah."
Retno menatapnya lama, lalu mengangguk perlahan, kalah.
Matahari sudah rendah ketika mereka menuruni bukit. Jalan tanah itu sepi, tanpa lampu. Gina berjalan di depan, memeluk tas, sesekali menoleh ke belakang ke arah nisan yang mengecil. Taksi bandara yang ia sewa menunggu di ujung jalan beraspal, tiga ratus meter lagi.
Retno yang pertama mendengar mesin motor.
"Mbak. Jangan menoleh. Jalan terus."
Gina menoleh juga. Tiga motor tanpa plat keluar dari tikungan di belakang mereka, pelan. Pengendaranya memakai jaket lusuh dan kain di leher, dan di depan jalan, dari semak, muncul dua orang lagi dengan sebatang besi.
"Cantik banget," kata salah satunya dengan nada yang membuat kulit Gina dingin. "Dari mana, Neng? Nyasar?"
"Kami mau pulang," kata Retno. Ia melangkah ke depan Gina. Suaranya datar dan tidak gemetar. "Minggir."
"Galak. Bagus."
Retno bergerak lebih cepat dari yang diduga mereka. Ia menyikut hidung orang pertama, memutar tubuh, menendang lutut orang kedua, dan Gina mendengar bunyi kecil yang basah. Tapi orang ketiga datang dari belakang dengan besi di tangan.
"Mbak Retno!"
Besi itu menghantam kepala Retno. Tubuh perempuan itu limbung, jatuh berlutut, dan satu pukulan lagi membuatnya tertelungkup di tanah.
"*Mbak!*"
Gina berlari ke arahnya, tapi tangan kasar menangkap pergelangannya. Ia menjerit, tas jatuh, foto gosong dari vila terlepas dan terbang ke genangan lumpur. Seseorang membekap mulutnya dengan kain yang berbau bahan kimia, dan dunia mulai miring.
"Jangan kasar-kasar," terdengar suara lelaki itu, setengah tertawa. "Barang bagus."
Ia meronta. Kukunya mencakar sebuah lengan. Ia mencoba menggigit, mencoba berteriak, tapi suaranya tertelan kain itu. Lampu taksi di ujung jalan mengecil di antara bahu-bahu bajunya yang lusuh. Sopir taksi itu tidak turun. Dia sudah melihat, menurunkan kaca sedikit, lalu menutupnya lagi, dan pergi.
Kepalanya terbentur sesuatu yang keras. Gelap.
Ia bangun karena dingin.
Lantai beton, bau karat dan oli. Tangannya terikat di belakang punggung dengan tali plastik, mulutnya bebas tapi bibirnya kering dan pecah. Gudang tua yang atapnya berlubang, dengan satu lampu bohlam yang menggantung dan bergoyang di ujung kabel.
Enam, tujuh orang. Mereka duduk di atas peti dan drum, merokok, bercakap rendah, seperti orang yang menunggu giliran. Seorang di antaranya bersiul pelan sambil memutar-mutar kunci motor di jarinya.
"Sudah bangun," katanya tanpa menoleh.
Gina menelan ludah. Tenggorokannya terbakar. Di dalam kepalanya, ia mencatat apa yang bisa dicatat: dua pintu, satu gembok, bau laut, berarti dekat pelabuhan. Ia dilatih membaca angka. Ia akan belajar membaca ruangan ini juga.
"Kalian... mau apa?"
"Santai, Neng." Lelaki pemegang kunci itu berdiri dan mendekat, dan yang lain ikut tertawa kecil di belakangnya. Ia berjongkok di depannya, begitu dekat sampai Gina mencium bau tembakau basi. "Kami cuma mau kenalan. Malam ini panjang."
"Lepaskan aku. Aku punya uang. Aku bisa..."
"Kami nggak butuh uangmu." Ia menyentuh dagu Gina dengan ujung jari kotornya. Gina menepisnya dengan kepala, dan tawa di ruangan itu makin keras. "Galak juga. Suka aku."
"Bang, jangan lama-lama." Seseorang membuka kancing jaketnya sambil berjalan mendekat. "Aku gantian."
"Sabar."
Gina memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar. Ia ingat nasihat ayahnya waktu ia berumur sembilan tahun, ketika ia tersesat di pasar: *kalau takut, jangan lari dulu. Hitung dulu apa yang kamu punya.* Ia punya kepala. Ia punya suara. Ia punya satu-satunya hal yang tidak mungkin mereka ambil: ia anak Alexander Gunawan, dan ia tidak akan mengatakannya, bahkan sekarang.
Ia mengangkat wajah. Matanya basah, tapi suaranya keluar tenang dan terkendali, jauh lebih tenang dari tangannya yang bergetar di belakang punggung.
"Kalau kalian sentuh aku, kalian tidak akan hidup lama."
Lelaki berkunci itu terdiam sepersekian detik. Lalu ia tertawa keras, tawa yang diikuti semua orang.
"Siapa yang bakal bunuh kami, Neng? Bapakmu?"
Dua orang di belakangnya sudah berdiri. Satu mulai membuka ikat pinggang.
Lampu bohlam di atas bergoyang, dan di luar gudang, jauh di balik dinding seng yang berkarat, terdengar suara mesin motor yang sangat pelan mendekat dan berhenti. Tidak ada yang mendengarnya.
Lelaki berkunci itu meraih kerah blus Gina...
*Bersambung ke Bab 32*