NovelToon NovelToon
Mari Bercerai, Mas!

Mari Bercerai, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:35.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senja

“Mari bercerai, Mas!”

Rania menatap lurus ke mata suaminya tanpa gentar, meski hatinya terasa hancur perlahan.

Harsa membeku. Kata cerai tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, Rania adalah miliknya selamanya, takdir yang tak bisa diubah siapa pun.

“Apa katamu?!”

Rania menggigit bibir, menahan sesak di dada sebelum akhirnya berkata pelan namun tegas, “Aku ingin bercerai. Aku sudah lelah menjadi istrimu!”

Selama tiga tahun pernikahan mereka, semuanya baik-baik saja. Harsa mencintainya dengan cara yang hangat. Sampai kematian sang adik mengubah segalanya.

Sejak saat itu, Harsa seolah perlahan menjauh darinya. Semua waktunya habis untuk menjaga janda adiknya dan keponakan kecil mereka. Sedangkan Rania, hanya menjadi bayangan di rumahnya sendiri.

Tak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, Rania sedang berjuang melawan penyakit yang mematikan.

Akankah Harsa setuju dengan perceraian itu? Ataukah Rania memilih pergi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

“Halo? Ran! Rania! Kamu masih di sana, kan?” panggil sebuah suara nyaring dari seberang telepon, memecah lamunan Rania yang sempat buyar akibat kegaduhan di luar.

Rania tersadar, lalu mendekatkan kembali ponselnya ke telinga. “Eh, iya, Sya. Maaf banget. Tadi... aku sempat mendengar suara Mas Harsa pulang, jadi agak kurang fokus.”

Ya, Rania saat ini memang sedang menghubungi Tasya, sahabat karibnya semasa kuliah yang kini berprofesi sebagai seorang pengacara handal. Di tengah rasa sakitnya, Rania sedang berkonsultasi secara mendalam mengenai prosedur pengajuan gugatan cerainya terhadap Harsa.

“Oh, pantesan,” sahut Tasya di seberang sana sembari mengembuskan napas maklum.

“Ya sudah, kalau begitu besok kita ketemu langsung saja di luar biar obrolannya lebih jelas dan berkas-berkasnya bisa sekalian aku periksa. Sekarang, kamu sapa suamimu dulu gih. Siapa tahu dia butuh dibuatkan teh atau kopi setelah seharian di luar.”

Rania tersenyum getir, menatap pintu kamarnya yang tertutup.

“Hmm. Makasih banyak ya, Sya. Maaf merepotkan mu”

“Sama-sama, Ran. Ingat pesanku, kalau memang masih bisa diperbaiki, perbaikilah hubungan kalian. Aku sebagai sahabat hanya bisa menyarankan yang terbaik untuk pernikahanmu. Tapi, jika memang pondasinya sudah retak dan tidak bisa diselamatkan, ya mau bagaimana lagi? Kesehatan mentalmu jauh lebih penting. Pokoknya besok kita ketemu ya, aku tunggu di kafe biasa jam sepuluh pagi. Bye, Rania.”

Sambungan telepon terputus. Rania mengembuskan napas panjang yang terasa berat di dadanya. Ia bergegas turun dari atas ranjang, merapikan pakaiannya, dan mengikat rambut panjangnya ke belakang dengan asal.

Didorong oleh rasa penasaran mengenai suara jeritan tadi, ia memutar kunci dan melangkah keluar dari kamar.

Begitu sampai di pagar pembatas lantai atas, pandangan Rania langsung tertuju ke arah ruang tamu di lantai bawah.

Dari posisinya, ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Wulan yang nampak terkulai lemas sedang dibopong oleh Harsa menuju sofa panjang. Harsa kemudian mendudukkan wanita itu dengan sangat hati-hati, lalu berlutut di depannya.

Pemandangan itu nampak begitu mesra. Sangat mesra, persis seperti seorang suami yang sedang mengkhawatirkan keselamatan istri tercintanya.

“Kamu kenapa bisa sampai jatuh begini?” tanya Harsa, suaranya terdengar sangat cemas sembari memeriksa pergelangan kaki Wulan.

“Aku sepertinya keseleo, Mas. Sepatu hak tinggi ku mendadak patah saat aku baru melangkah masuk tadi,” cicit Wulan pelan.

Harsa langsung meraih sepatu yang dikenakan Wulan dan mengecek bagian tumitnya. Benar saja, hak tinggi sepatu itu patah menjadi dua. Harsa tidak tahu, bahwa Wulan sengaja mematahkan hak sepatu itu dengan tangannya sendiri saat mereka masih berada di dalam mobil tadi.

Wulan sengaja melakukannya sebagai rencana cadangan, berjaga-jaga jika Harsa mulai menjaga jarak darinya setelah insiden di rumah sakit. Dan dugaannya pun terbukti benar; Harsa langsung mengalihkan seluruh fokusnya begitu melihatnya terluka.

“Aduh, kasihan sekali kamu, Wulan. Pasti sakit banget ini,” timpal Ratna yang berdiri di samping mereka dengan wajah panik. “Biar Ibu ambilkan balsem dan minyak urut ke belakang sekarang ya. Nanti dipijat sedikit supaya tidak bengkak.”

Ratna bergegas pergi ke dapur, sementara Gavin yang melihat ibunya kesakitan mendadak mulai menangis ketakutan.

“Mama kenapa? Mama jangan sakit. Gavin nggak mau ditinggal Mama!” tangis bocah itu pecah.

Harsa yang tidak tega melihat Gavin menangis langsung mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala bocah itu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan.

“Gavin, jangan menangis, Sayang. Mama mu baik-baik saja, kok. Cuma keseleo sedikit karena sepatunya rusak. Nanti setelah diobati juga sembuh. Anak pintar tidak boleh menangis, ya?”

Pemandangan hangat di antara mereka bertiga tidak luput dari penglihatan Rania yang kini melangkah turun menyusuri anak tangga.

Sakit.

Rasanya teramat sakit sampai membuat Rania harus mencengkeram pegangan tangga itu kuat-kuat. Lagi-lagi, rasa sesak yang begitu pekat kembali menghantam dadanya, seolah-olah oksigen di sekitarnya mendadak habis.

Memang tidak bisa dipungkiri, ada letupan rasa cemburu yang membakar hati Rania saat melihat suaminya begitu manis pada wanita lain. Wajar saja, mereka sudah membina rumah tangga selama tiga tahun lamanya. Namun, mengingat setiap jengkal luka dan pengabaian yang Harsa berikan selama satu tahun terakhir ini, rasa cemburu itu perlahan-lahan mulai memudar, terkikis oleh rasa mati rasa yang kian menebal.

Rania mengulas senyum tipis, lalu melangkah turun mendekati area sofa.

“Wah, ada Wulan ternyata di sini. Kok tumben datang nggak bilang-bilang dulu ke aku? Apa sengaja mau memberikan aku kejutan manis siang-siang begini?”

Harsa dan Wulan spontan menoleh. Harsa langsung berdiri, menatap Rania dengan kening berkerut dalam dan tatapan tidak suka.

“Rania! Wulan ini sedang kesakitan karena musibah, kenapa ucapanmu malah terdengar seperti sedang meledeknya?!” tegur Harsa dengan suara meninggi, langsung membela Wulan tanpa berpikir panjang.

Rania terkekeh sinis, menatap Harsa lurus-lurus tanpa ada lagi binar ketakutan di matanya.

“Siapa yang meledeknya, Mas? Kan aku cuma bertanya dengan ramah sebagai tuan rumah yang baik. Memangnya menyapa tamu yang datang ke rumah kita itu salah?”

Di dalam hati, Rania rasanya ingin sekali berteriak kencang di depan wajah suaminya. Ia ingin berteriak bahwa dirinya saat ini sedang kesakitan karena vonis kanker darah, jauh lebih sakit dan mematikan daripada sekadar kaki keseleo yang sedang didramatisir oleh Wulan.

Wulan yang melihat situasi mulai menegang langsung memasang wajah bersalah Ia memegang lengan kemeja Harsa dengan lembut, seolah ingin menjadi penengah yang bijak.

“Sudah, Mas Harsa... jangan memarahi mbak Rania. Ini memang salahku yang datang tiba-tiba tanpa izin terlebih dahulu. Mbak Rania... maafkan aku ya. Aku ke sini sebenarnya hanya ingin mengantar Gavin yang katanya kangen sekali dengan neneknya. Dan karena sepatu hak tinggi mendadak patah begini, sepertinya aku jadi merepotkan kalian.”

Rania menatap Wulan dengan pandangan yang teramat dingin, membuat senyuman palsu di wajah Wulan mendadak membeku.

“Oh, jadi karena urusan kangen dan kaki keseleo ya?” tanya Rania dengan suara yang teramat tenang. “Kamu tidak perlu meminta maaf seolah-olah kamu adalah korban yang teraniaya di sini, Wulan. Pintu rumah ini selalu terbuka lebar untuk tamu kok. Terutama untuk orang yang merasa punya hak lebih di dalam hidup suamiku.”

Kata-kata sindiran halus dan menohok dari Rania itu seketika membuat Wulan bungkam seribu bahasa. Wajah Wulan memucat, tidak menyangka Rania yang biasanya berdiam diri kini bisa melayangkan kalimat yang begitu tajam.

Harsa hendak membuka mulutnya untuk memprotes ucapan Rania, namun Rania dengan cepat memotongnya sebelum suaminya sempat mengeluarkan kata-kata pembelaan lagi untuk Wulan.

“Mas Harsa tidak perlu tegang begitu. Karena Wulan sudah terlanjur ada di sini dan kakinya sedang terluka parah, aku izinkan dia untuk menginap di kamar tamu selama satu atau dua hari ini. Rawatlah dia dengan baik, Mas. Jangan sampai tanggung jawab besar mu itu telantar hanya karena kamu sibuk memikirkan hal lain,” ucap Rania. Tatapannya beralih pada Harsa dengan binar mata yang sudah sepenuhnya mati rasa.

1
Al Fatih
Jangan2 itu Gavin yaa,, duh si Wulan rahasia gelapnya banyak bngt
Mita Paramita
Thor cepet bongkar kebusukan Wulan jadi gemes liat tingkah gak tau diri Wulan 🤣🤣🤣
deeRa
Coba tolong jedotin kepala nya Harsa😌
Yessi Kalila
rasanya pengin banget nendang pelakor yg bernama Wulan.... 😄😄😄
vj'z tri
yang kaya itu Rania woi Rania 🤧🤧
tinie
mirip Gavin yaa
tinie
waah bisa jadi sampai disana malah ketemu sama wulan
ollyooliver
wahhhh....jeng..jeng..jengggggggg. harsa..harsa, kesalahanmu mmng gk fatal amat, gk selingkuh, gak adu kokop atas bawah. tapi bayaran satu tahun menyakiti rania..bener" dibayar fatal..ah mantap.🤤
tinie
dalam mimpi mu
mana ada menejer memecat seorang ceo🤣🤣🤣

gilaaa
ollyooliver
oalahhh..
tinie
wanita tak tau diri
ollyooliver
waduhhhh...gavin kaliii anaknya
ollyooliver
beruntung? ketiban sial itu rania😌
ollyooliver
tenang aja..dia begini bukan karna dia mau, atau karema rasa bersalahnya pd rania.. tapi karena mertuanya. tenang aj, nanti balik kesetelan awal. rania gk ada apa"nya dibandingkan dirimu..harsa aja ,mudah berpaling😌
ollyooliver
sikapnya berubaah karna ancaman pasti, kalau gk..mana mau dia beginiin wulan tersayangnya. ttp ya rania bukan prioritas. kalaupun nanti jadi prioritas...cuman dua jawabannya. satu...karena keluarga rania tau harsa perlakukan wulan bagaimama terutama aditya. kedua, kalau jadi mantan istri..baru deh ngejar" rania tapi ttp saja bukan karnaa cinta atau pun perasaannya. kasihan dan rasa bersalha, menyesal tentu. dan semuanya gk ada perbuatan yg tulis dri hati harsa..karena dia bertindak selalu karema alasan lain...bukan karena RANIANYA😌
ollyooliver
penasaran deh, apa yg dikatakan aditya
MamDeyh
Up lg Kak
Senja: kak nita sebelah ya tadi, typo😅
total 1 replies
Nice1808
jgn2 foto bayi itu gavin😀yg diambil wulan srbagai alasan biar di tanggung jawabi oleh harsa sebagai anak bima, seru nich rania bertemu harsa dan ular licik itu, semakin setuju ibu rima suruh rania cerai🤣🤣🤣
Nice1808
gak tau malu, dan kau harsa gak tau diri bukan rania gk mijit jikalau kau lrlah tapi kau lbh mementingkan ipar maut mu, siap siap kau kena kultum dr CEO🤣
Uthie
Wahhh.. jangan-jangan bayi itu si Gavin lagiii 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!