Selama tiga tahun menjadi istri Arga Pratama, Rania selalu merasa tertekan karena dianggap gagal memberikan keturunan.
Arga mencintainya, tapi tak sanggup menahan tekanan ibunya yang mengancam akan mengakhiri hidup jika Arga tidak mau menikah lagi dan bercerai dengan Rania.
Akhirnya, Rania meninggalkan rumah tangganya dengan hati yang hancur.
Di sisi lain, Alvino Pratama, saudara sepupu Arga yang jauh lebih kaya dan berkuasa, ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Rania.
Rania pun menerima lamaran dari Alvino karena orang tua Alvino mengatakan Alvino juga tidak bisa memiliki keturunan. Rania berharap setidaknya ia bisa mendapatkan ketenangan karena tak lagi dikejar masalah anak.
Namun baru tiga bulan menikah, Rania dinyatakan hamil. Rania bahagia, tapi juga cemas. Bagaimana kalau kehamilannya dicurigai? Karena itu Rania menyembunyikan kehamilannya. Namun, tanpa sengaja Alvino mengetahui kehamilan Rania.
Lalu, apakah Alvino bisa menerima kehamilan Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
.
Di dalam mobil yang baru saja terparkir di halaman, Arga duduk diam di kursi belakang dengan wajah datar. Sejak sore tadi ia sudah berkali-kali menolak ikut, tapi tatapan tajam Bu Ratih dan sikap tegas Surya Pratama, ayahnya, membuatnya tak punya pilihan lain.
“Jangan pasang wajah seperti orang sedang berkabung begitu,” tegur Bu Ratih sambil melirik tajam ke arah putranya. “Orang melihatnya jadi tidak enak.”
Arga hanya memejamkan mata sejenak, berusaha menahan diri. “Ibu yang memaksaku untuk datang, jadi jangan berharap lebih.”
“Mau sampai kapan kamu terus memikirkan wanita mandul itu?” lanjut Bu Ratih tak kalah tegas. “Kalian itu sudah bercerai. Sekarang waktunya kamu mendapatkan wanita yang lebih baik. Dan tentunya cocok untuk keluarga besar kita.”
“Cocok menurut Ibu, tapi tidak menurutku,” jawab Arga dengan nada dingin yang menyembunyikan.
“Arga!” Tuan Surya Pratama yang sejak tadi diam akhirnya bersuara tegas. “Jaga bicaramu. Jangan sampai di sana nanti mempermalukan nama keluarga kita.”
Arga tertawa kecil, tawa yang terasa hambar dan pahit. “Keluarga? Aku bahkan tidak merasa kalian menganggap aku sebagai keluarga? Kalian lebih menganggap aku sebagai barang pajangan yang akan dipamerkan.”
“Cukup!” bentak Surya Pratama dengan suara tertahan. “Semua ini kami lakukan demi kebaikan dan masa depanmu sendiri, paham?”
Arga memalingkan wajah ke jendela. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat lagi.
Bu Ratih melihat keluarga Wijaya yang sudah menyambut mereka di depan pintu. Wanita paruh baya itu pun langsung mengubah raut wajahnya, tersenyum ramah seolah tak ada ketegangan apa pun di dalam mobil tadi. Begitupun dengan Tuan Surya Pratama, suaminya.
“Ratih! Akhirnya sampai juga,” sapa Cempaka Wijaya menyambut hangat sambil menggandeng tangan tamunya.
“Cempaka, lama sekali rasanya kita tidak bertemu langsung,” jawab Bu Ratih dengan senyum lebar.
Sementara itu Surya Pratama dan Barata Wijaya berjabat tangan dengan akrab. “Selamat datang, Surya. Kami sudah menunggu kedatangan kalian,” ucap Barata ramah.
“Terima kasih, Barata. Maaf kalau membuat kalian menunggu,” balas Surya sopan.
Arga berjalan paling belakang, langkahnya lambat dengan wajah tetap datar tanpa ekspresi.
Angelina yang yang merasa sikunya dicubit oleh ibunya, segera mendekat untuk menyambut.
“Selamat malam, Om Surya, Tante Ratih. Selamat datang di rumah kami,” sapanya sopan dan lembut.
“Wah, Angelina semakin cantik dan dewasa saja rupanya,” puji Bu Ratih sambil menatap gadis itu penuh harap.
“Terima kasih banyak pujiannya, Tante,” jawab Angelina sambil tersenyum malu.
Tatapannya kemudian beralih ke Arga. Pria itu terlihat jauh lebih tampan dan matang dibandingkan sebelumnya.
“Selamat malam, Mas Arga,” sapa Angelina ramah.
Arga hanya mengangguk kecil. “Selamat malam.” Jawabannya singkat, datar, tanpa tambahan apa pun.
Semua orang kemudian duduk mengisi ruang tamu. Obrolan berjalan lancar dan hangat. Cempaka dan Bu Ratih saling memuji satu sama lain, sedangkan Barata dan Surya asyik membicarakan perkembangan bisnis dan kerja sama di masa depan.
Namun Arga tetap diam, hanya memutar-mutar gelas di tangannya tanpa menyentuh minuman di dalamnya.
“Mas Arga terlihat semakin sukses dan sibuk, ya?” tanya Angelina mencoba memulai percakapan lagi.
“Biasa saja seperti biasanya,” jawab Arga singkat.
“Papa sering sekali memuji keberhasilan perusahaan yang Mas Arga pimpin.”
“Terima kasih.”
Angelina tersenyum canggung, tangannya sedikit meremas ujung gaunnya. Bu Ratih yang melihat keadaan itu segera menyela dengan tertawa kecil.
“Sifat Arga memang agak pendiam dan jarang banyak bicara, Nak Angel. Tapi percayalah, sebenarnya dia sangat perhatian dan bertanggung jawab sekali.”
Arga mengangkat kepalanya perlahan, menatap ibunya. Namun, enggan menyahut.
Suasana seketika terasa sedikit canggung. Surya Pratama segera berdehem keras mencoba mencairkan suasana.
“Hqrap dimaklumi, Barata. Arga memang sedang lelah sekali seharian mengurus pekerjaan di kantor.”
Barata tertawa santai. “Wajar saja. Namanya juga pemimpin perusahaan, pasti punya tanggung jawab yang berat.”
Tak lama kemudian mereka dipersilakan pindah ke ruang makan. Sepanjang jamuan makan malam, Bu Ratih tak henti-hentinya memuji kelebihan Angelina.
“Angelina cantik, sopan, dan yang paling penting sehat. Cocok sekali menjadi pendamping hidup seorang pemimpin seperti Arga.”
Kalimat ibunya membuat tangan Arga tiba-tiba berhenti menggerakkan sendoknya. Kata itu lagi. SEHAT! Selalu kata itu yang mereka bicarakan. Rahangnya mengeras. Ia meletakkan sendoknya dengan gerakan tenang namun tegas.
“Maaf, saya sudah kenyang,” ucapnya lalu berdiri tegak.
Semua mata langsung tertuju padanya.
Arga menoleh sopan kepada tuan rumah.
“Maaf, Om Barata, Tante Cempaka, Mbak Angelina. Saya merasa kurang enak badan. Mohon izin keluar sebentar.”
Tanpa menunggu jawaban, Arga melangkah tenang keluar menuju taman belakang rumah lalu duduk di sebuah bangku panjang. Angin malam yang sejuk langsung menerpa wajahnya. Arga mengusap wajahnya dengan kasar, lalu tertawa kecil, tawa yang terasa pahit hingga ke ulu hatinya.
Kurang enak badan? Padahal yang sakit bukan badannya. Sakitnya ada di dalam hati, yang masih terasa kosong dan perih.
Di dalam ruang makan, Angelina mengamati sikap Arga sejak tadi. Sejak masih remaja ia sudah mengenal sosok Arga karena orang tua mereka yang bersahabat. Bahkan diam-diam selama bertahun-tahun ia menyimpan rasa kagum dan cinta pada pria itu.
Saat mendengar Arga menikah tiga tahun lalu, hatinya sempat kecewa. Lalu sekarang, kedua orang tuanya memberitahu bahwa keluarga Pratama ingin menjadikan dia istri Arga, harapan yang sudah lama mati itu kembali tumbuh.
“Angelina, cepat temani dia,” bisik nyonya Cempaka sambil tersenyum memberi kode.
Angelina mengangguk pelan sambil mengatur napasnya lalu berjalan perlahan menuju taman belakang. Dari kejauhan, ia melihat Arga duduk dengan posisi membelakangi rumah, menatap ke arah langit malam yang bertabur bintang. Gadis itu pun perlahan mendekat.
“Mas Arga?”
Lamunan Arga buyar. Pria itu menoleh sambil mengerutkan kening. “Mbak Angelina? Kenapa ikut keluar?”
Angelina tersenyum lembut. “Bolehkah aku ikut duduk? Di dalam agak sumpek rasanya.”
Arga mengangguk pelan. “Silakan saja. Mbak Angel kan tuan rumahnya.”
Mereka duduk berdampingan dalam keheningan yang terasa canggung, hanya ditemani suara jangkrik dan hembusan angin.
“Maaf kalau sikapku sejak tadi terasa kaku dan membuat suasana jadi kurang nyaman,” kata Arga akhirnya memecah keheningan.
Angelina tertawa kecil lembut. “Tak apa, aku mengerti. “Mungkin Mas Arga memang lelah.”
Arga menghembuskan napas panjang yang terasa berat. “Terima kasih sudah mengerti.”
“Kalau aku boleh tahu… Apakah ini karena perceraian yang baru saja terjadi?” tanya Angelina hati-hati, berusaha tidak menyakiti.
Arga terdiam lama. Diamnya itu sendiri sudah menjadi jawaban yang paling jujur.
“Aku sudah mendengar sedikit kabarnya,” lanjut Angelina pelan. “Dan aku sungguh turut merasakan kesedihanmu.”
“Terima kasih,” jawab Arga pelan.
“Alangkah bahagianya seandainya aku menjadi Mbak Rania…” Angelina menatap wajah pria itu dengan penuh pengertian. “Bisa mendapatkan cinta yang begitu besar dari Mas Arga."
Arga sedikit terkejut menoleh padanya.
Angelina tersenyum tulus, mengeluarkan jurus pertama, menjadi teman baik.
Arga menatap wanita di sampingnya dengan pandangan lembut. “Kamu wanita yang sangat baik, Angelina. Dan pasti akan mendapatkan pria yang lebih baik dariku.”
Angelina merasa kecewa dengan kata-kata Arga yang terlihat jelas menolaknya, namun gadis itu berusaha menyembunyikannya.
"Jangan berharap padaku, karena hatiku masih tertinggal di masa lalu.”
Angelina menunduk, ungkapan Arga yang begitu jujur membuat jantungnya terasa sesak mendengarnya. Namun, penolakan Arga itu justru membuatnya semakin tertantang. Karena ia melihat harga yang begitu setia.
"Mas Arga sangat mencintainya, ya?” tanyanya pelan.
Arga tak menjawab, tapi sorot matanya yang menatap jauh ke depan dengan tatapan kosong sudah menjawab segalanya. “Apakah terlihat jelas?"
“Bahkan orang yang baru bertemu denganmu sekali saja malam ini bisa merasakannya,” jawab Angelina sambil tersenyum menahan getir dalam dadanya.
Arga diam enggan untuk menjawab lagi.
“Mas Arga…” Angelina mengumpulkan seluruh keberaniannya. “Bagaimana kalau aku katakan aku tidak keberatan menunggu. Kalau hatimu butuh waktu untuk sembuh, aku bisa menunggu selama itu diperlukan.”
Arga mengernyit tak menyangka mendengar kalimat itu.
“Karena aku sungguh ingin mencoba membangun hubungan ini denganmu,” jawab Angelina mantap. "Bukan karena orang tua kita, tapi karena diriku sendiri yang ingin."
Namun Arga perlahan menggeleng kepalanya tanpa kata.
Angelina menatapnya dengan wajah sendu. “Kenapa? Apakah aku tidak cukup baik untuk mencoba mengisi hatimu?”
“Bukan soal dirimu,” jawab Arga dengan suara berat. “Tapi karena itu hanya akan membuatmu terluka.”
“Kita belum mencobanya." Angelina menatapnya dalam. "Kenapa tidak berpikir barangkali saja suatu hari aku yang bisa menyembuhkan lukamu?”
Sementara dari balik tirai jendela ruang makan, empat pasang mata terus mengamati mereka. Semua tersenyum puas melihat mereka bicara berdua.
mak semangat truus menulis ny ,, sehat2 trus mamak ku ,, 🫰🫰🫰🫰
nonis tidak ada pakai ijab kabul ya.kita adanya pemberkatan di gereja.
tidak harus ada orang tua yang jadi wali jabat tangan dengan mempelai pria...
pemberkatan di lakukan oleh pendeta atau pastor,diantara dua pengantin.
mohon di perhatikan lagi kk Thor
setau saya nikah di gereja itu namanya pemberkatan nikah oleh Pendeta.
tolong lebih diperluas referensinya. karena ketika kita membaca maka yang diharapkan ada bertambahnya pengetahuan bukan makin keliru.
tp dtggu penjellasan ny di bab berikut ny ,, 😁😁😁😁😁