NovelToon NovelToon
Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Cinta Di Bawah Bayangan Tangan Besi

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:255
Nilai: 5
Nama Author: aletaia

Aria Utama, seorang arsitek bertangan dingin, mendadak terjebak dalam pusaran konflik dua pria paling dominan di kota. Di satu sisi ada Adrian Mahardika, CEO dingin dari Mahardika Group yang menawarkan perlindungan, kestabilan, dan cinta yang tenang. Di sisi lain ada Dante Vance, pemimpin sindikat kejahatan paling tak tersentuh yang siap menghancurkan dunia demi mendapatkan Aria. Saat rahasia masa lalu terkuak, Aria harus memilih antara kepastian yang aman atau gairah yang mematikan di tengah pertumpahan darah dan perebutan kekuasaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aletaia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19: Jebakan di Pelabuhan

Pengakuan tulus Adrian di dalam helikopter meninggalkan kepedihan yang mendalam di dada Aria. Selama tiga hari berikutnya, Adrian menepati janjinya. Sang CEO memperketat keamanan tanpa lagi mengurung Aria. Ia memberikan ruang bagi Aria untuk merenung, selagi tim medis dan hukum Mahardika Group bekerja nonstop untuk memulihkan kondisi fisik Adrian serta mengurai benang kusut aset kotor masa lalu.

Namun, di duniaku yang dikuasai kegelapan, Dante Vance tidak pernah membiarkan musuhnya bernapas lega.

Pukul delapan pagi, dering telepon darurat memecah keheningan kantor pusat Mahardika Group. Rian mendobrak masuk ke ruang kerja Adrian dengan wajah pucat pasi dan lembaran dokumen kargo di tangannya.

"Tuan Adrian! Terjadi krisis besar di Pelabuhan Tanjung Priok!" lapor Rian panik. "Tiga kapal kargo utama kita yang mengangkut material baja dan bahan baku proyek Mahardika Grand Tower ditahan oleh otoritas pelabuhan atas tuduhan kepemilikan dokumen palsu dan barang selundupan!"

Adrian, yang bahunya masih dibalut perban ketat di balik jas hitamnya, berdiri seketika. "Dokumen palsu? Siapa yang melakukan audit mendadak ini?"

"Konsorsium Pelabuhan yang dipimpin oleh Black Viper," jawab Rian lemas. "Dante Vance menggunakan hak veto konsorsiumnya untuk membekukan seluruh aset kargo kita. Jika material itu tidak dibebaskan dalam waktu dua puluh empat jam, proyek menara akan dihentikan secara permanen oleh pemerintah, dan Mahardika Group terancam denda klausul kebangkrutan sebesar lima triliun rupiah!"

Adrian mengepalkan tangannya di atas meja mahogany, rahangnya mengeras rapat. Dante tidak menyerang dengan peluru kali ini; sang Raja Mafia menyerang tepat di urat nadi finansial dan reputasi Mahardika Group.

"Siapkan mobil. Kita ke pelabuhan sekarang," perintah Adrian dingin.

Sementara itu, Aria yang baru tiba di studio arsitekturnya mendapati berita utama di televisi dan media sosial mengenai pembekuan kargo Mahardika Group. Berita itu dengan cepat memicu kepanikan di bursa saham, membuat nilai perusahaan Adrian merosot tajam.

Aria meraba kantung mantelnya, menggenggam kunci perak berukir yang pernah diberikan Dante. Ia tahu betul ini adalah rencana pembalasan Dante yang disusun secara matang—sebuah tebusan berdarah untuk memaksa Adrian berlutut atau melihat kerajaannya hancur berkeping-keping.

Tanpa berpikir panjang, Aria melangkah keluar studio dan menyetop taksi menuju kawasan dermaga Pelabuhan Tanjung Priok.

Pukul sebelas siang. Suasana di Dermaga Utama Tanjung Priok sangat mencekam. Puluhan kontainer raksasa bersimbol Mahardika Group berbaris kaku di bawah terik matahari. Ratusan anak buah Black Viper berseragam kargo menjaga ketat area pabean, mencegah tim hukum Adrian mendekati dokumen kapal.

Adrian berdiri di depan barikade pelabuhan, didampingi Rian dan jajaran pengacara utamanya. Di sisi lain, berdiri Dante Vance.

Sang Raja Mafia mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku, memperlihatkan balutan perban tipis di lengannya akibat tembakan Adrian tiga hari lalu. Dante memegang segelas kopi dingin, menatap Adrian dengan mata abu-abu yang berkilat penuh kemenangan.

"Permainan yang sangat rapi, Dante," desis Adrian, melangkah mendekati garis batas pabean dengan tatapan membunuh. "Kau menyalahgunakan wewenang konsorsium untuk memalsukan laporan kargo!"

Dante terkekeh rendah, suara tawa yang sarat akan dominasi dingin. Ia mengambil satu langkah maju, menatap langsung ke dalam mata cokelat gelap Adrian.

"Memalsukan?" bisik Dante seraya melempar sebuah map hitam ke dada Adrian. "Buka mata kencang-kencang, CEO berjas bersih. Dokumen kargo ini ditandatangani oleh almarhum ayahmu dua puluh tahun lalu saat merebut konsorsium ini secara ilegal. Aku hanya menggunakan hak hukum keluargaku untuk mengambil kembali apa yang dirampas!"

Adrian membaca lembaran dokumen tersebut dengan cepat. Wajahnya perlahan membeku. Ayahnya ternyata menyisipkan klausal cacat hukum dalam pengalihan aset pelabuhan dulu—sebuah bom waktu yang kini dimanfaatkan Dante untuk menghancurkan Mahardika Group secara legal dan finansial.

"Jika kau ingin kargo ini dibebaskan dan perusahaanmu selamat dari kebangkrutan..." Dante mendekatkan wajahnya, membisikkan kalimat yang mematikan di depan telinga Adrian. "...serahkan seluruh saham pelabuhanmu padaku, dan akui kekalahanmu secara terbuka di depan media."

"Dalam mimpimu, Dante!" bentak Adrian murka, meremas dokumen tersebut.

"Maka saksikanlah kerajaan kacamu runtuh hari ini, Adrian," balas Dante dingin, mengangkat tangannya untuk memberi perintah penyitaan permanen pada petugas pabean.

"Tunggu!"

Suara nyaring seorang wanita memotong ketegangan di antara mereka. Seluruh perhatian di dermaga seketika teralih.

Aria melangkah membelah kerumunan petugas dan anak buah mafia, berdiri tepat di tengah garis batas pabean antara Adrian dan Dante. Napasnya memburu, dan tatapan matanya memancarkan tekad NeKat yang membuat kedua penguasa itu tertegun kaku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!